Ayo Netizen

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Oleh: Kin Sanubary
Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)

Ada kalanya sejarah tidak datang dalam bentuk buku, monumen, atau prasasti. Ia datang melalui sebuah telepon sederhana, berlanjut pada sebuah pertemuan, lalu membuka kembali cerita tentang sebuah zaman yang hampir delapan dekade berlalu.

Itulah yang penulis alami sekitar dua puluh tahun silam, ketika sebuah surat pembaca tentang kegemaran mengoleksi koran lawas di Pikiran Rakyat justru mempertemukan penulis dengan H. Bari Lukman, wartawan era revolusi kemerdekaan yang dalam kesaksiannya mengaku sebagai orang yang mengibarkan Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya di Bandung, sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Pertemuan itu berlangsung hampir dua jam. Namun, percakapan tersebut terasa seperti perjalanan puluhan tahun ke belakang ke Bandung pada Agustus 1945, ketika kabar kemerdekaan baru mulai menyebar, ketika Merah Putih menjadi simbol keberanian, dan ketika para wartawan tidak hanya menulis berita, tetapi juga ikut menyampaikan kabar lahirnya sebuah republik.

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Semuanya bermula dari selembar koran tua. Dan dari selembar koran itulah, sebuah pintu sejarah terbuka.

Pertemuan tersebut bermula dari sesuatu yang sangat sederhana yaitu sebuah surat pembaca di surat kabar Pikiran Rakyat.

Sekitar 20 tahun silam, tepatnya 25 Februari 2006, surat pembaca penulis dimuat di kolom Surat Pembaca Pikiran Rakyat.

Isinya antara lain mengenai kegemaran penulis menyimpan dan mengoleksi surat kabar lawas, terutama terbitan dekade 1950-an hingga 1990-an, termasuk sejumlah edisi lama Pikiran Rakyat Bandung.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa tulisan singkat tersebut justru menjadi pintu menuju sebuah perjumpaan dengan salah seorang saksi sejarah Bandung.

Setelah surat pembaca itu dimuat Pikiran Rakyat, telepon rumah berkali-kali berdering. Ada sahabat, kerabat, sejawat, pembaca, wartawan, hingga staf redaksi Pikiran Rakyat yang penasaran dengan koleksi koran-koran tua tersebut.

Namun, dari sekian banyak telepon, ada satu panggilan yang kemudian menjadi awal sebuah kisah yang hingga kini masih tersimpan dalam ingatan.

Seorang ibu menelepon hingga tiga kali. Ia memastikan apakah benar penulis masih menyimpan surat kabar lawas sebagaimana disebutkan dalam surat pembaca.

Setelah mendapat kepastian, sang ibu mengajak penulis untuk berjumpa.

Belakangan baru diketahui, penelepon tersebut adalah Ibu Hj. Euis, istri H. Bari Lukman, seorang wartawan yang pernah hidup dan bekerja di tengah pergolakan revolusi kemerdekaan.

Saat itu, usia Bari Lukman telah mencapai 84 tahun. Untuk berjalan, beliau harus menggunakan tongkat.

Ada kejutan yang sama sekali tidak penulis duga.

Ternyata, Bari Lukman bersama istrinya sudah tiba di halaman rumah penulis di Tanjungwangi, Cijambe, Kabupaten Subang.

Sayangnya, sore itu penulis masih berada di lokasi kerja dan belum pulang.

Melalui telepon genggam, Ibu Hj. Euis kemudian bercerita bahwa setelah membaca tulisan di Pikiran Rakyat pagi itu, Bari Lukman langsung meminta diantar ke Subang untuk menemui penulis.

Seorang lelaki sepuh berusia 84 tahun, yang langkahnya sudah harus dibantu tongkat, masih menyimpan rasa ingin tahu dan semangat yang begitu besar hanya karena membaca kabar mengenai koleksi surat kabar lawas.

Karena penulis kemungkinan baru pulang malam dan tidak tega membiarkan tamu sepuh menunggu terlalu lama, akhirnya disepakati pertemuan dilanjutkan dua hari kemudian di Bandung.

Sore itu, Bari Lukman dan istrinya hanya sempat bertemu dengan istri serta anak-anak penulis yang berada di rumah.

Dua hari kemudian, penulis memenuhi undangan untuk datang ke kediaman Bari Lukman di kawasan yang asri di sekitar Kompleks Kodam Siliwangi, Jalan Sumbawa, Bandung.

Pertemuan yang semula terasa seperti kunjungan biasa tersebut ternyata berubah menjadi perjalanan panjang menembus lorong waktu.

Bari Lukman dan Ibu Hj. Euis menyambut penulis dengan sangat ramah. Tidak terasa adanya jarak antara seorang wartawan senior yang pernah mengalami zaman revolusi dengan seorang kolektor koran lawas yang datang bertamu.

Suasananya hangat dan kekeluargaan, seolah-olah kami bukan baru pertama kali bertemu.

Hampir dua jam kami berbincang.

Bari Lukman (paling kanan) bersama sejumlah wartawan Bandung. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)

Di ruang tamu rumahnya, Bari Lukman perlahan membuka kembali lembaran masa lalu. Dengan tutur yang tenang, beliau bercerita tentang Bandung pada hari-hari pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Itulah masa ketika kabar kemerdekaan belum tersebar luas. Radio, surat kabar, selebaran, dan papan pengumuman menjadi sarana penting untuk menyampaikan berita kepada masyarakat.

Salah satu kisah yang paling menarik adalah mengenai pengibaran Bendera Merah Putih di atas Gedung Denis.

Gedung Denis merupakan singkatan dari De Eerste Nederlandsch-Indische Spaarkas, sebuah bangunan bersejarah di pusat Kota Bandung yang kemudian dikenal sebagai Gedung Bank Tabungan Negara. Bangunan tersebut berada di kawasan persimpangan Jalan Braga, Jalan Naripan, dan Jalan ABC. Kini gedung tersebut digunakan sebagai kantor Bank Jabar Banten (BJB).

Dalam pertemuan itu, Bari Lukman menuturkan bahwa dirinya menjadi orang yang mengibarkan Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya di Bandung setelah Proklamasi.

Menurut kesaksiannya, peristiwa tersebut berlangsung pada 18 Agustus 1945 sekitar pukul 13.00 WIB, sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan di Jakarta.

Kesaksian tersebut tentu menjadi bagian penting dari cerita sejarah yang perlu ditempatkan dalam konteks dan terus dibandingkan dengan sumber-sumber sejarah lainnya.

Namun bagi Bari Lukman, peristiwa itu bukan sekadar angka tanggal dan waktu.

Ia adalah bagian dari kehidupan yang pernah dijalani sendiri.

Merah Putih ketika itu bukan sekadar kain berwarna merah dan putih.

Ia merupakan tanda.

Tanda bahwa sebuah bangsa telah menyatakan kemerdekaannya. Tanda bahwa zaman telah berubah. Dan tanda bahwa tanah yang selama berabad-abad berada di bawah penjajahan kini memiliki benderanya sendiri.

Peran Bari Lukman dalam masa awal kemerdekaan, menurut penuturannya, tidak berhenti pada pengibaran bendera.

Sebagai wartawan muda, ia juga ikut menyebarkan kabar Proklamasi Kemerdekaan kepada masyarakat Bandung.

Teks Proklamasi ditulis di sebuah papan tulis dan dipajang di Jalan Asia Afrika, tepat di depan kantor redaksi surat kabar Tjahaja, tempat Bari Lukman bekerja.

Koran Tjahaja ketika itu dipimpin tokoh pers Mochammad Koerdie.

Bagi masyarakat yang melintas, papan tersebut menjadi jendela menuju sebuah kabar yang mengubah sejarah:

Indonesia telah merdeka.

Di tengah keterbatasan alat komunikasi, papan tulis pun berubah menjadi media penyampai berita.

Tidak ada internet. Tidak ada televisi yang menyiarkan berita secara langsung. Tidak ada telepon pintar yang dapat mengirimkan pesan dalam hitungan detik.

Yang ada hanyalah surat kabar, radio, papan pengumuman, serta keberanian orang-orang yang menyampaikan kabar kemerdekaan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Dari papan tulis sederhana itulah masyarakat Bandung memperoleh informasi mengenai lahirnya sebuah negara baru.

Kisah yang disampaikan Bari Lukman tersebut juga dikaitkan dengan keterangan dalam buku Merah Putih di Atas Gedung Denis karya Enton Supriyatna Sind, mantan Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat.

Sementara itu, kabar Proklamasi juga disebarkan melalui radio. Bari Lukman menuturkan bahwa informasi tersebut disampaikan melalui Radio NIROM oleh rekan sesama wartawan, Sakti Alamsjah, yang kelak dikenal sebagai salah seorang pendiri surat kabar Pikiran Rakyat dan ayahanda H. Perdana Alamsyah, pimpinan umum Pikiran Rakyat.

Begitulah berita kemerdekaan bergerak: dari mulut ke mulut, dari radio ke telinga masyarakat, dan dari papan tulis ke mata orang-orang yang melintas.

Sebuah kabar besar yang pada akhirnya menjadi milik seluruh rakyat.

Kisah hidup Bari Lukman tidak dapat dipisahkan dari dunia pers dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Ia merupakan bagian dari generasi wartawan yang bekerja dalam situasi penuh tekanan dan ketidakpastian.

Pada masa itu, pers bukan sekadar pekerjaan.

Tulisan dapat menjadi senjata. Informasi dapat menjadi kekuatan. Dan sebuah berita dapat membangkitkan keberanian masyarakat.

Sebagai wartawan Harian Tjahaja yang terbit di Bandung, Bari Lukman berada di tengah denyut pers perjuangan pada masa revolusi.

Ia juga pernah menjadi agen wartawan perang di Markas Besar Tentara (MBT).

Perjalanan jurnalistiknya kemudian berlanjut. Ia pernah menjadi wartawan Suara Merdeka Tasikmalaya, kemudian bergabung dengan Pikiran Rakjat Bandung pada periode 1950–1962.

Di ruang tamunya, perjalanan panjang tersebut seolah masih hidup.

Beberapa bintang jasa dan penghargaan dari Presiden Soekarno terpampang di sana. Foto-foto lama memperlihatkan Bari Lukman ketika masih muda, bersama sejumlah rekan wartawan yang pernah menjalani masa penuh gejolak pada era revolusi kemerdekaan.

Melihat foto-foto itu terasa seperti sedang membuka album sebuah zaman yang perlahan menjauh.

Wajah-wajah muda di dalam foto kini telah menjadi bagian dari sejarah. Sebagian mungkin sudah lama tiada. Namun senyum mereka masih tertinggal di dalam foto-foto hitam putih.

Bari Lukman juga pernah bercerita bahwa kelak ketika meninggal dunia, dirinya telah disiapkan tempat untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Gedung Denis di Jalan Braga, Bandung, tempat Bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan di Bandung. Kini, gedung tersebut digunakan sebagai kantor Bank Jawa Barat Banten (BJB). (Sumber: Agus Wahyudi)

Menariknya, seluruh perjumpaan tersebut bermula dari sesuatu yang tampak sederhana.

Bari Lukman ternyata hanya ingin meminta penulis memberikan fotokopi beberapa surat kabar lawas Pikiran Rakjat yang pada bagian box redaksinya mencantumkan nama beliau.

Sebagai gantinya, Bari Lukman memberikan beberapa foto dan artikel lama yang pernah memuat kisah tentang dirinya.

Sebuah pertukaran yang sederhana.

Namun bagi penulis, nilainya jauh lebih besar daripada sekadar pertukaran lembaran kertas.

Dari situlah terasa bahwa koran tua bukan hanya benda koleksi. Koran lawas adalah kapsul waktu.

Di dalamnya tersimpan nama-nama orang yang pernah hidup, berita yang pernah menggemparkan masyarakat, iklan-iklan yang kini terasa asing, bahasa jurnalistik sebuah zaman, serta jejak orang-orang yang pernah ikut mengisi perjalanan bangsa.

Dan di balik salah satu lembaran tua itu terdapat nama Bari Lukman.

Nama seorang wartawan yang ternyata masih hidup dan dapat ditemui secara langsung.

Pertemuan sore itu akhirnya ditutup dengan hidangan yang disiapkan oleh Ibu Hj. Euis Bari Lukman. Sosok ibu yang someah, darehdeh, dan lembut tutur katanya tersebut membuat suasana pertemuan semakin hangat.

Ada percakapan, tawa kecil, cerita masa lalu, dan perasaan bahwa penulis sedang duduk bersama seseorang yang membawa sebagian kecil sejarah Bandung di dalam ingatannya.

Waktu terus berjalan.

Generasi berganti.

Rumah-rumah berubah. Gedung-gedung tua sebagian direnovasi, sebagian lainnya hilang ditelan zaman.

Dan para saksi sejarah satu demi satu berpulang.

Yang tersisa kemudian hanyalah buku, foto, koran tua, catatan, serta cerita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karena itulah kesaksian seorang pelaku sejarah menjadi begitu berharga.

Bagi penulis, perjumpaan dengan Bari Lukman bukan sekadar kunjungan kepada seorang wartawan senior.

Lebih dari itu, pertemuan tersebut merupakan kesempatan langka untuk mendengar langsung kisah dari seseorang yang pernah berada di tengah pusaran sejarah Bandung pada hari-hari pertama Republik Indonesia berdiri.

Seorang wartawan yang menulis di tengah pergolakan.

Seorang saksi dan pelaku sejarah yang ikut menyebarkan kabar kemerdekaan.

Dan seorang lelaki yang, berdasarkan kesaksiannya, mengibarkan Merah Putih di Bandung sehari setelah Proklamasi.

Kini, perjumpaan itu telah menjadi bagian dari masa lalu.

Surat pembaca di Pikiran Rakyat yang menjadi awal pertemuan telah lama berlalu. Telepon dari Ibu Hj. Euis tinggal kenangan. Rumah di Jalan Sumbawa, Bandung, tempat penulis mendengarkan cerita Bari Lukman, mungkin telah mengalami banyak perubahan. Begitu pula zaman, yang terus bergerak meninggalkan generasi demi generasi.

Namun, ada sesuatu yang tidak ikut hilang bersama waktu yaitu cerita tentang manusia yang pernah berada di tengah sejarah.

Bagi penulis, Bari Lukman bukan sekadar nama yang tercetak di box redaksi sebuah koran lama. Ia adalah sosok yang pernah duduk berhadapan, berbicara, mengenang, dan membuka kembali lembaran masa ketika Republik Indonesia masih begitu muda.

Dari perjumpaan itu penulis semakin memahami bahwa koran lawas bukan sekadar kertas yang menguning karena usia. Di dalamnya ada berita, nama, peristiwa, pemikiran, dan jejak manusia. Ia merekam apa yang pernah terjadi, sekaligus menyimpan suara orang-orang yang mungkin kelak tak lagi dapat ditemui.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa sebuah koran tua terkadang jauh lebih berharga daripada yang terlihat.

Sebab di balik lembarannya, ada zaman yang pernah hidup. Di balik nama yang tercetak, ada manusia yang pernah berjuang. Dan di balik sebuah berita, ada sejarah yang pernah disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Bari Lukman telah meninggalkan jejaknya. Dan bagi penulis, perjumpaan itu menjadi pengingat bahwa selama kisah masih dituturkan dan kenangan masih disimpan, sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Sebab pada akhirnya, yang membuat selembar koran menjadi berharga bukan karena kertasnya telah tua, melainkan karena di balik kertas yang menguning itu pernah ada manusia yang hidup, berjuang, menulis, dan menjadi saksi lahirnya sebuah zaman. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam