Ayo Netizen

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Oleh: Djoko Subinarto
Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)

KARIM Benzema dirumorkan bakal merapat ke Persib Bandung. Rumor ini tentu membetot perhatian para pecinta sepakbola Tanah Air, lantaran Benzema adalah nama besar dalam jagat sepakbola mondial.

Jika Benzema benar-benar datang ke Bandung, Persib tidak hanya akan menggaet seorang striker berusia 38 tahun, melainkan juga juga akan mendapatkan sebuah nama, sejarah, jaringan perhatian, dan merek global yang telah dibangun selama hampir dua dekade.

Tetapi, namanya juga rumor. Ia bisa benar, bisa juga tidak. Segalanya masih merupakan spekulasi. 

Al-Hilal, klub terakhir yang dibela Benzema, secara resmi mengumumkan pada 31 Agustus 2026 bahwa pihaknya dan Benzema sepakat mengakhiri hubungan kontrak mereka. 

Maka, Benzema pun berstatus bebas transfer. Sebegitu jauh, tidak ada pengumuman resmi yang menunjukkan bahwa Persib telah mencapai kesepakatan dengan pemain kelahiran Lyon itu. 

Pintu terbuka

Sudah barang tentu, status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib. Namun demikian, tidak berarti seorang pemain sekaliber Benzema tiba-tiba harganya menjadi murah. Pastinya yang dibicarakan dalam kasus seperti ini bukan lagi sekadar biaya transfer. Yang harus dihitung adalah keseluruhan nilai ekonominya. Ada gaji, bonus, hak citra, fasilitas, pajak, kemungkinan pendapatan komersial, penjualan merchandise, tiket, sponsor, sampai dampaknya terhadap perhatian media harus masuk dalam kalkulasi. 

Dalam bahasa sederhana, jika memang akhirnya Benzema merapat ke Persib, klub berjuluk Maung Bandung itu tidak sedang membeli sebuah kaki kanan dan kaki kiri Benzema. Persib berpotensi membeli sebuah ekosistem perhatian yang melekat pada nama seorang Karim Benzema.

Dan nama itu dibangun melalui karier yang panjang. Bayangkan, Benzema telah menghabiskan 14 musim bersama Real Madrid dan mencatat 647 penampilan serta 353 gol untuk klub Espana tersebut. Ia memenangi lima Piala Eropa dan 25 trofi bersama Madrid. 

Pada 2022, ia menyabet Ballon d'Or setelah musim yang sangat produktif, termasuk melesakkan 15 gol dalam perjalanan Real Madrid meraih Liga Champions ke-14. Real Madrid sendiri menyebutnya sebagai salah satu legenda terbesar dalam sejarah klub.

Angka-angka di atas penting bukan cuma bagi buku sejarah sepak bola. Angka-angka itu adalah bagian dari modal merek. 

Punya nilai ekonomi

Dalam khazanah pemasaran modern, seseorang dapat berfungsi sebagai human brand, di mana reputasi, kompetensi, popularitas dan asosiasi yang melekat pada individu dapat mempunyai nilai ekonomi tersendiri. 

Penelitian dalam Journal of Business Research menunjukkan bahwa citra positif seorang pemain dapat meningkatkan nilai mereknya, sementara kompetensi dan popularitas sama-sama berperan dalam pembentukan nilai tersebut.

Itulah sebabnya usia tidak otomatis menghapus nilai seorang superstar macam Benzema. Secara olahraga, pemain berusia 38 tahun tentu menghadapi persoalan yang berbeda dibandingkan pemain berusia 25 tahun. Kecepatan, menit bermain, pemulihan fisik dan konsistensi pertandingan harus dihitung secara realistis. 

Namun, sebuah merek tidak selalu menua dengan kecepatan yang sama dengan tubuh atlet. Trofi, sejarah, reputasi dan ingatan publik justru dapat bertahan setelah kemampuan fisik mulai menurun.

Persib sebenarnya pernah mengalami sebagian kecil dari fenomena tersebut. Ketika Michael Essien memperkuat squad Persib pada tahun 2017, daya tariknya tidak berhenti pada kontribusi di lapangan. Ia datang dengan reputasi sebagai mantan pemain Chelsea, Real Madrid dan AC Milan. 

Ketika itu, manajemen Persib menyebut nilai kontraknya berada di bawah Rp10 miliar, sementara media melaporkan kebutuhan anggaran sekitar Rp9 miliar. PSSI juga melihat kedatangan Essien sebagai sesuatu yang dapat memberi leverage bagi kompetisi dari sisi bisnis.

Pada hari pertama penjualan jersey Essien, seluruh 60 potong yang disiapkan untuk pembeli langsung dilaporkan ludes, sementara pesanan daring sudah mencapai ratusan. Penjualan jersey Persib pada hari biasa disebut hanya sekitar 10 potong per hari. Angka itu memang bukan bukti bahwa seluruh biaya mendatangkan Essien kembali melalui merchandise. Tetapi, ia menunjukkan satu hal penting, yakni nama besar pemain dapat segera mengubah perilaku konsumen.

Jauh lebih besar

Benzema tentu mempunyai modal merek yang jauh lebih besar. Ia bukan hanya mantan pemain klub besar Eropa. Ia adalah pemenang Ballon d'Or, legenda Real Madrid, mantan penyerang tim nasional Les Bleus Prancis dan bagian dari generasi pemain yang sangat dikenal oleh penonton mondial. Bahkan, orang yang tidak mengikuti Liga Indonesia pun kemungkinan besar mengenal namanya. Dalam ekonomi perhatian, pengenalan semacam itu adalah aset.

Masalahnya, perhatian tidak otomatis berubah menjadi uang. Jutaan orang yang mengetahui Benzema belum tentu membeli tiket pertandingan Persib. Pengikut media sosial belum tentu membeli jersey. Pemberitaan internasional belum tentu menghasilkan sponsor baru. Di sinilah keputusan bisnis menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar menghitung berapa banyak gol yang mungkin dicetak seorang striker.

Persib setidaknya harus menghitung incremental value, yakni berapa pendapatan tambahan yang benar-benar muncul jika Benzema datang, dibandingkan dengan kondisi tanpa Benzema. 

Misalnya, apakah pertandingan Persib akan menjual lebih banyak tiket, apakah harga tiket dapat dinaikkan tanpa mengurangi jumlah penonton, apakah sponsor bersedia membayar lebih, apakah penjualan merchandise meningkat, apakah hak siar menjadi lebih bernilai, dan apakah konten digital Persib memperoleh penonton baru dari luar Indonesia?

Pertanyaan terakhir bahkan lebih menarik. Jika Benzema datang, Persib mungkin memperoleh akses terhadap pasar perhatian yang sebelumnya sulit dijangkau. 

Seorang penggemar Real Madrid di Asia, Afrika, Timur Tengah atau Eropa tidak otomatis menjadi pendukung Persib. Namun, ia mungkin menjadi penonton satu pertandingan, pengikut akun Persib, pembeli jersey atau konsumen konten. Dalam bisnis olahraga, perubahan kecil semacam itu dapat bernilai jika terjadi pada skala besar.

Tetapi, ada sisi lain yang sering luput. Superstar juga membawa ekspektasi superstar. Ketika seorang pemain biasa gagal mencetak gol, persoalannya mungkin berhenti pada statistik pertandingan. Namun, ketika pemain dengan reputasi Ballon d'Or gagal mencetak gol, kegagalan itu bisa menjadi berita besar. Setiap menit bermain, cedera, pergantian pemain dan performanya akan memperoleh perhatian lebih besar. Persib bukan hanya membeli perhatian positif. Ia juga berpotensi membeli risiko reputasi.

Karena itu, struktur kontrak menjadi sangat penting. Kontrak seorang pemain seperti Benzema tidak harus dipahami sebagai gaji tetap dikalikan jumlah tahun. Secara bisnis, klub dapat merancang kombinasi gaji, bonus penampilan, bonus gol, bonus prestasi, hak komersial dan durasi kontrak untuk menghubungkan sebagian biaya dengan hasil yang benar-benar tercipta. Bentuk akhirnya tentu hanya dapat diketahui jika negosiasi benar-benar terjadi.

Lalu, jika Benzema bersedia datang dan merumput di Bandung, mampukah Persib membayar Benzema? Ini pertanyaan terlalu cetek. Persib tentu punya uang yang cukup.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang sebenarnya yang perlu dibeli Persib?” 

Jika yang dibeli hanya seorang striker, faktor usia dan performa semestinya menjadi fokus perhitungan. Jika yang dibeli juga sebuah merek, maka kalkulasinya bisa berubah. Persib harus menghitung nilai olahraga sekaligus nilai perhatian, nilai komersial, risiko reputasi, dan kemungkinan terbentuknya pasar baru.

Benzema, dengan demikian, dapat menjadi lebih dari sekadar rumor transfer. Ia menjadi contoh bagaimana sepak bola Indonesia sedang berhadapan dengan logika industri olahraga global. Klub tidak lagi hanya mencari pemain yang dapat membantu memenangi pertandingan demi pertandingan di Liga nasional atau kompetisi regional. Mereka juga mencari aset yang dapat memperbesar audiens, memperkuat merek dan membuka keran pendapatan baru. 

Walau demikian, nama besar tetap bukan jaminan keuntungan. Seorang superstar hanya benar-benar menjadi aset ekonomi jika perhatian yang dibawanya dapat diterjemahkan menjadi nilai yang terukur. 

Jika Benzema suatu hari benar-benar memakai jersey Persib, pertandingan pertamanya mungkin akan berlangsung selama 90 menit -- bisa juga kurang. Namun, nilai ekonominya bakal dimainkan jauh lebih lama dari itu. (*)

Reporter Djoko Subinarto
Editor Aris Abdulsalam