Ayo Netizen

Derajat Manusia Sama dan Setara

Oleh: Juli Prasetya
Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Perempuan sudah lama dianggap sebagai beban dalam kehidupan rumah tangga jika dilihat dari kacamata budaya patriarki. Budaya patriarki ini menganggap bahwa perempuan hanya wajib mengurusi tiga urusan utama, yakni dapur, sumur, dan kasur. Yang bermakna, bahwa perempuan hanya boleh dan wajib mengurusi tiga hal tersebut, lain itu tidak; yakni urusan dapur dimaknai bahwa kinerja perempuan hanya boleh dan wajib merampungkan dan mengatasi urusan dapur seperti memasak makanan untuk para anggota keluarga.

Dan seorang perempuan yang tak bisa memasak dianggap sebagai sebuah aib,  sebuah kesalahan dan anomali, bahkan disebut juga sebagai suatu ketakbecusan sebagai seorang perempuan. Padahal memasak bagaimana pun bentuknya adalah sebuah keahlian basic atau dasar yang mestinya harus dikuasai oleh setiap orang tanpa memandang gender, entah itu lelaki ataupun perempuan. Karena merupakan hal yang basic dalam menjalani kehidupan pribadi maupun sosial, maka memasak adalah hal yang memang sudah menjadi suatu keniscayaaan dan harus dikuasai oleh setiap orang, dan sekali lagi tanpa memandang gender.

Kemudian yang kedua bahwa perempuan dipandang harus berkutat mengurusi urusan sumur, seperti cuci mencuci, entah itu mencuci pakaian ataupun mencuci piring. Padahal seperti yang sudah kita jelaskan di awal, bahwa hal seperti cuci mencuci ini juga adalah urusan yang seharusnya bisa dilakukan oleh semua orang normal, yang memiliki tangan dan kakinya sendiri. Cuci mencuci ini bukan menjadi hal wajib yang harus dilakukan seorang perempuan atau istri misalnya, padahal hal ini juga menjadi semacam hal yang basic pula dalam kehidupan berumah tangga.

Dan mungkin ini akan menjadi dimaklumi ketika memang fungsi kepala keluarga berjalan dengan baik, dan melihat rumah tangga sebagai hubungan kerja sama antara suami dan istri, dan di sini mungkin pembagian kerja menjadi penting, dan tentu saja harus adil.  Entah suami atau istri harus memiliki andil yang setara dalam melakukan kerja-kerja basic macam ini, dan tentu saja bisa saling membantu dan melengkapi antara satu dengan yang lain.

Dan yang ketiga urusan kasur atau saya menangkapnya sebagai analogi urusan ranjang. Maka entah lelaki ataupun perempuan memang harus memiliki andil masing-masing dalam proses reproduksi yang alami ini. Bahwa seorang perempuan tidak hanya wajib melayani suaminya, tapi sang suami pun sudah sepantasnya juga melayani istrinya dalam urusan ranjang ini, jadi saling memuaskan. Jadi kedua pasangan ini harus saling proaktif dalam melakukan kegiatan “bercocok tanam” dan anak yang akan dilahirkan nanti dibesarkan dan diurus secara bersama-sama sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing pasangan.

Di era kiwari seperti sekarang, mungkin analogi bahwa perempuan hanya boleh mengurusi dapur, sumur dan kasur harus benar-benar didekonstruksi. Kodrat perempuan yang dianggap harus hanya bisa masak, macak, dan manak harus benar-benar diubah sama sekali.

 Bahwa manusia di era modern seperti sekarang sudah seharusnya meninggalkan pandangan-pandangan patriarki yang mendiskreditkan satu golongan yang hanya dipandang sebagai objek semata dan sangat  mungkin dianggap tidak memiliki kemampuan dan perasaan, golongan ini dianggap sebagai sebuah benda, bukan dipandang sebagai manusia. Dan tentu saja golongan ini seringkali dirugikan, siapa lagi kalau bukan perempuan.

Maka kita harus sudah mengubah pandangan ini secara bertahap bahwa lelaki dan perempuan itu setara. Entah itu dalam mengambil keputusan, karir, atau dalam bidang lain. Lelaki dan perempuan harus menjadi setara, entah itu dalam mencari ilmu maupun penghidupan.

Ilustrasi perempuan sehat. (Sumber: Pexels/Phil Nguyen)

Misalkan dalam mencari nafkah atau biaya hidup, lelaki dan perempuan bisa bekerja sama dalam mewujudkan perekonimian keluarga yang stabil. Bisa saja seorang istri memiliki usaha, dan sang suami mempromosikan usahanya. Ataupun sebaliknya, jadi dalam mencari penghidupan dan urusan ekonomi di sini berlaku secara fleksibel, saling membantu dan saling menopang dalam urusan keberlangsungan rumah tangga. Ketika suami tidak bisa mencari nafkah lagi misalnya, maka di sini peran istri sangat dibutuhkan untuk menjadi penopang keluarga, dan kita perlahan-lahan harus bisa memaklumi itu.

Tapi sayangnya di masyarakat kita peran perempuan yang dominan dalam mencari penghidupan ekonomi itu sangat tidak disukai, dan terkesan disepelekan. Peran perempuan yang bekerja dianggap sebagai sebuah kekurangan. Sebagai suatu hal yang menyalahi kodrat, dan kadangkala dianggap sebagai anomaly, suatu keanehan. Bahwa mereka memandang bahwa keluarga yang sehat dan sejahtera adalah keluarga yang berfungsi sesuai dengan tugasnya.

Dan Tugas lelaki dianggap sebagai pencari nafkah yang paten, tanpa bisa diganggu gugat dan digantikan oleh peran perempuan. Padahal bukankah suami istri yang dapat bekerja sama dalam mencari penghidupan dan ekonomi secara gotong royong sangat indah dan menakjubkan.

Coba kita bayangkan sebuah masyarakat yang ketika seorang lelaki tak bisa bekerja dan tidak bisa menafkahi keluarganya dianggap sebagai lelaki yang tak berguna, dan ketika si istri membantu untuk mengeluarkan suami dan keluarganya dari jeratan kemiskinan dan ketakberdayaan, malah si istri dianggap menyalahi kodrat di dalam masyarakat. Bukankah ini merupakan pandangan masyarakat yang sakit? Yang tidak adil semenjak dalam pikiran, kalau kata Pramoedya.

Kita harus benar-benar mendekosntruksi lagi tentang pandangan-pandangan yang menganggap bahwa lelaki lebih tinggi derajatnya dibanding perempuan. kita pelan-pelan harus mulai menganggap bahwa peran lelaki dan perempuan dalam keluarga itu harus setara. Seharusnya mendapatkan suatu hubungan yang setara merupakan dambaan bagi semua orang, bagi setiap keluarga. Karena dengan demikian mereka sadar akan pentingnya kesetaraan dalam menjalani kehidupan berumah tangga, kehidupan dalam menjalani peran suami istri. Bukankah manusia entah itu lelaki dan perempuan dipandang sama di mata Tuhan, hanya ketaqwaannya saja yang membedakan. Lalu mengapa dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan peran lelaki dan perempuan tidak bisa setara?

Bahwa peran mencari penghidupan tidak hanya boleh dilakukan oleh suami yang dianggap sebagai kepala keluarga, tapi juga bisa dan boleh dilakukan oleh seorang istri yang membantu penghidupan keluarganya. Karena dalam kehidupan rumah tangga bukankah indah jika bisa saling membantu antara suami dan istri, tidak hanya dalam urusan ranjang saja, tapi juga urusan sumur dan dapur.

Wah, betapa indahnya hubungan setara ini, untuk segala urusan bisa dilakukan bersama, bukan hanya urusan ranjang saja yang dilakukan bersama, tetapi mencuci baju, mencuci piring, memasak dan mengurus anak juga adalah urusan bersama. Karena rumah tangga ini bukankah bukan hanya milik si suami atau milik si istri seorang. Tapi milik suami dan istri, milik mereka berdua, milik bersama. (*)

Reporter Juli Prasetya
Editor Aris Abdulsalam