Ayo Netizen

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Oleh: R.M.A. Ahmad Said Widodo
Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)

Menjelajahi kuliner Bandung tidak selalu harus menguras kantong. Bagi mahasiswa, kota ini adalah surga kuliner murah meriah yang ramah di dompet namun tetap menggugah selera. Dari warmindo kekinian hingga jajanan kaki lima legendaris, mari simak pengalaman seru berburu makanan lezat, kenyang dan hemat khas kantong mahasiswa di Kota Kembang zaman dahulu.

Dahulu pada saat aku kuliah kedinasan di Bandung, selain aku berburu buku-buku, aku juga sering mencoba makan makanan khas Bandung atau yang lainnya. Maklum pada saat itu di kotaku Purwakarta masih belum seperti sekarang yang segalanya serba ada dan serba lengkap. Jadi, berada, kuliah dan tinggal di Bandung, aku memuaskan, mencoba dan mencicipi makanan yang tak ada di kotaku.

Oh ... ya, kampusku tempat kuliah berada di daerah Rancabadak di sekitar dan di sekeliling rumah sakit pendidikan, yaitu yang sekarang dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin (RSUP dr. Hasan Sadikin), Bandung. Di sana terdapat berbagai sekolah, akademi dan perguruan tinggi. Sekolah, akademi dan perguruan tinggi itu, antara lain sebagai berikut:

Akademi Analis Medis (AAM) Departemen Kesehatan, Akademi Perawat (Akper) Departemen Kesehatan/Akper Otten, Akademi Perawat (Akper) Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK-Unpad), Sekolah Pembantu Ahli Gizi (SPAG) Departemen Kesehatan, Sekolah Pembantu Penilik Higiene (SPPH) Departemen Kesehatan, Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) Departemen Kesehatan, Sekolah Pengatur Teknik Gigi (SPTG) Departemen Kesehatan, Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Departemen Kesehatan , Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Persatuan Perawat Nasional Indonesia dan lain-lain.

Semua kampus-kampus itu berada di sekitar: Jl. dr. Otten, Jl. Kesehatan, Jl. Makmur, Jl. Pasir Kaliki, Jl. Pasteur, Jl. Prof. Eyckman dan Jl. Rumah Sakit. Namanya jalanan yang terdapat kampus sekolah, akademi dan universitas tentu saja mengundang para penjual makanan dan minuman Demikian pula dengan kampus-kampus tersebut. Para penjual makanan dan minuman ada yang menetap dengan membuka warung-warung kecil, ada juga yang andok sambil berjualan berkeliling, baik dipikul dengan pikulan, maupun dengan gerobak dorong ala kaki lima.

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988. Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen. Jelajahi memori kuliner mahasiswa Bandung era 80-an. Kisah makan kenyang modal pas-pasan, dari warung tenda legendaris hingga menu favoritnya.

Semisal di depan kampusku di Jl. Prof. Eyckman ada tukang jualan aneka macam gorengan dan salah satu yang paling aku sukai adalah nanas goreng tepung dengan harga Rp 100,00. Rasanya “nano-nano” banget, ada manis, ada masam, ada gurih, ada asin dan ada kriuk. Top banget rasanya. Sampai detik ini aku belum pernah menemukan gorengan yang seperti itu lagi.

Contoh yang lain ada tukang warung penjualan makanan di Jl. Rumah Sakit untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam. Aku masih ingat betul wajah si nenek dan si ibu penjual, meskipun aku sama sekali tidak tahu namanya, mungkin juga aku lupa. Tetapi mereka selalu memanggilku dengan panggilan “Cep Said” Mungkin mereka tahu namaku karena teman-teman dan sahabat-sahabatku memanggil namaku “Said”.

Mereka sangat baik, ramah dan sopan melayaniku membeli sarapan pagi atau makan siang. Setiap aku sarapan pagi, misalnya, aku makan nasi, telur dadar iris, orek tempe dan sayur sop serta sebuah pisang Ambon, maka mereka sering memberikan aku bonus 3-4 iris dadu daging sapi atau 1-2 buah ceker ayam. Wooowww ... aku benarbenar dimanjakan oleh mereka. Dan yang membuatku pada awalnya terkejut adalah harganya yang sangat murah Rp 300,00 – Rp 400,00.

Dahulu selama kuliah dan tinggal di Bandung aku pernah beberapa kali pindah tempat tinggal. Yang pertama aku pernah tinggal di Jl. Geger Kalong Girang di sebuah gang di bawah kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, yang sekarang menjadi kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Setiap pagi aku sarapan pagi dengan semangkuk bubur kacang hijau, sepotong-dua potong roti bakar dan secangkir susu panas (susu kental manis, SKM). Harga masing-masing; bubur kacang hijau semangkuk Rp 100,00 – Rp 200.00. roti bakar sepotong Rp 100,00, susu panas segelas Rp 100,00. Jadi sekali makan antara Rp 300,00 – Rp 500,00.

Yang kedua aku pernah tinggal kost di rumah  eyangku (paman dari ibuku) di Jl. Batu Api II di lintasan Jl Soekarno – Hatta. Beliau menyediakanku sarapan pagi, makan siang/sore dan makan malam. Tak jauh dari tempat tinggalku dan tak jauh perempatan Jl. Buah Batu – Jl. Terusan Buah Batu – Jl. Soekarno – Hatta, setiap aku pulang sore dari kampus, aku selalu menyempatkan diri untuk jajan bakso tahu goreng (batagor), setiap jajan aku menghabiskan 3-5 potong batagor dengan harga per potong hanya Rp 100,00, jadi setiap kali jajan aku mengeluarkan uang antara Rp 300,00 – Rp. 500,00 per porsi.

Yang ketiga aku pernah tinggal di Jl. Kapt. Abdu Hamid Gg. Panorama III, jika aku sarapan pagi, makan siang atau makan malam aku makan nasi, lauk-pauk hewani, lauk-pauk nabati, sayur-mayur dan buah-buahan, terutama pisang Ambon dan tempat paling favoritku adalah Rumah Makan Panorama 54 (Bu Gendut) Masakan Khas Kalasan (kini menjadi Cafe & Resto Teras Kopi 54) Jl. Kapt. Abdul Hamid No. 54. Makanan favoritku adalah semur bola-bola daging cincang (bitterballen), sambal goreng krecek, tempe bacem, tahu bacem, sayur gudeg Yogya, lalapan sayur-mayur mentah dan segar serta sambal bajak (terasi). Harganya juga sangat terjangkau dari yang paling sederhana Rp 300,00 – Rp 400,00, yang sedang Rp 500,00 – Rp 700,00 dan yang mewah Rp 700,00 – Rp 1.000,00. ,Untuk harga semur bitterballen Rp 500,00 per 5 butir (guluntung).

Pedagang batagor. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)

Yang ketiga aku pernah tinggal di Jl. Brigjen Katamso Gg. Guyub – Gg. Akur di rumah eyangku (paman dan bibi dari ayahku) . Beliau menyediakanku sarapan pagi, makan siang/sore dan makan malam. Akan tetapi kadang-kadang aku sengaja mencari makan malam di sepanjang Jl. W.R. Supratman – Jl. Brigjen Katamso – Jl. Pahlawan untuk mencari nasi goreng atau nasi goreng spesial dengan harga Rp 400,00 – Rp 500,00.

Namun jika aku pulang kembali dari Purwakarta ke Bandung dengan naik bus umum, seperti Hidup Baru atau Hidup Baru Putera dan lain-lain  dan turun di Terminal Kebon Kelapa, Bandung, maka aku sempatkan makan dahulu di Rumah Makan Khas Sunda dengan harga Rp 400,00 – Rp 1.000,00, tergantung jenis lauk-pauk yang kita pilih, misalnya empal gepuk daging sapi, lidah sapi, segalam mavam (sarupaning) jeroan, seperti paru-paru sapi (bayah), babat sapi, usus sapi (tamusu, iso), hati sapi, limpa sapi, kikil sapi, daging ayam, hati rempela ayam, usus ayam dan lain-lain. Tetapi makan apapun jika ala Sunda, maka tak lengkap rasanya tanpa sayur lalap dan sambak bajak atau sambal dadak bedak.

Boleh percaya, boleh tidak, berat badanku bertambah cukup signifikan, bertambah 6,5 kilogram hanya dalam beberapa bulan, tak sampai 12 bulan. Mungkin karena asupan gizi yang baik, terutama banyak mengonsumsi batagor. Hehehehe .........

Harga-harga makanan dan minuman di Bandung pada hari ini, masa kini, masih jauh lebih murah meriah dibandingkan di kotaku sendiri, Purwakarta. Ya, Purwakarta hari ini, masa kini sudah menjadi kota industri yang maju pesat sehingga harga-harga apapun melaju pesat, melesat dan mahal karena daya beli masyarakat meningkat.

Menjelajahi kuliner murah di Bandung membuktikan, bahwa keterbatasan dana bukanlah halangan untuk menikmati makanan lezat. Dari kehangatan kantin kampus hingga keseruan pasar malam, setiap sajian membawa cerita tersendiri tentang kebersamaan dan kreativitas. Pengalaman ini bukan sekadar tentang kenyang, melainkan cara terbaik merayakan masa muda yang berkesan di Kota Kembang. (*)

Reporter R.M.A. Ahmad Said Widodo
Editor Aris Abdulsalam