Merenungi Perubahan Iklim lewat Senja di Bandung Utara

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Salah satu sudut kawasan Bandung Utara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Salah satu sudut kawasan Bandung Utara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

SUASANA senja tak jarang menggetarkan hati. Di kawasan Bandung Utara, senja tak jarang tampil memukau -- sebagaimana dilukiskan dalam lirik lagu Senja Jatuh di Bandung Utara, karya Iwan Abdulrachman.

Saat senja jatuh itu, langitnya merah, lalu berubah kelabu. Nah, warna merah dan kelabu sering kita anggap indah. Kita pun tak lupa segera memotretnya. Dan langsung kita unggah ke media sosial. Kita rayakan itu seolah pertunjukan alam yang wajar dan mempesona.

Padahal, tidak semua warna senja adalah pesan keindahan. Ada saatnya, langit merah kelabu adalah sinyal dari langit yang lelah. Ia menyampaikan pesan ihwal Bumi yang memanas.

Ditentukan partikel dan gas

Dalam teori sains atmosfer, warna langit ditentukan oleh partikel dan gas di udara. Ketika senja turun, cahaya matahari melewati atmosfer dalam sudut rendah. Partikel-partikel di udara membiaskan cahaya, menciptakan efek warna-warni.

Menurut National Aeronautics and Space Administration (NASA), warna merah pada langit senja bisa diperkuat oleh keberadaan aerosol, polusi, dan partikel halus dari aktivitas manusia. Di kota-kota padat, senja cenderung bisa lebih merah, bukan karena romantisme, melainkan karena polutan. 

Semakin banyak polutan di udara, semakin kompleks pembiasan cahaya yang terjadi. Kita bisa menyebutnya sebagai keindahan yang lahir dari luka, ketika langit memantulkan sisa-sisa pembakaran kendaraan, pabrik, dan limbah rumah tangga ke dalam palet senja.

Tak luput dari polusi

Kawasan Bandung Utara, meski dikenal sebagai kawasan sejuk dan masih berhutan, walau sebagian, kini tak luput dari belenggu polusi. Urbanisasi mendorong pembangunan masif ke arah utara. Hutan kian menyusut. Jalan dan vila terus bertambah.

Buntutnya bisa terlihat di langit. Senja yang dulu bening dan hangat, kini bisa lebih merah pekat dan cepat berubah kelabu. Perubahan itu bisa jadi alarm ekologi yang tak banyak disadari.

Teori dari James Lovelock tentang Gaia Hypothesis menyebutkan bahwa Bumi adalah organisme hidup yang merespons tekanan. Ketika manusia menekan terlalu keras, Bumi sontak bereaksi.

Reaksi itu bisa dalam bentuk cuaca ekstrem. Bisa juga suhu naik atau perubahan pola langit. Nah, senja merah kelabu bisa dilihat sebagai ekspresi Bumi yang mencoba menyeimbangkan dirinya kembali.

Berdampak besar

Menurut analisis tren suhu dari data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dirangkum dalam penelitian Jurnal Geografi periode 1990–2019, suhu rata-rata tahunan di Bandung mengalami kenaikan sekitar 0,025 °C per tahun.

Jika diakumulasikan, tren ini berarti terjadi peningkatan sekitar 0,66 °C dalam 30 tahun terakhir. Dengan perhitungan sederhana, untuk kurun waktu dua dekade terakhir saja, kenaikannya diperkirakan sekitar 0,5 °C -- lebih tinggi dari angka 0,3 °C yang sering disebut.

Kenaikan ini mungkin terdengar kecil, tetapi secara klimatologis berdampak besar. Perubahan suhu sekecil 0,5 °C dapat memengaruhi pola kelembapan udara, meningkatkan laju penguapan, memicu pergeseran pola curah hujan, dan memperbesar peluang terjadinya cuaca ekstrem. Fenomena ini sejalan dengan tren nasional. BMKG mencatat suhu rata-rata Indonesia meningkat sekitar 1,02 °C dalam 44 tahun terakhir.

Kenaikan suhu ini tidak hanya mempengaruhi kenyamanan hidup sehari-hari, tetapi juga membuka pintu bagi risiko ekologis yang lebih serius. Bandung, sebagai kota besar, tidak terlepas dari pemanasan global sekaligus pemanasan lokal akibat urbanisasi. Lapisan aspal, beton, minimnya ruang terbuka hijau, serta polusi udara memperkuat efek pemanasan, sehingga perubahan iklim terasa nyata di skala kota.

Salah satu dampak lanjutan dari kenaikan suhu adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitar. Ketika kebakaran ini terjadi, asap yang dihasilkan menyumbang partikel-partikel halus ke udara. Partikel ini turut memperkuat warna merah yang tampak pada langit senja, menjadikan pemandangan sore hari lebih pekat dan dramatis.

Tak hanya kebakaran hutan, aktivitas kendaraan bermotor dan pembakaran sampah rumah tangga juga memperkaya atmosfer dengan karbon dan sulfur. Kedua unsur ini memengaruhi cara cahaya matahari berinteraksi dengan awan dan partikel di udara. Semakin tinggi konsentrasi partikel tersebut, semakin pekat pula gradasi warna merah pada senja yang kita saksikan di Bandung.

Faktor alami seperti keberadaan pepohonan sebenarnya bisa menjadi penahan dampak ini. Namun, di Bandung Utara, pohon-pohon cemara yang dulu berfungsi menyaring udara dan menyerap karbon dioksida kini makin berkurang. Hilangnya pepohonan ini membuat langit kehilangan penyeimbang alaminya, sehingga polusi udara dan efek pemanasan menjadi semakin terasa.

Mengalami stres iklim

Observatorium Bosscha di Lembang. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Observatorium Bosscha di Lembang. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Sebuah studi dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2023 menyebut bahwa kawasan pegunungan tropis mengalami stres iklim lebih cepat. Bandung Utara termasuk di dalamnya. Perubahan vegetasi, curah hujan, dan suhu bergerak dalam kecepatan yang mengkhawatirkan. 

Kawasan-kawasan yang dahulu dikenal sebagai penyeimbang suhu kini ikut menjadi zona rawan. Perubahan ini tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga berdampak sosial. Ia berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan ekosistem di Bandung Utara. 

Misalnya, pergeseran musim hujan yang tidak menentu dapat mengganggu pertanian dan ketersediaan air bersih, sementara perubahan vegetasi mengancam habitat satwa lokal serta mengurangi fungsi hutan sebagai penyerap karbon. Kondisi ini menuntut upaya adaptasi dan mitigasi yang terintegrasi agar kawasan pegunungan tetap lestari dan mampu mendukung kehidupan generasi mendatang.

Ketika senja turun dan langit berubah warna, ia sebetulnya sedang menunjukkan apa yang tak bisa diucapkan. Langit memberi tanda bahwa sesuatu sedang berubah. Kita kerap lupa bahwa alam memiliki cara sendiri untuk bicara. Ia bicara lewat suhu, lewat angin, lewat warna, bahkan lewat kesunyian.

Bukan membenci senja

Bagi kita, senja yang merah kelabu mungkin terasa syahdu. Tapi, di balik syahdu itu, tersimpan jejak karbon, polutan, dan udara yang semakin kotor. Tentu, ini bukan ajakan untuk membenci senja. Justru sebaliknya. Kita bisa belajar melihat senja sebagai refleksi dari gaya hidup kita sendiri. 

Mari kita bertanya kepada diri kita: apakah kita masih suka bakar-bakar sampah atau bakar-bakar ban bekas saat demo? Apakah kita masih membiarkan kendaraan bermotor mendominasi kehidupan kita? Apakah kita membiarkan ruang-ruang hijau digantikan beton?

Refleksi kecil ini penting, karena perubahan iklim bukan sesuatu yang jauh terjadi di Kutub Utara. Ia ada di dekat kita, dalam warna langit yang kita pandangi setiap sore.

Langit merah kelabu bisa menjadi panggilan bagi kita untuk kembali ke kesadaran ekologis, untuk hidup lebih hemat energi, lebih ramah lingkungan, dan lebih sadar akan jejak kita. 

Kita tidak bisa terus-menerus menutup mata dan menyebut semua ini sebagai pemandangan yang menenangkan. Ada tanggung jawab moral dalam setiap nafas dan langkah yang kita ambil di bawah langit yang berubah. Alam sesungguhnya sudah memberitahu kita tanpa suara, tanpa marah, hanya lewat warna yang dimunculkan saat senja.

Masih ada harapan

Kawasan Bandung Utara masih memiliki harapan. Di sana, masih ada hutan, juga masih terlihat ada pohon cemara, dan masih ada angin bersih jika kita mau menjaganya. Akan tetapi, harapan itu tak akan bertahan jika kita terus mengabaikan kerusakan yang terjadi.

Langkah kecil bisa dimulai dari hal sederhana. Mengurangi penggunaan plastik. Menanam pohon. Mengganti kendaraan bermotor dengan bersepeda. Dan memilih transportasi umum. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan akan berdampak besar bila dilakukan bersama-sama.

Karena saat kita berupaya menjaga Bumi, senja akan kembali bicara dengan bahasa yang lebih ramah. Ia akan datang dengan warna hangat, bukan tanda peringatan. Itulah saat alam memberikan hadiah bagi mereka yang peduli dan bertindak.

Langit bisa menjadi cermin dari apa yang kita lakukan di Bumi selama ini. Ketika langitnya merah kelabu, mungkin Bumi sedang memberi pesan agar kita mau berubah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)