Ayo Netizen

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Oleh: Ibn Ghifarie
Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)

Malam itu terasa dingin untuk wilayah Babakan Dangdeur, Cibiru, dan sekitarnya. Angin malam berhembus menyusup pelan-pelan, yang ditemani secangkir air hangat, saat asyik membaca koran kebanggaan urang Jabar. Di tengah-tengah suasana yang tenang itu, tiba-tiba Aa Akil, anak kedua (11 tahun), menyela.

“Bah, emang ada gitu selawatan perdamaian?”

Dengan memperlihatkan satu buku berjudul Shalawat Perdamaian; Membumikan Islam, Mencipta Harmoni, Merawat Kemanusiaan karya Sukron Abdilah. Maha karya itu ditemukan begitu saja, tegeletak di rak buku sederhana yang alakadarnya.

Rasa ingin tahunya muncul. Bagi anak kelas VI SD itu, selawat selama ini punya ruang yang cukup jelas dalam ingatannya. “Biasanya kan Sholawat Maulid Nabi, nazoman di masjid, solawatan di pengajian,” jelasnya.

Sambil tersenyum. Pertanyaan sederhana itu justru membawa ingatan pada bagaimana anak-anak mengenal agama dari segala aktivitas yang dekat dengan keseharian, mulai dari suara selawat dari masjid, lantunan nazoman di pengajian, majelis yang riuh oleh pupujian kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

“Muhun, eta mah buku Mang Ukon,” jawabku singkat. Mang Ukon itu sapaan akrab untuk Sukron Abdilah, penulis buku dan kawan sejak kuliah dulu di IAIN Bandung (tahun 2002), sampai sekarang masih sering berkomunikasi, bertegur sapa baik lewat WhatsApp maupun telponan.

Cover kitab Nadzam Al-Maulid Wal Mi'raj (Sumber: www.nu.or.id)

Merawat Ingatan Nadzoman Sunda

Ya, sebelum dimulai pengajian majelis talim ibu-ibu, pengajian mingguan di Masjid Al-Hidayah, Ar Rahman, Al Amanah, Nurul Iman, selalu terdengar pupujian, nadoman "Nabi urang sarerea" sebagai ungkapan rasa syukur dan kerinduan (kecintaan) umatnya terhadap Rasulullah Saw.

Dalam tulisan Maulid dan Isra Mi`raj dalam Nadzoman Sunda dijelaskan dari sekian banyak kitab nadzoman berbahasa Sunda yang tersebar di Jawa Barat, terdapat kitab berjudul Nadzam Al-Maulid Wal Mi'raj. Unikannya, meski tidak dicantumkannya nama ulama yang menulis kitab ini, tapi terdapat dugaan penulisnya ulama dari wilayah Priangan Timur. Pasalnya, didasarkan pada nama penerbit kitab, Toko Kairo Tasikmalaya.

Kitab ini terdiri atas dua bab: bab pertama membahas Maulid Nabi Muhammad saw. sebanyak 12 halaman, sedangkan bab kedua mengisahkan perjalanan Isra dan Mi'raj Rasulullah saw. sebanyak 9 halaman. Pada bagian akhir terdapat satu lembar berisi Shalawat Badriyah dalam bahasa Arab dan Sunda, sehingga keseluruhan kitab berjumlah 32 halaman.

Isi kitab Nadzam Al-Maulid Wal Mi'raj ini banyak dilantunkan dalam bentuk pupujian, terutama setelah azan dikumandangkan dan sebelum salat berjamaah dimulai. Tradisi ini dikenal di kalangan masyarakat Nahdliyin di tatar Sunda.

Dengan demikian, kitab ini tidak hanya memiliki nilai keagamaan dan sastra, tetapi sudah menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat Sunda melalui praktik pupujian yang diwariskan dan dilantunkan dalam kehidupan keagamaan sehari-hari. (www.nu.or.id)

Gusti urang sarerea

Kangjeng Nabi anu mulya

Muhammad jenengana               

Arab Quraisy ngabangsana

Ramana gusti Abdullah

Ibuna siti Aminah

Dibabarkeuna di Mekkah

Wengi senen taun gajah

Robi'ul Awal bulanna

Tanggal ka dua belasna

April bulan Maséhina

Tanggal ka dua puluhna

Ari bilangan Taunna

Lima ratus cariosna

Tujuh puluh panambihna

Sareng sahiji punjulna

Siti Aminah misaur,

Waktos babarna kacatur,

Ningal cahaya mani ngempur

Di bumina hurung mancur

Setiap kali pupujian dilantunkan, pikiran seakan-akan melayang jauh ke kampung halaman, Bungbulang, Garut Pakidulan, pada era 1990-an. Ingatan itu menghadirkan kembali suasana nadoman di Masjid Darussalam yang begitu lekat dalam keseharian. Suara pupujian menggema, anak-anak berlarian di serambi masjid, dan riuh kecil mereka berebut mik (toa masjid) untuk mendapat giliran melantunkan nadoman.

Pupujian terdengar sebelum dan sesudah salat lima waktu, menjadi bagian dari denyut kehidupan masjid, kenangan masa kanak-kanak yang hingga kini masih terasa hangat. Setiap lantunan seolah-olah membawa kembali suasana kampung yang sederhana, akrab, dan penuh kebersamaan.

Penulis buku Shalawat Perdamaian, Sukron Abdilah tengah asyik membaca sambil ditemani kopi hangat. (Sumber: Ilustrasi Gemini AI)

Pegang Teguh Prinsip Selawatan

Bila kita menjalankan hidup dengan memegang teguh prinsip shalawat (menebar damai, cinta, kasih), maka niscaya tidak ada lagi usaha menertibkan keyakinan orang lain, upaya memberkan label sesat, kafir, hingga menghilangkan nyawa orang lain atas nama ajaran agama.

Dalam buku Shalawat Perdamaian; Membumikan Islam, Mencipta Harmoni, Merawat Kemanusiaan (Cetakan : 1 Juni 2016, Halaman : 111+xi, Penerbit : MasterPeace Writing Labs, ISBN : 978-602-18343-2-1) diuraikan dalam menjalani kehidupan di tengah perselisihan, pertengkaran, perlawanan, peperangan, dan kecamuk nafsu egois pembenaran keyakinan memang sangat menjengahkan. Pluralitas menjadi patologis dalam pandangan warga. Kebenaran (al-haqq) didominasi kaum mayoritas, yang kadang-kadang mengejawantahkan arogansi pikir, sikap, dan laku.

Sejatinya manusia yang selalu mendamba kedamaian membumi di kehidupan sehari-hari tidak lagi memenuhi setiap ruang di kedalaman jiwa. Betapa mudahnya kita melontarkan kata “sesat” pada setiap pemahaman dan keyakinan di negeri ini.

Parahnya, kita seakan-akan menjadi manusia yang merasa paling benar dan paling shaleh; paling layak memonopoli ruangan mewah dan indah di alam surgawi. Bahkan, posisi Tuhan yang paling berhak menunjuk apakah seorang hamba layak memasuki surga ataukah tidak; digantikan secara paksa oleh kepongahan kita.

Rupanya singgasana peradilan Tuhan direbut oleh manusia yang berteriak “Akulah yang Mahabenar” di medan kehidupan, hingga tidak menyisakan ruangan untuk peace, shalom, shanti, dan salam bagi para penganutnya.

Ingat, kedamaian yang dihasilkan dari aktivitas perdamaian umat manusia merupakan Realitas Ilahi yang membumi karena memantulkan keindahan mutlak yang bermuara dari kebenaran Ilahi (al-haqq). Kedamaian, harmonitas atau ketentraman berarti wujud Tuhan di muka bumi. (h.2).

Ketika seorang manusia mencoba menghancurkan kedamaian, harmonitas, dan ketentraman; maka mereka berarti telah menghancurkan realitas Tuhan di muka bumi. Pasalnya, kedamaian dan perdamaian di negeri plural ini telah dicederai oleh sikap dan laku arogan segelintir kalangan, yang kembali mencuat seolah memperkeruh suasana damai dan tentram (al-sakinah) yang ditanamkan Tuhan pada jiwa-batiniah setiap umat manusia.

Kedamaian ialah hasil dari upaya perdamaian yang diusahakan umat manusia. Akan tetapi, karena manusia kerap mengklaimkebenaran secara “hitam putih” akibatnya lahirlah kekerasan dan penyesatan yang mencederai kedamaian dan perdamaian.

Kebenaran beragam wajah dan plural bentuknya. Tidak tunggal dan manunggaling kawula gusti. Bukan milik manusia yang serba terbatas, serba emosional, dan serba mendapatkan gangguan saluran ketika berkomunikasi (noise) dengan teks-teks keagamaan. Kebenaran merupakan potret keindahanilahi, yang sejuk dan tenang serta damai (salam); sehingga tidak pernah menyisakan ruang untuk kebencian dan kekerasan.

Di dalam teks suci Islam dan sebuah hadis Nabi, para penghunisurga diceritakan selalu mengucapkan salam pada penduduk di akhirat. Kaum Sufi Asia Tengah menyebutnya dengan perdamaian universal (shulh-i kull), yang diraih ketikadualisme, kondisi berlawanan (ketegangan) bertemu (coincidentia oppositorum). Kedamaian yang dihasilkan dari berislam ini bagaikan ejawantah dari nama Allah, as-salam, yang berarti pemberi kedamaian karena Dia adalah sumber keindahan dan kebenaran. (h.3).

Memang jalan menuju kebenaran itu sangat beragam dan kita sebagai manusia sejatinya tidak mudah mengklaim bahwa kebenaran mutlak ialah milik kita, sedangkan pemahaman orang lain sesat dan menyesatkan.

Salah satu caranya melalui selawat yang dilantunkan untuk memuji kanjeng Nabi Muhammad, bagi umat Islam dipercaya dapat memancarkan berkah, keselamatan, kesejahteraan, ketentraman dan keamanan bagi seluruh umat manusia. Shallu dapat berarti doa, memberikan berkah, pujian, kesejahteraan, ketentraman, ketenangan, kemuliaan, dan ibadah.

Sungguh sahdunya ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dengan demikian, selawat nabi mestinya berfungsi memuliakan ajaran-ajaran toleransi yang digelorakan Nabi Muhammad Saw., selama beliau masih hidup. Namun, menyaksikan kekerasan berbungkus agama, akhir-akhir ini, kita patut bertanya betulkah kita telah memaknai selawat sebagai aktualisasi perdamaian dan kedamaian?

Islam ialah agama damai, karena itu sudahkah kita berselawat dengan benar, kalau masih menyisakan ruang bagi kekerasan ketika muncul perbedaan? Selawat kepada Nabi Muhammad selalu kita lantunkan sebanyak sembilan kali dalam salat lima waktu per hari. Bahkan, bagi orang yang sering menunaikan salat sunah bisa lebih banyak dari sembilan kali. Kalau dikalikan dalam tiga puluh hari, kita berselawat sebanyak duaratus tujuh puluh kali.

Namun, sayangnya selawat tidak membekas di kedalaman jiwa umat Islam. Yang terjadi ialah, umat banyak mengkhianati keberkahan Islam sebagai agama yang menebarkan rahmat bagi semesta alam (al-islam rahmatan lil alamin).

Fundamentalisme Islam yang rigid dan kikuk dengan klaim kebenaran sepihak telah membuat suasana harmoni negara-bangsa ini berada pada ketidakstabilan sosial dengan mudah meruncingnya konflik-konflik yang bermotif agama. (h.5)

Bagi kita yang hidup di masa yang terbentang jauh dengan Nabi Muhammad Saw., menjadi keniscayaan kembali memaknai maulid Nabi dengan suasana yang kontekstual. Memaknai kelahiran Nabi yaitu berupaya secara teguh mengamalkan apa yang digariskan olehnya sebagai panduan etis dan moral bersosial. Selawat pun mesti memantik kesadarandiri, perbedaan ialah anugrah dari Tuhan yang patut dipelihara demi terwujudnya kedamaian di negeri yang plural ini, Indonesia. (h.6).

Buku ini merupakan kumpulan (27) artikel yang pernah diterbitkan oleh beberapa koran ini disusun karena kita sebagai muslim telah kehilangan suri tauladan dalam hal perilaku damai, sehingga kita kerap mencaci dan memaki orang yang berbeda pemahaman dengan kita. Saya berharap dengan buku buku ini dapat tercipta ekosistem perdamaian di Indonesia, baik di raha sosial, politik, budaya dan khusunya di ranah keagamaan. (h.vi-vii)

Hadirnya buku ini yang berusaha membincang tentang pentingnya menciptakan kedamain sebagai aktualisasi dari asma Allah, As-salam. Karena tujuan hidup di muka bumi ini untuk mencapai sakinah. “Dialah yang telah menurunkan ketenangan (al-sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin. (QS Al-Fath:4)."

Kick Off Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan dan Ngaji Sirah Nabawi, Rabu (26/8/2026) (Sumber: Humas Kemenag)

Gema Selawat Bangsa, Teladani Sirah Nabi

Dalam konteks kehidupan berbangsa saat ini, upaya menghadirkan keteladanan Nabi Muhammad SAW dikuatkan melalui Gerakan Nasional Gema Shalawat Bangsa yang diluncurkan Kementerian Agama. Gerakan ini berlangsung pada 31 Agustus hingga 7 September 2026 dan mengajak masyarakat dari berbagai kalangan untuk berselawat secara serentak, baik secara perorangan maupun bersama-sama di masjid, musala, pesantren, kampus, hingga perkantoran.

Gerakan ini mendorong masyarakat Indonesia memperbanyak selawat melalui pembacaan Dalail Khairat, dengan semangat “berselawat untuk negeri” sambil berusaha meneladani sirah Nabi Muhammad SAW. Dengan menargetkan keterlibatan 1.781.945 peserta dari seluruh Indonesia. Angka yang dipilih secara historis sebagai simbol Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945.

Tak hanya gerakan selawat, Kementerian Agama menyelenggarakan Ngaji Sirah Nabawi, berupa estafet kajian perjalanan hidup Rasulullah SAW bersama para ulama selama tujuh hari. Semua ini menjadi ikhtiar bersama untuk menegaskan pentingnya memahami sejarah kehidupan Nabi sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan kepada Muhammad SAW.

Kecintaan kepada Rasulullah SAW akan semakin kokoh apabila disertai pengenalan yang mendalam terhadap kehidupan, akhlak, keteladanan, dan perjuangannya. (www.kemenag.go.id).

Sungguh, pertanyaan Aa Akil tidak sesederhana kelihatannya. “Selawatan perdamaian” memang terdengar asing bagi telinga anak-anak. Selawat selama ini lebih sering dipahami sebagai lantunan pupujian, nazoman dan doa kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, saat selawat dipertemukan dengan kata “perdamaian”, maknanya seolah-olah diperluas, dari lisan menuju laku, dari lantunan menuju kehidupan nyata.

Walhasil, malam yang dingin di Babakan Dangdeur itu menyisakan percakapan kecil ihwal agama dan kemanusiaan. Ya, dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana kita mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan (pondasi) bersama untuk membumikan nilai-nilai harmoni, kedamaian, dan kepedulian terhadap sesama. (*)

Reporter Ibn Ghifarie
Editor Aris Abdulsalam