Ayo Netizen

Generasi Berempati Ekologis

Oleh: mufti wibowo
Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)

Mari kita bayangkan, gunungan sampah setinggi 17 meter di Zona 5 TPA Sarimukti yang kini diambang kolaps. Tempat pembuangan utama ini diprediksi penuh total pada November 2026—lebih cepat satu tahun dari rencana awal. Data lain menyebut produksi Sampah Bandung Raya 5.000 ton per hari. Sementara Kapasitas TPA Sarimukti (Zona 5) telah terisi 80% (560 ribu ton dari kapasitas maksimal 700 ribu ton). Data-data itu sungguh menakutkan, jauh lebih menakutkan dari hantu-hantu yang bertebaran di bioskop langganan kita.

Dari angka itu kita perlu membaca fakta di baliknya. Apa gerangan yang menyebabkan TPA Sarimukti penuh lebih cepat? Keterbatasan alat berat. Proses pemadatan sampah di Zona 5 mengalami kendala serius karena kurangnya alat berat di lokasi landfill. Hal itu diperparah dengan pelanggaran kuota daerah. Meski Pemprov Jabar sudah membatasi, kiriman sampah dari kota/kabupaten di Bandung Raya secara konsisten melebihi kuota harian karena minimnya pengelolaan di tingkat lokal. Kebijakan pembersihan sampah pasar tradisional yang menumpuk (seperti kasus overload ratusan ton di Pasar Baleendah) langsung dialihkan ke Sarimukti, memperparah beban tampung.

Sejak Oktober 2026, Pemprov Jabar mengerahkan 25.000 mahasiswa dari 98 perguruan tinggi untuk melakukan edukasi door-to-door di 52 kecamatan di Bandung Raya. Mereka bersamai warga dalam pemilahan sampah organik sejak dari dapur rumah tangga sehingga menjadi barang yang bernilai. Mahasiswa yang terjun selama 3 bulan ini mendapatkan insentif akademik berupa konversi hingga 10 SKS untuk menggantikan kuliah reguler. Tujuannya barang tentu Memotong 20% timbulan sampah harian (1.000 ton/hari) agar sampah organik tidak tercampur dan bisa langsung diolah ke fasilitas lokal (seperti budidaya maggot dan kompos RT).

Di Sisi lain, upaya dengan teknologi masa depan dan target jangka panjang juga sudah ditetapkan. Pemprov melibatkan ahli teknik lingkungan ITB untuk mengkaji metode pemadatan sampah yang aman dari risiko ledakan gas metana.

Gubernur Jabar berkolaborasi dengan Mabes TNI AD untuk menginstalasi teknologi pirolisis di akhir 2026. Targetnya, mulai 2027 teknologi ini bisa mengubah 1.000 ton sampah lama per hari menjadi bahan bakar solar. Rencana pengolahan sampah menjadi bahan bakar padat (RDF) di Gedung Bage masih terkendala kesiapan offtaker (pihak ketiga yang membeli hasil olahan).

Seluruh taktik darurat tersebut dilakukan demi memperpanjang napas TPA Sarimukti hingga Desember 2029, menjelang PLTSa (Waste-to-Energy) Legok Nangka beroperasi penuh pada 2030.

Tekankan bahwa krisis sampah tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan pola lama "kumpul-angkut-buang". Perubahan perilaku di tingkat rumah tangga adalah kunci mutlak sebelum bom waktu ekologis meledak di Bandung Raya.

Sebagai yang setiap hari berhadapan dengan remaja usia sekolah menengah, membikin data-data di atas membuat saya tertegun. Kita sering mengajari murid-murid tentang teori ekosistem, pemanasan global, atau daur ulang di pelajaran IPA dan IPS. Namun, ketika keluar dari pintu kelas, apa yang kita lihat di kantin sekolah? Plastik sekali pakai masih menumpuk, sisa makanan terbuang begitu saja, dan tempat sampah organik-anorganik sering kali hanya menjadi formalitas.

Krisis sampah Bandung Raya memberikan satu pelajaran krusial bahwa kita tidak bisa lagi menyerahkan urusan sampah sepenuhnya kepada truk kebersihan dan TPA. Kunci utamanya ada pada perubahan perilaku di tingkat rumah tangga. Di sinilah peran strategis kita sebagai pendidik diuji. Pertama, menghubungkan teori dengan realita kelas murid-murid sekolah menengah berada di usia kritis di mana mereka mulai membangun kesadaran sosial. Guru tidak boleh lagi mengajar bab lingkungan hidup seolah-olah itu masalah di Benua Antartika. Tunjukkan data TPA Sarimukti ini kepada mereka. Biarkan mereka sadar bahwa 5.000 ton sampah per hari itu sebagian berasal dari bungkus camilan dan sisa makanan yang mereka buang di sekolah.

Membangun budaya, bukan sekadar tugas sekolah. Sekolah menengah harus menjadi ground zero perubahan kebiasaan. Pemilahan sampah organik untuk kompos atau maggot harus menjadi bagian dari rutinitas harian sekolah, bukan sekadar proyek sekali selesai demi nilai kokurikuler, misalkan.

Mengajarkan kesadaran konsumsi. Teknologi seperti pirolisis atau PLTSa memang canggih, tetapi itu adalah obat untuk "gejala", bukan penyebab utama. Penyebab utamanya adalah gaya hidup kita yang serba instan dan konsumtif. Sebagai pendidik, tugas kita adalah menanamkan kesadaran untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya (reduce)--membawa botol minum sendiri, menghabiskan makanan, dan menolak plastik sekali pakai.

Hantu sampah Bandung Raya tidak akan hilang hanya dengan keajaiban teknologi atau kebijakan. Bom waktu ekologis ini hanya bisa dijinakkan jika ada kesadaran kolektif yang dimulai dari unit terkecil, rumah tangga dan sekolah.

Tugas guru, di hadapan persoalan ini, menemukan konteksnya, bukan hanya mencetak siswa yang pintar secara akademis, melainkan juga melahirkan generasi yang memiliki empati ekologis. (*)

Reporter mufti wibowo
Editor Aris Abdulsalam