Hari Lansia Internasional, Sebagai Momen Kebersamaan bagi Para Lansia
Oleh: Vito Prasetyo
Setiap tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, tetapi gaung peringatan ini acapkali didengungkan seolah-olah hanya formalitas dan retorika belaka. Apa yang bisa kita lakukan untuk peringatan ini? Pertanyaan yang sering mengendap ditelan waktu.
Hari Lansia Internasional bukan sekadar penanda bertambahnya usia seseorang. Lebih dari itu, momentum ini dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan hidup para lanjut usia sebagai bagian penting dari perjalanan keluarga, masyarakat, bahkan sejarah bangsa.
Para lansia adalah mereka yang telah melewati berbagai zaman. Mereka pernah menyaksikan perubahan kehidupan dari masa ketika teknologi belum menjadi bagian dari keseharian hingga sekarang, ketika hampir semua aktivitas manusia bersentuhan dengan teknologi digital. Mereka mengalami perubahan sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, serta berbagai peristiwa yang mungkin hanya kita kenal melalui buku-buku sejarah.
Karena itu, keberadaan lansia seharusnya tidak dipandang sebagai sesuatu yang berada di pinggir kehidupan. Mereka tetap mempunyai ruang untuk berkarya, bersosialisasi, berbagi pengalaman, dan menikmati kehidupan dengan penuh penghargaan.
Memasuki usia lanjut tentu membawa perubahan pada tubuh. Energi mungkin tidak lagi sama seperti ketika masih muda. Namun, bertambahnya usia bukan berarti berhenti menjalani kehidupan secara aktif.
Menjaga kesehatan menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Pola makan yang seimbang, aktivitas fisik sesuai kemampuan, tidur yang cukup, pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta menjaga hubungan sosial merupakan bagian penting dari kehidupan lansia.
Kesehatan lansia juga tidak hanya menyangkut tubuh. Kesehatan mental dan perasaan memiliki hubungan yang erat dengan kualitas kehidupan. Lansia membutuhkan teman berbicara, lingkungan yang menghargai, kegiatan yang membuat mereka merasa berguna, serta perhatian dari keluarga.
Sebuah percakapan sederhana di ruang keluarga kadang jauh lebih berarti daripada yang kita bayangkan. Menanyakan kabar, mendengarkan cerita masa lalu, menemani berjalan pagi, atau sekadar minum the bersama dapat membuat seorang lansia merasa bahwa dirinya masih menjadi bagian penting dari keluarga.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, kebersamaan seperti itu justru semakin berharga. Maka, apa yang telah dilalui oleh para lansia adalah catatan sejarah yang terkadang hanya berupa potret kehidupan, yang seyogianya dihargai sebagai pengalaman berharga bagi generasi muda untuk dijadikan pelajaran.
Generasi muda sering kali mempunyai akses luar biasa terhadap informasi. Dengan telepon pintar, dunia dapat berada dalam genggaman. Namun, tidak semua pengetahuan dapat ditemukan melalui mesin pencari.
Seorang kakek mungkin mengetahui bagaimana keluarganya bertahan dalam masa sulit. Seorang nenek mungkin menyimpan cerita tentang kehidupan kampung yang kini telah berubah menjadi kawasan perkotaan. Mereka mungkin mengetahui tradisi yang mulai ditinggalkan, memahami nilai gotong royong yang semakin jarang ditemukan, atau mempunyai pengalaman menghadapi berbagai krisis kehidupan.
Dalam pengertian tertentu, lansia adalah perpustakaan yang hidup. Mereka membawa ingatan tentang sesuatu yang tidak selalu tercatat dalam buku sejarah. Karena itu, mendengarkan cerita para lansia merupakan salah satu cara menjaga agar pengalaman antargenerasi tidak terputus.
Generasi muda perlu memahami bahwa sejarah bukan hanya tanggal, nama tokoh, dan peristiwa yang tercetak dalam buku pelajaran. Sejarah juga hidup dalam ingatan manusia.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun masa depan, tetapi juga bangsa yang mampu memahami perjalanan masa lalunya.
Para lansia merupakan salah satu jembatan menuju masa lalu tersebut. Dari mereka, generasi muda dapat belajar tentang kesabaran, perjuangan, kerja keras, kehilangan, perubahan zaman, dan bagaimana manusia bertahan menghadapi keadaan.
Tidak semua cerita masa lalu harus diterima begitu saja. Cerita sejarah tetap perlu dibaca secara kritis dan dibandingkan dengan berbagai sumber. Namun, pengalaman orang-orang yang hidup pada masa tertentu tetap mempunyai nilai penting sebagai kesaksian sosial.
Anak-anak muda dapat mengunjungi kakek dan nenek mereka. Bertanya tentang masa kecilnya. Mendengarkan bagaimana mereka menjalani kehidupan. Menanyakan perubahan kampung, sekolah, pekerjaan, tradisi, dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Percakapan sederhana itu mungkin kelak menjadi sesuatu yang sangat berharga. Sebab, ketika sebuah generasi telah pergi, banyak pengalaman yang ikut menghilang apabila tidak pernah diceritakan dan diwariskan.
Menjadi tua bukan berarti kehilangan masa depan. Ada anggapan bahwa masa muda identik dengan masa depan, sementara masa tua identik dengan masa lalu. Pandangan seperti ini perlu diluruskan.
Mereka tetap berhak menikmati kehidupan, memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, bersosialisasi, mendapatkan penghormatan, serta melakukan berbagai aktivitas sesuai kemampuan dan minatnya.
Karena itu, keluarga dan masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang ramah terhadap lansia. Jangan menjadikan usia sebagai alasan untuk mengabaikan pendapat, kebutuhan, maupun martabat mereka.
Sebaliknya, para lansia juga dapat terus menjaga semangat hidup dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan dan bermanfaat. Membaca, berjalan santai, berkebun, beribadah, berkesenian, bertemu teman, mengikuti kegiatan masyarakat, atau berbagi pengalaman dengan generasi muda dapat menjadi bagian dari kehidupan yang sehat dan bermakna.
Bagi generasi muda, Hari Lansia Internasional seharusnya menjadi pengingat bahwa suatu hari nanti kita pun akan berada pada usia tersebut. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan bagaimana kita menjalani hari tua kelak.
Karena itu, menjaga kesehatan sejak muda adalah investasi jangka panjang. Menghindari kebiasaan yang merusak tubuh, membangun pola hidup sehat, menjaga kesehatan mental, memperkuat hubungan sosial, dan mempunyai kegiatan yang bermakna merupakan bekal penting untuk masa depan.
Tetapi ada satu hal lain yang tidak kalah penting: jangan kehilangan hubungan dengan sejarah. Kenalilah cerita orang tua kita. Dengarkan pengalaman mereka. Hormati perjuangan mereka. Ambil nilai yang baik dari perjalanan hidup mereka dan jadikan pengalaman masa lalu sebagai pelajaran untuk membangun masa depan.
Bangsa ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cepat beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga mempunyai ingatan sejarah dan kepekaan kemanusiaan.
Hari Lansia Internasional akhirnya bukan hanya tentang mereka yang telah lanjut usia. Ia juga tentang kita semua—tentang bagaimana sebuah generasi menghormati generasi sebelumnya dan bagaimana pengalaman masa lalu diteruskan menjadi kebijaksanaan bagi generasi berikutnya.
Sebab, masa depan yang baik tidak lahir dari generasi yang melupakan masa lalu. Ia tumbuh dari generasi yang mampu berjalan ke depan sambil tetap menghargai jejak orang-orang yang telah lebih dahulu berjalan. (*)