Dunia Influencer Indonesia: Saat Memeras Demi Citra Jadi Biasa

4 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Di tengah derasnya arus opini digital, satu narasi negatif bisa meruntuhkan kepercayaan publik dalam hitungan jam di media sosial. (Sumber: Unsplash/Prateek Katyal)
Di tengah derasnya arus opini digital, satu narasi negatif bisa meruntuhkan kepercayaan publik dalam hitungan jam di media sosial. (Sumber: Unsplash/Prateek Katyal)

Reputasi di dunia digital kini tidak hanya dibangun melalui konsistensi dan integritas, tetapi juga dapat dipelihara, diperjualbelikan, bahkan ditebus dengan angka yang mencengangkan.

Jika di masa lalu citra baik adalah buah dari rekam jejak dan kredibilitas, kini reputasi bisa dipoles melalui strategi yang membingungkan akal sehat dan kadang melanggar hukum.

Kisah Nikita Mirzani menjadi salah satu contoh mencolok. Ia didakwa memeras Reza Gladys, seorang dokter kecantikan, sebesar empat miliar rupiah agar produk skincare milik Reza tetap ditampilkan positif di media sosial. Motifnya tampak sederhana: menjaga popularitas.

Di tengah derasnya arus opini digital, satu narasi negatif bisa meruntuhkan kepercayaan publik dalam hitungan jam. Maka, mempertahankan citra bukan lagi tentang pembuktian kualitas, melainkan tentang kontrol narasi dengan segala cara.

Sosok lain yang menjadi sorotan adalah food vlogger misterius, Codeblu. Ia dituding meminta bayaran antara tiga ratus lima puluh hingga enam ratus juta rupiah kepada para pemilik usaha kuliner agar ulasan negatif dihapus atau diganti dengan konten positif.

Tarif resminya bahkan mencapai lima ribu dolar Amerika untuk satu video TikTok. Ia juga sempat menuding toko roti ternama menyumbangkan kue basi ke panti asuhan. Setelah toko tersebut membantah dan memberikan klarifikasi, muncul dugaan bahwa Codeblu meminta uang agar video itu dihapus.

Meski dibantah sebagai pemerasan dan disebut sebagai tarif jasa, publik melihat ini sebagai praktik manipulatif yang mengandalkan pengaruh digital untuk menekan, bukan untuk memberi edukasi.

Belum selesai riuhnya kasus tersebut, kesaksian mengejutkan datang dari Samira atau Doktif, dokter kecantikan sekaligus kreator konten. Dalam sidang kasus Nikita, ia mengungkap bahwa dirinya sempat diminta oleh suami Reza Gladys untuk memberikan ulasan positif. Karena merasa terus dikejar dan didesak, Doktif menyebut angka dua puluh miliar rupiah secara spontan.

Maksudnya hanya untuk mengetes, namun mengejutkannya, dua hari kemudian cek senilai dua puluh miliar itu benar-benar diberikan. Menurut pengakuannya, ia tidak pernah memberikan ancaman atau meminta uang sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa dorongan untuk membeli citra di era digital bisa begitu besar dan tidak rasional.

Fenomena ini bukan hal baru. Pada tahun 2015, publik pernah dikejutkan oleh kasus tiga pengelola akun Twitter @triomacan2000, yakni Edy Syahputra, Raden Nuh, dan Harry Koes Harjono. Mereka terbukti memeras Direktur Utama PT Tower Bersama Group dan pejabat PT Telkom dengan modus mencemarkan nama melalui unggahan media sosial.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis empat hingga lima tahun penjara. Meski hukum telah bicara, praktik serupa justru terus bermunculan dalam format yang lebih tersembunyi dan kompleks.

Komoditas Citra

Ada faktor yang mengakibatkan semakin meningkatnya konten ekshibisionisme atau pornografi di media sosial. (Sumber: Pexels/Kaique Rocha)
Ada faktor yang mengakibatkan semakin meningkatnya konten ekshibisionisme atau pornografi di media sosial. (Sumber: Pexels/Kaique Rocha)

Keempat kasus ini menggambarkan pola yang mencemaskan. Citra menjadi komoditas yang bisa dinegosiasikan. Upaya mempertahankan nama baik di dunia maya telah melahirkan praktik-praktik ekstrem, mulai dari manipulasi narasi hingga pemerasan terselubung.

Di tengah tekanan untuk selalu tampil sempurna, para aktor digital cenderung rela mengorbankan etika dan kebenaran.

Secara akademik, fenomena ini dapat dijelaskan melalui pemikiran Goffman dalam karya klasiknya The Presentation of Self in Everyday Life (1959). Ia menyatakan bahwa manusia senantiasa menampilkan diri dengan berbagai peran di hadapan audiens sosial.

Di era digital, panggung itu semakin luas dan terang, serta tidak lagi mengenal waktu jeda. Kegagalan memainkan peran bisa berujung pada keruntuhan identitas secara sosial dan ekonomi.

Pemikiran Goffman dilengkapi Jia Tolentino dalam Trick Mirror (2019), yang mengkritik bagaimana budaya internet menciptakan dorongan narsistik kolektif.

Ia menyebut masyarakat modern membangun versi ideal dari dirinya di ruang digital bukan untuk tumbuh, tetapi demi memenuhi ekspektasi popularitas. Diri yang autentik tergantikan oleh diri yang dikonstruksi demi validasi.

Penelitian Onifade (2021) menunjukkan bahwa ketergantungan pada validasi sosial melalui media digital membentuk harga diri yang rapuh. Ketika eksistensi bergantung pada jumlah pengikut, likes, dan komentar, maka seseorang akan terdorong melakukan apa pun demi mempertahankan performa digitalnya.

Hal ini diperkuat studi Lin et al. dalam jurnal MDPI (2025) yang mengamati praktik presentasi diri palsu sebagai strategi bertahan dalam lanskap persaingan popularitas. Ini bukan sekadar komunikasi, tapi pergelutan psikologis dan pertarungan moralitas.

Pada akhirnya, ketika seseorang meminta dua puluh miliar demi ulasan positif, atau influencer menetapkan tarif lima ribu dolar untuk satu konten, kita sedang menyaksikan pergeseran nilai.

Reputasi tidak lagi dibangun di atas landasan integritas, tetapi dikelola sebagai aset yang bisa ditukar. Etika publik tergantikan oleh logika untung rugi. Dan komunikasi kehilangan makna dasarnya: menyampaikan kebenaran.

Artikel ini tidak bertujuan menghakimi siapa pun --apalagi penulis bukan aparat hukum. Sebatas mengajak kita berpikir ulang.

Di tengah budaya layar yang mendikte nilai manusia, di mana nama baik bisa ditebus dengan uang dan tekanan, kita perlu mempertanyakan: Apakah dunia digital ini masih berlandaskan komunikasi yang sehat atau telah berubah menjadi pasar nilai yang banal dan transaksional? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Peminat komunikasi publik & digital religion (Comm&Researcher di CDICS). Berkhidmat di Digital PR Telkom University serta MUI/IPHI/Pemuda ICMI Jawa Barat

Berita Terkait

News Update

Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 11:09

Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi.

Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 08:00

Ci Manuk, Sungai Suci Penuh Do’a untuk Kekuatan Jiwa

Ci Manuk itu bukan berasal dari kata "manuk" yang berarti burung, tapi berasal dari kata "manu", dari bahasa Sanskerta.

Bandar Dermayu, tertulis dalam peta abad ke-16. Peta ini merupakan potongan dari Nova tabula insularum Javae, Sumatrae, Borneonis et aliarum Malaccam usque, 1598. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 07:42

Republik Tanpa Akuntabilitas

Kekuasaan yang menolak pertanggungjawaban sesungguhnya sedang mengingkari hakikatnya sebagai amanah rakyat.

Sebuah aksi penolakan Jokowi di Jawa Barat. Bandung 14 Juli 2026 di Depan DPRD Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:45

Sisi Lain Kota Bandung: Kebiasaan Lama yang Berulang Kembali

Bahkan peringatan "Kesurupan" pun tetap tidak menghentikan oknum pembuang sampah sembarangan di kawasan Cibaduyut.

Peringatan Hantu dan CCTV pun tidak mengurungkan niat seseorang untuk membuang sampah sembarangan (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:03

MPLS Tanpa Bully

Sekolah yang ramah bukanlah tempat menimba ilmu yang sekadar bebas dari perundungan. Rumah kedua itu harus menjadi ruang bersama yang membuat setiap anak pulang dengan senyum yang lebih lebar

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 17:22

Dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap Pedagang Kantin dan UMKM Sekolah

Saya tertarik membahas topik ini karena menunjukkan dampak Program Makan Bergizi Gratis bagi siswa, pedagang kantin, dan UMKM sekolah.

FAGI Jabar ingatkan bahwa tugas utama guru adalah mengajar, bukan mengurusi MBG. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 16:23

Benang-Benang Asing dalam Tenun Tradisi Nusantara: Jejak Budaya Eropa dalam Perubahan Kebaya dan Identitas Sosial.

Membahas pengaruh budaya Eropa terhadap perubahan kebaya sebagai busana tradisional dan simbol identitas sosial di Nusantara pada masa kolonial.

Wanita Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 15:41

Mengenalkan Sekolah lewat MPLS yang Ramah bagi Anak

Selama ini, banyak orang yang membahas tentang pentingnya sekolah yang ramah bagi anak. Seperti apa sekolah ramah anak itu? 

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)