Ayo Netizen

Gastronomi Semarang: Menelusuri Jejak Rasa Tempo Dulu dan Pelestarian Warisan Kuliner

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti
Seorang penjual minuman keliling di Semarang sekitar tahun 1926 - 1932. (Sumber: collectienederland.nl)

Semarang bukan sekadar titik geografis di pesisir utara Jawa; ia adalah sebuah bejana peleburan budaya yang tercermin secara nyata dalam setiap sajian kulinernya. Dari aspek historis, makanan di kota ini bukan sekadar asupan nutrisi, melainkan artefak hidup yang mendokumentasikan interaksi lintas etnis selama berabad-abad. Signifikansi strategis kuliner Semarang terletak pada kemampuannya menjadi arsitektur informasi budaya yang membentuk identitas kolektif masyarakatnya.

Upaya rekonstruksi memori kuliner ini berutang besar pada dedikasi mendiang Amen Budiman. Pakar sejarah Semarang ini secara autodidak menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap masakan "Kampoeng" melalui penyelenggaraan "Pameran Masakan Khas Semarang Tempo Doeloe" pada tahun 1977 dan 1978 di Wisma Pancasila, Kota Semarang. Namun, dokumentasi sejarah mencatat bahwa dibutuhkan obsesi selama 13 tahun bagi Budiman untuk mengorganisir kembali kekayaan rasa ini secara lebih terstruktur.

Puncaknya terjadi pada tahun 1991, ketika "Festival Makanan Semarang Tempo Doeloe" diselenggarakan selama tiga hari di Restaurant Semarang. Transisi ini menandai pergeseran nilai sosial yang krusial: makanan tradisional yang semula terfragmentasi di warung pinggir jalan, diangkat menjadi komoditas pariwisata bernilai tinggi di ruang formal restoran dan hotel berbintang. Evolusi ini membuktikan bahwa warisan rasa masa lalu memiliki daya adaptasi ekonomi yang kuat tanpa harus kehilangan akar historisnya.

Akulturasi Rasa: Pengaruh Indische, Tionghoa, dan Arab dalam Piring Semarang

Sebagai kota pelabuhan utama, letak geografis Semarang menjadi titik temu yang memicu peleburan teknik memasak mancanegara dengan bahan-bahan lokal. Salah satu pengaruh besar hadir melalui budaya Indische dengan konsep penyajian Rijsttafel. Gaya makan ini mengadaptasi kekayaan lauk-pauk Jawa ke dalam tatacara perjamuan Eropa, menghadirkan hidangan seperti smoor (semur), sambal goreng, hingga kroepoek (kerupuk) sebagai lambang kemewahan era kolonial.

Sintesis etnisitas dan religi turut membentuk keunggulan rasa yang kompetitif pada kuliner Semarang. Pengaruh Tionghoa, misalnya, sangat kuat mendominasi kawasan Pecinan lewat penggunaan rebung, teknik fermentasi kedelai seperti tauco dan petis, serta spesialisasi olahan mie. Jejak ini melahirkan ragam kuliner ikonik seperti Lumpia, Lontong Cap Gomeh, Kue Pia "Bah Bayi", Mie Titee, hingga Mie Pangsit "Hap Kie" dan "Siang Kie".

Di sisi lain, kekayaan kuliner Semarang juga diperkaya oleh etnis Arab dan komunitas lokal. Pengaruh Arab hadir secara menonjol melalui Nasi Kebuli yang mengandalkan minyak samin, rempah aromatik intens, serta olahan daging kambing. Sementara itu, masakan lokal atau kampung—seperti Sate dan Gule Bustaman serta Pindang Srani—menonjolkan penggunaan rempah segar seperti kunir dan serai, dipadukan dengan optimalisasi ternak dari "Kampung Kambing" Bustaman.

Penerapan teknik memasak hibrida ini akhirnya menciptakan dialektika rasa yang begitu unik. Keberanian bumbu dan keragaman teksturnya membedakan kuliner Semarang secara tegas dari kota-kota pedalaman Jawa lainnya.

Eksplorasi Hidangan Utama: Ikonik, Variatif, dan Legendaris

Hidangan utama Semarang bertindak sebagai pilar identitas yang menjaga ekosistem kuliner tetap hidup lintas generasi. Kawasan seperti Jalan Gajahmada—yang kini dijuluki "Jalan Kenangan"—menjadi salah satu simpul vital di mana memori kolektif warga dan pengunjung terus dirawat melalui jalinan cita rasa.

Berdasarkan catatan sejarah kuliner, kekayaan hidangan utama yang mendefinisikan Semarang tercermin dari beberapa sajian legendarisnya. Pertama; Lunpia menghadirkan komposisi autentik berupa isian rebung (bambu muda), telur, dan daging yang digoreng gurih. Keunikannya terletak pada penyajiannya yang spesifik bersama saus kental, acar lokio (onclang), serta cabai rawit segar sebagai penyeimbang rasa.

Tahu pong komplet, kuliner peranakan Tionghoa Semarang yang masih eksis hingga saat ini. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)

Selanjutnya, Tahu Pong (kopong) menawarkan sebuah eksperimen menarik tentang tekstur dan ruang melalui olahan tahu yang bagian dalamnya kosong. Tahu ini tidak berdiri sendiri, melainkan memerlukan komponen pendamping wajib—seperti gimbal udang dan siraman sambal petis cair—untuk mencapai profil rasa yang utuh. Warung "Pak Man Tahu" di sekitar Kranggan dan Gajahmada menjadi salah satu titik historis penting dari sajian ini.

Sektor hidangan berkuah diwakili oleh Soto Semarang yang memiliki karakteristik kuah bening nan elegan. Selain Soto Bangkong yang legendaris, terdapat pula Soto Ijo sebagai pilar soto ayam tersohor di kota ini. Kekuatan Soto Semarang sangat bergantung pada aneka lauk pendampingnya, seperti sate kerang dan perkedel.

Terakhir, Semarang juga dikenal sebagai gudang sate kambing legendaris. Deretan kedai ternama seperti Sate 29 di depan Gereja Blenduk, Sate Kapuran di Jalan Jagalan, serta Sate Bang Dullah di Nglaras Roso memiliki bobot sosial yang tinggi. Tempat-tempat ini tidak hanya menjadi destinasi kuliner, tetapi juga ruang nostalgia yang sering dikunjungi oleh para tokoh industri film—seperti sutradara Dedi Setiadi dan aktor Farouk Afero—saat melangsungkan proses produksi di Semarang.

Jajanan Pasar dan Kue Tradisional: Antara Nostalgia dan Kelangkaan

Jajanan pasar di Semarang bukan sekadar pemuas dahaga kuliner, melainkan cerminan dinamika ekonomi dan memori kolektif warga yang terus bergerak. Keberadaan jajanan ini merekam jejak kearifan lokal dalam mengolah bahan pangan, meski di sisi lain, mulai terancamnya keberadaan jenis-jenis kue tertentu menjadi catatan tersendiri bagi ketahanan budaya Semarang.

Keunikan tradisi jajanan Semarang dapat dilihat dari teknik pembuatan dan cerita di balik tiap sajian. Pisang Lekker (Planet), misalnya, mempertahankan keautentikannya dengan mengandalkan pisang raja gondoroso yang masak di pohon. Proses memasaknya pun masih tradisional, diolah di atas anglo menggunakan bahan bakar arang mlandhing (petai cina) yang memercikkan aroma asap manis nan khas.

Sementara itu, Wingko Babat yang sangat ikonik dengan bentuk "bantalan sepur" kini mulai menghadapi tantangan popularitas di tengah gempuran kudapan modern, meskipun varian paling autentiknya masih terus terdokumentasi melalui merek legendaris "Cap Kereta Api" karya D. Mulyono.

Di luar kudapan populer, analisis terhadap arsitektur pangan lokal menempatkan Kue Gelek sebagai simbol ketahanan pangan pada masanya. Berbeda dari bolang-baling modern yang bergantung pada gandum impor, Kue Gelek memanfaatkan campuran tepung gaplek (singkong lokal). Sifatnya yang padat dan "mengembang" di perut memberi efek kenyang yang tahan lama bagi para siswa berdana terbatas. Sayangnya, perlahan hilangnya Kue Gelek dari lapak-lapak jajanan menandakan pergeseran nyata dari kemandirian pangan lokal menuju ketergantungan pada komoditas global.

Kekayaan warisan kue tradisional Semarang juga terangkum dalam inventarisasi budaya yang melimpah, baik untuk momen istimewa maupun hidangan sehari-hari. Pada perayaan Hari Raya Idulfitri, meja-meja tamu dihiasi oleh kudapan khas berpenamaan unik seperti kue Kuping Gajah, Kuping Tikus, hingga Tai Kucing.

Sementara dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, masyarakat kampung mengenal ragam olahan seperti Rondo Royal (tape goreng), Duda Kemul, Ganjel Rel, Loro Gudik, Cemplung (bola-bola tahu), serta Mento—sejenis nagasari gurih dengan isian daging. Seluruh kekayaan ini menegaskan betapa eratnya hubungan antara penamaan jenaka, kreativitas bahan baku lokal, dan identitas sosial masyarakat Semarang.

Tradisi "Perwedangan" dan Jamu: Arsitektur Minuman Penghangat Tubuh

Setelah menyantap hidangan utama yang padat dan mengenyangkan, tradisi perwedangan hadir bukan sekadar sebagai pemuas dahaga, melainkan ritual pencernaan sekaligus penyelaras suhu tubuh. Minuman-minuman hangat berempah ini menyimpan jejak kearifan lokal dalam menjaga kesehatan tubuh, dipadukan dengan teknik penyajian yang sarat akan nilai sejarah dan kebudayaan.

Penjual Wedang Jun yang masih dijumpai di Kota Semarang. (Sumber: kisahsemarangan.blogspot.com)

Salah satu sajian paling menakjubkan adalah Wedang Jun (atau Wedang Blung), yang dapat dikatakan sebagai mahakarya teknologi penyimpanan tradisional. Penggunaan wadah tanah liat (jun) yang dibalut berlapis-lapis kelaras (daun pisang kering), lalu dimasukkan ke dalam tenggok (keranjang bambu) dan digendong dengan kain jarik, berfungsi sebagai sistem isolator panas alami.

Arsitektur penyimpanan ini sanggup menjaga suhu Wedang Jun tetap hangat hingga lima jam tanpa bantuan energi modern. Secara komposisi, minuman yang memadukan sari jahe, merica, tepung beras, dan bola-bola kelapa ini menghadirkan sensasi hangat nan kaya rasa.

Selain Wedang Jun, Semarang juga memiliki Wedang Tahu yang merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa. Berbahan dasar kembang tahu lembut dari kedelai yang disiram kuah jahe manis, minuman ini kian tergerus zaman dan tergolong sangat langka. Kini, keberadaannya acap kali hanya bergantung pada satu-dua penjual tersisa yang setia memikul angkringannya di sekitar kawasan Pecinan.

Tragisnya, nasib serupa juga menimpa Bir Semarang (Bir Temulawak) dan Jamu Majun. Bir Semarang—yang dahulu menjadi pendorong stamina favorit para abang becak—mengalami kepunahan akibat pengaruh budaya populer. Stigma negatif yang terdistribusi melalui lirik lagu Kris Biantoro pada dekade 1960-an, "yen dipikir ngrusak'ke awak" (jika dipikir, merusak tubuh), secara tidak langsung memicu penurunan popularitasnya hingga memusnahkan warisan botani lokal tersebut.

Sementara itu, Jamu Majun yang berakar kuat dari Desa Ponjoharjo, Kecamatan Bonang, Demak, meramu aneka rempah pilihan dengan bola-bola kelapa. Warisan kesehatan ini kini terus bertahan lewat perjuangan gigih generasi kelima penjualnya di Kampung Sukolilo, menjadi benteng terakhir yang menjaga tradisi perwedangan kawasan pesisir tetap bernapas.

Strategi Pelestarian Warisan Kuliner di Era Modern

Semarang telah mengukuhkan diri sebagai "Kota Bandeng, Kota Lunpia, dan Kota Wingko". Kehadiran pusat oleh-oleh di Jalan Pandanaran memang menjamin perputaran ekonomi, namun esensi "ngangeni" kota ini tetap berakar pada pasar tradisional.

Masa depan warisan kuliner Semarang bergantung pada dialektika antara modernitas mal dan pasar tradisional seperti Johar, Bulu, dan Peterongan. Di pasar-pasar inilah tersimpan "informasi manusia" yang tidak dimiliki ritel modern: budaya "nyang-nyangan" (tawar-menawar) dan "ngalur-ngidul" (percakapan sosial yang akrab) antara pedagang dan pembeli.

Pelestarian kuliner bukan sekadar soal resep, melainkan soal menjaga ruang sosial di mana rasa itu bersemi. Dengan mendokumentasikan sejarah ini, kita memastikan Semarang tetap menjadi destinasi yang bukan hanya memuaskan lidah, tetapi juga memperkaya jiwa melalui jejak rasa tempo dulu.

Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam