Ayo Netizen

Aktif Berorganisasi, Benarkah Membantu Mahasiswa Siap Hadapi Dunia Kerja?

Oleh: MUHAMMAD IQBAL DAFFA ARDIANSYAH
Pengalaman organisasi dapat menjadi proses pembelajaran yang membantu mahasiswa mengembangkan employability skills sebagai bekal menghadapi dunia profesional. (Sumber: magnific.com | Foto: tirachardz)

Selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, apakah aspek akademik merupakan satu-satunya aspek yang perlu diperhatikan mahasiswa? Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan akademik tapi juga harus menyiapkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia profesional.

Menurut Hasanah dari Universitas Negeri Makassar dalam hasil penelitiannya yang membahas analisis pengaruh tingkat employability skills terhadap kesiapan kerja mahasiswa, employability skills mencakup kombinasi antara keterampilan teknis (hard skills) dan keterampilan interpersonal (soft skills), seperti komunikasi, kerja sama tim, pemecahan masalah, berpikir kritis, serta adaptabilitas terhadap perubahan.

Keterampilan ini membantu seseorang untuk mendapatkan pekerjaan, berkembang dalam karier, beradaptasi dengan perubahan industri, serta meningkatkan produktivitas dan profesionalisme.

Dunia profesional tidak sekedar membutuhkan individu yang memiliki pengetahuan di bidangnya, tetapi juga individu yang mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut kedalam berbagai situasi dan bekerja dengan orang lain.

Salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk memperoleh berbagai pengalaman tersebut adalah organisasi. Melalui kegiatan di organisasi, mahasiswa dituntut untuk menggunakan keterampilan-keterampilan tersebut untuk menghadapi berbagai macam situasi.

Pengalaman organisasi dapat menjadi proses pembelajaran yang membantu mahasiswa mengembangkan employability skills sebagai bekal menghadapi dunia profesional. Organisasi tidak semerta-merta menjadi sarana aktivitas mahasiswa di luar lingkup akademik, tapi juga berperan dalam mengembangkan employability skills melalui pengalaman praktis yang diperoleh mahasiswa selama berorganisasi.

Organisasi sebagai Wadah Pengembangan Employability Skills Mahasiswa

Selama kuliah, mahasiswa tidak cukup hanya belajar teori di kelas, tetapi juga perlu pengalaman nyata yang tidak selalu tersedia di ruang kuliah. Organisasi menjadi salah satu wadah untuk itu, tempat mahasiswa dihadapkan langsung pada situasi yang ada dan menyelesaikan masalah yang muncul secara nyata.

Bedanya dengan kelas, pembelajaran di organisasi tidak terstruktur dan hasilnya tidak selalu bisa diprediksi. Jika di kelas mahasiswa belajar konsep, di organisasi mereka belajar menerapkan dan menguji konsep itu di lapangan, lengkap dengan risiko dan tanggung jawabnya.

Karena berbasis pengalaman langsung, organisasi pada dasarnya menjadi ruang belajar tersendiri. Mahasiswa belajar bukan dari materi, tetapi dari masalah nyata yang harus mereka selesaikan sendiri, cara ini membuat pembelajaran lebih membekas dibanding sekadar teori.

Rosdiana Mulihatul Hidayah seorang peneliti Universitas Trunojoyo Madura beserta rekan mengungkapkan bahwa keikutsertaan mahasiswa dalam organisasi kampus memberikan kontribusi multidimensional terhadap peningkatan soft skills yang menjadi determinan utama kesiapan kerja.

Semakin aktif mahasiswa terlibat dalam organisasi, semakin banyak pula keterampilan yang terasah seperti komunikasi, kerja sama, leadership, dan problem solving. Keterampilan inilah yang menjadi bekal penting menghadapi dunia kerja, sehingga pengalaman berorganisasi sebaiknya dilihat bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian dari proses membangun kesiapan kerja mahasiswa.

Pengalaman Berorganisasi dalam Membentuk Employability Skills

Pengalaman berorganisasi memberikan mahasiswa kesempatan untuk mengembangkan berbagai employability skills melalui situasi yang mereka hadapi secara langsung. Rosdiana beserta rekan juga menyatakan lebih lanjut bahwa keterlibatan mahasiswa dalam organisasi dapat membantu mengembangkan berbagai soft skills yang dibutuhkan dalam dunia kerja, seperti komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, pemecahan masalah, manajemen waktu, dan kemampuan beradaptasi.

Kemampuan komunikasi berkembang ketika mahasiswa harus menyampaikan pendapat, berkoordinasi dengan anggota lain, atau berinteraksi dengan pihak di luar organisasi. Dalam pembagian tugas dan pelaksanaan program kerja, mahasiswa juga belajar bekerja sama sekaligus menjalankan peran kepemimpinan sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan. Ketika menghadapi kendala dalam pelaksanaan kegiatan, mahasiswa dituntut untuk mencari penyebab masalah, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan mengambil keputusan yang tepat.

Keterlibatan dalam organisasi juga menuntut mahasiswa untuk mengatur waktu dan tanggung jawab antara kegiatan organisasi dan kewajiban akademik. Kondisi tersebut melatih mahasiswa untuk menentukan prioritas dan menyelesaikan tugas sesuai dengan batas waktu yang tersedia. Mahasiswa juga perlu beradaptasi dengan berbagai karakter individu, cara kerja, serta perubahan situasi yang dapat terjadi selama menjalankan kegiatan organisasi.

Menurut Triyani dan Susanti, dalam penelitiannya yang membahas pengaruh perkuliahan magang dan pengalaman organisasi terhadap kesiapan kerja menyatakan pengalaman organisasi berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman organisasi tidak hanya memberikan pengalaman dalam menjalankan suatu kegiatan, tetapi juga dapat menjadi proses yang membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia profesional.

Employability Skills sebagai Bekal Menghadapi Dunia Profesional

Employability skills yang berkembang melalui pengalaman organisasi memiliki keterkaitan dengan berbagai tuntutan yang dihadapi mahasiswa ketika memasuki dunia profesional. Kemampuan yang diperoleh selama berorganisasi dapat diterapkan ketika mahasiswa harus berkomunikasi dengan rekan kerja, bekerja dalam tim, menyelesaikan permasalahan, mengelola tanggung jawab, dan beradaptasi dengan lingkungan kerja.

Menurut Nanda Agustina beserta rekan dari Institut Bisnis dan Teknologi Kalimantan dalam hasil penelitiannya yang membahas pengaruh soft skill, hard skill, dan pengalaman organisasi terhadap kesiapan kerja bahwa pengalaman organisasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kesiapan kerja ketika diuji secara parsial, meskipun soft skills, hard skills, dan pengalaman organisasi secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja. Temuan tersebut menunjukkan bahwa keaktifan dalam organisasi tidak secara otomatis menjadikan mahasiswa memiliki employability skills yang baik. Manfaat pengalaman organisasi bergantung pada bagaimana mahasiswa menjalani dan memaknai pengalaman tersebut selama berorganisasi.

Pemaknaan terhadap pengalaman organisasi tersebut dapat dilakukan dengan menjadikan setiap kegiatan sebagai kesempatan untuk mengevaluasi dan mengembangkan diri. Mahasiswa dapat mengambil pembelajaran dari berbagai pengalaman yang diperoleh, seperti mengevaluasi kesalahan, memahami cara menyelesaikan masalah, dan mengenali keterampilan yang berkembang selama menjalankan tanggung jawab organisasi.

Menurut Fendry Erlangga beserta rekan dari Universitas Lampung, pengalaman organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan kerja mahasiswa tingkat akhir. Temuan tersebut memperkuat pernyataan bahwa pengalaman organisasi dapat menjadi bekal untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesional.

Oleh karena itu, nilai pengalaman organisasi tidak hanya terletak pada banyaknya kegiatan atau jabatan yang dimiliki mahasiswa, tetapi pada sejauh mana pengalaman tersebut mampu membentuk keterampilan yang dapat diterapkan di lingkungan profesional.

Kesimpulan

Keaktifan dalam organisasi dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan mahasiswa, terutama melalui pengalaman yang membantu membentuk berbagai employability skills seperti komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, pemecahan masalah, manajemen waktu, dan kemampuan beradaptasi.

Namun, keterlibatan dalam organisasi perlu diimbangi dengan kegiatan akademik agar mahasiswa tetap dapat menjalankan tanggung jawab perkuliahan dengan baik. Organisasi dapat menjadi sarana pengembangan kompetensi yang efektif apabila dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. (*)

Reporter MUHAMMAD IQBAL DAFFA ARDIANSYAH
Editor Aris Abdulsalam