Ayo Netizen

Putri Noong Tahun 1980-an

Oleh: bram herdiana
Putri noong, salah satu kuliner legendaris di Jawa Barat. (Sumber: Youtube | Foto: Dapur Marlia)

Dasa warsa 1980-an bagi penulis yang masih remaja menjadi masa yang penuh memori sangat mengesankan dan tidak dapat dilupakan. Selain dikenal sebagai era perkembangan televisi, musik, dan berbagai perubahan sosial, dekade ini juga menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang masih bertahan hingga sekarang meski tidak seramai dulu karena bahan dasar bisa sama namun kreatifitas dan inovasi membuat makanan menjadi pembeda dengan masa sekarang.

Di Kota Bandung khususnya, masyarakat akrab dengan jajanan aneka kuliner yang sederhana, murah, namun memiliki cita rasa enak dengan menggunakan bahan dasar singkong atau sampeu dalam istilah Sunda. Beberapa di antaranya adalah Putri Noong, Katimus, Urab Sampeu, serta Kicimpring. Nama-nama kuliner tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pengganjal perut, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat. Kehadirannya sering ditemukan di pasar tradisional, warung kecil, ataupun ketika acara hajatan dan perayaan menjadi kudapan penting.

Putri Noong

Putri Noong merupakan salah satu jajanan tradisional khas Sunda yang sangat populer pada tahun 1980-an. Nama "Putri Noong" berasal dari bahasa Sunda yang berarti "putri yang mengintip". Nama tersebut merujuk pada bentuk pisang yang terlihat mengintip dari balutan adonan tepung berwarna hijau.

Makanan ini dibuat dari pisang yang dibungkus adonan parutan singkong dan tepung tapioka yang diberi pewarna alami dari daun suji atau pandan. Setelah dibungkus daun pisang, adonan dikukus hingga matang. Teksturnya lembut dengan perpaduan rasa manis dari pisang dengan aroma harum daun pisang. Masa tahun 1980-an, Putri Noong sering dijual oleh pedagang keliling maupun di pasar tradisional dengan harga yang sangat terjangkau. Hingga kini, jajanan ini masih menjadi favorit masyarakat yang merindukan cita rasa masa lalu.

Katimus

Katimus merupakan makanan tradisional yang terbuat dari singkong parut dan kelapa juga gula merah. Bahan-bahannya sangat sederhana, namun menghasilkan rasa yang lezat. Singkong yang telah diparut dicampur dengan potongan gula merah, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang. Tekstur Katimus yang lembut berpadu dengan lelehan gula merah di dalamnya menciptakan rasa manis alami yang disukai berbagai kalangan. Hingga saat ini, Katimus masih sering ditemukan di pasar tradisional sebagai bagian dari warisan kuliner Sunda.

Urab Sampeu

Dibuat dari singkong yang dipotong-potong kecil dikukus sampai empuk, lalu diaduk bersama kelapa parut hangat dan sedikit garam supaya terasa rasa yang pas. Dinikmatinya ketika masih hangat atau masih ngebul dan tercium aroma wangi singkong matang. Urab Sampeu bisa juga menjadi makanan pengganti nasi di kala musim paceklik padi.

Kicimpring

Kicimpring adalah makanan ringan yang terbuat dari singkong yang diolah menjadi kerupuk tipis lalu dikeringkan dan digoreng. Rasanya gurih dengan tekstur renyah yang khas. Dekade 1980-an, Kicimpring menjadi camilan wajib di banyak rumah tangga Jawa Barat. Makanan ini sering disajikan saat berkumpul bersama keluarga atau sebagai teman minum teh di sore hari.

Proses pembuatannya cukup panjang, mulai dari pengolahan singkong, pencetakan, penjemuran hingga penggorengan. Namun hasilnya sangat memuaskan karena menghasilkan camilan yang tahan lama dan memiliki cita rasa khas. Saat ini Kicimpring bahkan telah berkembang dengan berbagai varian rasa seperti pedas, balado, dan keju.

Masuk 5 Besar Nasional Berdasarkan data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Provinsi Jawa Barat konsisten bertahan sebagai salah satu dari lima provinsi penghasil singkong terbesar di Indonesia. Posisi utama ini bersanding dengan Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta.

Estimasi Volume Tahunan, secara historis dan proyeksi jangka panjang, volume produksi singkong di Jawa Barat stabil berada di kisaran 1,5 juta hingga 2 juta ton per tahun. Sentra Produksi Utama yaitu Kabupaten Garut, Sukabumi, Tasikmalaya, Cianjur, Bogor, dan Bandung masih menjadi wilayah penyumbang hamparan panen singkong terbesar di Jawa Barat. Hal ini sangat berpotensi bagi Jawa Barat dalam proses membuat berbagai kuliner dengan bahan dasar sampeu atau singkong.

Kuliner tradisional tahun 1980-an seperti Putri Noong, Katimus, Urab Sampeu dan Kicimpring, merupakan bagian dari kekayaan budaya Sunda yang semestinya dilestarikan. Meskipun saat ini masyarakat disuguhi berbagai makanan modern dan cepat saji, berharap keberadaan kuliner tradisional tetap memiliki tempat istimewa di sanubari banyak orang.

Selain menghadirkan cita rasa khas, makanan-makanan tersebut juga menyimpan nilai sejarah, kearifan lokal, dan kenangan kolektif masyarakat. Oleh karena itu, upaya mengenalkan kuliner tradisional kepada generasi muda menjadi sangat penting agar warisan budaya ini tidak hilang ditelan zaman.

Melalui festival kuliner, pendidikan budaya, maupun promosi melalui media digital, kuliner khas era 1980-an dapat terus dikenal dan dinikmati oleh generasi masa kini. Dengan demikian, jejak rasa masa lalu akan tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya warga Sunda yang kaya dan beragam. (*)

Reporter bram herdiana
Editor Aris Abdulsalam