Ayo Netizen

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Oleh: Muh Husen Arifin
Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bulan Agustus menjadi bulan yang selalu ditunggu-tunggu bagi masyarakat. Kemeriahan perayaan tahunan ini bukan sekadar menjadi momentum tetapi menjadi identitas bagi bangsa.

Huru hara yang terjadi di lingkungan bangsa kita benar-benar memberi dampak. Indonesia tidak sekadar sebagai negeri yang sedang memperjuangkan diri tetapi mengilhami bahwa bangsa Indonesia yang wajib menerapkan nilai-nilai Pancasila hingga sampai pada suatu hari menjadi negeri yang berdaya dan berdaulat. 

Meskipun kita menghadapi tantangan global yang berkaitan pada sistem ekonomi kerakyatan, kita memiliki harapan besar sebagaimana yang telah diperjuangkan oleh para veteran dan pahlawan nasional. 

Para pahlawan yang sudah menancapkan tonggak kemerdekaan mesti diupayakan semakin berkembang dan menjadi negeri adidaya. 

Salah satu mengisi ruang-ruang kemerdekaan di bulan ini dengan menyiapkan diri menjadi bangsa yang merdeka. Bangsa yang menjadi sorotan sebagai bangsa yang paling baik untuk membuat suatu kegiatan yang produktif. 

Kegiatan ini dapat diinisiasi oleh masyarakat untuk masyarakat.

Lomba 17 Agustusan 

Peranan masyarakat di pedesaan sangat dikagumi. Jika kita mengingat banyaknya peristiwa yang terjadi. Kemeriahan kemerdekaan digambarkan dengan perlombaan yang merakyat. 

Lomba yang sebenarnya dapat diimplementasikan di kantor juga. Adapun lomba yang populer di antaranya, lomba makan kerupuk, lomba balap karung dengan helm jongkok, lomba mewarnai, lomba kelereng, lomba fashion show, dan beberapa lomba lainnya yang positif.

Makna dari lomba merakyat ini sangat mendalam. Situasi yang tak menentu saat ini, lomba berbasis gotong royong ini menjadi keniscayaan. Di saat harapan demi harapan masih menggelora di benak masyarakat. 

Keadaan tersebut membuat masyarakat seolah memberi motivasi dan semangat kepada seluruh rakyat Indonesia. Lomba yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat menguatkan diri masyarakat. 

Sebab itu masyarakat juga mempunyai hak yang sama antar masyarakat. Kondisi ini mengingatkan bahwa masyarakat perlu saling mendukung demi terselenggaranya kegiatan di tujuh belas Agustusan. 

Merdekalah!

Warga membeli bendera merah putih di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Rabu 2 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok. Dalam menyambut hari kemenangan nasional, kita membangun keeratan relasi dan kebersamaan menjadi ruang baru untuk memupuk diri. Dalam setiap kemerdekaan, hari inilah waktu yang tepat menjadi bangsa seutuhnya.

Seluruh raga yang ada di negeri ini untuk mengultuskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah kesejatian dalam berkehidupan. Untuk memunculkan kesan bahwa masyarakat yang memenangkan kemerdekaan. Negeri kita ini berhak untuk dirayakan. 

Merdeka dari segala aspek dan multi sektor. Meskipun kita masih menyisakan tanda tanya. Tapi kita optimis bahwa hari kemerdekaan Republik Indonesia itu merupakan tonggak sejarah yang sepanjang sejarah tidak perlu diragukan. 

Tampilnya kemerdekaan Indonesia ini merupakan wujud bersama dengan masyarakat yang terus menerus menyuarakan tentang hak-hak asasi yang memanusiakan. 

Petik saja contohnya di bidang ekonomi. Masyarakat masih menunggu kemerdekaan berekonomi. Tidak menunggu sampai terjadi inflasi. Tidak berharap rupiah anjlok. Tidak sampai mendapatkan data kemiskinan yang berulang. Tidak ada pejabat korupsi dana rakyat. Pajak yang makmur tapi bukan memakmurkan segelintir oknum.

Sepandai-pandainya kita berharap, tapi pejabat dan pemerintahlah yang mesti mendahulukan bahwa kemerdekaan Indonesia diraih tidak bisa dilepaskan dari semangat perjuangan. 

Akses Kemerdekaan

Jika 81 tahun sebagai penanda bahwa negeri kita adalah negeri yang merdeka, kaka seharusnya akses untuk masyarakat sudah tersedia dampak manfaatnya. Terlebih jika kita mengingat bahwa kemerdekaan kita hampir mendekati tahun keemasan. 

Akses Kemerdekaan yang dimaksud adalah terbukanya pintu pada semua kebutuhan masyarakat. 

Ekonomi kerakyatan yang diimpikan bukan lagi fatamorgana. Kebudayaan yang dilestarikan. Politik yang terjadi mengedepankan kepentingan masyarakat banyak. Sosial sebagai simbol yang tunggal. Kedaulatan rakyat di atas segalanya. 

Jembatan kemerdekaan hampir putus. Kesejahteraan masih banyak permasalahan. Kesenjangan yang tidak dapat diterima. Yang kaya semakin kaya. Data kemiskinan makin naik. 

Apakah kita masih bisa membuka akses Kemerdekaan itu? 

Nilai Pancasila sebagai Jawaban

Dasar kebutuhan masyarakat sudah dituliskan pada nilai-nilai Pancasila. Namun kebijakan yang belum mencapai kebijaksanaan menjadi kendalanya. Terbukti ketika masyarakat menginginkan kemakmuran belum sepenuhnya terwujud.

Pada dasarnya, masyarakat terus menjadi garda terdepan dalam bermufakat bahwa Indonesia sudah selayaknya menjadi negeri yang adil dan makmur.

Tidak ada kesempatan bagi koruptor yang merugikan negeri ini. Nilai-nilai Pancasila sudah diimplementasikan bagi seluruh aktivitas sehari-hari masyarakat. 

Tahun demi tahun kemerdekaan akan selalu ditemui problematika namun bagaimanapun juga kemerdekaan Indonesia diraih tidak mudah, menjadi peranan seluruh masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas demi kemajuan dan keberlanjutannya. 

Nilai-nilai Pancasila sebagai kewajiban pemerintah dalam memutuskan kebijaksanaan dalam mengurai produk kebijakannya. Hendaknya evaluasi tahun kemarin menjadi bekal yang tidak terpisahkan sehingga di saat kemerdekaan negeri ini datang, maka tidak ada lagi alasan bagi pemerintah untuk tidak mensejahterakan rakyatnya.

Sekadar diketahui bersama, kita berhasil mengusir penjajah dengan penuh semangat dan motivasi tinggi, lantas pertanyaan ini perlu dijawab oleh pemerintah, mengapa kita tidak bisa melepaskan dari penjajahan abad ini? (*)

Reporter Muh Husen Arifin
Editor Aris Abdulsalam