Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)

BANDUNG memiliki banyak “pulau” sejarah. Ada Pulau Braga. Pulau Alun-alun. Pulau Asia-Afrika. Pulau Banceuy. Pulau Cikapundung. Pulau Dalem Kaum dan “pulau-pulau” lainnya. 

Di antara “pulau-pulau” itu, ada jalan, trotoar, kendaraan, reklame, pedagang, bangunan baru, bangunan lama dan manusia. Secara geografis semuanya berdekatan. 

Sayangnya, kedekatan geografis tidak otomatis menghasilkan keterhubungan sosial, ekonomi dan visual. Orang bisa berjalan dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah merasa sedang memasuki satu lanskap sejarah yang sama.

Dalam ilmu konservasi kota, cara lama melihat heritage memang sering terlalu terpaku pada bangunan. Gedung tua dianggap sebagai benda yang harus dipertahankan. Padahal, kota bukanlah museum. 

Kota adalah sistem. Bangunan berhubungan dengan jalan. Jalan berhubungan dengan aktivitas ekonomi. Aktivitas ekonomi berhubungan dengan manusia. Manusia membentuk kebiasaan. Kebiasaan melahirkan identitas. Dan identitas akhirnya menjadi alasan mengapa sebuah tempat dianggap penting. 

Mengaplikasikan HUL

Dalam ikhtiar menata kawasan Alun-alun Bandung dan sekitarnya menjadi kawasan bersejarah yang terintegrasi, Pemerintah Kota Bandung berencana menerapkan konsep Historic Urban Landscape (HUL).

UNESCO mendefinisikan HUL bukan sekadar sebagai kumpulan bangunan bersejarah, melainkan sebagai lanskap yang terbentuk dari berbagai lapisan nilai budaya dan alam. Di dalamnya termasuk bentuk kota, ruang terbuka, infrastruktur, pola penggunaan lahan, serta aktivitas sosial, budaya dan ekonomi beserta nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Konsep ini dikembangkan UNESCO antara lain karena pertumbuhan kota yang cepat dapat memicu fragmentasi sosial dan spasial serta memutus hubungan antara warisan sejarah dan lingkungan tempatnya berada.

Mengapa konsep HUL ini  diperlukan? Karena kota yang berkembang terlalu cepat bisa terpecah-pecah. Secara fisik mungkin masih berdekatan, tetapi secara sosial dan ruang sudah tidak lagi saling terhubung. Bangunan bersejarah tetap berdiri, tetapi kehidupan di sekitarnya berubah.

Maka, jangan sampai pelestarian heritage Bandung berhenti pada urusan mempercantik wajah kota. Gedung lama dipoles. Trotoar diperbaiki. Lampu antik dipasang. Jalan dibuat Instagramable. Wisatawan berdatangan. 

Tapi, siapa yang tinggal? Pedagang lama bisa saja pergi. Warga perlahan merasa tidak lagi menjadi bagian dari ruangnya sendiri. Bangunan bersejarah tetap berdiri, tetapi fungsinya menyusut menjadi cuma latar belakang untuk berfoto. Padahal, justru aktivitas manusia itulah yang selama puluhan tahun membuat sebuah kawasan heritage hidup.

Maka, Ceu Ukes, yang tinggal di Pajagalan, bisa saja nyeletuk: “Eta mah lain pelestarian atuh, bisa jadi ngan saukur dekorasi.”

Pelestarian yang baik bukan berarti menyimpan masa lalu di dalam etalase. Masa lalu justru harus tetap mempunyai tempat dalam kehidupan kota kiwari.

Kajian yang dilakukan Roos Akbar dan I Ketut Wijaya dari Institut Teknologi Bandung pada 2008, yang diterbitkan dalam Journal of Regional and City Planning, mengidentifikasi sejumlah persoalan dalam pelestarian bangunan bersejarah di Kota Bandung. 

Penelitian tersebut mencatat adanya perubahan fungsi bangunan, perubahan fisik dan arsitektur, penelantaran bangunan, keterbatasan regulasi konservasi, serta belum memadainya sistem informasi spasial mengenai aset bersejarah. Kawasan Braga digunakan sebagai salah satu bagian penting dalam pengembangan pendekatan manajemen aset tersebut.

Artinya, persoalan Bandung sebenarnya bukan karena kota ini tidak tahu bahwa bangunan-bangunan bersejarah itu berharga. Bahkan hampir dua dekade lalu persoalan pengelolaannya sudah diteliti. 

Yang sulit adalah apa yang dilakukan setelah kita mengetahui nilai keberhargaannya, yakni bagaimana bangunan tetap hidup, bagaimana perubahan fungsi dikendalikan tanpa mematikan aktivitas ekonomi, dan bagaimana berbagai aset sejarah tersebut dikelola sebagai satu sistem kota. Jadi, bukan sebagai “pulau-pulau” yang berjalan sendiri-sendiri.

Regulasi tidak otomatis tata kelola

Perlu dicatat pula bahwa regulasi tidak otomatis menjadi tata kelola. Faktanya, Bandung bahkan telah memiliki perjalanan panjang regulasi mengenai bangunan dan kawasan cagar budaya. 

Tetapi, sebuah aturan dapat berhenti sebagai dokumen jika tidak diterjemahkan menjadi pedoman teknis, insentif, pembagian tanggung jawab, data yang terbuka, mekanisme pengawasan dan partisipasi pemilik serta masyarakat. 

Kajian terbaru mengenai tata kelola warisan budaya di Bandung memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar. Dalam penelitian yang diterbitkan pada 2026, Andiyan Andiyan dan Dimas Wihardyanto menelaah perubahan regulasi konservasi di kawasan kolonial Asia-Afrika Bandung dari 2009 hingga 2025. Keduanya menemukan bahwa perkembangan regulasi belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam perlindungan fisik bangunan, penerapan prinsip adaptive reuse, partisipasi masyarakat yang substantif, maupun pedoman teknis berbasis sains. 

Dengan kata lain, masih terdapat jarak antara norma hukum dan praktik konservasi di lapangan.  Karena itu, pekerjaan paling sulit Pemkot Bandung agaknya bukan menggambar garis kawasan dari Simpang Lima sampai kawasan Otista. Garis di peta gampang dibuat. Yang sulit adalah membuat orang-orang di dalam garis itu mempunyai alasan untuk duduk di meja yang sama. 

Pemilik bangunan mungkin memikirkan ongkos pemeliharaan. Pengusaha memikirkan omzet. Pemerintah memikirkan ketertiban dan pelayanan publik. Komunitas memikirkan memori dan identitas. Wisatawan memikirkan pengalaman. Warga memikirkan parkir, keamanan, harga sewa, akses dan kenyamanan. 

Semuanya benar dari sudut masing-masing. Justru karena semuanya benar, koordinasi biasanya malah menjadi lebih sulit.

Tumbuh bersama

Kota tidak akan tumbuh bersama hanya karena semua pihak diundang dalam satu forum. Harus ada mekanisme konkret, yaitu siapa memutuskan apa, siapa membayar apa, siapa mendapat manfaat, siapa menanggung biaya konservasi dan bagaimana konflik diselesaikan. 

UNESCO sendiri menempatkan partisipasi pemangku kepentingan, kemitraan publik-swasta dan mekanisme koordinasi antaraktor sebagai bagian penting dari implementasi HUL.

Bahkan, pendekatan ilmiahnya seharusnya dimulai dari membaca kota sebelum mengubah kota. Maka, data bangunan perlu dipetakan, sejarah perubahan kawasan perlu didokumentasikan, pola pergerakan pejalan kaki perlu diketahui, aktivitas ekonomi perlu dipahami, ruang yang ramai dan ruang yang mati harus dibedakan, kondisi bangunan perlu dinilai, relasi visual antara satu bangunan dengan bangunan lain perlu dipetakan. 

Bahkan, persoalan drainase, suhu panas perkotaan, vegetasi dan kualitas ruang publik masuk dalam cara pandang HUL. 

UNESCO menyebut pengumpulan dan analisis data sebagai bagian penting untuk memahami lapisan kompleks sebuah kawasan kota. Ini juga menjelaskan mengapa kawasan bersejarah tidak boleh diperlakukan seperti akuarium. Ikan di dalam akuarium mungkin tampak cantik karena semuanya dikendalikan. 

Namun, kota, jelas, berbeda. Kota terus bergerak. Lihat saja, toko berganti. Teknologi berubah. Transportasi berubah. Selera masyarakat berubah. Dan bangunan lama membutuhkan fungsi baru agar tidak mati. 

Dalam pendekatan HUL, konservasi justru harus dipadukan dengan pembangunan sosial dan ekonomi. Heritage bukan penghambat pembangunan, melainkan salah satu sumber daya untuk membuat pembangunan lebih berkarakter dan berkelanjutan.

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri. Bayangkan orang berjalan dari Alun-alun menuju Braga. Yang dialami bukan sekadar berpindah dari satu objek wisata ke objek wisata lain, tetapi membaca perubahan zaman melalui bangunan, jalan, aktivitas perdagangan, ruang publik, kuliner, seni, sungai, dan kehidupan warganya. 

Di situlah sebuah kota mulai memiliki narasi. Itu bukan karena pemerintah memasang terlalu banyak papan informasi, tetapi karena ruang kotanya sendiri sudah mampu bercerita dengan sendirinya.

Baca Juga: Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Jangan jadi proyek administratif

Tentu saja, kita berharap HUL nantinya jangan sampai menjadi proyek administratif baru. Ada tim, ada rapat, ada seminar, ada dokumen, lalu selesai. Padahal, kata Kang Edon asal Cikutra, “Kota mah teu bisa diurus ku PowerPoint hungkul.” 

Kalau konsep HUL yang matang baru ditargetkan pada tahun 2027, justru periode menuju ke sana harus dipakai untuk mengumpulkan data, menguji gagasan dan mendengarkan pemilik serta pengguna ruang. Jangan buru-buru mengecat kota sebelum tahu warna apa yang sebenarnya ingin dipertahankan.

Sudah barang tentu, ukuran keberhasilan HUL Bandung nanti yaitu apakah urang Bandung dan pengunjung yang datang ke Bandung mulai merasakan bahwa Alun-alun, Braga, Banceuy, Cikapundung, Dalem Kaum, dan kawasan di antaranya merupakan satu lanskap kota yang saling terhubung.

Jika tidak, HUL berisiko berhenti sebagai proyek penataan sejumlah kawasan yang tampak lebih rapi, tetapi belum berhasil menghidupkan kembali hubungan antarkawasan yang menjadi jiwa Kota Bandung.*** 

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)