Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

7 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)

Setiap 5 Oktober, Indonesia memperingati Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang pada masa sebelumnya dikenal sebagai Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Namun, enam dekade silam, peringatan itu berlangsung dalam suasana yang sama sekali berbeda. Republik Indonesia sedang berada di salah satu persimpangan paling genting dalam perjalanan sejarahnya.

Beberapa pekan sebelumnya, pada akhir September 1965, terjadi Gerakan 30 September (G30S), yang berujung pada penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi krisis politik dan keamanan nasional yang luas, disertai penangkapan, kekerasan, perubahan kekuasaan, serta pergeseran besar dalam konstelasi politik Indonesia.

Di tengah suasana penuh ketegangan itu, media massa memainkan peran penting dalam menyampaikan informasi sekaligus membentuk persepsi publik. Salah satu surat kabar yang menonjol adalah Harian Umum Berita Yudha, yang memiliki kedekatan dengan lingkungan militer.

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S. Dari judul berita, laporan politik, pernyataan pejabat, berita keamanan, hingga halaman ucapan belasungkawa, koran tersebut merekam suasana sebuah negeri yang sedang diliputi ketegangan dan ketidakpastian.

Di kepala halaman depannya tercetak semboyan:

“Nasakom, Pancasila, Manipol, Trisakti, Berdikari, Untuk Mempertinggi Ketahanan Revolusi Indonesia.”

Kalimat tersebut menjadi penanda kuat sebuah zaman ketika politik, revolusi, ideologi, dan kekuasaan negara begitu lekat dengan kehidupan masyarakat.

Instruksi Bung Karno: Pemulihan Keamanan Dipercepat

Berita utama edisi tersebut menyoroti arahan Presiden sekaligus Panglima Tertinggi ABRI, Soekarno, agar pemulihan keamanan segera dipercepat.

Setelah menerima laporan dari Staf KOTI, Bung Karno menginstruksikan jajaran sipil dan militer untuk menertibkan keadaan agar keputusan-keputusan politik selanjutnya dapat dijalankan.

Sidang terbatas Komando Operasi Tertinggi (KOTI) di Paviliun Istana Negara berlangsung hingga larut malam. Sidang tersebut dihadiri jajaran kabinet, para panglima angkatan, serta sejumlah tokoh penting, antara lain Ruslan Abdulgani, Jusuf Muda Dalam, dan Brigjen Sabur dari Resimen Tjakrabirawa.

Menteri Penerangan Mayjen Achmadi dalam pemberitaan menyampaikan bahwa situasi di Jakarta dan Jawa Tengah mulai menunjukkan tanda-tanda stabil.

KOTI pada masa itu merupakan lembaga yang berada di bawah pimpinan Presiden Soekarno dan memiliki kewenangan komando tertinggi dalam menghadapi persoalan keamanan dan politik nasional.

Membaca berita tersebut hari ini memberikan gambaran tentang bagaimana pemerintah berusaha menunjukkan kendali atas keadaan di tengah situasi politik yang bergerak sangat cepat.

Tujuh Partai Politik dan Desakan Pembubaran PKI

Sorotan penting lainnya adalah pernyataan tujuh partai politik yaitu PNI, NU, Partai Katolik, Parkindo, Perti, PSII, dan IPKI yang menyatakan kesetiaan kepada Presiden Soekarno sekaligus mendesak pembubaran PKI.

Frans Seda, Ketua Umum Partai Katolik, dalam pemberitaan tersebut menegaskan bahwa keterlibatan PKI dalam G30S merupakan fakta.

Berita semacam ini memperlihatkan bagaimana posisi politik sejumlah kelompok mulai mengeras setelah G30S. Pers tidak hanya menjadi tempat menyampaikan perkembangan politik, tetapi juga menjadi ruang bagi berbagai kelompok untuk menyuarakan sikap, tuntutan, dan legitimasi politik.

Dalam konteks itulah Berita Yudha menjadi menarik untuk dibaca kembali. Bukan semata-mata untuk mencari jawaban tunggal mengenai apa yang terjadi pada 1965, melainkan untuk melihat bagaimana sebuah surat kabar memberitakan sebuah krisis ketika peristiwa tersebut masih berlangsung dan arah sejarah belum sepenuhnya terbaca.

Dokumen, Pengakuan, dan Narasi tentang G30S

Surat kabar Berita Yudha, salah satu surat kabar berpengaruh pada masanya, yang memuat pemberitaan mengenai peristiwa pasca-G30S pada Oktober 1965, 61 tahun silam. (Foto: Djuli Pamungkas)
Surat kabar Berita Yudha, salah satu surat kabar berpengaruh pada masanya, yang memuat pemberitaan mengenai peristiwa pasca-G30S pada Oktober 1965, 61 tahun silam. (Foto: Djuli Pamungkas)

Berita Yudha juga memuat sejumlah laporan mengenai dokumen yang dikaitkan dengan PKI dan disebut ditemukan oleh Kostrad, pengakuan tahanan mengenai pelatihan di kawasan Lubang Buaya, hingga kisah seorang mata-mata yang disebut menyamar sebagai penjual mi goreng.

Rangkaian pemberitaan tersebut memperlihatkan narasi yang dibangun surat kabar itu mengenai keterlibatan PKI dalam G30S.

Ada pula berita tentang “Gerakan Nasi Bungkus” dan “gelandangan gadungan” di Malang. Aktivitas yang sekilas berkaitan dengan kehidupan sehari-hari tersebut diberitakan dalam konteks dugaan jaringan kontra-revolusi.

Jika dibaca dengan perspektif sejarah hari ini, berita-berita tersebut menarik bukan hanya karena informasi yang disampaikannya, tetapi juga karena memperlihatkan cara sebuah media membingkai peristiwa pada saat peristiwa itu sendiri masih berkembang.

Karena itu, istilah, tuduhan, dan kesimpulan yang muncul dalam koran perlu ditempatkan sebagai bagian dari konteks pemberitaan pada zamannya. Ia adalah kesaksian tentang bagaimana informasi beredar, bukan dengan sendirinya merupakan putusan akhir atas seluruh fakta sejarah.

Suasana genting juga tergambar melalui berita mengenai bentrokan di berbagai daerah.

Salah satunya adalah laporan mengenai 51 anggota GP Ansor di Banyuwangi yang disebut gugur akibat bentrokan dengan kelompok yang dalam pemberitaan disebut sebagai “teror merah kontra-revolusioner”.

Di Jakarta, pemerintah mempertegas pemberlakuan jam malam untuk wilayah ibu kota dan sekitarnya, yakni pukul 21.00 hingga 04.30 WIB.

Bagi masyarakat pada masa itu, informasi semacam ini tentu bukan sekadar berita politik. Jam malam menyentuh langsung kehidupan sehari-hari, kapan seseorang boleh bepergian, bekerja, berkumpul, dan kembali ke rumah.

Di tengah ketidakpastian, sebuah pengumuman mengenai jam malam dapat menjadi bagian nyata dari pengalaman sehari-hari masyarakat.

Ucapan Duka untuk Para Pahlawan Revolusi

Salah satu bagian yang mencolok dalam edisi tersebut adalah halaman yang dipenuhi ucapan belasungkawa atas gugurnya para Pahlawan Revolusi.

Nama-nama yang tercantum antara lain Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Letjen Anumerta Soeprapto, Letjen Anumerta M.T. Haryono, Letjen Anumerta S. Parman, Mayjen Anumerta D.I. Panjaitan, Mayjen Anumerta Soetojo, dan Kapten Anumerta Pierre Tendean.

Ucapan duka juga ditujukan kepada Ade Irma Suryani Nasution, putri Jenderal A.H. Nasution yang turut menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Belasungkawa datang dari berbagai lembaga dan organisasi, antara lain ITB, Pindad, Komando Pertahanan Udara, Corps Akmil Tangerang, Komando Proyek Industri Penerbangan, Perusahaan Pelayaran Pantai Sriwijaya Raya, PN Tambang Mas Cikotok, PN Permata Nusantara, DPP Tata Sastra, PP IKAPI, PB Gerakan Ahmadiyah Indonesia Aliran Lahore, Essence Indonesia, hingga PT Soetan Ltd.

Halaman ucapan duka tersebut kini tidak hanya menarik sebagai bagian dari sebuah koran lama. Ia juga menjadi semacam potret visual tentang bagaimana penghormatan, kehilangan, dan ingatan terhadap para korban dipresentasikan kepada publik pada masa itu.

“Gugur Bunga” di Taman Pahlawan

Pada Jumat pagi, 29 Oktober 1965, sehari sebelum edisi Berita Yudha yang menjadi bahan penelusuran ini terbit, digelar apel suci di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Kegiatan tersebut berkaitan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-37. Dalam pemberitaan Berita Yudha, para pemuda yang hadir disebut sebagai pemuda Indonesia progresif-revolusioner dan mengikrarkan Panca Tekad Pemuda Indonesia.

Upacara dipimpin Brigjen Subarto, Asisten V Men/Pangad, yang mewakili Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Dalam pidatonya, ia menyampaikan pesan:

“Perjuangan saudara adalah perjuangan kami. Jalan yang saudara tempuh adalah jalan yang akan kami tempuh.”

Setelah pembacaan Panca Tekad, upacara ditutup dengan lagu “Gugur Bunga”. Brigjen Subarto, didampingi Menteri Perindustrian Maritim Mardanus dan sejumlah pejabat tinggi negara lainnya, kemudian menaburkan bunga di pusara para Pahlawan Revolusi.

Adegan tersebut memperlihatkan suasana duka sekaligus penguatan simbol kepahlawanan yang tengah dibangun di tengah krisis politik pasca-G30S.

Membaca kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965 dari perspektif enam dekade kemudian menghadirkan gambaran mengenai Indonesia pada masa yang penuh ketegangan: situasi keamanan yang belum sepenuhnya pulih, pertarungan politik yang semakin tajam, duka atas gugurnya para perwira Angkatan Darat, serta menguatnya narasi anti-PKI.

Namun, koran lawas seperti Berita Yudha sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai kumpulan berita.

Ia juga layak ditempatkan sebagai dokumen primer yang merekam bagaimana suatu zaman melihat, memilih, dan menjelaskan peristiwa yang sedang berlangsung.

Apa yang diberitakan, siapa yang diberi ruang bicara, istilah apa yang digunakan, serta peristiwa mana yang ditempatkan sebagai berita utama merupakan bagian dari konstruksi informasi pada masa tersebut.

Dengan demikian, Berita Yudha tidak sekadar menyimpan berita tentang krisis 1965. Ia juga menyimpan jejak bagaimana kekuasaan, militer, politik, dan media saling berkelindan dalam membentuk persepsi masyarakat.

Membaca koran lama karenanya bukan hanya membaca masa lalu. Kita juga sedang membaca cara orang-orang pada masa itu memahami masa kini mereka.

Kini, ketika Hari TNI kembali diperingati setiap 5 Oktober, membuka lembaran Berita Yudha dari akhir Oktober 1965 terasa seperti membuka jendela menuju sebuah masa ketika republik sedang berada di persimpangan sejarah.

Dari halaman-halamannya, kita dapat melihat duka, ketegangan, instruksi pemerintah, sikap partai politik, laporan keamanan, hingga bahasa politik yang begitu khas pada zamannya.

Lebih dari sekadar nostalgia terhadap media cetak lawas, arsip semacam ini mengajak kita membaca sejarah dengan lebih kritis. Sebab sebuah surat kabar bukan hanya mencatat apa yang terjadi, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebuah peristiwa dipilih, diberi makna, dan disampaikan kepada publik.

Baca Juga: Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Enam puluh satu tahun setelah 1965, lembaran Berita Yudha itu telah berubah menjadi benda tua yang kertasnya dimakan usia. Namun, di balik tinta dan halaman yang mulai menguning, tersimpan fragmen penting perjalanan republik.

Pada akhirnya, setiap koran tua adalah sebuah kapsul waktu. Ia menyimpan bukan hanya berita, tetapi juga suara sebuah zaman kecemasan, duka, keyakinan, pertarungan politik, dan cara masyarakat memandang peristiwa yang sedang mengguncang negeri.

Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965 menjadi salah satu fragmen untuk memahami suasana Indonesia setelah G30S. Membacanya kembali hari ini mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya tersimpan di buku-buku sejarah atau arsip resmi, tetapi juga di antara lembaran-lembaran koran yang telah menguning dimakan usia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)