Ayo Netizen

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Oleh: Kin Sanubary
Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)

Komunitas Imaji Papua menggelar Imaji Papua Goes to Bandung, bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi melalui pemutaran dan diskusi film dokumenter di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut Nomor 2, Bandung, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan bertajuk “Silaturahmi Caraka Sundanologi” tersebut menjadi ruang pertemuan antara komunitas Papua dan komunitas Kesundaan. Selain pemutaran film, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk berbagi cerita, pengalaman, serta perspektif mengenai Papua melalui medium film dokumenter.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai itu juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun ke-9 Imaji Papua.

Papua bukan hanya tentang bentang alam yang memesona. Dari pegunungan yang menjulang, lembah yang hijau, hutan yang luas, hingga pesisir dan laut yang membentang, Tanah Papua menyimpan kekayaan alam sekaligus keragaman budaya dan kisah kehidupan masyarakatnya.

Di balik keindahan alam tersebut terdapat manusia yang terus bekerja, mengolah tanah, merawat tradisi, menghidupi keluarga, dan menjaga hubungan dengan lingkungan. Cerita-cerita tentang kehidupan itulah yang ingin diperkenalkan Imaji Papua kepada masyarakat melalui karya audiovisual.

Head of Imaji Papua, Yulika Anastasia, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari perayaan 9th Anniversary Imaji Papua, sekaligus ruang silaturahmi dan dialog kebudayaan antara komunitas Papua dan komunitas Kesundaan.

Menurut Yulika, Bandung dipilih sebagai titik awal rangkaian tur karena memiliki jejaring komunitas yang kuat, sekaligus menjadi salah satu daerah tujuan pelajar dan mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan di Jawa Barat.

“Kami ingin berdiskusi lebih banyak tentang Papua dari sudut pandang yang jarang diberitakan oleh media massa,” ujar Yulika.

Noken dan Kehidupan Perempuan Papua

Salah satu film yang diputar dalam kegiatan tersebut adalah “Noken: Rahim Kedua”, yang mengangkat kehidupan masyarakat Papua Pegunungan serta makna noken dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Papua.

Film ini mengajak penonton mengenal makna filosofis noken dalam kehidupan perempuan Suku Hubula di Lembah Baliem.

Bagi perempuan Papua, noken bukan sekadar tas atau wadah untuk membawa berbagai keperluan. Noken memiliki makna yang lebih dalam sebagai bagian dari kehidupan, simbol kedekatan, sekaligus sesuatu yang dirawat dan menyertai keseharian perempuan Papua.

Melalui kisah Mama Yowan, seorang ibu muda, film ini memperlihatkan bagaimana noken hadir dalam berbagai aktivitas kehidupan, mulai dari kebun hingga menemani proses mengasuh sang buah hati.

Noken kemudian menjadi semacam ruang kehidupan yang menyimpan cerita tentang perempuan, keluarga, tradisi, serta hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya.

Film tersebut mendapat perhatian dari Nonon Rachnaya dari Caraka Sundanologi. Ia mengapresiasi film yang dinilai memberikan informasi edukatif mengenai Papua.

Nonon juga melihat adanya kedekatan fungsi sosial antara noken dalam budaya Papua dengan kain panjang dalam budaya Sunda. Kesamaan tersebut menjadi salah satu titik perjumpaan budaya yang menarik untuk diperbincangkan dalam forum silaturahmi tersebut.

Menurutnya, kegiatan semacam ini penting untuk terus dilakukan agar masyarakat di luar Papua dapat mengenal Papua secara lebih utuh, tidak hanya melalui pemberitaan, tetapi juga melalui kebudayaan, kehidupan masyarakat, dan kekayaan alamnya.

Tiga Film Dokumenter dari Tanah Papua

Menurut Nunung Kusmiaty, bagian dari tim produksi yang menginisiasi dan membawa film-film dokumenter Papua dalam rangkaian tur di Jawa Barat, Imaji Papua menghadirkan tiga film dokumenter, yakni “Noken: Rahim Kedua”, “Tong Masih di Sini”, dan “Yawa Datum (Sedang Bertumbuh)”.

Selain di Kota Bandung, pemutaran film dokumenter tersebut juga dilakukan di Kabupaten Bandung, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Pangandaran.

Ketiga film tersebut menghadirkan cerita yang berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama, yakni kehidupan manusia Papua, kebudayaan, lingkungan, serta hubungan masyarakat dengan tanah tempat mereka hidup.

Film “Tong Masih di Sini”, misalnya, mengikuti perjalanan berbagai komoditas pangan Papua yaitu kopi, sayur, sagu, dan pinang dari tanah hingga ke meja keluarga.

Film ini menghadirkan kisah Moses Yigibalom dan Piet Yigibalom di Tiom, Lanny Jaya; Wene Kalolik di Wamena, Jayawijaya; Mama Agustina Rontini di Jayapura; serta Yakobus Yatmop di Merauke.

Mereka tidak saling mengenal, tetapi kehidupan mereka terhubung melalui satu rantai ekonomi dan pangan di Tanah Papua.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan, mereka terus bekerja, menghidupi keluarga, mengolah potensi tanah, dan memberikan dampak bagi lingkungan sosial di sekitarnya.

Tiga film, tiga cerita, satu perjalanan untuk mengenal Papua lebih dekat. Dalam rangkaian Imaji Papua Goes to Jawa Barat, tiga film dokumenter yang diputar adalah Yawa Datum (Sedang Bertumbuh), Tong Masih di Sini, dan Noken Rahim Kedua. (Sumber: Imaji Papua)

Film ini memperlihatkan bahwa di balik bahan pangan yang sampai ke meja makan, terdapat kerja keras, ketekunan, serta kehidupan banyak orang yang terus menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Tentang kopi, sayur, sagu, dan pinang. Tentang tanah yang terus memberi kehidupan. Serta tentang mereka yang memilih untuk tetap bekerja, tetap bertumbuh, dan tetap berada di tanahnya.

Sementara itu, “Yawa Datum (Sedang Bertumbuh)” membawa penonton menyelami perjalanan pertumbuhan kehidupan dari Tanah Papua.

Melalui bahasa visual film dokumenter, cerita yang dihadirkan menjadi jendela untuk melihat Papua secara lebih dekat, tentang manusia, lingkungan, kebudayaan, serta proses kehidupan yang terus bergerak dan bertumbuh.

Ketiga film tersebut menjadi medium untuk memperkenalkan Papua melalui cerita-cerita yang lahir dari masyarakatnya sendiri. Papua tidak hanya hadir sebagai sebuah wilayah dengan alam yang indah, tetapi juga sebagai ruang kehidupan dengan manusia, kebudayaan, tradisi, kerja, persoalan, dan harapan.

Mempertemukan Papua dan Sunda

Imaji Papua Goes to Bandung bukan sekadar agenda pemutaran film. Pertemuan dengan Caraka Sundanologi menjadi ruang untuk mempertemukan dua latar budaya yang berbeda dalam suasana yang akrab.

Film menjadi jembatan untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, sekaligus memperluas percakapan mengenai kebudayaan dan keberagaman Indonesia.

Kehadiran Imaji Papua di Jawa Barat sebelumnya juga telah berlangsung di Rumah Tumbuh Farm, Bojongloa–Wanayasa, Purwakarta, serta Kafe Rasta, Babakan Siliwangi, Kota Bandung. Selanjutnya di Parigi dan Pangandaran.

Dalam kegiatan di Perpustakaan Ajip Rosidi kali ini, cerita dari Tanah Papua hadir dalam suasana yang hangat, di antara kopi, obrolan, dan layar film.

Pemutaran dan diskusi tersebut dihadiri Yulika Anastasia, Director of Photography Alfonso Dimara, dan entrepreneur muda Papua Jonathan Warinussy. Hadir pula Doddi Kiwari dari Teater Sunda Kiwari, Edi Sasmita, Zaki Wungkul dari Fikom Unpad, serta Deddy Koral.

Dari Caraka Sundanologi hadir Ceu Etty RS, Euis Balebat, Rinrin Candraresmi, Nonon Rachnaya, dan Apip Catrik, serta Dadan Sutisna dari Yayasan Rancage.

Kehadiran berbagai kalangan tersebut memperlihatkan bahwa film dokumenter dapat menjadi ruang perjumpaan lintas komunitas. Cerita tentang Papua tidak berhenti ketika film selesai diputar, tetapi berlanjut melalui percakapan dan pertukaran pengalaman di antara para peserta.

Melalui “Tong Masih di Sini”, misalnya, penonton diajak melihat bagaimana kehidupan bergerak dari kebun hingga ke meja makan. Ada tanah yang diolah, hasil bumi yang dipanen, keluarga yang dihidupi, dan rantai ekonomi yang menghubungkan banyak kehidupan.

Sementara “Noken: Rahim Kedua” menghadirkan sisi Papua melalui kehidupan perempuan dan warisan budaya yang melekat dalam keseharian. Adapun “Yawa Datum (Sedang Bertumbuh)” membuka ruang untuk melihat kehidupan yang terus berkembang bersama lingkungan dan kebudayaan.

Ketiganya memperlihatkan bahwa cerita tentang Papua tidak pernah tunggal. Ada banyak wajah, suara, pengalaman, dan kisah yang dapat dikenali melalui karya dokumenter.

Melalui kegiatan di Perpustakaan Ajip Rosidi, Imaji Papua kembali membawa cerita dari Tanah Papua ke Bandung. Bukan sekadar untuk memperlihatkan Papua melalui layar, tetapi juga mengajak penonton mengenal lebih dekat kehidupan masyarakatnya, tentang manusia yang bekerja, tradisi yang dirawat, alam yang menjadi bagian dari kehidupan, serta kebudayaan yang terus tumbuh.

Dari Tanah Papua menuju tanah Pasundan, film menjadi ruang untuk bertemu, mendengar, dan saling mengenal.

Sebuah perjalanan untuk merayakan keberagaman Indonesia melalui cerita, kebudayaan, karya, dan silaturahmi. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam