Ketika sebagian besar orang mulai terlelap, ada sebagian warga yang justru masih terjaga. Mereka berjalan menyusuri gang, memperhatikan sudut-sudut lingkungan, sesekali berhenti untuk memukul kentongan sambil berbincang menyeruput kopi di genggaman. Suasana malam yang sunyi bagi sebagian orang, menjadi waktu penting bagi mereka untuk memastikan lingkungan tetap aman. Itulah tradisi yang masih berlangsung di Lingkungan RW 10, Kelurahan Karang Mekar, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.
Ronda malam di lingkungan kami sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Kegiatan ronda sudah dilaksanakan sejak lama dengan melibatkan partisipasi warga. Namun, seiring perubahan kondisi dan kebutuhan, pola ronda pun disesuaikan. Sejak hasil musyawarah pada Tahun 2022, pelaksanaan ronda malam tidak lagi melibatkan warga secara langsung. Tugas tersebut kemudian dipercayakan kepada petugas ronda yang merupakan warga RW 10 sekaligus anggota resmi Linmas (Perlindungan Masyarakat) Kelurahan Karang Mekar.
Ada enam petugas ronda yang secara bergantian menjalankan tugas. Setiap malam, tiga orang bertugas menjaga keamanan lingkungan. Mereka menjadi "mata" yang tetap terbuka ketika sebagian besar warga sedang beristirahat.
Lingkungan Terbuka, Tantangan Lebih Besar
Mengapa ronda malam masih dianggap penting di RW 10 ? Jawabannya ada pada karakteristik Lingkungan RW 10 yang berbeda dengan kawasan permukiman yang memiliki sistem keamanan lebih tertutup. RW 10 merupakan kawasan terbuka dengan banyak akses keluar-masuk. Terdapat lebih dari lima akses yang dapat dilalui tanpa penjagaan khusus. Kondisi ini tentu berbeda dengan kawasan perumahan yang umumnya memiliki satu pintu utama dengan sistem keamanan dan petugas satpam.
Banyaknya akses tersebut memberikan kemudahan mobilitas bagi warga. Namun, pada saat yang sama, kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri dalam menjaga keamanan lingkungan. Sejumlah kejadian pernah menjadi perhatian warga. Mulai dari kehilangan sepeda motor, burung dan sandal, hingga masuknya orang asing yang menunjukkan perilaku mencurigakan. Pernah pula terjadi pada dini hari, orang tak dikenal dengan menggunakan sepeda motor melempari kaca rumah warga hingga pecah.
Belum lagi persoalan anak-anak remaja dari wilayah lain yang masuk dan membuat keributan. Kasus-kasus semacam ini mungkin terlihat sederhana jika berdiri sendiri. Namun jika terjadi berulang dan berada dalam satu lingkungan yang terbuka, tentu akan menimbulkan rasa tidak aman bagi masyarakat. Karena itu, kehadiran petugas ronda bukan sekadar rutinitas malam. Petugas ronda RW 10 adalah bagian dari sistem kewaspadaan paling awal di lingkungan masyarakat.
Ronda yang Berubah, Semangat yang Tidak Hilang
Menariknya, perubahan pola ronda di RW 10 tidak berarti semangat gotong royong warga ikut menghilang. Dulu, warga terlibat langsung menjaga lingkungan. Kini, tugas tersebut dilakukan oleh petugas ronda. Warga tetap mengambil bagian melalui iuran ronda sebesar Rp20.000 setiap bulan. Iuran tersebut menjadi bentuk partisipasi warga dalam menjaga keamanan lingkungan.
Memang, tidak semua warga dapat hadir secara langsung pada tengah malam. Ada yang harus bekerja keesokan harinya, ada yang sudah lanjut usia, ada pula yang memiliki kesibukan keluarga. Karena itu, kehadiran petugas ronda menjadi solusi agar sistem keamanan lingkungan tetap berjalan tanpa harus membebani seluruh warga dengan kewajiban berjaga setiap malam. Namun, keamanan lingkungan sejatinya bukan hanya persoalan siapa yang berjaga. Ia adalah persoalan siapa yang peduli.
Secangkir Kopi untuk Mereka yang Terjaga
Sisi lain yang menarik dari kegiatan ronda malam di RW 10. Para ketua RT dan Ketua RW secara bergantian memberikan dukungan kepada petugas ronda, khususnya pada hari-hari libur. Sesekali mereka ikut menemani para petugas berjaga. Kopi, makanan sederhana, dan bahkan rokok disediakan sebagai bentuk dukungan agar para petugas tetap bersemangat menjalankan tugas.
Mungkin nilainya tidak seberapa. Tetapi dalam kehidupan bermasyarakat, perhatian kecil sering kali memiliki makna yang besar. Secangkir kopi yang diberikan kepada petugas ronda pada tengah malam sebenarnya bukan sekadar minuman. Di dalamnya ada pesan sederhana: kami menghargai apa yang sedang kalian lakukan. Di tengah dinginnya malam dan rasa kantuk yang datang, perhatian seperti itu tentu menjadi penyemangat.
Menjaga keamanan lingkungan bukanlah pekerjaan yang selalu terlihat. Tidak ada tepuk tangan setiap kali mereka berhasil melewati satu malam tanpa kejadian. Tidak ada pemberitaan ketika mereka berhasil memastikan lingkungan tetap aman. Mereka bekerja justru agar sesuatu yang buruk tidak terjadi.
Bukan Sekadar Menjaga dari Pencurian
Ronda malam sering kali dipahami sebatas mencegah pencurian. Padahal fungsi sosialnya jauh lebih luas. Petugas ronda menjadi pihak yang pertama kali mengetahui jika ada warga yang sakit dan membutuhkan pertolongan Tengah malam atau ada aktivitas orang yang mencurigakan. Para petugas ronda menjadi penghubung awal ketika terjadi persoalan di lingkungan.
Warga menjadi tenang dan nyaman karena mereka tahu bahwa pada malam hari ada petugas menjaga lingkungan. Ada petugas yang berkeliling dan berjaga. Ada yang siap mengambil tindakan awal ketika muncul gangguan. Rasa aman memang tidak selalu dapat diukur dengan angka. Kadang rasa aman muncul hanya karena seseorang tahu bahwa ketika ia tidur, ada orang lain yang sedang menjaga lingkungannya.
Ketika Gotong Royong Berubah Bentuk
Perubahan pola ronda di RW 10 sebenarnya menggambarkan bagaimana gotong royong dapat beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. Gotong royong tidak selalu harus berarti semua orang melakukan pekerjaan yang sama. Dalam konteks ronda malam, ada warga yang berjaga, ada yang memberikan iuran, ada yang menyediakan makanan dan minuman, ada yang mendampingi petugas, dan ada pula yang memberikan dukungan moral.
Semuanya memiliki peran. Inilah wajah gotong royong yang mungkin sudah berubah bentuk, tetapi belum kehilangan ruhnya. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai keamanan lingkungan hanya dianggap sebagai tanggung jawab petugas ronda. Petugas ronda memang menjadi garda terdepan pada malam hari, tetapi keamanan tetap merupakan tanggung jawab bersama.
Warga perlu peduli terhadap lingkungan. Ketua RT dan RW perlu memastikan sistem berjalan. Pemerintah kelurahan perlu memberikan perhatian dan pembinaan. Dan masyarakat secara keseluruhan perlu membangun budaya saling menjaga.
Penghargaan Boleh Datang, Perhatian Harus Tetap Ada
Keaktifan petugas ronda RW 10 bahkan beberapa kali mendapatkan penghargaan dari Kelurahan Karang Mekar. Penghargaan tersebut tentu menjadi kebanggaan sekaligus motivasi. Namun, penghargaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Di balik penghargaan itu ada enam orang warga yang secara bergantian mengorbankan waktu istirahat mereka untuk menjaga lingkungan. Mereka menghadapi berbagai kemungkinan risiko ketika sebagian besar masyarakat sedang tidur. Karena itu, perhatian terhadap para petugas ronda juga perlu terus diberikan.
Mungkin sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih serius terhadap keberadaan petugas ronda di tingkat lingkungan, termasuk bentuk dukungan yang layak bagi mereka. Sebab, keamanan di tingkat paling bawah sesungguhnya menjadi bagian penting dari sistem keamanan masyarakat secara keseluruhan. Dan bagi warga, mari jangan lelah untuk peduli.
Baca Juga: Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung
Tidak harus selalu ikut berjaga. Tidak harus selalu berada di pos atau berkeliling tengah malam. Setidaknya, dukung mereka dengan membayar iuran, menjaga lingkungan, melaporkan hal-hal mencurigakan, dan tidak bersikap masa bodoh terhadap kondisi sekitar. Sebab pada akhirnya, keamanan kampung bukan hanya tentang siapa yang membawa senter dan berkeliling pada tengah malam.
Keamanan adalah tentang siapa yang masih peduli ketika orang lain memilih untuk tidur. Di RW 10, secangkir kopi yang disuguhkan kepada petugas ronda mungkin terlihat sederhana. Tetapi di baliknya ada pesan yang jauh lebih besar: bahwa mereka tidak sendirian. Ada warga yang mendukung. Ada lingkungan yang peduli. Dan ada semangat gotong royong yang masih menyala, bahkan ketika malam telah begitu larut. (*)