Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Jawa Barat mencatat sebanyak 65 kasus positif influenza tipe A di Kota Bandung per akhir September 2026. Tentu ini bukan suatu hal yang biasa, perlu ada kewaspadaan dari masyarakat untuk menjaga kesehatannya.
Meski masyarakat sudah pernah mengalami covid-19, diperlukan kewaspadaan ekstra yang memang tidak disepelekan. Pengalaman covid-19 menjadi peristiwa yang tidak dapat dilupakan begitu saja.
Hari-hari di mana masyarakat mengatur waktunya untuk beraktivitas dengan menjaga jarak, tidak bersentuhan, memakai masker, ketat dalam beraktivitas. Situasinya di awal sangat mencekam, semua orang yang mendapatkan gejalanya harus diisolasi, meski kemudian dilonggarkan menjadi isolasi mandiri, tak sedikit yang merasakan covid-19 tertawan baik dari sisi sosial, budaya, terlebih di bidang pendidikan dan ekonomi.
Di bidang pendidikan, sebab covid-19 inilah pembelajaran mulai diterapkan pembelajaran jarak jauh. Murid-murid harus belajar di rumah, meski harus tetap membuka pelajaran.
Sedangkan di bidang ekonomi, masyarakat mengalami situasi yang rumit, kolaps, dan tidak mampu melakukan kegiatan lagi, gulung tikar, dan tidak lagi seramai sebelumnya.
Skenarionya harus menjalani kehidupan yang terbatas. Hingga pada tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.
Influenza tipe A ini melakukan penyebarannya juga mirip dengan covid-19, kontaknya lewat udara atau percikan, dan tentu saja di lingkaran keluarga harus ekstra mewaspadai penyebaran semacam ini.
Maka dari itu, masyarakat perlu mewaspadai dengan gejala yang ditimbulkan, jika masyarakat sudah merasakan demam tinggi, mulai dari badan lemas, badan pegal-pegal, batuk-batuk, pilek, dan kepala sakit. Menandakan gejala sudah muncul dan wajib mengisolasi di rumah.
Penerapan PHBS
Jika kita sudah pernah melaksanakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) ketika covid-19. Maka sudah seharusnya kita tidak gagap lagi mengimplementasikan PHBS di sekitar keluarga kita. Dengan penerapan PHBS ini maka kita tidak khawatir untuk memaksimalkan situasi hari ini.
Bagaimana dengan aktivitas sehari-hari kita? Maka kita wajib menyiapkan diri dengan menggunakan masker dengan baik, maskernya sesuai standar yang telah ditetapkan.
PHBS sangat sederhana di lingkungan keluarga kita. PHBS memudahkan kita memaksimalkan kegiatan sehari-hari tanpa takut dengan gejala, sebab kita mampu menerapkan pola kegiatan yang bersih dan sehat. Utamanya kondisi saat ini, yang telah ditularkan dengan influenza tipe A.
Masyarakat juga harus bisa melaksanakan PHBS dengan baik dan bekerjasama antar keluarga. Bagaimanapun juga, kondisi kesehatan kitalah yang menentukan. PHBS sebagai proteksi diri kita. Meskipun influenza tipe A ini menghantui dan menjadi pengalaman buruk seperti covid-19. Kita yang harus mengedepankan diri menjaga segalanya.
Langkah yang paling sederhana dengan mencuci tangan di rumah, mencuci tangan di lingkungan sekolah atau lingkungan kerja, lingkungan bermain, dan sewajibnya kita menjaga diri atas bahaya yang akan mendatangi tiba-tiba.
Melalui langkah mencuci tangan yang diverifikasi oleh WHO, kita memerlukan waktu sekitar 40 hingga 60 detik dalam menggunakan air dan sabun yang tersedia, atau lebih praktisnya 20 hingga 30 detik menggunakan hand sanitizer.
Kita bisa melakukan langkah mencuci tangan dengan 6 langkah praktisnya secara berurutan dengan setelah membasahi tangan dengan air dan menuangkan sabun, pertama, menggosok telapak tangan secara lembut dengan gerakan memutar, kedua, menggosok punggung tangan dengan menggosok jari-jari, saling menyilang.
Ketiga, menggosok sela-sela jari tangan hingga bersih, keempat, menggosok punggung jari ke telapak tangan secara berurutan, kelima, menggosok ibu jari, dan keenam, menggosok ujung jari.
Baca Juga: Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung
Sebenarnya langkah ini sangat mudah. Kita dapat melakukannya dengan rutin membilas tangan dengan rutin. Kita dapat mencuci tangan kita untuk menjaga tubuh kita, terhindar dari serangan influenza tipe A.
Terakhir, kita perlu waspada agar kesehatan kita selalu terjaga. Kita perlu menjaga diri kita dari setiap aktivitas yang kita lakukan. PHBS sebagai dasar awal kita menjaga pola perilaku kita. Pada akhirnya, kita pula yang memahami kondisi dan situasinya.
Menariknya, PHBS ini mesti disosialisasikan di setiap lingkungan kita. Benarkah sosialisasinya sudah masif? Jika belum, alangkah baiknya pemerintah melalui puskesmas bekerjasama untuk selalu memberikan informasi dan sosialisasi yang terbaik untuk masyarakat kota Bandung. Mari waspada. Mari menjaga kesehatan bersama. Dunia sehat kita tergantung diri kita sendiri. (*)