Ayo Netizen

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Oleh: Dias Ashari
Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)

Bandung menjelang magrib tak hanya menampilkan keelokan senja yang merah jingga merona tapi juga memperlihatkan sisi lain Kota Bandung tentang kehidupan sosialnya. Waktu magrib adalah pergumulan ketika hiruk-pikuk kemacetan jalanan kota berpadu dengan keteduhan panggilan shalat juga transisi ritme kehidupan masyarakat perkotaan yang cukup mewah dan peralihan masyarakat pinggiran setelahnya.

Kepadatan lalu lintas sudah menjadi ciri khas pada sejumlah titik di Kota Bandung. Antara anak-anak sekolah yang baru pulang selepas mengikuti kegiatan organisasi, bercampur dengan para buruh pabrik yang juga berbondong-bondong pulang tepat waktu serta aktivitas warga lainnya yang membutuhkan akses jalan untuk setiap kepentingannya. Keriuhan kendaraan dan emosi melebur menjadi satu, panas dan hujan pun tak kalah memeriahkan kemacetan.

Perubahan suasana langit jingga sejenak bisa menjadi hadiah bagi kemacetan yang panjang. Pemandangan ini pun yang seringkali banyak diabadikan oleh para pengguna jalan lalu di posting di media sosial dengan berbagai macam caption menarik. Diantaranya inilah salah satu yang menjadikan Bandung kerap dijunjung keromantisannya di mata nasional.

Waktu magrib juga memandai aktivitas religi bagi mereka yang beragama islam. Sejumlah masjid di Kota Bandung hingga pelosok wilayah mengumandangkan sesuai dengan jadwal yang sudah ada. Tak hanya itu kegiatan magrib juga sering diisi oleh kegiatan keagamaan seperti kultum atau atau aktivitas mengaji anak-anak.

Namun dibalik itu ada yang sering luput dari pandangan. Diantara toko, mall besar serta bangunan tinggi juga apartemen menunjukkan gemerlapnya di tengah langit yang menghitam. Pada sudut toko-toko kecil mereka mulai merebahkan dirinya. Ada yang duduk melamun, bercengkrama dengan keluarga kecilnya, sibuk mengeluarkan barang-barang dari karung dan juga ada yang mulai mempersiapkan diri untuk tidur.

Ya, mereka adalah orang-orang yang sering dilabeli dengan kata tunawisma. Mereka yang tidak memiliki rumah dan tempat tinggal yang layak. Mereka yang sibuk mencari seporsi nasi di pagi hari dengan memungut barang-barang bekas. Lalu di malam hari mulai menduduki teras-teras pertokoan dengan cahaya remang-remang hingga gelap gulita.

Mereka yang seringkali terihat menakutkan ketika kita harus melewati ruas jalan dengan berjalan kaki. Mengingat dunia ini makin semrawut dengan kejadian aneh maka seringkali kehadirannya menjadi ancaman untuk keselamatan. Memang kita tidak bisa memukul rata tindak perilaku orang-orang tapi fenomena kekerasan yang sering muncul diberita membuat hati menjadi was-was.

Mereka juga kadang terlihat seperti keluarga yang bahagia tanpa beban. Terlebih ketika sesekali melewati di depannya mereka sedang bercengkrama dengan keluarga kecilnya. Berbagi makanan yang mungkin mereka beli atau dapatkan dari orang lain.

Mereka juga terkadang terlihat muram. Duduk melamun dengan tatapan kosong dengan wajah yang lelah. Terlebih bagi mereka yang sudah tua renta. Membayangkan kesedihan dan kesepian di usia senja karena hidup sebatang kara. Bagi mereka yang masih remaja-- ke khawatiran muncul ketika kehadirannya menjadi peluang dan kesempatan bagi mereka yang berniat jahat untuk melakukan kejahatan dan kekerasan seksual.

Mereka yang menjadi wajah lain Kota Bandung yang tak terlihat dan yang seringnya terabaikan. Mereka adalah orang-orang yang harus melalui malam panjang dengan udara dingin Kota Bandung. Mereka yang berdamai untuk tidur hanya beralaskan teras yang terbuat dari semen dan keramik. Mereka yang hidup diantara kepasrahan sekaligus mempertaruhkan nyawa karena hal-hal buruk bisa terjadi kapan saja bagi mereka yang tidak terlindungi rumah.

Mereka yang juga tidak ingin memiliki takdir seperti itu tapi apalah daya negeri kita terlalu sulit untuk mengupayakan keadilan dan kesejahteraan bersama. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Bahkan kelas menengah pun sering menjadi korban atas ekonomi yang tak kunjung stabil.

Mereka adalah wajah Kota Bandung yang tertutup oleh gemerlapnya pujian istimewa dari orang-orang tentang Kota Kembang ini. Mereka ada dan tiada tergantung bagaimana kita melihatnya. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam