Ayo Netizen

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Oleh: Vito Prasetyo
Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)

Apa yang terbesit dalam ingatan kita, ketika sudut-sudut kota Bandung diceritakan kembali. Sudut-sudut yang menyimpan cerita, tapi kini cerita itu seperti terkubur oleh waktu dan tumbuhnya destinasi wisata baru?

Bandung sering dikenal melalui bangunan-bangunan tua, Jalan Braga, Gedung Sate, kawasan Asia Afrika, atau deretan arsitektur Art Deco yang menjadi penanda kota. Semua itu memang bagian penting dari sejarah Bandung. Namun, memaknai heritage tidak cukup hanya dengan memotret bangunan lama.

Heritage bukan sekadar tembok yang berhasil bertahan dari pergantian zaman. Ia adalah ingatan yang menempel pada ruang, jalan, sungai, gang, pasar, rumah, bahkan pada nama sebuah kampung.

Bandung sesungguhnya seperti buku yang halaman-halamannya tidak semuanya berada di perpustakaan. Sebagian halaman itu tersembunyi di balik gang sempit, di bawah jembatan, di antara rumah-rumah padat, atau pada nama jalan yang setiap hari kita lewati tanpa pernah bertanya dari mana asalnya.

Sejarah resmi Kota Bandung sendiri memberi petunjuk penting. Kota ini tidak semata-mata lahir karena proyek Jalan Raya Pos atau prakarsa Daendels. Pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung dari Krapyak dilakukan atas prakarsa Bupati R.A. Wiranatakusumah II, yang bersama rakyatnya membuka kawasan baru di sekitar Cikapundung. Bandung kemudian ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Bandung pada 25 September 1810.

Artinya, sebelum Bandung menjadi kota dengan gedung-gedung bergaya Eropa, ia telah memiliki denyut kehidupan lokal. Pertanyaannya, bagaimana kita melihat Bandung heritage hari ini? Apakah kemajuan zaman telah mengubah sudut pandang kita terhadap Bandung?

Datang ke Bandung, banyak orang segera menuju Braga. Jalan ini memang memiliki daya tarik sejarah yang kuat. Tetapi ada Bandung lain yang hanya berjarak beberapa meter dari keramaian Braga.

Di balik bangunan pertokoan dan restoran terdapat Kampung Braga, permukiman yang berdiri di tepian Sungai Cikapundung. Dari jalan utama, kampung ini hampir seperti bayangan yang sengaja disembunyikan oleh gemerlap kota.

Padahal, kampung tersebut memiliki sejarah kehidupan yang panjang. Sebagian warga telah tinggal secara turun-temurun. Dahulu rumah-rumah panggung masih banyak dijumpai dan Cikapundung menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di satu sisi, wisatawan datang untuk menikmati romantisme bangunan tua. Di sisi lain, beberapa meter dari tempat mereka berfoto, masyarakat hidup dengan persoalan banjir dan kualitas lingkungan sungai. Ini menjadi paradoks bagi Bandung heritage.

Sejarah ternyata tidak selalu berdiri tegak dalam bentuk gedung megah. Kadang ia duduk di teras rumah warga, mencuci piring, berjualan makanan, atau menunggu hujan reda.

Karena itu, Kampung Braga seharusnya tidak dianggap sebagai “belakang” Jalan Braga. Ia justru merupakan bagian dari cerita Braga yang selama ini kurang terlihat.

Hari ini nama Banceuy lebih mudah diasosiasikan dengan perdagangan dan kepadatan kota. Tetapi dahulu kawasan ini mempunyai fungsi yang jauh berbeda. Nama Banceuy berkaitan dengan tempat peristirahatan atau kandang kuda dan kawasan tersebut menjadi bagian dari jalur pergerakan sebelum kendaraan bermotor mendominasi kota. Jalan Banceuy sendiri tercatat diresmikan pemerintah kolonial pada 1871 sebagai Bantjeuy Weg.

Banceuy juga menyimpan lapisan sejarah politik Indonesia melalui penjara yang pernah menjadi tempat Soekarno ditahan.

Menariknya, sejarah Banceuy tidak berhenti pada penjara. Di sekitar kawasan ini pernah hidup komunitas dan kampung yang menjadi bagian dari pertumbuhan awal Bandung.

Dengan demikian, satu kawasan dapat menyimpan beberapa zaman sekaligus: zaman kuda, zaman kolonial, zaman pergerakan nasional, dan zaman perdagangan modern.

Banceuy seperti “palimpsest”—tulisan lama yang tidak benar-benar hilang meskipun ditumpangi tulisan baru.

Ada pula ruang sejarah yang jauh lebih kecil: Gang Affandi. Nama ini mungkin tidak sepopuler Braga. Namun sejarahnya menarik karena berkaitan dengan perkembangan budaya baca dan penerbitan pribumi di Bandung.

H.M. Affandi mendirikan Toko Tjitak Affandi pada 1903. Percetakan tersebut termasuk salah satu percetakan pribumi awal yang mencetak buku-buku berbahasa Sunda. Salah satu terbitannya adalah Wawacan Angling Darma pada 1906. Affandi sendiri kemudian menulis novel Pieunteungeun, yang terbit pada 1937.

Bandung ternyata bukan hanya kota arsitektur, perdagangan dan pemerintahan. Ia juga pernah menjadi ruang tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Suasana Jalan Braga dengan deretan gedung ikonik peninggalan kolonial Belanda yang masih terjaga. (Foto: Agus Wahyudi)

Sebuah percetakan mungkin tampak kecil dibandingkan gedung kolonial. Tetapi dari mesin cetak yang sederhana, gagasan bisa berjalan jauh lebih cepat daripada manusia. Karena itu, mesin cetak juga dapat disebut sebagai salah satu “arsitektur” kebudayaan Bandung.

Ada pula Babakan Ciamis, kawasan yang mungkin dilewati tanpa perhatian khusus. Nama Babakan sendiri menarik. Dalam kajian antropolinguistik, babakan dalam bahasa Sunda bermakna kampung baru. Nama-nama seperti Babakan Ciamis, Babakan Surabaya, dan Babakan Bogor memperlihatkan jejak perpindahan penduduk dan pembentukan komunitas di Bandung.

Kawasan Babakan Ciamis tersebut dahulu dikenal sebagai Sentiong, berkaitan dengan pemakaman masyarakat Tionghoa. Salah satu artefak yang masih ditemukan adalah nisan Oeij Bouw Hoen, bertahun 1882, yang kini berada sangat dekat dengan kehidupan rumah-rumah masyarakat.

Di sinilah pentingnya heritage. Sebuah artefak tidak harus monumental untuk menjadi penting. Kadang benda kecil justru mampu membuka pintu menuju sejarah sosial yang lebih luas: tentang migrasi, komunitas, kematian, perubahan tata ruang, dan pertumbuhan sebuah kota.

Jika Bandung memiliki satu “urat nadi” sejarah yang sering kita lihat tetapi jarang benar-benar kita renungkan, sungai itu adalah Cikapundung.

Cikapundung bukan sekadar sungai yang mengalir membelah kota. Kawasan di sekitar sungai berkaitan langsung dengan proses awal pembentukan Bandung. Pemerintah kolonial kemudian juga memberikan perhatian terhadap bantaran sungai sebagai bagian dari penataan kota.

Ironisnya, semakin modern sebuah kota, kadang semakin jauh ia mengenali sungainya sendiri. Padahal sebuah kota yang melupakan sungainya sedang melupakan salah satu alasan mengapa ia pernah tumbuh.

Ini menunjukkan bahwa sejarah kota bukanlah kumpulan bangunan yang berdiri sendiri. Sejarah karena berada dalam jaringan ruang yang lebih luas: jalan, sungai, pasar, permukiman, stasiun, dan manusia.

Kesalahan terbesar dalam memahami heritage adalah menganggapnya sebagai nostalgia. Heritage bukan nostalgia. Heritage bukan ajakan untuk kembali ke masa lalu. Heritage adalah cara memahami masa lalu agar kita tidak membangun masa depan dengan ingatan yang hampa.

Baca Juga: Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Heritage yang baik bukan museum yang membekukan masa lalu. Ia adalah masa lalu yang terus berbicara kepada masa kini. Mungkin sudah waktunya wisata sejarah Bandung tidak hanya menawarkan rute Braga–Asia Afrika–Gedung Sate.

Kita perlu membuka rute-rute kecil: menyusuri Banceuy, masuk ke kampung di balik Braga, mencari jejak Gang Affandi, membaca kembali Babakan Ciamis, mengikuti aliran Cikapundung, melihat stasiun bukan hanya sebagai tempat naik kereta, atau memperhatikan nama-nama kampung yang selama ini dianggap sekadar alamat.

Bandung bahkan masih memiliki banyak sudut yang belum selesai dibaca. Penelitian mengenai kawasan cagar budaya Bandung menunjukkan bahwa perhatian terhadap pusat kota selama ini cenderung terkonsentrasi pada Asia Afrika dan Braga, sementara kawasan seperti Jalan ABC dan Naripan serta sejumlah lingkungan di sekitarnya juga menyimpan persoalan dan jejak sejarah yang patut diperhatikan.

Maka Bandung Heritage seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan: bangunan tua apa yang masih berdiri? Pertanyaan yang lebih penting adalah: cerita siapa yang masih hidup di balik bangunan itu? (*)

Reporter Vito Prasetyo
Editor Aris Abdulsalam