Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

4 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

  • Menukil dari sumber pemetaan bahasa daerah oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, distribusi bahasa daerah di wilayah Indonesia meliputi wilayah besar seperti Papua dengan perkiraan jumlah bahasa daerah sebanyak 428 bahasa yang melingkupi Provinsi Papua, Provinsi Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat Daya. 

  • Kongres bahasa daerah juga wajib diselenggarakan di setiap provinsi, mengingat bahasa daerah penting dijadikan pembahasan dan pelestariannya yang masif. Dengan mendatangkan para pakar atau pemerhati bahasa daerah, serta pelaku bahasa daerah dari pelbagai latar belakang yang dihadirkan dalam satu meja. 

Bahasa daerah di berbagai wilayah di Indonesia tercatat sebanyak 718 bahasa daerah. Begitu kaya bahasa daerah di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki keragaman bahasa terbanyak di dunia setelah Papua Nugini. 

Meskipun sebagai negara dengan keragaman bahasa terbanyak. Problematika muncul, terkait bahasa daerah yang jarang digunakan untuk percakapan sehari-hari, hingga disebut terancam punah. 

Kondisi ini patut menjadi perhatian dan prihatin. Lengkaplah bahasa daerah yang berangsur hilang. Bahkan jika bahasa daerah sudah berstatus punah, kritis, serta terancam keberadaannya, maka perlu ada antisipasi serius dari pemerintah. Pemerintah wajib melestarikan, bahkan merevitalisasi bahasa daerah yang demikian.  

Padahal penggunaan harian dalam bahasa daerah ini sebagai sarana komunikasi di lingkungan dan pergaulan sehari-hari. Namun jika tidak ada sama sekali yang melestarikannya, niscaya menjadikan bahasa daerah di wilayah tersebut sudah hilang.  

Menukil dari sumber pemetaan bahasa daerah oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, distribusi bahasa daerah di wilayah Indonesia meliputi wilayah besar seperti Papua dengan perkiraan jumlah bahasa daerah sebanyak 428 bahasa yang melingkupi Provinsi Papua, Provinsi Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat Daya. 

Kemudian Nusa Tenggara dan Maluku sebanyak 150 lebih bahasa melingkupi Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB). Dilanjutkan dengan Sulawesi dengan 62 bahasa meliputi Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat. 

Kalimantan dengan 58 bahasa meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara. Dilanjutkan Sumatera dengan 26 bahasa meliputi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung. Terakhir, Jawa dan Bali dengan 10 bahasa meliputi DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali.

Penyebab Bahasa Daerah Tersisihkan

Dipertebal lagi, bahwasanya penggunaan bahasa daerah memang semakin ditinggalkan oleh anak muda di Indonesia akibat pergeseran ke bahasa Indonesia, atau bahasa asing. Hal yang paling diketahui oleh kita semua, bahwa terdapat penyebab utama dari pergeseran hingga kepunahan bahasa daerah. Pertama, berhubungan dengan kurang pewarisan bahasa daerah di keluarga, seringkali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Kedua, terkait pengaruh urbanisasi dan migrasi, hal ini kaitannya dengan perpindahan keluarga ke kota dengan menjadikan bahasa daerah digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. 

Ketiga, berkaitan dengan dominasi teknologi dan media sosial, pada saat konten digital dan hiburan-hiburan lebih banyak menggunakan bahasa persatuan, namun pada akhirnya bahasa daerah menghilang secara pelan, dan punah kemudian. Keempat, berkaitan dengan persepsi sosial, generasi Z menganggap bahasa daerah sudah kuno dan tidak dapat digunakan sebagai bahasa formal. 

Dari permasalahan tersebut, kita wajib membuka ruang kreatif agar bahasa daerah bisa direvitalisasi dan dilestarikan kembali. 

Ruang Kreatif

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada tahun 2022 menggagas festival dengan sebutan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), sebagai bagian dari implementasi Merdeka Belajar Episode ke 17 dengan tema Revitalisasi Bahasa Daerah. Peresmian dimulai dengan diwujudkannya FTBI yang dirancang sebagai wadah kreatif, ekspresif, dan kompetisi bagi murid di jenjang dasar dan menengah. 

Misalnya, FTBI di Jawa Barat meliputi kompetisi Maca Sajak (Membaca Puisi), Biantara (Pidato), Ngabodor Sorangan / Ngadongeng (Melawak tunggal / Mendongeng), Nulis Carpon (Menulis Cerita Pendek), Nulis/Maca Aksara Sunda, dan Pupuh (Tembang Sunda). 

Tujuh mata lomba yang dikompetisikan berkaitan dengan bahasa daerah yang diperuntukkan kepada generasi pecinta bahasa daerah. Ruang kompetisi ini disebut juga dengan ruang kreatif. Di sisi lain, sebagai solusi pembiasaan penggunaan bahasa sehari-hari dengan bahasa daerah. Dengan adanya lomba bahasa daerah akan mengarahkan masyarakat mencintai bahasa daerah dengan sebenarnya. 

Masyarakat pun dapat menyelenggarakan kegiatan seminar bahasa daerah. Seminar ini akan menjadikan bahasa daerah menguat dan semakin diminati oleh masyarakat.

Kongres bahasa daerah juga wajib diselenggarakan di setiap provinsi, mengingat bahasa daerah penting dijadikan pembahasan dan pelestariannya yang masif. Dengan mendatangkan para pakar atau pemerhati bahasa daerah, serta pelaku bahasa daerah dari pelbagai latar belakang yang dihadirkan dalam satu meja. 

Baca Juga: Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Juga diperlukan kreativitas di media sosial, hal ini masih sangat sedikit peminatnya. Padahal dengan hadirnya media sosial dan platform yang ada dan mudah diakses, bahasa daerah dapat dilestarikan. Media sosial kehadirannya sangat cepat dan mudah diterima oleh masyarakat. 

Teknologi dan media sosial berperan penting dalam menjaga bahasa daerah sebaik-baiknya. Maka kehadiran teknologi dan media sosial justru jangan sampai dijauhi atau ditinggalkan begitu saja. Kualitas bahasa daerah sesungguhnya menjadikan Indonesia lebih kaya perspektif dengan bahasa daerahnya. Kemudian, menjadikan Indonesia sebagai negara yang terus menjaga pemajuan kebudayaan. 

Kita melestarikan bahasa daerah sebagai rasa syukur kita sebagai bangsa, juga menguatkan jati diri bangsa di mata lokal dan di mata internasional. Harapannya, masyarakat bersedia menjaga warisan kebudayaan Indonesia. Bahasa daerah sebagai penguat dan pemersatu bangsa. Ujungnya, kolaborasi dalam ruang kreatif mesti diperbanyak dan diberikan fasilitas oleh pemerintah dengan pendanaan yang semaksimal mungkin. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)