Dunia Influencer Indonesia: Saat Memeras Demi Citra Jadi Biasa

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan Senin 11 Agu 2025, 09:49 WIB
Di tengah derasnya arus opini digital, satu narasi negatif bisa meruntuhkan kepercayaan publik dalam hitungan jam di media sosial. (Sumber: Unsplash/Prateek Katyal)

Di tengah derasnya arus opini digital, satu narasi negatif bisa meruntuhkan kepercayaan publik dalam hitungan jam di media sosial. (Sumber: Unsplash/Prateek Katyal)

Reputasi di dunia digital kini tidak hanya dibangun melalui konsistensi dan integritas, tetapi juga dapat dipelihara, diperjualbelikan, bahkan ditebus dengan angka yang mencengangkan.

Jika di masa lalu citra baik adalah buah dari rekam jejak dan kredibilitas, kini reputasi bisa dipoles melalui strategi yang membingungkan akal sehat dan kadang melanggar hukum.

Kisah Nikita Mirzani menjadi salah satu contoh mencolok. Ia didakwa memeras Reza Gladys, seorang dokter kecantikan, sebesar empat miliar rupiah agar produk skincare milik Reza tetap ditampilkan positif di media sosial. Motifnya tampak sederhana: menjaga popularitas.

Di tengah derasnya arus opini digital, satu narasi negatif bisa meruntuhkan kepercayaan publik dalam hitungan jam. Maka, mempertahankan citra bukan lagi tentang pembuktian kualitas, melainkan tentang kontrol narasi dengan segala cara.

Sosok lain yang menjadi sorotan adalah food vlogger misterius, Codeblu. Ia dituding meminta bayaran antara tiga ratus lima puluh hingga enam ratus juta rupiah kepada para pemilik usaha kuliner agar ulasan negatif dihapus atau diganti dengan konten positif.

Tarif resminya bahkan mencapai lima ribu dolar Amerika untuk satu video TikTok. Ia juga sempat menuding toko roti ternama menyumbangkan kue basi ke panti asuhan. Setelah toko tersebut membantah dan memberikan klarifikasi, muncul dugaan bahwa Codeblu meminta uang agar video itu dihapus.

Meski dibantah sebagai pemerasan dan disebut sebagai tarif jasa, publik melihat ini sebagai praktik manipulatif yang mengandalkan pengaruh digital untuk menekan, bukan untuk memberi edukasi.

Belum selesai riuhnya kasus tersebut, kesaksian mengejutkan datang dari Samira atau Doktif, dokter kecantikan sekaligus kreator konten. Dalam sidang kasus Nikita, ia mengungkap bahwa dirinya sempat diminta oleh suami Reza Gladys untuk memberikan ulasan positif. Karena merasa terus dikejar dan didesak, Doktif menyebut angka dua puluh miliar rupiah secara spontan.

Maksudnya hanya untuk mengetes, namun mengejutkannya, dua hari kemudian cek senilai dua puluh miliar itu benar-benar diberikan. Menurut pengakuannya, ia tidak pernah memberikan ancaman atau meminta uang sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa dorongan untuk membeli citra di era digital bisa begitu besar dan tidak rasional.

Fenomena ini bukan hal baru. Pada tahun 2015, publik pernah dikejutkan oleh kasus tiga pengelola akun Twitter @triomacan2000, yakni Edy Syahputra, Raden Nuh, dan Harry Koes Harjono. Mereka terbukti memeras Direktur Utama PT Tower Bersama Group dan pejabat PT Telkom dengan modus mencemarkan nama melalui unggahan media sosial.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis empat hingga lima tahun penjara. Meski hukum telah bicara, praktik serupa justru terus bermunculan dalam format yang lebih tersembunyi dan kompleks.

Komoditas Citra

Ada faktor yang mengakibatkan semakin meningkatnya konten ekshibisionisme atau pornografi di media sosial. (Sumber: Pexels/Kaique Rocha)
Ada faktor yang mengakibatkan semakin meningkatnya konten ekshibisionisme atau pornografi di media sosial. (Sumber: Pexels/Kaique Rocha)

Keempat kasus ini menggambarkan pola yang mencemaskan. Citra menjadi komoditas yang bisa dinegosiasikan. Upaya mempertahankan nama baik di dunia maya telah melahirkan praktik-praktik ekstrem, mulai dari manipulasi narasi hingga pemerasan terselubung.

Di tengah tekanan untuk selalu tampil sempurna, para aktor digital cenderung rela mengorbankan etika dan kebenaran.

Secara akademik, fenomena ini dapat dijelaskan melalui pemikiran Goffman dalam karya klasiknya The Presentation of Self in Everyday Life (1959). Ia menyatakan bahwa manusia senantiasa menampilkan diri dengan berbagai peran di hadapan audiens sosial.

Di era digital, panggung itu semakin luas dan terang, serta tidak lagi mengenal waktu jeda. Kegagalan memainkan peran bisa berujung pada keruntuhan identitas secara sosial dan ekonomi.

Pemikiran Goffman dilengkapi Jia Tolentino dalam Trick Mirror (2019), yang mengkritik bagaimana budaya internet menciptakan dorongan narsistik kolektif.

Ia menyebut masyarakat modern membangun versi ideal dari dirinya di ruang digital bukan untuk tumbuh, tetapi demi memenuhi ekspektasi popularitas. Diri yang autentik tergantikan oleh diri yang dikonstruksi demi validasi.

Penelitian Onifade (2021) menunjukkan bahwa ketergantungan pada validasi sosial melalui media digital membentuk harga diri yang rapuh. Ketika eksistensi bergantung pada jumlah pengikut, likes, dan komentar, maka seseorang akan terdorong melakukan apa pun demi mempertahankan performa digitalnya.

Hal ini diperkuat studi Lin et al. dalam jurnal MDPI (2025) yang mengamati praktik presentasi diri palsu sebagai strategi bertahan dalam lanskap persaingan popularitas. Ini bukan sekadar komunikasi, tapi pergelutan psikologis dan pertarungan moralitas.

Pada akhirnya, ketika seseorang meminta dua puluh miliar demi ulasan positif, atau influencer menetapkan tarif lima ribu dolar untuk satu konten, kita sedang menyaksikan pergeseran nilai.

Reputasi tidak lagi dibangun di atas landasan integritas, tetapi dikelola sebagai aset yang bisa ditukar. Etika publik tergantikan oleh logika untung rugi. Dan komunikasi kehilangan makna dasarnya: menyampaikan kebenaran.

Artikel ini tidak bertujuan menghakimi siapa pun --apalagi penulis bukan aparat hukum. Sebatas mengajak kita berpikir ulang.

Di tengah budaya layar yang mendikte nilai manusia, di mana nama baik bisa ditebus dengan uang dan tekanan, kita perlu mempertanyakan: Apakah dunia digital ini masih berlandaskan komunikasi yang sehat atau telah berubah menjadi pasar nilai yang banal dan transaksional? (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Peminat komunikasi publik & digital religion (Comm&Researcher di CDICS). Berkhidmat di Digital PR Telkom University serta MUI/IPHI/Pemuda ICMI Jawa Barat

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 15:16

Fariz R.M. Mengasah Bermusiknya di Bandung

Pernah tinggal dan memulai menajamkan karier bermusiknya di Kota Bandung pada awal tahun 1980-an.

Fariz R.M. - Musik Rasta. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 13:51

TikTok, Trotoar, dan Eksistensi

Ihwal kreativitas digital memang layak dirayakan, tetapi ruang publik tetap menyimpan fungsi sosial yang tak bisa sepenuhnya dapat digantikan oleh layar.

Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 12:16

Strategi Industri Kuliner Jabar Menyiasati Kelangkaan Plastik Akibat Konflik Iran–Israel

Kenaikan harga dan kelangkaan plastik akibat konflik Iran–Israel memengaruhi UMKM kuliner di Jawa Barat.

Ilustrasi bahan plastik. (Sumber: Pixels | Foto: Castorly Stock)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 10:43

Bandung dan Hasrat yang Disublimasi: Membaca Fenomena Nongkrong sebagai Pelarian Psikis

Menuliskan budaya nongkrong di Kota Bandung dalam kacamata Sigmund Freud.

Salah satu suasana kafe di Kota Bandung (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Haifa Rukanta)
Sejarah 16 Apr 2026, 10:42

Hikayat Cadas Pangeran, Jejak Derita Pribumi Sepanjang Jalan Raya Daendels

Cadas Pangeran jadi saksi kerja paksa era Daendels, ribuan rakyat tewas demi proyek Jalan Raya Pos di Jawa Barat.

Jalan di Cadas Pangeran antara tahun 1910-1930-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 08:54

Dengan Puisi Bandung Menghias Sanggul Ibu Pertiwi

Bandung sangat pantas dinobatkan sebagai kota puisi, atau setidaknya kota yang sangat puitis.

Ilustrasi dengan Puisi Bandung menghias sanggul Ibu Pertiwi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 20:00

Artemis II: Kepulangan Empat Astronot dan Langkah Menuju Misi Bulan Berikutnya

Kelanjutan kisah 4 astronot dengan Kesuksesan misi Artemis II, yang menjadi dasar evaluasi bagi misi berikutnya, yakni Artemis III dalam program eksplorasi Bulan, oleh NASA.

Empat astronot Artemis II berhasil mendarat di Samudra Pasifik, lepas pantai San Diego, setelah menyelesaikan misi mengelilingi Bulan. (Sumber: NASA)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 19:22

Belajar Membaca Jalanan Bandung dari Dalam Angkot

Angkot di Bandung bertahan tanpa sistem yang jelas. Banyak pengguna beralih ke transportasi umum daring karena kepastian layanan, namun kondisi ini justru turut memperparah kemacetan.

Sejak lama, angkot menjadi bagian dari keseharian mobilitas warga Kota Bandung, meski kini perannya mulai tergeser oleh moda transportasi umum daring. (Foto: Irfan Alfaritsi/ayobandung.com)
Bandung 15 Apr 2026, 18:23

Collab Magnet: Cara Bangun Kolaborasi yang Tepat di Era Zaman Penuh Kreativitas

Intip strategi menjadi Collab Magnet di industri kreatif bersama Mirsha Shahnaz Azahra. Pahami pentingnya relevansi, kredibilitas, dan nilai brand dalam kolaborasi.

Mirsha, Co-founder sekaligus Brand Director Monday Coffee Bandung memahami konsep kolaborasi yang efektif membutuhkan waktu, bahkan proses trial and error masih menjadi bumbu harian dalam perjalanannya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 18:01

Ketar-ketir Perajin Tahu Tempe, Adakah Insentif dari Pemkot Bandung?

Kebijakan impor kedelai yang diterapkan ternyata belum menyeimbangkan pasokan kedelai di dalam negeri.

Perajin menyelesaikan pembuatan tempe di Jalan Muararajeun, Kota Bandung, (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 17:14

Dari Bandung ke Lembang: Kota Sejuk yang Menjadi Ruang Nyaman bagi Pendatang

Perubahan suasana dari hiruk pikuk Kota Kandung menuju ketenangan yang lebih alami di Lembang.

Farmhouse Lembang. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 15 Apr 2026, 16:42

Panduan Wisata Stone Garden Padalarang, Taman Batu Karst dengan Jejak Laut Purba

Stone Garden Padalarang menawarkan lanskap batu kapur purba, jalur trekking ringan, serta nilai geologi dan arkeologi unik dalam satu destinasi wisata alam.

Objek wisata Stone Garden, Padalarang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 15 Apr 2026, 15:20

Meruntuhkan Standar Kecantikan, Mengapresiasi Keunikan

Pandangan tentang kecantikan tak lagi tunggal. Setiap individu memiliki keunikan yang layak diapresiasi, tanpa harus mengikuti standar yang membatasi.

Suasana beauty class yang hangat dan suportif, tempat para peserta belajar, bereksperimen, dan membangun rasa percaya diri bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 13:50

Jantung Konektivitas Kota yang Kurang Sehat dan Masalah Polusi Udara

Stasiun Hall adalah jantung transportasi yang setiap hari memompa sistem transportasi khususnya bagi penglaju dan pendatang.

Monumen Sepur Lempung di Stasiun Hall sebelah selatan yang merupakan ikon konektivitas kota Bandung sepanjang zaman (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)