Ayo Netizen

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Oleh: Totok Siswantara
Ilustrasi Ketua PII Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)

Setelah terpilih sebagai Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Kota Bandung periode 2026–2029, Gunta Akhiri bertekad menjadikan organisasinya sebagai “Rumah Besar Para Insinyur”.

Bandung memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat pendidikan teknik dan pengembangan teknologi di Indonesia. Kehadiran Institut Teknologi Bandung (ITB), berbagai perguruan tinggi lainnya, industri, serta ekosistem inovasi menjadikan Kota Bandung memiliki modal penting untuk memperkuat peran keinsinyuran dalam pembangunan.

Musyawarah Cabang (Muscab) PII Kota Bandung yang berlangsung pada 26 September 2026 di Gedung TP Rahmat, Labtek VI, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, menjadi momentum penting bagi organisasi profesi insinyur tersebut. Selain mengevaluasi program sebelumnya, Muscab menjadi ruang untuk menyusun arah pengembangan organisasi dan memperkuat kontribusi keinsinyuran bagi Kota Bandung.

Tantangan Kota Semakin Kompleks

Pembangunan perkotaan menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Infrastruktur, transportasi, energi, lingkungan, teknologi informasi, tata ruang, hingga pengembangan kawasan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya cepat, tetapi juga berbasis ilmu pengetahuan dan standar profesional.

Karena itu, organisasi profesi seperti PII tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan internal. Kompetensi para insinyur perlu diterjemahkan menjadi solusi konkret terhadap berbagai persoalan pembangunan.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran menempatkan keinsinyuran sebagai kegiatan yang berkaitan dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan peradaban serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Regulasi tersebut juga mengatur pentingnya standar layanan, standar kompetensi, Program Profesi Insinyur (PPI), serta registrasi insinyur sebagai bagian dari upaya menjaga mutu dan profesionalitas praktik keinsinyuran.

Dari kiri ke kanan: Ketua PII Wilayah JABAR, Hambali, Ketua PII Cabang Kota Bandung Gunta Akhiri dan Ketua sebelumnya Ony Arifianto. (Sumber: dokpri | Foto: Gunta Akhiri)

PII dan Tradisi Pengabdian untuk Bangsa

Mengawali masa jabatannya, Gunta Akhiri menekankan bahwa sejak awal pembangunan Indonesia, kemajuan infrastruktur dan teknologi tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para insinyur.

PII yang berdiri pada 23 Mei 1952 merupakan organisasi profesi yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pembangunan nasional. PII tidak sekadar menjadi wadah berkumpulnya para ahli teknik, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mendorong kemajuan teknologi, profesionalisme, dan pengabdian kepada masyarakat.

Di tengah derasnya globalisasi dan disrupsi digital, peran organisasi profesi insinyur semakin penting. Payung hukum keinsinyuran memberikan landasan agar praktik profesi berlangsung secara profesional, bertanggung jawab, dan memperhatikan keselamatan serta kepentingan masyarakat.

Tiga Pilar Perjuangan Keinsinyuran

Dalam perspektif Gunta Akhiri, terdapat sejumlah agenda strategis yang perlu diperkuat dalam perjalanan PII.

Pertama, kemandirian dan kedaulatan teknologi. Indonesia perlu meningkatkan kemampuan untuk menghasilkan inovasi dan teknologi sendiri sehingga tidak hanya menjadi pasar bagi produk dan teknologi dari negara lain. Penguatan industri nasional dan hilirisasi menjadi bagian penting dari agenda tersebut.

Kedua, pembangunan berkelanjutan atau sustainable engineering. Praktik keinsinyuran harus semakin memperhatikan keselamatan, kesehatan dan keselamatan kerja, efisiensi sumber daya, serta kelestarian lingkungan. Tantangan perubahan iklim membuat aspek keberlanjutan tidak lagi dapat ditempatkan sebagai agenda tambahan.

Ketiga, peningkatan martabat dan daya saing profesi. Pengakuan terhadap kompetensi insinyur melalui pendidikan profesi, sertifikasi, dan registrasi menjadi penting agar tenaga profesional Indonesia mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Membangun Solidaritas Sesama Insinyur

Agenda besar tersebut tidak akan mudah diwujudkan apabila para insinyur bergerak sendiri-sendiri dalam sekat bidang keahlian dan kepentingan sektoral.

Karena itu, membangun solidaritas sesama profesional teknik menjadi agenda internal yang penting. PII perlu menjadi ruang yang mempertemukan berbagai disiplin keinsinyuran sekaligus membangun budaya kolaborasi.

Perekatnya antara lain adalah standar etika profesi. Melalui Program Profesi Insinyur, nilai-nilai etika dan tanggung jawab profesi menjadi bagian penting dalam membentuk karakter seorang insinyur.

Di dalam PII juga terdapat berbagai Badan Kejuruan yang mewadahi bidang-bidang keahlian, seperti teknik sipil, elektro, mesin, industri, pertambangan, dan berbagai bidang lainnya.

Struktur tersebut membuka ruang knowledge sharing antara insinyur senior dan generasi muda. Pengalaman para senior dapat bertemu dengan gagasan serta teknologi baru yang dibawa generasi muda.

Dengan demikian, organisasi bukan hanya menjadi tempat berhimpun, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sepanjang hayat bagi para profesional.

Rumah Besar yang Menghubungkan Generasi

Konsep “Rumah Besar Para Insinyur” yang dikembangkan Gunta Akhiri menjadi relevan dengan kebutuhan tersebut.

Rumah besar bukan sekadar tempat berkumpul. Ia harus menjadi ruang yang membuat para insinyur merasa memiliki organisasi, memperoleh kesempatan mengembangkan kompetensi, membangun jejaring, sekaligus memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Insinyur senior membawa pengalaman. Insinyur muda membawa energi dan gagasan baru. Perguruan tinggi membawa pengetahuan dan riset. Dunia usaha membawa kebutuhan nyata industri. Pemerintah membawa kebijakan dan kewenangan pembangunan.

Jika seluruh kekuatan tersebut dipertemukan, PII Kota Bandung dapat memainkan peran sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat.

Bandung sebagai Laboratorium Keinsinyuran

Kota Bandung merupakan salah satu pusat pendidikan, teknologi, industri kreatif, ekonomi, dan inovasi di Jawa Barat.

Kondisi tersebut memberikan ruang yang luas bagi para insinyur untuk berkontribusi dalam berbagai persoalan perkotaan. Mulai dari transportasi, infrastruktur, energi, pengelolaan lingkungan, teknologi informasi, industri, hingga pengembangan kawasan perkotaan berkelanjutan.

Bandung bahkan dapat diposisikan sebagai semacam laboratorium keinsinyuran perkotaan. Berbagai persoalan kota dapat menjadi ruang bagi lahirnya inovasi dan model solusi yang kemudian dapat direplikasi di daerah lain.

Karena itu, PII Kota Bandung perlu membangun komunikasi dan kolaborasi yang lebih intensif dengan Pemerintah Kota Bandung, perguruan tinggi, dunia usaha, industri, komunitas profesional, serta masyarakat.

Dari Rumah Besar Bandung untuk Indonesia

Peran PII Kota Bandung pada akhirnya tidak berhenti pada persoalan internal organisasi. Ada agenda pembangunan nasional yang lebih besar.

Indonesia tengah menghadapi tantangan untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat industri, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta membangun ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi.

Dalam konteks tersebut, dunia keinsinyuran dapat berkontribusi melalui penguatan teknologi, inovasi, produktivitas industri, dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.

Agenda tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat fondasi ekonomi agar mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) dan mencapai visi pembangunan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.

Wisuda Program Studi Program Profesi Insinyur (PS PPI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. (Foto: Dokumen UPI Bandung)

Lima Agenda Strategis Keinsinyuran

Dalam kerangka transformasi tersebut, terdapat sejumlah agenda yang dapat menjadi perhatian dunia keinsinyuran.

Pertama, percepatan reindustrialisasi. Penguatan manufaktur dan hilirisasi diperlukan agar Indonesia tidak hanya mengekspor komoditas, tetapi semakin mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Kedua, transisi energi dan keberlanjutan. Pengembangan teknologi energi bersih, efisiensi energi, serta penerapan prinsip green economy dan blue economy membutuhkan keterlibatan para insinyur.

Ketiga, digitalisasi dan smart city. Perkembangan kecerdasan buatan, otomasi, Internet of Things, dan smart engineering membuka peluang baru dalam pengelolaan infrastruktur serta pelayanan publik.

Keempat, ketahanan pangan dan infrastruktur nasional. Keinsinyuran dapat berperan dalam pengembangan teknologi pertanian, pengolahan pangan, sistem irigasi, rantai pasok, serta pembangunan infrastruktur yang mendukung pemerataan ekonomi.

Kelima, peningkatan kompetensi dan sertifikasi berstandar global. Insinyur Indonesia perlu memiliki kompetensi yang dapat diakui dan bersaing di tingkat internasional.

Tantangan Besar: Ketersediaan Insinyur Profesional

Agenda pembangunan tersebut tentu membutuhkan sumber daya manusia teknik dalam jumlah dan kualitas yang memadai.

Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan tenaga insinyur profesional. Perbandingan jumlah insinyur terhadap jumlah penduduk sering digunakan untuk menggambarkan kebutuhan tersebut, meskipun angka dan metodologi penghitungannya dapat berbeda antar sumber.

Karena itu, peningkatan jumlah insinyur harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas. Yang dibutuhkan bukan hanya tambahan jumlah lulusan teknik, tetapi profesional yang memiliki kompetensi, pengalaman, integritas, serta memahami standar keselamatan dan etika profesi.

Di tingkat regional dan global, persaingan tenaga profesional semakin terbuka. Hal ini membuat peningkatan kompetensi insinyur Indonesia menjadi kebutuhan strategis.

Mempercepat Program Profesi Insinyur

Salah satu instrumen penting untuk memperkuat profesionalisme adalah Program Profesi Insinyur (PPI).

PII bersama perguruan tinggi dan lembaga terkait dapat terus memperluas sosialisasi dan akses terhadap pendidikan profesi. Salah satu jalur yang dapat dimanfaatkan adalah Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi mereka yang telah memiliki pengalaman dan kompetensi relevan.

Melalui RPL, pengalaman pembelajaran dan profesional yang telah dimiliki seseorang dapat dinilai sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan mekanisme tersebut, proses memperoleh pengakuan kompetensi dapat menjadi lebih terarah tanpa mengabaikan standar pendidikan profesi.

Percepatan ini penting karena Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga profesional yang mampu mengawal pembangunan industri, infrastruktur, teknologi, dan inovasi.

Menjadikan PII Kota Bandung sebagai Rumah Bersama

Pada akhirnya, tantangan PII Kota Bandung bukan sekadar bagaimana memperbanyak kegiatan organisasi. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan organisasi tersebut benar-benar relevan dengan kebutuhan para insinyur dan masyarakat.

Rumah besar para insinyur harus menjadi rumah yang terbuka bagi generasi muda, menghargai pengalaman para senior, mempertemukan berbagai disiplin ilmu, dan membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Dari Bandung, semangat tersebut dapat dikembangkan menjadi kontribusi yang lebih luas bagi pembangunan Jawa Barat dan Indonesia.

Gunta Akhiri memiliki periode 2026–2029 untuk menerjemahkan gagasan tersebut menjadi kerja nyata. Ukuran keberhasilannya kelak bukan hanya terlihat dari ramainya kegiatan organisasi, tetapi dari seberapa jauh PII Kota Bandung mampu memperkuat profesionalisme anggotanya dan menghadirkan solusi keinsinyuran bagi masyarakat.

Sebab pada akhirnya, rumah besar para insinyur bukanlah sekadar bangunan organisasi. Ia adalah ruang bersama untuk berbagi pengetahuan, menjaga etika profesi, memperkuat solidaritas, dan mengabdikan teknologi bagi kemajuan bangsa. (TS)

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam