Ayo Netizen

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti
Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal. Tradisi gastronomi daerah ini mencerminkan perjalanan panjang masyarakatnya dalam mengolah komoditas hasil bumi—mulai dari beras ketan, umbi-umbian, hingga komoditas perkebunan—menjadi berbagai sajian khas yang melintasi generasi.

Kekayaan kuliner Garut menyajikan spektrum cita rasa yang begitu luas dan dinamis. Daerah ini berhasil mengukuhkan identitasnya lewat olahan manis yang legendaris, seperti dodol dan kudapan berbahan dasar tepung, hingga hidangan gurih-pedas yang menggugah selera. Menariknya, dinamika kuliner ini tidak berhenti pada resep warisan leluhur semata, melainkan terus bertransformasi lewat sentuhan inovasi wirausaha modern yang mampu menembus panggung pasar internasional.

Menjelajahi ragam kuliner Garut sejatinya adalah menelusuri jejak sejarah, teknik pembuatan tradisional, dan kreativitas masyarakatnya. Rangkuman berikut mengulas kekayaan penganan khas Garut, yang terbagi dalam beberapa kategori utama mulai dari olahan roti dan tepung tradisional, ikon manis legendaris beserta inovasinya, jajanan lokal berbasis umbi, kekhasan produk pertanian gurih-pedas, hingga sajian minuman penutup dahaga yang ikonik.

Pertama; Kudapan Berbasis Roti dan Olahan Tepung

Apresiasi terhadap kebudayaan kuliner Garut menuntut penelusuran sejarah resep serta teknik pembuatan tradisional yang diwariskan secara lintas generasi. Produk olahan roti dan tepung di Garut menunjukkan adaptasi seni kuliner yang kaya akan nilai historis. Salah satunya adalah Roti Bagelen—penganan roti kering berbentuk bundar dengan olesan mentega manis di bagian dalam.

Meski populer sebagai penganan asal Bagelen, Purworejo, fakta sejarah mencatat bahwa pabrik roti bagelen tertua di Indonesia sebenarnya didirikan oleh Khoe Pek Goan di Jalan Ahmad Yani, Garut, sejak 1885. (Sumber: IG foodhunter.tasik)

Meski sering dianggap berasal dari Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah, fakta sejarah mencatat pabrik roti bagelen tertua di Indonesia justru berada di Garut. Dipelopori oleh Khoe Pek Goan di Jalan Ahmad Yani sejak 1885, usaha ini telah memproduksi bagelen hingga generasi ketiga dan menjadi cikal bakal industri bagelen nasional. Perkembangannya di Garut kemudian disusul oleh hadirnya pabrik bagelen "Abadi" milik Ateng Wijaya pada 1947, sebelum akhirnya berpindah ke Bandung dua dekade kemudian.

Selain roti, Garut memiliki kudapan olahan tepung ketan legendaris bernama Burayot. Secara etimologi, nama burayot berasal dari kata bahasa Sunda ngagayot yang berarti menggelantung atau menggelayut. Penganan ini menyajikan kontras yang unik: tampilan fisiknya yang berkerut mengkerut menyerupai kulit keriput menyembunyikan kelembutan bagian dalam ber cita rasa manis-legit.

Terbuat dari adonan gula merah, tepung beras, dan santan, adonan ini digoreng dengan teknik khusus menggunakan sebilah bambu hingga mengumpul dan menggelayut. Berpusat di Kecamatan Leles, Kadungora, dan Wanaraja, kue kampung ini kini bertransformasi dengan varian rasa modern seperti wijen, keju, hingga jahe yang nikmat disajikan hangat bersama kopi.

Kedua; Ikon Manis Utama: Dodol Garut, Angleng, Wajit, dan Chocodot

Olahan berkadar gula tinggi merupakan tulang punggung industri kuliner Garut. Sejarah Dodol Garut bermula pada 1926 melalui tangan dingin seorang saudagar perempuan bernama Ibu Karsinah. Olahan tepung ketan, gula merah, dan santan yang diaduk dalam kuali besar ini kini berevolusi ke berbagai rasa buah hingga jahe, serta berhasil menembus pasar ekspor ke Malaysia, Jepang, Arab Saudi, hingga Inggris. Dodol juga memiliki dua kerabat dekat berbahan baku serupa, yaitu Angleng dan Wajit, yang berpusat di Kecamatan Cihurip.

Di era modern, tradisi ini melahirkan inovasi global bernama Chocodot. Ditemukan secara tidak sengaja oleh wirausahawan Kiki Gumelar, Chocodot memadukan dodol lokal dengan balutan cokelat berkualitas. Produk ini menawarkan cita rasa unik seperti varian bandrek, bajigur, dan beras kencur, serta dikemas dengan penamaan unik seperti Cokelat Gawat Darurat hingga Cokelat Anti Galau. Inovasi cokelat campur dodol pertama di dunia ini bahkan meraih penghargaan internasional di pameran Tutto Food 2011 di Milan, Italia.

Ketiga; Jajanan Tradisional Alternatif: Ladu dan Ceprus

Keanekaragaman jajanan Garut juga diprakarsai oleh pemanfaatan komoditas lokal seperti singkong dan beras ketan. Malangbong memiliki jajanan khas bernama Ladu, penganan bertekstur mirip dodol yang terbuat dari tepung ketan, gula, dan kelapa. Dahulu ladu hanya dibuat saat Lebaran, namun kini diproduksi sepanjang tahun di kawasan Kota Garut. Sementara itu, kawasan Garut selatan mempopulerkan Ceprus, yakni potongan singkong bakar hangat yang dicelupkan ke dalam cairan gula merah pekat (kinca) yang dipanaskan, menciptakan harmoni gurih-manis yang memanjakan lidah.

Keempat; Kekhasan Produk Pertanian dan Olahan Gurih-Pedas

Spektrum rasa kuliner Garut tidak hanya didominasi rasa manis, tetapi juga kesegaran buah dan sensasi gurih-pedas. Jeruk Garut (Citrus nobilis) merupakan komoditas unggulan beraroma segar dan berdaging tebal yang diabadikan sebagai lambang daerah.

Sempat terancam punah akibat letusan Gunung Galunggung pada 1982, perkebunan jeruk ini berhasil dibangkitkan kembali. Untuk cita rasa pedas, Garut memiliki Sambal Cibiuk khas resep ulama setempat yang disebut sebagai Syekh di Cibiuk, yang memadukan bahan mentah seperti kencur, terasi, dan tomat hijau sehingga menghasilkan rasa pedas hangat yang tidak menyengat. Selain itu, ada pula kerupuk kulit renyah yang membutuhkan proses pembuatan hingga sepekan; dibedakan menjadi Kerupuk Kulit dari bahan kulit kerbau dan Dorokdok dari kulit sapi.

Kelima; Penutup Dahaga dan Seduhan Khas: Es Goyobot dan Kopi Ipo

Sektor minuman khas Garut menyimpan sejarah yang tidak kalah menarik. Es Goyobot, minuman es campur berbahan adonan tepung hunkue (kacang hijau), diciptakan pada 1943 oleh Aca, seorang perantau di Bandung. Peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946 mengantarkan Aca pulang ke kampung halamannya di Cibatu, Garut, hingga es penyegar ini populer di seluruh Tanah Priangan.

Es Goyobot, minuman es campur yang populer di Bumi Priangan, diciptakan oleh perantau asal Cibatu, Garut, pada tahun 1943. (Sumber: SHUTTERSTOCK | Foto: Ika Rahma H)

Sebagai pelengkap, Kedai Kopi Ipo di Jalan Ahmad Yani berdiri sejak 1955. Berawal dari warung es milik Ipo Parloji, tempat ini bertransformasi menjadi kedai kopi legendaris yang kini dikelola generasi penerusnya. Kopi Ipo menyajikan kopi Robusta Sumatera tanpa ampas dengan teknik unik: air seduhan disimpan dalam botol kaca sehari sebelumnya sebelum dihangatkan saat dipesan. Cita rasa khas dan teknik manual ini menjadikan Kopi Ipo sebagai destinasi seduhan kopi ikonik di Kota Garut.

Sintesis Budaya Pariwisata-Kuliner Garut

Keunggulan Kabupaten Garut berdiri di atas sinergi yang kuat antara keindahan panorama alam, dinamika sejarah kolonial, serta kekayaan seni gastronomi yang terus berevolusi. Konsep kegeografisan Gurilaps dan rekam jejak sejarah Swiss van Java telah membentuk Garut sebagai pusat kebudayaan Pasundan yang memiliki daya pikat holistik. Penyelenggaraan tradisi kuliner dari abad ke-19 hingga lahirnya inovasi modern berprestasi internasional membuktikan fleksibilitas dan kreativitas masyarakat Garut dalam menjaga warisan budaya rasa.

Secara keseluruhan, Garut memantapkan dirinya sebagai "Surga Dunia yang Sesungguhnya". Melalui keharmonisan bentang alam yang memukau, jejak sejarah yang megah, serta warisan cita rasa kuliner yang kaya, Garut menawarkan pengalaman petualangan budaya dan sensorik yang tak tertandingi bagi setiap pelancong yang berkunjung. (Selesai)

Referensi:

  • Dimyati, Edi, dkk. 2015. Garut, Swiss van Java. Jakarta: Penerbit Kompas.
Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam