Gol Rukma Bikin Stadion Ikada Pecah

4 menit baca
Dimas Wahyu Indrajaya
Ditulis oleh Dimas Wahyu Indrajaya diterbitkan
Rukma Sudjana, pemain Persib Bandung dan Timnas Indonesia era 1950-an. (Foto: X/@RavandoLie)
Rukma Sudjana, pemain Persib Bandung dan Timnas Indonesia era 1950-an. (Foto: X/@RavandoLie)

Rukma Sudjana namanya. Pemain Persib Bandung itu menjadi langganan Timnas Indonesia pada 1950-an. Kala kesebelasan merah putih merasakan pengalaman berlaga di Olimpiade pada 1956, Rukma lah pemain yang turut ambil bagian bersama anak Bandung lainnya yakni Ade Dana dan Aang Witarsa.

Bakat Rukma sendiri sudah mendapat perhatian pelatih dan pemandu bakat PSSI sejak 1954. Buktinya ia masuk dalam skuad muda Timnas dan mendapat kesempatan untuk tampil saat melawan tim tamu dari Swedia, Kalmar FF pada tahun tersebut.

Sama seperti pemain muda pada umumnya, semakin diberi kesempatan, semakin pula ia matang permainannya. Dan Rukma memperlihatkan itu setahun kemudian. Stadion Ikada di Jakarta adalah panggungnya, dan Lokomotiv dari Uni Soviet (Rusia) menjadi korbannya. Sekalipun Timnas Indonesia kalah, nama Rukma dielu-elukan karena ialah satu-satunya pemain yang bisa membobol gawang tim perkasa itu.

Lokomotiv Tak Kenal Ampun

Rukma Sudjana, pemain Persib Bandung dan Timnas Indonesia era 1950-an. (Sumber: Foto: X/@RavandoLie)
Rukma Sudjana, pemain Persib Bandung dan Timnas Indonesia era 1950-an. (Sumber: Foto: X/@RavandoLie)

Lokomotiv sama sekali tidak kenal ampun saat melakoni tur di Indonesia. Kekuatan tim dari Kota Moskow layaknya lokomotif kereta berkecepatan tinggi, siap menerjang, menghantam keras, dan memberi daya rusak apa pun yang ada di hadapan mereka.

Pembuktian Lokomotiv tim kuat terlihat dari lawatan di lima kota yang mereka kunjungi, yaitu Medan, Padang, Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya pada pertengahan sampai akhir November 1955. Ada enam pertandingan yang dilakoni Lokomotiv yang mana semuanya berhasil mereka menangkan dengan skor besar. Persija Jakarta dikalahkan 0-5, PSP Padang 0-7, PSMS Medan 0-9, Timnas Indonesia B 0-9, dan Persebaya Surabaya 0-4.

Pencinta sepak bola tanah air tak ayal terkesima dengan permainan Lokomotiv yang tanpa pandang bulu memberi trauma bagi pemain-pemain tercinta. Kiper Vadim Kublitsky menjadi paling disorot karena jala gawangnya seakan sulit digetar tuan rumah.

Sampai akhirnya di Stadion Ikada, Jakarta, pada 25 November 1955. Satu pertandingan terakhir tersaji yang mempertemukan Timnas Indonesia skuad A melawan Lokomotiv. Kans untuk menang seperti nyaris tak ada, mengingat sang tamu sudah bertubi-tubi menggoreskan trauma. Misi paling nyata dalam laga itu pun cuma satu, paling tidak bisa membobol barang sebiji gol saja. Dan harapan itu berbuah kenyataan lewat gol Rukma Sudjana.

Baca Juga: 6 Tulisan Orisinal Terbaik Mei 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta untuk Netizen Aktif Berkontribusi

Rukma Pelipur Lara

Lapangan Stadion Ikada becek sejadi-jadinya karena hujan turun sejam sebelum pertandingan Timnas Indonesia A versus Lokomotiv dimulai. Di tengah situasi itu, penonton tetap antusias hadir memberi dukungan terutama dari kalangan pembesar negara salah satunya Presiden Sukarno yang ditemani kedua anaknya, Guntur dan Megawati.

Sekitar 40 ribu penonton hadir mengisi tribune Stadion Ikada. Ada perasaan harap-harap cemas di tiap-tiap mereka di mana pertanyaan yang sering menghantui ialah: “Akankah sebuah gol tercipta melawan Lokomotiv yang pemainnya bernapas kuda?”

Mungkin pemain Lokomotiv sudah kehabisan bensin, atau mungkin karena kondisi lapangan begitu memberatkan mereka. Karena sampai separuh jalannya pertandingan, kedua tim sama kuat 0-0. Akan tetapi, keadaan itu sementara saja karena petaka hadir setelahnya. Gawang Maulwi Saelan yang awalnya kelihatan aman-aman saja akhirnya dibobol Kololov dan Bubukin yang membuat Lokomotiv unggul 2-0 pada pertengahan babak kedua.

Lokomotiv setelah unggul 2-0 rupanya memiliki celah untuk Timnas mencetak gol. Bermula dari sepakan penjuru Witarsa, Rukma yang menempati posisi tengah kanan merangsek ke depan dan menembakkan bola ke kiri gawang Kublitsky. Bola lesatan dari jarak 30 meter itu tidak terlalu keras, tapi terarah, dan nyatanya masuk ke gawang yang membuat seisi Stadion Ikada pecah.

“Stadion Ikada yang luas itu seperti akan pecah oleh sorak penonton yang melambung-lambungkan jas hujan, payung, sapu tangan dll sambil menghentak-hentakkan kaki di kedua tribune, ketika pemain Rukma dari Bandung berhasil membobolkan jala Kublitsky,” lapor harian Merdeka dalam artikel “Djala Sakti Kublitsky jang Tak Pernah Bobol Achirnja Tembus oleh Peluru Rukma” terbitan 25 November 1955.

Penonton Stadion Ikada tumpah ruah merayakan gol Rukma ke gawang Lokomotiv. (Foto: Star Weekly) (Sumber: Star Weekly | Foto: Star Weekly)
Penonton Stadion Ikada tumpah ruah merayakan gol Rukma ke gawang Lokomotiv. (Foto: Star Weekly) (Sumber: Star Weekly | Foto: Star Weekly)

Penonton di Stadion Ikada seperti kerasukan melihat Rukma mencetak gol gawang Kublitsky. Ia diserbu penggemar sehingga polisi mesti turun tangan mengusir orang-orang yang masuk ke tengah lapangan.

Rukma memang menjadi pelipur lara, tapi sayangnya laga berakhir anti-klimaks bagi Timnas Indonesia. Kekalahan 1-3 diterima karena sebelum laga ditutup Bubukin membukukan gol keduanya.

Kalah bukan berarti tidak ada pelajaran yang didapat. Bagi para pemain termasuk Rukma, Lokomotiv mengajarkan apa itu permainan kombinasi cepat dengan dipadupadankan gaya bertahan yang keras lewat adu badan.

“Jika kita menjaga pemain yang satu, bola sudah berada di kaki pemain yang lain. Mereka banyak menggunakan badan untuk menghalangi lawan menguasai bola. Misalnya, jika seorang pemain kita dapat bola dan dapat melewati seorang pemain mereka, pemain Rusia itu memutar tubuh dan men-charge dengan sisi tubuhnya, sehingga pemain kita terpental,” ucap Rukma dikutip dari artikel Star Weekly berjudul “Pendapat Pemain Sepakbola Kita Tentang Lokomotiv” edisi 26 November 1955. (*)

 

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)