Ayo Netizen

Integrasi Wisata Sungai Citarik, Taman Sumaba dan Stadion GBLA

Oleh: Sri Maryati
Pemandangan sempadan anak sungai Citarik dan pematang sawah di daerah aliran sungai. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Kegiatan wisata lintas alam menyusuri sempadan Citarik dan anak sungainya dengan bersepeda sungguh mengesankan. Terlebih saat musim kemarau pada saat ini dengan sengatan mentari yang lebih kuat.

Ekowisata sungai Citarik di Kabupaten Bandung, Jawa Barat perlu ditransformasikan menjadi desa wisata, wisata olah raga, dan pasar budaya. Transformasi itu bisa menghapus citra negatif Sungai Citarik yang selama ini identik dengan sungai yang amat kotor penuh dengan sampah dan limbah industri.

Transformasi itu sebaiknya diintegrasikan dengan keberadaan Taman Sumringah Summarecon Bandung (Sumaba) dan kawasan Stadion Gelora Bandung Lautan Api.

Lintas alam dimulai dengan menyusuri tanggul banjir kanal anak sungai Citarik. Kondisinya penuh tantangan. Dan perlu stamina yang prima. Jika hilang konsentrasi bisa terperosok ke dalam sungai.

Pengembangan Ekowisata Sungai Citarik di Kabupaten Bandung (khususnya wilayah Solokanjeruk yang melintasi Desa Padamukti dan Desa Cibodas) memiliki pendekatan unik. Berbeda dengan arung jeram Sungai Citarik di Sukabumi, kawasan di Kabupaten Bandung ini dikembangkan berbasis ekonomi sirkular dan pemulihan lingkungan.

Pilar Utama Pengembangan Ekowisata Sungai Citarik terkait dengan pengelolaan sampah mandiri.  Menawarkan aktivitas menyusuri sempadan sungai, tanggul, dan pematang sawah menggunakan sepeda yang sehat dan asri.

Integrasi wisata alam meliputi Kolam Retensi dan danau Masjid Raya Al Jabbar. Danau buatan ini berfungsi sebagai pengendali banjir sekaligus tempat warga menikmati pemandangan air yang luas dengan latar belakang megahnya masjid terapung.

 Integrasi juga menempatkan Taman Sumringah Summarecon Bandung. Sebuah taman terbuka hijau yang memiliki danau buatan estetis, area lari (jogging track), dan pepohonan rindang dengan berbagai junis tanaman langka.

Taman Sumringah Summarecon Bandung adalah ruang terbuka hijau modern yang bersih, asri, dan tidak dipungut biaya masuk (gratis). Taman ini terletak tepat di seberang Summarecon Mall Bandung (Sumaba) di kawasan Gedebage, Kota Bandung.

Citra negatif itu selama ini menempel pada ingatan publik yang merasa jijik menengok sungai Citarik dan anak sungainya yang sangat tercemar. Dengan adanya transformasi Citarik menjadi desa wisata berbasis budaya, timbul kesadaran masyarakat dan pihak industri yang lokasinya berdekatan dengan aliran Citarik untuk tidak mencemari dan membuang sampah disitu. Selain itu debit air Citarik bisa digunakan untuk bertani dan berkebun. Sejak Kecamatan Rancaekek menjadi Kawasan Industri, tingkat pencemaran sungai sangat parah.

Tak kurang dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia  (WALHI) Jawa Barat sering kali melakukan aksi dan turun lapangan bersama masyarakat yang terdampak pencemaran.

Selama puluhan tahun Sungai Citarik dan anak sungainya dicengkeram oleh limbah dan sampah. Kini saatnya menyelamatkan dengan berbagai macam inisiatif. Sebelum Rancaekek menjadi kawasan yang padat dengan industri dan perumahan, hasil panen bisa mencapai 5-6 ton per hektar. Kini satu hektar sawah hanya bisa dipanen kurang dari tiga ton. Akibatnya tidak sedikit warga yang beralih menjadi buruh tani di daerah lain atau bekerja sebagai buruh pabrik di sekitar Rancaekek. Parahnya  tingkat pencemaran Citarik menjadi perhatian serius dari Greenpeace, Walhi Jabar dan sejumlah pihak terkait. Betapa malang nasib petani yang memiliki lahan pertanian di Desa Linggar, Jelegong, Sukamulya dan Bojongloa yang tanahnya rusak parah akibat pencemaran Sungai Cikijing, yang merupakan anak Citarik.

Penanggulangan pencemaran dan transformasi ekowisata terhadap kawasan sungai Citarik yang mengalir hingga berdekatan dengan stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) perlu terus digiatkan.

Sekarang masyarakat mulai menggemari wisata bersepeda menyusuri tanggul atau sempadan Citarik sambil menikmati sensasi bersepeda di pematang sawah dan kebun buah. Biasanya wisata sepeda tersebut berakhir di kawasan GBLA dan disitu kalau hari libur banyak pedagang makanan yang menyajikan bermacam kuliner. Kuliner yang khas seperti ikan bakar dan aneka lauk pauk rumahan bisa menjadi menu untuk botram alias makan-makan bersama.

Masyarakat desa di sekitar Citarik setuju jika desanya bertransformasi menjadi ekowisata. Beberapa pihak telah menaruh perhatian terhadap kondisi Sungai Citarik dan anak sungainya. Seperti misalnya Kanwil DJKN Jawa Barat diwakili KPKNL Bandung berkolaborasi bersama akademisi dan komunitas warga Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarik menyelenggarakan workshop dan penelitian. Sungai Citarik dipilih sebagai salah satu daerah percontohan dalam pengembangan program Citarum Harum, Dalam workshop ini turut hadir peneliti dari Monash University.

Kegiatan tersebut sekaligus merupakan bentuk sosialisasi dan dialog langsung bersama warga setempat untuk membahas pembangunan area ekowisata Sungai Citarik. Warga secara terbuka menyampaikan permasalahan terkait penyelamatan dan pemeliharaan Sungai Citarik kepada akademisi yang kemudian dibahas dan dikaji bersama.  

Keterlibatan warga sangat penting, pembangunan harus dinikmati warga setempat tapi juga harus memaksimalkan keterlibatannya.  (SRI)

Reporter Sri Maryati
Editor Aris Abdulsalam