Dari Gelandang Tangguh ke Dunia Akademik: Asep Sumantri, Legenda Persib yang Bergelar Doktor

5 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Asep Sumantri bersama para pemain Persib. (Foto: Arif Rahman)
Asep Sumantri bersama para pemain Persib. (Foto: Arif Rahman)

AYOBANDUNG.ID – Bagi Bobotoh, terutama di era 1990 hingga 2000-an, nama Asep Sumantri tentu bukanlah sosok asing. Ia adalah salah satu pemain yang turut mengantarkan Persib Bandung meraih berbagai gelar juara dalam sejarahnya.

Pria yang akrab disapa Ujeb ini pernah membawa Persib menjadi juara dalam dua peran berbeda—saat masih aktif sebagai pemain, dan ketika menjabat sebagai asisten pelatih.

Sebagai pemain, Asep berhasil mempersembahkan tiga gelar juara, yakni pada era Perserikatan 1989/1990, 1993/1994, serta Liga Indonesia pertama 1994/1995.

Saat menjadi asisten pelatih, Asep kembali mengukir prestasi dengan membawa Persib menjuarai Indonesia Super League (ISL) 2014 bersama pelatih kepala Djadjang Nurdjaman. Di luar lapangan, Asep juga mencatatkan pencapaian membanggakan dengan meraih gelar Doktor Ilmu Sosial.

Prestasi yang diraih Asep tentu tidak datang begitu saja. Ia menapaki jalan panjang dalam dunia sepakbola dan pendidikan. Lahir di Bandung, 20 Januari 1970, Asep mulai bermain bola sejak usia 8 tahun bersama PS Propelat Bandung, berlatih di Stadion Siliwangi yang kemudian menjadi rumah kedua baginya.

"Pertama bermain sepakbola usia 8 tahun, latihan di Propelet bukan SSB (sekolah sepakbola) dulu PS belum ada SSB, sekitar tahun 1978 latihannya dulu di Stadion Siliwangi 8 tahun sampai 10 tahun, dulu kan enggak ada kompetisi 8 sampai 10 tahun," kata Asep.

Meski belum ada kompetisi resmi saat itu, Asep terus berlatih hingga akhirnya di usia 12 tahun ia menjadi anak gawang dalam pertandingan yang melibatkan legenda Persib, Adjat Sudrajat. Selain itu, ia sering menyaksikan langsung laga-laga Persib bersama sang ayah.

"Waktu usia 12 tahun jadi anak gawang saat Adjat Sudrajat bertanding di Siliwangi. Jadi dulu selain latihan atau gak jadi anak gawang, sering diajak nonton Persib juga sama bapak di tribun utara," kenangnya.

Karier Asep mulai bersinar di usia 15 tahun saat terpilih mewakili Jawa Barat pada kejuaraan Haornas, dan berhasil meraih juara nasional. Ia kemudian kembali ke Propelat dan mengikuti sejumlah kompetisi, termasuk Piala Djarum mewakili Kota Bandung.

"Di usia 14 tahun menuju 15 ada Haornas usia 16 tahun, saya kepilih untuk mewakili Jabar saat itu pelatihnya Agus WS dan Budiharto juara nasional saat itu bareng bersama Heri Setiawan," ucapnya.

"Setelah main di Propelat saat itu pelatihnya Pak Nandar Iskandar enggak lama kompetisi-kompetisi saya dipanggil untuk ikut Piala Djarum di Kota Bandung pelatihnya Encas Tonif, Piala Djarum," ujarnya.

Tahun 1988, saat berusia 18 tahun, Asep resmi bergabung dengan tim utama Persib dan langsung dimainkan pada turnamen Piala Persija. Ia mengisi posisi gelandang bertahan menggantikan Iwan Suko yang sudah pensiun.

"Sekitar tahun 88 kebetulan Iwan Suko sudah tidak main, saya masuk. Pas saya masuk di Persib itu main di Piala Persija. Saat itu langsung inti sekitar umur 18 jadi gelandang bertahan," katanya.

Selain bermain di turnamen-turnamen, Asep juga sempat memperkuat tim PON Jawa Barat yang saat itu diperkuat banyak pemain Persib dan Persita Tangerang. Setelah itu, ia kembali ke Persib dan ikut membawa tim menjuarai Perserikatan 1989/1990.

"Balik lagi ke Persib main lagi di turnamen beberapa turnamen dan kompetisi perserikatan saya langsung inti saat itu gelandang bertahan dan juara," ucapnya.

Sejak awal bergabung, Asep menjadi andalan di lini tengah Persib. Namun mulai 1992, ia mulai berbagi peran dengan Yudi Guntara. Ia tetap jadi bagian penting tim saat Persib menjuarai Perserikatan 1993/1994 dan Liga Indonesia 1994/1995.

"Jadi saat itu inti terus, kemudian 1992 itu sering gantian sama Yudi Guntara yang masuk dan perserikatan terakhir juara kemudian Liga 1 Liga pertama itu di situ inti gantian sama Yudi sama Asep Munir, terus berjalan sampai akhirnya juara lagi di Liga 1 itu Alhamdulillah," ungkapnya.

Setelah mengantar Persib juara di tiga era, Asep memutuskan pensiun menjelang Liga Indonesia ketiga pada 1998. Ia menolak tawaran dari beberapa klub lain dan memilih fokus bekerja serta menjadikan Persib sebagai satu-satunya klub profesional yang pernah ia bela.

"Berhenti sebagai pemain itu 98 pas mau Liga ke-3 saat itu berhenti total. Meskipun saat itu banyak yang menawari Barito, PKT, Pelita tapi karena fokusnya itu sudah bekerja, saat itu transisi pelatih dari Risnandar ke Nandar," katanya.

Tahun 2000-an, Asep kembali ke dunia sepakbola sebagai pelatih. Ia meniti karier dari Persib U-15, lalu menjadi pelatih kepala Persib Junior, hingga akhirnya menjadi asisten pelatih tim senior dan ikut membawa Persib menjuarai ISL 2014.

"Jadi asisten U-15 kemudian jadi pelatih kepala di Persib Junior juara Jawa Barat naik lagi asisten 21 naik lagi jadi pelatih kepala 21 baru ditarik ke senior sama Pak Djadjang," jelasnya.

Namun, setelah musim 2017, Asep memutuskan untuk mundur karena alasan kesehatan dan fokus bekerja sebagai ASN di Pemerintah Kota Bandung.

"Sampai terakhir di situ sama Persib juara di Persib dan pas Pak Djadjang pindah itu saya masih di Persib sih sama Dejan, cuma saya waktu itu kondisinya sakit jadi berhenti," ungkapnya.

Asep menilai, puncak kariernya sebagai pemain adalah saat membawa Persib meraih tiga gelar besar, ditambah kesuksesan di ISL 2014 sebagai asisten pelatih.

"Ya kalau karir pemain yang jadi pemainnya itu 90 sama 94 karena saya masuk itu Persib juara di Perserikatan terkahir juara dan Liga pertama juara pokoknya sangat berkesan itu pas jura, kalau pas jadi asisten pas 2014 itu juara juga, Alhamdulillah," katanya.

Di luar sepakbola, Asep juga menaruh perhatian besar pada pendidikan. Ia resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Sosial dari Universitas Pasundan Bandung pada 2024 lalu.

"Jadi begini dulu saya itu jarang sekolah, orang tua memberi pesan kepada saya 'Sep pemain bola mah isuk pageto ereun, tapi ilmu mau sampai kamana ge bisa dipake moal lengit, peperiheun dulu tara sakola jadi sok sekarang sakola', jadi itu motivasinya pas beres sepakbola fokus sambil kerja dan pendidikan," jelasnya.

Saat ini, Asep aktif sebagai ASN di Kota Bandung dan juga mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STIAI) Syamsul Ulum, Sukabumi. Ia masih terlibat di sepakbola meski tidak secara intens.

"Aktivitas saya sekarang ASN di Kota Bandung, sambil ngajar di STIA Syamsul Ulum, jadi memanfaatkan ilmu yang saya dapat. Kalau, sepakbola masih suka ngelatih tapi bukan tim kaya instasi misalnya nyuruh ngelatih. Kalau main bola langsung jarang, tapi tetap memantau mengamati juga tentang sepakbola dan Persib," jelasnya.

Pada pertengahan tahun lalu, Asep menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor di Program Ilmu Sosial Pascasarjana Universitas Pasundan dan lulus dengan indeks prestasi memuaskan.

Sidang yang dipimpin tujuh Guru Besar tersebut menetapkan Asep sebagai lulusan ke-154 program doktor Unpas. Gelar ini melengkapi deretan prestasi Asep yang sebelumnya dikenal sebagai legenda sepakbola.

Momen bersejarah itu disaksikan langsung oleh kedua orang tuanya, mantan Wali Kota Bandung sekaligus Ketua Umum Persib 2004–2008 Dada Rosada, eks pelatih Persib Djadjang Nurdjaman, serta legenda Persib lainnya seperti Ganjar Nugraha dan Yudi Guntara.

Bagi Asep, semua pencapaian ini tidak lepas dari doa serta dukungan penuh keluarga, termasuk orang tua dan anak-anaknya. (Arif Rahman)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)