AYOBANDUNG.ID - Istilah “super flu” atau "supefl" mendadak ramai di penghujung 2025. Ia melintas di judul berita, linimasa media sosial, dan percakapan ruang tunggu rumah sakit. Bukan istilah resmi dunia medis, melainkan label populer yang lahir dari kegelisahan publik terhadap musim influenza yang terasa datang lebih cepat, menyebar lebih luas, dan membuat sistem kesehatan kembali tertekan. Di balik julukan itu, satu nama berulang muncul dalam laporan ilmiah dan buletin kesehatan global: influenza A (H3N2) subclade K.
Sejarah subclade K tidak bermula dengan sirene darurat atau pengumuman besar. Ia lahir dalam rutinitas laboratorium. Pada Agustus 2025, para peneliti di Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat mendapati pola mutasi yang konsisten dalam sampel virus influenza A (H3N2) yang dikirim jaringan surveilans nasional.
Virus itu awalnya diberi label teknis J.2.4.1, sebuah nama yang hanya bermakna bagi kalangan virolog. Untuk kepentingan klasifikasi dan komunikasi publik, CDC kemudian menyederhanakannya menjadi H3N2 subclade K, sebagaimana tercatat dalam laporan Influenza Surveillance Report CDC edisi Agustus dan September 2025.
Temuan tersebut, pada awalnya, tidak dianggap luar biasa. Influenza A dikenal sebagai virus yang gemar berubah. Pergeseran antigenik kecil atau antigenic drift adalah bagian dari siklus alaminya. Hampir setiap musim flu menghadirkan varian baru dengan perbedaan tipis dari pendahulunya. Namun subclade K menunjukkan sesuatu yang berbeda bukan pada sifat biologisnya, melainkan pada kecepatannya menyebar.
Baca Juga: Sampai ke Bandung, Sejarah Virus Hanta Bermula dari Perang Dunia 1
September 2025, proporsi subclade K dalam data pengawasan CDC meningkat tajam. Dalam hitungan minggu, varian ini beralih dari catatan kaki menjadi aktor utama. Menjelang Desember 2025, sekitar 90 persen virus H3N2 yang dianalisis di Amerika Serikat termasuk ke dalam subclade K. Pola serupa dilaporkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Global Influenza Surveillance and Response System. Australia dan Selandia Baru melaporkan dominasi subclade K sejak akhir musim dingin mereka, disusul Eropa, Amerika Utara, dan sebagian Asia.
Lantaran skalanya, tak sedikit yang menyebut musim flu 2025 hingga 2026 sebagai musim yang tidak biasa. Lonjakan kasus terjadi lebih awal dari pola tahunan. Rumah sakit di beberapa negara kembali merasakan tekanan, bukan karena lonjakan kematian, melainkan karena volume pasien yang besar. Di sinilah istilah “super flu” menemukan panggungnya. CDC sendiri berhati hati dengan istilah itu.
Dalam salah satu laporan teknisnya, lembaga tersebut menegaskan bahwa subclade K tidak menunjukkan peningkatan virulensi, tetapi memiliki mutasi pada protein hemaglutinin yang membuatnya lebih piawai menghindari kekebalan lama.
Hemaglutinin adalah kunci masuk virus ke sel manusia. Perubahan kecil pada protein ini cukup untuk mengurangi efektivitas antibodi yang terbentuk dari infeksi sebelumnya atau dari vaksin yang tidak sepenuhnya cocok. Akibatnya, banyak orang yang secara statistik seharusnya terlindungi tetap terinfeksi. CDC menyebut subclade K sebagai “antigenically drifted”, istilah teknis yang berarti ada jarak imunologis dengan virus referensi vaksin musim 2025 hingga 2026, tetapi bukan kegagalan total vaksinasi. Dalam satu pernyataan singkat yang dikutip Reuters, pejabat CDC menegaskan bahwa vaksin tetap “memberikan perlindungan signifikan terhadap penyakit berat dan rawat inap”.
Baca Juga: Hadiah Bandung untuk Dunia, Riwayat Kina yang Kini Terlupa
Dalam perspektif sejarah, kisah ini terasa akrab. Influenza selalu bergerak dalam pola kejar mengejar dengan vaksin. Setiap mutasi kecil memaksa ilmuwan menyesuaikan komposisi vaksin musim berikutnya. Subclade K hanyalah bab terbaru dari cerita panjang itu. Ia tidak menciptakan pandemi baru, tetapi cukup untuk mengingatkan dunia bahwa flu musiman bukan sekadar gangguan ringan yang bisa diabaikan.
Jelang akhir 2025, label “super flu” telanjur melekat di ruang publik. Ia menjadi metafora bagi musim flu yang merepotkan, bukan deskripsi ilmiah. Seperti banyak istilah populer lainnya, ia lahir dari kecemasan, lalu hidup lebih lama daripada fakta yang melahirkannya.
Baca Juga: Sejarah Black Death, Wabah Kematian Perusak Tatanan Eropa Lama

Super Flu ke Indonesia
Di Indonesia, kedatangan influenza A (H3N2) subclade K berlangsung hampir tanpa suara. Tidak ada pengumuman darurat, tidak pula konferensi pers mendadak. Deteksi awal berasal dari sistem surveilans sentinel ILI dan SARI, jaringan fasilitas kesehatan yang rutin mengirimkan sampel pasien dengan gejala influenza like illness dan severe acute respiratory infection. Pemeriksaan whole genome sequencing yang rampung menjelang akhir Desember 2025 menunjukkan bahwa subclade K sebenarnya sudah beredar sejak Agustus, hampir bersamaan dengan kemunculannya di Asia Timur dan Asia Tenggara. Data ini selaras dengan laporan WHO Regional Office for the Western Pacific.
Hingga akhir Desember 2025, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat 62 kasus terkonfirmasi influenza A (H3N2) subclade K di delapan provinsi. Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat mencatat angka tertinggi, wilayah yang dikenal memiliki mobilitas penduduk dan konektivitas antardaerah yang tinggi. Pola ini menguatkan dugaan bahwa penyebaran subclade K lebih dipengaruhi arus perjalanan dan interaksi sosial ketimbang sifat klinis virus itu sendiri.
Di ruang publik, istilah “super flu” ikut bergema, mengikuti narasi global. Namun otoritas kesehatan memilih jarak. Dalam beberapa rilis resmi, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa subclade K bukan virus baru sepenuhnya, melainkan cabang mutasi dari influenza A (H3N2) yang telah bersirkulasi puluhan tahun. WHO dalam Weekly Epidemiological Record juga menyebut tidak ada bukti peningkatan tingkat keparahan atau fatalitas dibandingkan influenza musiman lain.
Baca Juga: Kisah Hidup Perempuan Penyintas HIV di Bandung, Bangkit dari Stigma dan Trauma
Profil kasus di Indonesia menunjukkan gambaran khas flu musiman. Mayoritas penderita berasal dari kelompok anak dan usia produktif, dengan proporsi perempuan sedikit lebih tinggi. Lansia tetap termasuk kelompok rentan, tetapi jumlah kasusnya relatif kecil. Secara waktu, kemunculan subclade K bertepatan dengan tren penurunan kasus influenza nasional pada dua bulan terakhir 2025, memperkuat kesimpulan bahwa varian ini tidak memicu gelombang wabah tersendiri.
Episode subclade K di Indonesia mencerminkan perubahan cara negara memandang penyakit menular pascapandemi COVID 19. Respons yang ditempuh lebih menekankan surveilans, transparansi data, dan komunikasi risiko yang menenangkan. Subclade K diposisikan bukan sebagai ancaman baru, melainkan bagian dari dinamika lama influenza yang terus berevolusi.
Dalam kerangka sejarah, subclade K punya hubungan genealogi dengan flu Hong Kong 1968, pandemi yang menewaskan sekitar satu juta orang di seluruh dunia. Sejak saat itu, H3N2 tidak pernah benar-benar pergi. Ia menetap sebagai virus flu musiman, berubah sedikit demi sedikit melalui proses antigenic drift. Subclade K adalah keturunan jauh dari virus 1968 itu, bukan kebangkitannya.
Sejak 1968, H3N2 tidak pernah benar-benar menghilang. Ia menetap sebagai virus flu musiman, beredar dari tahun ke tahun, terus bermutasi perlahan. H3N2 subclade K adalah keturunan jauh dari virus flu Hong Kong itu, namun ia bukan versi lama yang “kembali”. Karena itu, ketika subclade K muncul dan menjadi dominan, para ahli tidak melihatnya sebagai wabah baru seperti 1968, melainkan sebagai episode baru dalam sejarah panjang H3N2.
Baca Juga: Dari Gurun Pasir ke Kamp Konsentrasi, Kisah Tragis Keluarga Berretty Pemilik Vila Isola Bandung
Influenza A—termasuk H3N2 subclade K yang belakangan dijuluki “super flu”—ibarat sebuah keluarga besar virus dengan silsilah panjang. Anggotanya sering berganti wajah, tetapi tetap berasal dari rumpun yang sama. Dalam konteks ini, flu Hong Kong dan flu burung memang berada dalam pohon keluarga yang sama, meski cabang dan dampaknya berbeda.
Perbedaan penting lainnya terletak pada skala ancaman. Flu Hong Kong 1968 adalah pandemi global yang menewaskan sekitar satu juta orang di seluruh dunia. Sementara itu, H3N2 subclade K adalah bagian dari flu musiman, yang menyebar luas tetapi dengan tingkat keparahan yang relatif terkendali dan sudah dipahami sistem kesehatan modern.
