Ayo Netizen

Sejarah Lomba-Lomba Agustusan

Oleh: Malia Nur Alifa
Kartu pos yang menggambarkan tradisi panjat pinang di negri ini sejak masa kolonial. (Sumber: KITLV)

Tradisi lomba 17 Agustusan mulai populer di Indonesia sekitar tahun 1950-an, tepatnya saat perayaan HUT RI yang ke-5 (1950), saat itu suasana negeri mulai pulih, ketika sebelumnya masih harus bergelut dengan peperangan dalam masa mempertahankan kemerdekaan. Keadaan ekonomi pun sangat sulit di awal kemerdekaan sehingga dalam melewati HUT RI, warga masyarakat tidak merayakannya. Terlebih lagi warga masih agak ketakutan apabila di tengah perayaan akan terjadi bentrokan, maklumlah dalam 5 tahun pertama negeri ini merdeka, para warga harus berjibaku dengan perang dan agresi yang terus terjadi di negeri ini.

Setelah Konferensi Meja Bundar pada 1949, keadaan negeri ini mulai membaik, dan dalam menyambut HUT RI, pemerintah mulai mengadakan hiburan rakyat secara sederhana. Lalu terciptalah beragam permainan rakyat yang murah meriah namun berkesan seperti balap karung, panjat pinang, balap kerupuk dan lain sebagainya. Lalu tahukah kalian bahwa dari setiap perlombaan tersebut memiliki kisah sejarahnya sendiri, mari kita simak sejarah singkat dari perlombaan-perlombaan tersebut.

Panjat pinang adalah sebuah lomba yang paling ditunggu-tunggu. Biasanya diselenggarakan di akhir acara sebagai acara puncak. Beragam hadiah menarik digantung di atas pinang yang telah dilumuri oleh oli ataupun lemak sapi, dan dibutuhkan kekompakan dari peserta hingga semua hadiah mampu dibawa pulang.

Sebetulnya panjat pinang telah ada sedari masa penjajahan Belanda, saat itu bernama “de Klimmast” yang artinya memanjat tiang. Panjat pinang biasanya diselenggarakan apabila ada warga kelas atas dari Eropa ataupun Tionghoa yang menggelar acara hajatan atau pernikahan, lalu pernah pula dipakai sebagai acara untuk memeriahkan hari ulang tahun ratu Wilhelmina yang biasanya diselenggarakan di setiap tanggal 31 Agustus.

Pada saat itu hadiah yang digantung merupakan kebutuhan pokok bagi kaum pribumi kelas bawah, dan saat kaum pribumi tersebut berlomba untuk menggapai hadiah tersebut secara susah payah, para warga Eropa yang menonton menjadikan hal ini sebagai lelucon, sungguh miris. Namun saat negara ini telah merdeka makna yang terkandung dalam tradisi panjat pinang pun berubah, lomba ini dimaksudkan untuk mempererat gotong royong, kerja sama tim dan pantang menyerah sesama para pemain, hadiah yang didapat pun akan dinikmati bersama-sama.

Setali tiga uang dengan panjat pinang, perlombaan balap karung pun sebetulnya telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Permainan ini sangat populer di kalangan anak-anak sekolah bentukan kolonial dan warga masyarakat Betawi. Biasanya karung yang dipakai adalah karung goni bekas pakai, karena karung seperti sekarang belum tersedia. Hal ini merupakan sindiran atas kemiskinan yang terjadi pada warga pribumi pada masa penjajahan kolonial Belanda.

Sejak zaman Belanda, perlombaan ini biasa dimainkan oleh anak-anak usia 6 hingga 12 tahun di sekolah atau dilakukan pada perayaan hari-hari besar. Namun saat perayaan HUT RI ke-5 di tahun 1950, perlombaan balap karung ini dipakai sebagai ikon hiburan rakyat yang terus berkembang hingga kini. Lomba ini dipilih saat itu karena memiliki filosofi menggambarkan kerja keras, ketekunan untuk terus maju hingga garis finis.

Berbeda dengan lomba balap makan kerupuk, lomba ini hadir secara baru di masa perayaan HUT RI ke-5. Kerupuk dilambangkan kesusahan warga pada masa-masa pasca kemerdekaan, hingga kerupuk adalah makanan yang lumrah untuk dijadikan lauk sehari-hari. Aturan dalam perlombaan ini adalah kerupuk yang digantung, lalu tangan kita diikat di belakang, hal ini mencerminkan keterbatasan dan belenggu bagi rakyat negeri ini dahulu.

Salah satu lomba yang populer dalam rangka memeriahkan HUT RI adalah lomba tarik tambang. Lomba ini sebetulnya berakar dari kebudayaan Tiongkok, India dan Mesir pada masa kuno. Warga Tiongkok saat abad ke-8 SM, melakukan aktivitas ini untuk latihan militer. Di Indonesia sendiri permainan ini populer sejak masa penjajahan dari sebuah kebiasaan para pekerja paksa yang sering menarik beban bersama-sama.

Di Tiongkok dalam buku Dinasti Tang, latihan tarik tali dipakai militer negara Chu untuk melatih strategi perang perahu, lalu di India kuno dikenal sejak abad ke-12 SM dan di Yunani kuno menjadi sebuah cabang olahraga untuk tanding kekuatan sejak sekitar tahun 500 SM.

Ada satu lagi perlombaan yang sangat dinantikan saat peringatan HUT RI adalah lomba perang bantal. Lomba ini ternyata berakar dari tradisi latihan ketangkasan rakyat zaman penjajahan Belanda yang berkembang cukup luas sebagai hiburan rakyat. Lomba ini mulai dipakai di acara-acara HUT RI sejak tahun 1980-an, dan terus berkembang hingga kini.

Dahulu di sekitar kawasan Jawa Timur rakyat memakai bantal sebagai alat tiruan senjata untuk latihan bertahan dan ketangkasan fisik karena dilarang untuk memegang senjata api oleh militer Belanda. Permainan ini lalu diadaptasi oleh warga perkotaan, salah satunya di kawasan Cipinang Melayu Kalimalang yang mulai rutin untuk menjadikan lomba ini adalah perlombaan rutin untuk menyambut HUT RI sejak 1990-an.

Begitu unik ya tradisi perayaan HUT RI ini, bila kita dalami dan resapi banyak sekali filosofi di dalamnya, dan menjadikannya sebuah hiburan rakyat yang selalu dirindukan, semoga bangsa dan negara ini lekas pulih, semoga perayaan HUT RI ini mampu membuat kita semua bangkit dan terus memperbaiki diri untuk NKRI. (*)

Reporter Malia Nur Alifa
Editor Aris Abdulsalam