PUMA melakukan campaign global bersama Rosé BLACKPINK melalui tema “Rewrite The Classics” yang dipublikasikan secara terpadu melalui website resmi, media sosial, dan berbagai media online. Campaign ini menunjukkan bagaimana sebuah brand memanfaatkan figur publik dan komunikasi lintas platform untuk membangun citra yang konsisten kepada audiens global.
Dalam website resmi PUMA, perusahaan menampilkan narasi campaign, visual utama, serta pesan yang menghubungkan identitas klasik brand dengan tren fashion masa kini. Di media sosial, PUMA mengunggah berbagai konten berupa teaser, video pendek, foto campaign, dan behind the scene bersama Rosé untuk meningkatkan interaksi dengan audiens. Sementara itu, media online seperti Teen Vogue dan berbagai media fashion lainnya turut memberitakan campaign tersebut sebagai bagian dari tren fashion dan lifestyle yang sedang berkembang. Strategi ini menunjukkan adanya integrasi komunikasi yang dilakukan PUMA agar pesan campaign dapat diterima secara konsisten di berbagai media publikasi. Kehadiran Rosé sebagai global ambassador juga memperkuat daya tarik campaign karena memiliki pengaruh yang besar di industri fashion dan budaya populer global.
Menurut pengamatan saya, media publikasi PUMA menggunakan kata kunci yang relatif konsisten di setiap platform. Kata-kata seperti “classic”, “style”, “racing”, dan “Rewrite The Classics” terus muncul baik pada website resmi, media sosial, maupun pemberitaan online. Penggunaan kata kunci tersebut membantu memperkuat identitas campaign sehingga audiens dapat lebih mudah mengenali pesan utama yang ingin disampaikan. Selain itu, nama Rosé selalu menjadi elemen penting dalam publikasi sehingga celebrity branding tetap menjadi fokus utama komunikasi. Pada Instagram dan TikTok, PUMA juga menggunakan hashtag yang mendukung penyebaran pesan campaign secara digital. Konsistensi penggunaan kata kunci ini menunjukkan bahwa perusahaan berusaha menjaga keseragaman pesan meskipun dipublikasikan melalui media yang berbeda. Dari sudut pandang komunikasi public relations, strategi tersebut membantu memperkuat awareness sekaligus positioning brand di benak audiens.

Teknik penulisan yang digunakan pada setiap media memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi tetap membawa pesan yang sama. Website resmi PUMA menggunakan gaya bahasa yang lebih formal dan informatif untuk menjelaskan konsep campaign. Sebaliknya, media sosial menggunakan caption yang lebih singkat dan menarik agar sesuai dengan kebiasaan konsumsi konten digital. Media online fashion dan lifestyle cenderung menggunakan gaya editorial yang lebih deskriptif dengan menyoroti pengaruh Rosé dalam dunia fashion global. Meskipun terdapat perbedaan gaya penulisan, seluruh media tetap menekankan pesan utama yang sama, yaitu menghadirkan kembali identitas klasik PUMA dalam konteks tren modern. PUMA juga memanfaatkan storytelling visual yang menampilkan unsur racing, perjalanan, dan gaya hidup modern sehingga campaign terasa lebih menarik secara emosional. Hal ini menunjukkan adanya penyesuaian pesan sesuai karakter media tanpa menghilangkan identitas campaign secara keseluruhan.
Konsistensi gaya publikasi juga terlihat dari penggunaan visual dan konsep yang seragam di berbagai platform. PUMA menggunakan elemen visual yang sama pada website resmi, media sosial, maupun materi publikasi yang diberitakan media online. Kehadiran Rosé dengan gaya yang elegan namun tetap sporty menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas campaign. Konsistensi visual tersebut membantu menciptakan brand recall yang kuat karena audiens dapat dengan mudah mengenali hubungan antara figur ambassador, pesan campaign, dan identitas brand. Dari perspektif branding, keseragaman visual ini memperlihatkan adanya koordinasi komunikasi yang baik sehingga seluruh media mendukung tujuan yang sama.
Praktik komunikasi yang dilakukan PUMA dalam campaign ini sejalan dengan konsep Integrated Marketing Communication (IMC), yaitu penyampaian pesan yang konsisten melalui berbagai saluran komunikasi untuk memperkuat citra dan hubungan dengan audiens. Menurut Belch dan Belch (2021), konsistensi pesan dalam berbagai media menjadi faktor penting untuk membangun efektivitas komunikasi pemasaran dan memperkuat persepsi publik terhadap sebuah brand. Selain itu, Gregory (2020) menjelaskan bahwa public relations yang efektif memerlukan integrasi antara pesan, media, dan pemangku kepentingan agar komunikasi organisasi dapat menghasilkan dampak yang lebih kuat dan berkelanjutan. Penggunaan figur publik seperti Rosé juga relevan dengan pandangan Freberg (2021) yang menyatakan bahwa influencer dan celebrity endorsement dapat meningkatkan kredibilitas pesan serta memperluas jangkauan komunikasi kepada audiens yang lebih luas. Dengan demikian, strategi yang digunakan PUMA menunjukkan penerapan prinsip komunikasi terpadu yang banyak dibahas dalam literatur public relations dan komunikasi pemasaran modern. (*)