Ayo Netizen

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Oleh: R.M.A. Ahmad Said Widodo
Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)

Sastra Sunda memiliki kekayaan nilai filosofis dan historis yang mendalam. Salah satu karya monumental yang lahir pada era modern awal sastra Sunda adalah puisi "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana yang diterbitkan pada tahun 1964. Karya ini tidak hanya sekadar teks puitis, tetapi juga rekaman budaya masyarakat Sunda.

Melalui bait-baitnya, Wahyu Wibisana merajut pesan moral, kebijaksanaan leluhur serta semangat kepahlawanan Prabu Siliwangi. Membaca puisi ini menuntut pemahaman yang lebih dari sekadar arti harfiah kata. Ada lapis-lapis makna spiritual dan historis yang merefleksikan identitas serta jati diri urang Sunda di tengah dinamika zaman yang terus bergerak maju.

Artikel ini akan mengupas tuntas cara membaca dan memaknai kembali kedalaman isi puisi "Wangsit Siliwangi" secara komprehensif. Pembahasan ini diharapkan dapat membuka wawasan pembaca mengenai estetika sastra Sunda tahun 1964, sekaligus merawat warisan pemikiran luhur Wahyu Wibisana agar tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern.

“Wangsit Siliwangi" (1964) karya Wahyu Wibisana sebenarnya merupakan sebuah naskah drama Sunda (gending karesmén), di mana di dalamnya memuat lirik, puisi dan untaian sajak (rumpaka) yang sangat lekat dengan nilai-nilai kepahlawanan, sejarah dan spiritualitas masyarakat Sunda.

Bagian lengkap dari rumpaka atau teks puisi "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana dapat Anda temukan secara utuh pada sumber referensi. Secara garis besar, teks tersebut memuat pesan mengenai ketetapan leluhur agar semangat dan nama besar Siliwangi terus dijaga serta menyatu dalam jiwa anak cucu.

Ringkasan Makna Puisi

  • Amanat leluhur, puisi ini menggambarkan kembalinya semangat juang Prabu Siliwangi yang menyatu ke dalam sumsum, darah dan jiwa generasi penerus (anak cucu) Sunda.
  • • Tanggung jawab, nama besar "Siliwangi" bukan sekadar warisan sejarah, melainkan sebuah amanah besar agar keturunannya mampu menjaga kehormatan, berbuat baik dan bijaksana dalam menjalani kehidupan.

Pembahasan Utama: Eksplorasi Estetika dan Makna Filosofis

Analisis estetika dan kedalaman makna dalam puisi "Wangsit Siliwangi" (1964) karya Wahyu Wibisana berfokus pada visualisasi kejayaan masa lalu sebagai refleksi masa depan. Melalui tipografi yang tertata dan pemilihan diksi (pilihan kecap) yang puitis sekaligus magis, penyair menghidupkan kembali roh spiritualitas masyarakat Sunda. Struktur estetikanya menjembatani sastra tradisional pantun Sunda ke dalam bentuk puisi modern yang dinamis.

Nilai filosofis dan amanat dalam karya ini menggarisbawahi pentingnya menjaga integritas jati diri sebagai urang Sunda. Sosok Siliwangi tidak sekadar dipandang sebagai figur historis, melainkan sebuah konsep moral mengenai kepemimpinan yang adil, jujur (kesatriaan) dan welas asih kepada rakyat kecil. Pesan profetik (uga) di dalamnya mengingatkan generasi penerus agar tangguh dan adaptif dalam menghadapi arus modernisasi zaman.

Metode membaca puisi Sunda ini menuntut teknik deklamasi yang tepat melalui keselarasan lentong (intonasi) dan wirahma (irama). Pembaca perlu menghayati setiap bait secara mendalam untuk menangkap suasana (suasana) magis dan penuh pengharapan yang dibangun oleh penyair. Penguasaan artikulasi dalam melafalkan kosakata bahasa Sunda kuno menjadi kunci utama agar pesan teks tersampaikan secara utuh dan menggetarkan perasaan pendengar.

Analisis unsur intrinsik puisi (sajak) Sunda modern secara umum terbagi menjadi dua struktur utama, yaitu struktur batin (adegan batin) dan struktur fisik (adegan lahir). Berikut adalah analisis unsur intrinsik untuk puisi "Wangsit Siliwangi" (1964) karya Wahyu Wibisana:

Struktur Batin (Adegan Batin)

  • Tema (jejer), kebudayaan, sejarah dan identitas historis masyarakat Sunda. Puisi ini mengangkat refleksi filosofis mengenai amanat spirit atau "wangsit" warisan era Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran.
  • Nada (wirahma), khidmat, penuh wibawa dan reflektif. Penulis memosisikan diri sebagai penyampai pesan luhur masa lalu yang membangkitkan rasa hormat sekaligus kesadaran kultural pembacanya.
  • Rasa (rasa), rasa cinta tanah air (nasionalisme lokal), kerinduan akan kejayaan masa lalu serta rasa tanggung jawab emosional untuk memelihara jati diri urang Sunda di tengah modernisasi zaman.
  • Amanat, ajakan moral kepada generasi penerus agar tidak melupakan akar sejarah, menjaga kejujuran, bersikap kesatria serta tetap membela rakyat kecil (gumati ka si leutik) agar hidup mendapatkan kemuliaan.

Struktur Fisik (Adegan Lahir)

  • Diksi (pilihan kecap), Wahyu Wibisana menggunakan kombinasi bahasa Sunda yang puitis, arkais dan kaya akan istilah-istilah kultural (seperti mandala, pulung, Galunggung, Pajajaran) untuk memperkuat atmosfer sakral dan historis dari isi puisi.
  • Citraan (imajinasi), didominasi oleh citraan pendengaran (auditif) dan penglihatan (visual). Pembaca seolah dibawa melihat runtutan zaman spiritual kuno, sekaligus mendengar gema petuah luhur dari masa lampau.
  • Gaya bahasa (mamanis basa), banyak memanfaatkan gaya bahasa personifikasi dan metafora budaya untuk menggambarkan konsep abstrak ke dalam simbolis alam dan warisan leluhur Sunda.
  • Rima (purwakanti), meskipun berbentuk puisi bebas modern (sajak bebas), bait-baitnya tetap mempertahankan keselarasan bunyi vokal dan konsonan di akhir atau di tengah baris untuk menjaga keindahan musikalitas saat dideklamasikan.

Berdasarkan analisis yang telah dipaparkan, sajak "Wangsit Siliwangi" (1964) karya Wahyu Wibisana bukan sekadar karya sastra Sunda modern biasa, melainkan sebuah manifestasi kultural dan spiritual yang mendalam. Melalui keselarasan struktur fisik (adegan lahir) yang estetis dan struktur batin (adegan batin) yang penuh wibawa, puisi ini berhasil melintasi batas waktu untuk menyampaikan esensi nilai kemanusiaan, kesatrian dan cinta tanah air.

Karya ini menegaskan bahwa "wangsit" atau amanat masa lalu bukanlah warisan mistis yang pasif, melainkan sebuah pedoman moral yang dinamis bagi generasi penerus. Ditulis pada tahun 1964 di tengah gejolak dinamika zaman, Wahyu Wibisana mengingatkan urang Sunda untuk tidak kehilangan jati diri dan tetap teguh memegang prinsip kebaikan serta keadilan demi kesejahteraan masyarakat luas.

Secara keseluruhan, membaca puisi ini memberikan kita kesadaran bahwa merawat ingatan sejarah dan warisan pemikiran luhur adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan modernitas. Puisi ini akan tetap relevan selama nilai-nilai kebaikan, kejujuran dan penghormatan terhadap akar budaya terus dijunjung tinggi oleh masyarakat.

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda “Wangist Silwangi” (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pada sekitar bulan November 1983 pada saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA Negeri 2 Purwakarta aku membaca dan mengetahui ada informasi pendaftaran Lomba Baca Puisi Sunda ‘’Wangsit Siliwangi’’ karya Wahyu Wibisana pada peringatan Hari Ulang Tahun Angkatan Muda Siliwangi Tingkat Kabupaten di Purwakarta.

Pada saat aku mendaftar ternyata ada beberapa orang guru kesenian dan sekaligus seniman Purwakarta yang sudah aku kenal antara lain pak Abdul Syukur Sumartono (guru Pendidikan Kesenian SMA Negeri 2 Purwakarta), pak Maman Suparman Librawijaya (seniman perancang lambang Kabupaten Purwakarta) dan pak Otang Susmayana, kalau tidak salah nama lengkapnya (seniman dan budayawan Purwakarta).

Setelah aku mendaftar, pak Syukur bilang begini, ‘’Moal mungkin meunang, maenya budak Jawa bisa maca puisi basa Sunda buhun.’’ Aku hanya diam saja, dalam hatiku berkata, biar beliau berkata seperti itu, entah pelecehan verbal dan sosial (suku Jawa dengan suku Sunda), entah meragukan kemampuanku, entah mungkin sebagai pelecut atau cambuk semangatku. Padahal aku tahu beliau adalah tetangga se-RT dan se-RW ayah-ibuku, pakdhe-budheku dan kakek-nenekku dan padahal beliau juga punya ayah dan ibu sama-sama orang Jawa.

Aku hanya diam saja, tak menjawab. Aku hanya bisa berbaik sangka (husnuzan), menganggap niat beliau baik dan tidak mudah menuduh atau mencurigai tanpa alasan yang kuat. Tetapi di dalam hatiku tertanam minat, niat, tekad dan semangat yang bulat, bahwa budak Jawa oge bisa maca puisi basa Sunda buhun. Dan aku harus jadi juaranya.

Aku pelajari setiap kata demi kata, aku tanyakan pada ayahku atau ibuku, sisanya jika ada yang sulit aku tanyakan ke sana kemari, hingga pada akhirnya aku minta tolong pada guru-guru Bahasa Sundaku di SMP Negeri 2 Purwakarta, yaitu bu Yetty Yustisah dan bu Yetty Andia Agus serta guru kesenianku, pak Yuyu Wahyudin. Tetapi sayangnya beliau hanya bisa memberitahu sedikit saja dari kata-kata atau kosa kata Bahasa Sunda. Aku cari-cari Kamus Umum Bahasa Sunda pun tidak aa yang punya. Beliau semua berkata, “Beda kieu basa Sundana, jiga basa Sunda buhun atawa basa Sunda belah kulon (Banten), Said.”

Ketika hari festival baca puisi dimulai di Wisma Primkopad (dahulu namanya Societeit Vijverzicht, sekarang namanya Wisma Suryo), ternyata pesertanya mencapai ratusan orang dan satu demi satu membacakan puisi “Wangsit Siliwangi” sesuai dengan kelompok ketegori SMP, SMA, mahasiswa dan umum. Aku sangat antusias dengan tidak pernah luput memperhatikan setiap peserta, terutama peserta yang aku anggap baik dalam pembacaan puisinya. Aku melakukan pencatatan kelompok kategori dan jenis kelamin serta nomor peserta yang aku anggap bagus.

Ketika tiba pada nomor giliranku aku berusaha melangkah dengan gagah dan berwibawa serta penuh pesona. Aku naik ke atas pentas maju beberapa langkah dan diam sejenak kemudian sedikit membungkuk dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat pada para anggota dewan juri dan para penonton. Aku mundur selangkah dan merenggangkan kaki kanan dan kiri kemudian tepat pada pukul 24.00 WIB aku membacakan judul puisi dengan lantang “Wangsit Siiwangi” karya Wahyu Wibisana. Baik dewan juri, maupun penonton diam tak bicara, tak bergerak, tak ada kepulan asap rokok. Hening. Sunyi. Sepi. Senyap.

Kata demi kata, baris demi baris dan bait demi bait aku bacakan dengan sebaik-baiknya dengan penekanan point-point penilaian lomba baca puisi yang sejak berusia 9 tahun sudah aku pelajari secara otodidak, sebagai berikut:

  • Suara dan kejelasan pengucapan (vokal dan artikulasi), kejelasan pengucapan kata dan huruf (seperti vokal A, I, U, E, O), kekuatan suara serta ketepatan tempo dan ritme.
  • Tinggi rendahnya suara atau lagu kalimat (intonasi), tinggi-rendah nada, tekanan serta kuat-lemahnya suara agar penyampaian makna puisi lebih dinamis dan tidak monoton.
  • Penghayatan, penjiwaan, pendalaman atau peresapan, kedalaman pemahaman isi puisi serta ketepatan emosi yang ditampilkan sejak awal hingga akhir pembacaan. Terdiri dari: Appreciation and internalization (paling umum untuk konteks pemahaman mendalam terhadap nilai, norma atau teks); Deep understanding and immersion (bisa digunakan untuk penghayatan dalam belajar atau membaca); Empathy and characterization (sangat tepat untuk dunia akting atau seni peran) dan Soulfulness and expression (cocok untuk dunia seni musik atau tari)
  • Raut wajah dan air muka (ekspresi dan mimik wajah), ketepatan air muka atau ekspresi wajah yang selaras dengan suasana dan jiwa puisi yang dibacakan (tidak berlebihan).
  • Bahasa tubuh/gestur/penampilan, gerakan tubuh, sikap dan pemanggungan/pementasan yang wajar, estetis serta mendukung makna puisi tanpa terlihat kaku atau dibuat-buat. Terdiri dari: Physicality, istilah terbaik jika fokusnya adalah gabungan antara bahasa tubuh, gerakan, penampilan fisik dan sikap aktor di atas panggung; Stage Presence, istilah terbaik jika fokusnya adalah karisma, sikap dan bagaimana cara seseorang menguasai pemanggungan/pementasan agar menarik perhatian penonton dan Body Language: Istilah paling umum untuk bahasa tubuh, gestur dan gerakan namun kurang mencakup unsur pemanggungan.

Rasanya pada saat aku berdiri membaca puisi di atas pentas, aku bisa mengeksplor diriku dengan sepuas-puasnya dan sebaik-baiknya. Aku begitu menjiwai setiap kata, kosa kata, baris dan bait puisi itu tanpa kurang suatau apapun. Aku merasakan diriku sebagai Prabu Siliwangi yang sedang menyampaikan pesan dan petuah petatah petitih dengan gagah.

Aku merasakan suasana yang seperti tak biasa, nuansa masa lalu ratusan tahun yang lalu terasa begitu nyata, seperti aku mengalami retrokugnisi. Retrokognisi adalah kemampuan atau persepsi paranormal untuk mengetahui dan melihat kembali peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lalu. Seusai aku tampil membaca puisi dan memberi hormat kembali, tepuk tangan bergemuruh memecah keheningan malam di dalam ruangan yang berdinding beton setebal ± 40 centimeter.

Setelah beberapa peserta lagi dan kemudian istirahat, maka pak Syukur sambil menghisap sebatang rokok kretek mendekatiku, “Said, tadi keur Said maca puisi, asa lain Said anu maca teh?” “Ah, maenya, pak? Na, saha atuh? Da teu aya sasaha?” jawabku. Mungkin Allah memberikan kebaikan dan kelebihan padaku pada saat itu. Kan tidak mungkin Maung Siliwangi hadir dan nyurup ke dalam diriku, apalagi maung jin khadam atau jin nasabku.

Beberapa hari kemudian ketika hari pengumuman pemenang Lomba Baca Puisi Sunda ‘’Wangsit Siliwangi’’ karya Wahyu Wibisana pada Peringatan Hari Ulang Tahun Angkatan Muda Siliwangi Tingkat Kabupaten di Purwakarta tiba yang diadakan di Bioskop Purwakarta Plaza, aku cukup deg-degan juga, aku menang atau tidak, ya? Dan teryata ......... namaku disebut sebagai Juara 3 Tingkat Kabupaten Purwakarta. Alhamdulillah wa Syukurillah wa Nikmatillah.

Jadi juaranya berturut-turut: Juara 1 Sdr. Husein Ahmad Bajri (sekarang dokter dan owner RS Holistic Purwakarta, Juara 2 Sdr. Nana Margana (sudah wafat, suami dari adik sepupuku dan Juara 3 aku sendiri (R.M.A. Ahmad Said Widodo). Aku disalami oleh para anggota desan juri dan orang-orang lain yang mengenalku dan menjagokanku.

Pembacaan puisi "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana tahun 1964 memberikan makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Sunda. Karya ini bukan sekadar bait sastra biasa. Ia adalah warisan budaya yang merekam sejarah, nilai moral serta semangat perjuangan leluhur yang terus hidup melintasi berbagai generasi zaman modern saat ini.

Melalui intonasi dan penghayatan yang tepat, pesan moral dalam puisi ini mampu menggugah kesadaran kita. Kita diajak untuk merenungkan kembali jati diri dan kecintaan pada tanah Pasundan. Setiap larik yang dibacakan seolah memanggil kembali roh kepemimpinan bijaksana yang diwariskan oleh Prabu Siliwangi kepada seluruh anak cucu keturunannya di bumi.

Mari kita terus melestarikan pembacaan puisi Sunda klasik seperti ini. Perawatan bahasa dan sastra daerah adalah wujud nyata kecintaan pada identitas bangsa. Dengan mengenang karya Wahyu Wibisana ini, kita menjaga api budaya tetap menyala terang di tengah gempuran arus globalisasi yang serba cepat hari ini. (*)

Reporter R.M.A. Ahmad Said Widodo
Editor Aris Abdulsalam