Ayo Netizen

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Oleh: Muh Husen Arifin
Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Mahasiswa pada dasarnya sebagai pembelajar ulung yang tidak pernah menyerah menghadapi situasi. Mahasiswa dapat melakukan strategi yang tepat untuk meraih kemenangannya dalam bidang apapun sesuai dengan kemampuannya. 

Meski banyak mahasiswa yang tidak percaya diri menjadi pemenang. Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Tidak ada kemauan yang tangguh dalam meraihnya, padahal mahasiswa mampu melaksanakan dan menjadikan diri mereka lebih berprestasi. 

Apakah ada langkah spesifik untuk mendapatkan kesempatan meraih prestasi? Sederhananya, jika ada kemauan pasti ada jalan. 

Di sini kita tahu mahasiswa memiliki kapasitas yang berbeda. Mahasiswa tidak bisa disamakan kapasitas berpikirnya dengan mahasiswa lainnya. 

Namun tujuan dari belajar di perguruan tinggi untuk berkompetisi dengan cara yang terbaik. Mahasiswa tidak bisa sekadar mengalah pada keadaan semata, melainkan belajar untuk lebih gigih dari pelbagai arah yang menghadangnya. 

Mahasiswa di manapun tempat kampusnya, memiliki kesempatan yang sama. Tidak membedakan lokasi atau wilayahnya. Mahasiswa pasti mampu bersikap. 

Adapun kesadaran mahasiswa yang belum diketahui berkaitan dengan kehidupan yang baik di masa mendatang. 

Langkah analisis SWOT sepertinya cara termudahnya. Analisis ini mudah dilakukan oleh masing-masing mahasiswa. Kondisinya sama. Dari start yang tidak mudah tetapi bisa dimanfaatkan sesegera mungkin.

Analisis SWOT

Langkah dengan SWOT, mahasiswa seperti sudah menyiapkan dirinya untuk menjadi bagian yang paling terbaik di kampusnya.

Pertama, berkaitan dengan kekuatan mahasiswa. Mahasiswa sangat berkompeten dalam memandang diri dengan kekuatannya. Di dalam diri mereka, mahasiswa sudah menyiapkan diri. Mahasiswa dapat memahami kebutuhannya. Referensi baik dari aspek akademik dan non akademiknya.

Tidakkah mahasiswa sudah menyiapkan dirinya dengan kekuatan maksimalnya? Melalui buku-buku, melalui diskusi, melalui proses bertumbuh dengan menggagas ide-idenya. Apalagi mahasiswa sudah tidak kekurangan cara memeroleh referensinya. Seluruh aspek kekuatannya mampu meningkatkan kapasitasnya sebagai mahasiswa. 

Kedua, kelemahannya mahasiswa tentu tidak susah dianalisis. Berhubungan sifat malasnya. Keengganan di dalam menetapkan skala prioritas. Bahkan sifat ego sentrisnya yang sering apatis pada setiap kegiatan. 

Terutama jika mahasiswa diajak untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai agen perubahan. Kenapa mahasiswa sudah merasa jika kelemahannya akibat kurangnya kemampuan berkomunikasi? Atau justru kenapa mahasiswa tidak segera mempelajari kelemahannya? Jawabannya karena malas bertumbuh. 

Mahasiswa lebih menyukai jika kelemahannya sebagai dasar untuk tidak berkembang. Terkesan lebih menganggap bahwa pilihannya paling tepat dan menjaga kesehatan mentalnya. 

Keempat, peluanglah yang mampu mengantarkan mahasiswa berprestasi. Peluang yang ada di dalam diri mahasiswa sangat penting. Di setiap mencermati peluangnya, mahasiswa wajib memberikan jalan pada diri sendiri berhubungan dengan lomba-lomba atau kompetisi yang diselenggarakan baik di tingkat nasional maupun internasional.

Saat ini peluang berprestasi terbuka lebar. Semarak berkompetisi bagi mahasiswa sangat memberikan keleluasaan bagi mereka menetapkan dirinya menjadi peserta hingga pemenangnya. 

Jika diukur dengan peluang, setiap individu mahasiswa tidak ada jalan lain selain memaksimalkan informasi peluang yang didapatkannya. 

Sebanyak itu peluangnya maka sebagai mahasiswa bisa membagi waktu antara tugas akademik dan berkompetisi. Lainnya tinggal mengatur waktu yang tepat bahkan di sela itu. 

Terakhir, berhubungan dengan ancaman. Mahasiswa mudah mengukur dirinya. Jadi mudahnya mahasiswa tahu bahwa yang mengancam dirinya berkaitan dengan kegiatan di luar kampus. Seperti pergaulan, aktivitas yang tidak semestinya. Tak sampai disitu, berhadapan dengan mahasiswa lain pun bisa berupa ancaman yang serius. Baik di lingkup kegiatan yang produktif atau di dalam diri mereka masih memandang tentang pergerakan yang tidak bisa dilepaskan dari kegiatan kemahasiswaan. 

Setiap ancaman yang muncul pasti berhubungan dengan kemampuannya menyelesaikan permasalahan. 

Dari analisis SWOT ini mahasiswa menyimpulkan hasilnya, bagaimana langkah selanjutnya?

Setiap mahasiswa memiliki karakter yang berbeda. Dan karakter mahasiswa di era sekarang tentu berbeda di era pendahulunya. Kegesitan, keuletan, dan kegigihan menggapai prestasinya menjadi tolok ukur. Tak ada yang tidak mungkin. 

Pembedanya tentu dari alat bantu yang didapatkan oleh mahasiswa. 

Serba instan dan cepat bosan menjadi sudut pandangnya. Mahasiswa diberikan sumber daya yang instan, mudah mengerjakan tugas kuliah dengan perbantuan akal imitasi, sehingga kebosanan sering muncul. 

Lantas bagaimanakah mengatasi kejenuhan itu? Dimana kejenuhan akan mengakibatkan mahasiswa turut serta tidak berkembang dan enggan menjaga momentum meraih prestasinya.

Mencari Komunitas Bertumbuh

Setelah menganalisis SWOT di dalam dirinya, mahasiswa tetap saja tidak bisa dilepaskan bahwa komunitas memberi pengaruh signifikan. 

Di dalam komunitas ini mahasiswa diharapkan untuk berbagi informasi dan berbagi pengalaman tentang segala hal. Mulai dari langkah hingga antisipasinya mengatasi aspek permasalahan yang terkadang menjadi ruang kejenuhan dan tidak bisa diatasi sendirian. 

Di sela perkuliahan yang sangat padat, pentingnya mahasiswa terapkan pada diri untuk berinteraksi dengan komunitas. Bukan sekadar mengatasi tetapi menjaga ritme perkuliahan yang mau tidak mau mengamankan diri dari situasi yang mudah terdistraksi. 

Komunitas dari intra maupun ekstra yang tidak toxic dan mengajak ke arah yang lurus bukan sebaliknya. Di dalam diri mahasiswa tertanam untuk mengambil momentum, namun momentum tidak bisa dilepaskan dari menjaga stabilitas perkuliahan. Selain dari itu, mahasiswa berprestasi sangat terbuka dari arahan dan bimbingan.

Peranan dari arahan dan bimbingan ini sebagai obat mujarab, yang mampu mengendalikan diri mahasiswa. Maka tekun dalam mendengarkan arahan dan bimbingan akan menyakinkan mahasiswa tidak goyah menjaga momentumnya. 

Di komunitas bertumbuh, mahasiswa semakin tegak dan utuh. Yang dimaksud ini, memiliki kemampuan berpikir kreatif dan kritis dengan segala situasi. 

Wal akhir, mahasiswa mampu menyiapkan diri memaknai momentum, melaksanakan momentum, dan menjadi bagian dari proses pembelajaran menantang, meraih prestasi, menangkap makna kehidupan berikutnya. Semoga! (*)

Reporter Muh Husen Arifin
Editor Aris Abdulsalam