Warisan Cinta Persib sejak Balita

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Konvoi Persib Bandung Juara Liga 1. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Konvoi Persib Bandung Juara Liga 1. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)

KOTA Kembang Bandung membiru. Bukan karena langitnya. Tapi,  karena lautan manusia berbaju dan atribut biru, warna khas Persib. Mereka memenuhi jalanan Bandung merayakan kesuksesan sang Pangeran Biru menyabet gelar juara Liga 1 musim 2024/2025. 

Pawai konvoi arak-arakan Persib dimulai dari Balai Kota menuju Gedung Sate, Bandung, Minggu (25/5/2025). Ini bukan sekadar pesta para bobootoh, melainkan perayaan cinta yang diwariskan lintas generasi.

Betapa tidak. Di antara lautan manusia yang membiru, ada pemandangan yang menggetarkan. Balita dalam gendongan ayahnya, mengenakan jersey mini bertuliskan "Maung Kecil." Tak menangis, ia malah tersenyum saat klakson berbunyi riuh.

Dan ini bukan fenomena baru. Cinta kepada Persib memang sering kali tidak dimulai dari pilihan sadar, melainkan dari gendongan pertama, saat seorang anak belum tahu arti kemenangan, tapi sudah diajak merayakannya.

Ritual turun temurun

Konvoi Persib Bandung Juara Liga 1 tahun 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Konvoi Persib Bandung Juara Liga 1 tahun 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)

Bisa dibilang ada semacam ritual turun-temurun dalam keluarga para bobotoh. Ketika Persib menang, seluruh keluarga ikut konvoi. Ketika Persib kalah, ada hening penuh harap di ruang keluarga. Anak-anak tumbuh di dalam dinamika emosional seperti ini.

Psikolog perkembangan anak, Jean Piaget, pernah menyebut bahwa anak-anak belajar melalui asimilasi dari lingkungan sekitarnya. Dalam konteks bobotoh, lingkungan itu adalah stadion, laporan pandangan mata lewat radio, siaran langsung televisi, dan chant atau nyanyian suporter.

Tak heran jika sejak usia balita, tak sedikit anak bobotoh sudah fasih menyebut nama David da Silva, Ciro Alves, Beckham Putra atau Knick Kuipers. Padahal, belum tentu mereka paham alfabet lengkap.

Dalam banyak keluarga di Bandung, maupun di Jawa Barat, mencintai Persib bukan sekadar preferensi klab, melainkan identitas kultural. Layaknya bahasa ibu, ia diwariskan secara alami, tanpa perlu dipaksa-paksakan.

Seorang ayah bercerita bahwa ia membawa anaknya nyetadion setiap Persib main sejak usia dua tahun. “Awalnya saya pikir dia bakal takut. Tapi, dia malah tepuk tangan ikut-ikutan, apalagi waktu lagu ‘Halo-halo Bandung’ dinyanyikan,” katanya.

Lagu itu kini bukan hanya pengingat sejarah perjuangan, tapi juga menjadi bagian dari liturgi bobotoh. “Halo-halo Bandung, ibu kota Periangan…” dinyanyikan dengan irama penuh semangat, bahkan oleh anak-anak yang belum paham sejarah.

Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini bisa dipahami melalui konsep imagined community yang diperkenalkan oleh Benedict Anderson. Sebuah komunitas dibayangkan bukan karena semua anggotanya saling mengenal secara pribadi, melainkan karena mereka berbagi simbol, narasi, dan pengalaman emosional yang sama. Dalam hal ini, Persib bukan sekadar klab sepak bola, melainkan identitas kolektif yang mengikat banyak orang dalam satu rasa, yaitu rasa memiliki.

Dan bagi anak-anak, rasa kebersamaan itu diwujudkan lewat simbol-simbol yang mereka temui dan kenali setiap hari, seperti  jersey biru yang mereka pakai dengan bangga, poster pemain yang menempel di dinding kamar mereka, atau boneka beruang mungil bertuliskan “PERSIB” yang menemani tidur. 

Simbol-simbol tersebut tak hanya menghadirkan kenyamanan, tapi juga menjadi perantara kasih sayang, baik dari keluarga maupun komunitas. Melalui simbol itulah, rasa cinta terhadap klab diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca Juga: Brand Persib Bandung

Peran kaum ibu

Ibu-ibu pun bisa jadi punya peran pelan. Mungkin ada ibu  yang menjahit sendiri jersey atau syal mini untuk anaknya, atau menyiapkan atribut khusus bertema biru putih. Ini bukan soal klab bola semata, tapi ekspresi cinta dalam bentuk paling domestik.

Bahkan, bayi yang baru bisa belajar merangkak pun mungkin sudah dikenalkan pada yel-yel Persib. 

Di media sosial, tak sedikit konten yang memperlihatkan anak-anak kecil yang menangis karena Persib kalah, atau melompat kegirangan saat gol tercipta. Emosi mereka belum kompleks, tapi respons mereka nyata.

Dari sisi neurologis, hal ini logis. Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman emosional yang kuat di usia dini bisa membentuk koneksi neuron yang bertahan lama. Maka, cinta kepada Persib bukan cuma kenangan, tapi jejak saraf.

Konvoi Persib Bandung Juara Liga 1 tahun 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Konvoi Persib Bandung Juara Liga 1 tahun 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)

Dalam teori Erik Erikson tentang perkembangan psikososial, usia dini adalah masa pembentukan kepercayaan dasar. Ketika orang tua menunjukkan cinta dan semangat saat mendukung Persib Maung Bandung, anak merasa itu adalah dunia yang aman.

Maka, stadion -- entah itu Jalak Harupat, Gelora Bandung Lautan Api maupun stadion-stadion lainnya -- bukan hanya tempat pertandingan, tapi juga ruang pembelajaran emosional bagi anak-anak. Mereka belajar menangis, tertawa, kecewa, dan bangga. Semuanya dalam tempo 90 menit,lebih sedikit.

Tak sedikit anak-anak yang belajar berhitung dari skor pertandingan, belajar membaca dari papan nama pemain, bahkan belajar menyanyi dari chant milik suporter.

Bagi keluarga bobotoh, Persib bukan pengalih perhatian, tapi pengikat relasi. Setiap pertandingan adalah ajang membangun kebersamaan, bahkan ketika disaksikan hanya lewat TV kecil di warung kopi.

“Persib ngajarkeun ka urang soal sabar jeung satia,” kata seorang kakek yang menggendong cucunya sambil memakai syal biru. Ia sudah mendukung Persib sejak 1980-an, di era Adeng Hudaya.

Ruang imajinasi masa depan

Di tengah dunia yang makin instan dan pragmatis, cinta kepada klab sepak bola seperti Persib justru mengajarkan kesetiaan jangka panjang sejak dini.

Seorang guru TK mengatakan, murid-muridnya sering menggambar stadion dan menulis nama pemain Persib sebagai cita-cita. “Ada yang mau jadi striker, ada yang mau jadi pelatih,” ujarnya. Dalam konteks ini, Persib bukan sekadar olahraga, tapi juga ruang imajinasi masa depan, tempat anak-anak menggantungkan harapan dan membentuk identitas.

Tak bisa dimungkiri, memiliki panutan dalam dunia olahraga dapat berperan besar dalam membentuk daya juang, disiplin, dan sikap mental positif sejak usia dini. Sosok idola menjadi gambaran nyata ihwal arti kerja keras, ketekunan, dan semangat untuk terus berkembang. Di balik sorak-sorai dan tepuk tangan di tribun stadion, terselip pelajaran hidup yang membekas lebih dalam dari sekadar skor akhir pertandingan.

Namun, warisan cinta terhadap Persib tentu perlu dibingkai dengan edukasi nilai-nilai positif. Anak-anak perlu diajarkan bahwa mendukung klab kebanggaan tidak berarti membenci yang lain. Nilai sportivitas, empati, dan solidaritas harus ditanamkan sejak dini agar mereka tak hanya cinta mati pada Persib, tapi juga tahu cara menghormati lawan, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi semangat fair play

Bagaimanapun, cinta yang sehat adalah cinta yang mendidik. Dan Persib bisa menjadi media pendidikan yang lebih menyenangkan daripada buku pelajaran. Dari mulai nyanyian di tribun stadion, anak-anak belajar ritme dan kekompakan. Dari koreografi bobotoh, mereka bisa belajar seni dan ekspresi kolektif.

Baca Juga: Ketentuan Kirim Artikel ke Ayobandung.id, Total Hadiah Rp1,5 Juta per Bulan

Semua itu dimulai dari satu gendongan kecil di tengah konvoi besar. Dari satu jersey mini di tengah kerumunan lautan biru. Hingga suatu hari, anak itu tidak lagi digendong. Dan ia mulai berjalan sendiri ke stadion bersama kawan-kawannya, membawa bendera kecil, dan meneriakkan nama-nama idola baru di skuad Persib.

Ia tak perlu diberi tahu bahwa ini adalah cinta. Sebab tubuhnya sudah mengingatnya, sejak lama. Dan ketika nanti ia menjadi orang tua, ia akan menggendong anaknya sendiri di tengah-tengah lautan biru yang sama, dengan lagu yang mungkin sama, dengan semangat yang tak pernah padam.

Sebab, cinta kepada Persib, seperti cinta sejati lainnya, tidak lahir dari logika. Ia tumbuh dari kenangan yang dibagikan dari air mata dan tawa yang diwariskan sejak balita. Cinta itu tumbuh dari gendongan menuju tribun stadion.

I love Persib! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)