Ayo Netizen

81 Tahun Merdeka, Jejak Belanda Masih Terasa Lewat Perkedel hingga Semur

Oleh: bram herdiana
Jejak kuliner Belanda masih dapat ditemukan dalam berbagai makanan yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia. (Sumber: magnific.com | Foto: stockking)

Bangsa Indonesia merayakan ke 81 tahun kemerdekaan dari penjajahan tahun ini. Bendera merah putih berkibar, lagu-lagu perjuangan dinyanyikan, dan semangat nasionalisme kembali digaungkan. Namun, ada satu hal yang menarik untuk direnungkan meskipun Indonesia telah merdeka secara politik tetapi selama lebih dari delapan dekade, jejak salah satu penjajah yaitu Belanda, masih sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama di meja hidangan.

Tengok saja menu yang sering muncul dalam acara keluarga, hajatan, atau bahkan restoran tradisional diantaranya seperti perkedel, semur, sayur kacang, risoles, kroket, kue lapis, klaaptart, nastar, kastengel dan kue cubit. Banyak orang menganggap makanan-makanan tersebut sebagai bagian dari kuliner Indonesia, padahal, sebagian besar memiliki akar sejarah yang kuat dengan budaya kuliner Belanda. Dalam relasi ini dapat dikatakan bahwa Indonesia belum sepenuhnya “merdeka” dari makanan Belanda.

Pernyataan tersebut di atas, bukan berarti Indonesia masih dijajah secara budaya. Sebaliknya, hal ini menunjukkan bagaimana sejarah kolonial meninggalkan warisan yang begitu kuat sehingga menjadi bagian dari identitas kuliner bangsa. Salah satu contoh paling populer adalah perkedel atau frikadeller. Banyak orang mengira perkedel merupakan makanan asli Nusantara.

Faktanya, makanan ini berasal dari kata Belanda frikadeller, yaitu olahan daging cincang yang dibentuk bulat atau pipih. Ketika masuk ke Indonesia pada masa kolonial, bahan dan cara pembuatannya mengalami penyesuaian. Daging yang relatif mahal digantikan oleh kentang yang lebih mudah diperoleh. Hasilnya adalah perkedel kentang yang kini menjadi lauk favorit masyarakat Indonesia.

Makanan lainnya adalah semur yang berasal dari bahasa Belanda smoor, yang berarti memasak perlahan dalam cairan hingga lunak. Teknik memasak ini kemudian berkembang di Indonesia dengan sentuhan rempah-rempah lokal seperti pala, cengkih, kayu manis, dan kecap manis. Jika semur Belanda cenderung memiliki cita rasa gurih sederhana, semur Indonesia justru kaya rasa dan lebih manis.

Masa kini semur menjadi salah satu makanan yang identik dengan masakan rumahan Indonesia. Semur daging, semur ayam, bahkan semur jengkol dapat ditemukan di berbagai daerah. Menariknya, banyak orang lebih mengenal semur sebagai makanan khas Indonesia dibandingkan sebagai warisan kuliner kolonial.

Kroket juga merupakan contoh kudapan yang menarik. Di Belanda, kroket adalah kudapan berbahan ragout atau daging yang dibalut tepung panir dan digoreng. Makanan ini kemudian dibawa ke Hindia Belanda dan menjadi populer di kalangan masyarakat perkotaan. Seiring waktu, isi kroket mengalami perubahan sesuai selera lokal. Ada kroket berisi ayam, kentang, sayuran, hingga keju. Dalam banyak kesempatan, kroket dianggap sebagai makanan tradisional yang sudah menyatu dengan budaya lokal, meski akar sejarahnya berasal dari Belanda.

Begitu pula dengan kue lapis atau spekkoek, meskipun Indonesia memiliki banyak jenis kue lapis tradisional, beberapa varian populer menunjukkan pengaruh kuat dari teknik pembuatan kue Belanda. Penggunaan mentega, telur dalam jumlah besar, serta metode memanggang berlapis-lapis merupakan ciri khas yang berkembang pada masa kolonial. Kue lapis legit, misalnya, sering disebut sebagai hasil pertemuan antara teknik baking Eropa dan kekayaan rempah Nusantara. Hingga kini lapis legit masih dianggap sebagai kue premium yang sering disajikan saat hari raya dan perayaan keluarga.

Transformasi tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat Indonesia dalam mengadaptasi budaya asing. Misalnya perkedel yang awalnya merupakan makanan Eropa berubah menjadi hidangan yang terasa sangat lokal. Bahkan banyak orang Indonesia yang tidak lagi menyadari hubungan makanan tersebut dengan Belanda.

Selain itu, masyarakat Indonesia tidak hanya meniru resep Belanda. Mereka mengubah, menyesuaikan, dan memperkaya cita rasanya dengan bahan-bahan lokal. Kecap manis, santan, cabai, pala, cengkih, dan berbagai rempah Nusantara menjadikan makanan-makanan tersebut memiliki karakter yang berbeda dari versi aslinya.

Di sisi lain, keberadaan makanan-makanan warisan Belanda juga menunjukkan bahwa identitas bangsa tidak selalu dibangun dari unsur yang benar-benar asli. Identitas sering kali terbentuk melalui proses pertemuan, pertukaran, dan adaptasi budaya. Indonesia sendiri merupakan hasil dari interaksi panjang berbagai peradaban, mulai dari India, Arab, Tiongkok, Eropa, hingga budaya lokal Nusantara.

Ironisnya, banyak makanan yang dianggap asing justru telah menjadi bagian dari kenangan kolektif masyarakat Indonesia. Semur sering hadir saat Lebaran, perkedel menjadi pelengkap soto dan nasi tumpeng, kroket menemani acara keluarga, sementara kue lapis legit menjadi sajian istimewa saat hari besar. Dalam konteks ini, makanan-makanan tersebut tidak lagi milik Belanda ataupun Indonesia semata, melainkan milik sejarah bersama.

Pada akhirnya, Indonesia memang telah merdeka dari penjajahan Belanda. Namun, pengaruh Belanda di bidang kuliner masih hidup dan berkembang hingga sekarang. Perkedel, semur, kroket, dan kue lapis misalnya, menjadi bukti bahwa jejak sejarah tidak selalu tersimpan dalam arsip atau bangunan tua, tetapi nampak di piring makanan kita sehari-hari.

Kita tidak lagi berbicara dalam bahasa Belanda, tidak lagi hidup di bawah pemerintahan kolonial, dan tidak lagi tunduk pada kekuasaan asing. Namun, setiap kali menikmati semur hangat, perkedel gurih, kroket renyah, atau sepotong kue lapis legit, kue cubit serta nastar, sebenarnya kita sedang menikmati warisan sejarah yang telah bertransformasi menjadi bagian dari identitas Indonesia modern. (*)

Reporter bram herdiana
Editor Aris Abdulsalam