Ayo Netizen

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti
Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)

Cita rasa yang kita sesap di meja makan hari ini sesungguhnya adalah narasi panjang tentang dialog kebudayaan yang melampaui batas samudera. Ekspedisi kolosal Laksamana Cheng Ho (1405-1433) melalui Jalur Sutra bukan sekadar misi diplomatik, melainkan katalisator awal akulturasi budaya yang membentuk fondasi keberagaman rasa di Nusantara. Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Telaah sosiologis menunjukkan betapa lenturnya kebudayaan ini beradaptasi. Transformasi istilah "bak" yang awalnya merujuk pada daging babi menjadi isian kacang hijau pada bakpia atau daging ayam pada bakpao adalah bukti nyata upaya harmonisasi dengan norma masyarakat lokal. Di Bandung, sejarah ini berkelindan dengan kebijakan pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-19 yang mengembangkan pemukiman Pecinan untuk memperluas jalur distribusi hasil bumi. Perkembangan ini mencapai puncaknya pada tahun 1905 dengan pusat aktivitas di sekitar Pasar Baru, melahirkan titik-titik kuliner legendaris yang tetap tegak berdiri hingga saat ini.

Menurut catatan sejarah, orang-orang Tionghoa pertama kali datang ke Indonesia melalui ekspedisi Laksamana Cheng Ho (1405-1433). Sejak ekspedisi itu, berangsur-angsur orang-orang Tionghoa berdatangan dan membangun perkampungan yang disebut dengan Kampung Tionghoa atau Pecinan.

Gastronomi Tionghoa: Karakteristik dan Teknik Memasak Tradisional

Logika di balik kuliner Tionghoa adalah tentang penguasaan elemen api (fire power) dan presisi waktu. Estetika hidangannya tidak hanya terletak pada rasa, tetapi pada kemampuan koki menjaga integritas bahan. Komponen utama seperti rebung, sarang burung walet, hasil laut, hingga olahan kedelai seperti tahu dan kecap, dipadukan dengan rempah eksotis seperti bunga lawang (pekak), cengkih, dan angkak untuk menciptakan profil rasa yang berlapis.

Teknik memasak yang paling ikonik adalah chao, yakni metode menumis cepat dengan sedikit minyak di atas suhu panas yang sangat tinggi. Secara teknis, chao bertujuan untuk mengunci sari pati makanan guna mempertahankan kelembutan daging dan tekstur sayuran agar tetap renyah (garing) dengan warna yang tetap vibrant.

Salah satu bentuk akulturasi teknis yang menarik adalah penggunaan angciu (arak merah). Sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman konsumen, banyak restoran Tionghoa di Bandung mengganti angciu yang nonhalal dengan campuran kecap asin, air perasan jeruk lemon, dan air jahe parut untuk menghasilkan aroma yang mendekati aslinya namun tetap dapat dinikmati oleh masyarakat Muslim.

Berbagai kategori hidangan berikut merepresentasikan kemahiran teknik tradisional tersebut, mulai dari hidangan utama seperti dim sum, bakmi, fuyunghai, kwetiau, dan sapo, hingga olahan daging dan sayur berupa capcay, ayam rebus, babi panggang, serta kangkung hot plate. Tak ketinggalan, ragam penganan kecil seperti bakpao, cakwe, kompia, bacang, dan siomay juga turut melengkapi kekayaan kuliner ini.

Episentrum Kuliner GOR Pajajaran: Simbol Legenda dan Konsistensi

Sebagai ruang publik, Gelanggang Olahraga (GOR) Pajajaran telah berevolusi menjadi arkade kuliner penting yang menjaga keberlanjutan resep turun-temurun. Di tempat ini, interaksi sosial hangat terjalin secara alami di tengah aroma uap bubur dan gurihnya gorengan cakwe yang menggugah selera.

Keberlanjutan tradisi di kawasan ini digerakkan oleh para pedagang legendaris yang memegang teguh resep autentik. Salah satunya adalah Lie Tjay Tat, yang telah merintis usahanya di Pasar Baru sejak 1934 sebelum berpindah ke GOR Pajajaran. Hingga kini, mereka tetap setia menyajikan Kompia, hidangan berbentuk mirip burger ala Tionghoa yang dipadukan dengan isian Bapia lezat. Nilai historis serupa juga dihadirkan oleh Kacang Hokkian Pak Syarifudin, yang selama lebih dari dua dekade konsisten menghangatkan pengunjung melalui sajian kacang tanah rebus berkuah manis khasnya.

Daya tarik kuliner GOR Pajajaran semakin diperkaya oleh ragam hidangan mi, bubur, hingga pencuci mulut yang unik. Bakmi Tasik Sanjose, misalnya, menawarkan Locupan—mi tepung beras berbentuk lonjong menyerupai cendol putih yang dipadukan dengan topping ayam jamur dan memberikan sensasi kenyal yang khas.

Pengunjung juga kerap dibikin penasaran oleh Bubur Akiong yang berani menghadirkan topping eksotis seperti ikan, kepiting, hingga ubur-ubur bertekstur kenyal dengan cita rasa gurih laut yang autentik. Sebagai pelengkap, sajian Kembang Tahu hadir menjadi penutup sempurna lewat perpaduan lembutnya puding tahu dan hangatnya kuah jahe gula aren.

Penjelajahan Rasa di Koridor Sudirman dan Pasir Kaliki

Kawasan Sudirman dan Pasir Kaliki berfungsi sebagai "sabuk emas" kuliner Tionghoa di Bandung, menawarkan spektrum rasa yang kaya mulai dari kelembutan tahu hingga aroma kangkung yang berasap. Di koridor ini, tradisi minum teh (yum cha) dijaga bukan sekadar sebagai pendamping makan, melainkan sebuah ritual sarat ketenangan yang berfungsi memulihkan kesegaran tubuh sekaligus menetralisir kadar lemak.

Kekuatan utama kawasan ini terletak pada konsistensi para pengusahanya dalam menjaga kualitas. Salah satu contohnya adalah Tahu Talaga Yun Sen, yang sejak 1938 konsisten mempertahankan kemurnian olahan kedelai tanpa bahan pengawet. Sementara untuk hidangan berat, sajian Kangkung Cah Hot Plate menghadirkan perbandingan yang menarik antara dua tempat legendaris: Mandarin Restaurant menonjolkan topping telur puyuh dan aneka seafood dengan karakter rasa gurih laut yang intens, sedangkan RM Ahong memadukan telur puyuh dengan potongan daging sapi yang menghadirkan cita rasa gurih dan kaya.

Eksplorasi kuliner di koridor ini semakin lengkap dengan kehadiran Hotin Restaurant yang menjadi destinasi utama para pencinta Dim Sum dan Bubur. Tak kalah menarik, RM Kuang Ming menunjukkan adaptivitas kuliner Tionghoa melalui deretan menu vegetarian. Mereka secara lihai mengganti protein hewani dengan bahan-bahan nabati tanpa sedikit pun mengorbankan kedalaman rasa tradisionalnya.

Eksotisme Malam: Destinasi Cibadak dan Kehangatan Astana Anyar

Saat malam merengkuh Bandung, koridor Cibadak dan Astana Anyar bertransformasi menjadi panggung kuliner malam yang menghangatkan jiwa. Salah satu sajian yang paling memikat secara historis adalah Swike Karanganyar. Nama "swikee" sendiri berasal dari dialek Hokkiansui (air) dan ke (ayam)—yang menjadi eufemisme cerdas untuk sebutan katak hijau agar lebih mudah diterima. Baik diolah dengan kuah tauco aromatik yang dipadukan dengan kesegaran perasan jeruk limo, maupun digoreng mentega, hidangan ini menawarkan tekstur unik di antara kelembutan daging ikan dan serat ayam.

Memasuki kawasan Astana Anyar, kejayaan kuliner legendaris dilanjutkan oleh Lomie Lian Hoa yang telah eksis sejak 1970. Tempat ini menyajikan lomie berkuah kental nan gurih yang kaya akan esensi jamur hioko serta kedalaman rasa dari kaldu tulang.

Sebagai penutup perjalanan malam, Toko P&D Anyar hadir menyajikan hangatnya Wedang Ronde. Dalam tradisi Tionghoa, Ronde (Tang Yuan) menyimpan filosofi kehangatan tersendiri; bentuk bulatan ketannya yang kenyal dan lengket melambangkan simbol perekat serta persatuan keluarga.

Refleksi Akhir: Memaknai Warisan yang Terjaga

Kuliner Tionghoa di Bandung merupakan sebuah monumen hidup yang merekam sejarah panjang interaksi sosial bangsa. Dedikasi para generasi penerus di tempat-tempat legendaris, seperti Lie Tjay Tat hingga Lomie Lian Hoa, membuktikan bahwa keaslian rasa adalah amanah sejarah yang terus dijaga dari gerusan zaman.

Melalui setiap suapan, kita sebenarnya sedang merayakan empat nilai utama yang saling bertaut. Nilai akulturasi tecermin dari kelenturan budaya yang mampu beradaptasi harmonis dengan lidah dan norma lokal. Konsistensi hadir melalui kesetiaan pada teknik memasak tradisional seperti chao serta pemilihan bahan-bahan alami. Sementara itu, dedikasi tampak nyata pada komitmen lintas generasi yang menjaga warisan keluarga selama berpuluh-puluh tahun, berdampingan dengan perhatian pada kesehatan lewat penggunaan rempah alami dan tradisi minum teh sebagai penyeimbang nutrisi.

Pada akhirnya, mendokumentasikan jejak-jejak rasa ini menjadi upaya penting untuk merawat kekayaan budaya. Langkah ini memastikan bahwa narasi keberagaman Indonesia tetap hidup, harum, dan relevan bagi generasi masa depan. (*)

Referensi:

  • Deerona, dan Gagas Ulung. 2014. Jejak Kuliner China yang Melegenda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam