Kondisi jalan di wilayah Kebon Gedang, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, masih menjadi perhatian masyarakat sekitar. Beberapa bagian jalan dipenuhi lubang dan retakan yang membuat pengendara harus lebih berhati-hati. Kondisi tersebut semakin terasa ketika hujan turun karena air sering menggenang di sekitar jalan dan membuat lubang sulit terlihat.
Jalan tersebut cukup sering digunakan oleh warga dan pengendara lain sebagai akses menuju kawasan permukiman serta jalur alternatif menuju Jalan Gatot Subroto. Tingginya aktivitas kendaraan, termasuk kendaraan berukuran dan bermuatan besar, membuat kondisi jalan perlu mendapat perhatian. Namun, muncul pertanyaan yang lebih penting: mengapa jalan tersebut terus mengalami kerusakan meskipun sudah pernah diperbaiki?
Berdasarkan pengamatan di lapangan, lalu lintas kendaraan bukan satu-satunya kondisi yang perlu diperhatikan. Air juga menjadi salah satu persoalan. Ketika hujan turun, genangan terlihat di beberapa bagian jalan. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan saluran air atau selokan di sekitar jalan yang terlihat kurang lancar sehingga air tidak dapat mengalir dengan baik.
Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang membuat kerusakan jalan semakin parah. Beban kendaraan yang terus melewati jalan dapat memberikan tekanan pada permukaannya, sementara genangan air dapat memperburuk bagian jalan yang sudah retak atau berlubang. Namun, kedua hal tersebut belum dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab tanpa adanya pemeriksaan teknis lebih lanjut. Kualitas konstruksi dan perbaikan jalan sebelumnya juga perlu diperhatikan.
Bagi masyarakat yang menggunakan jalan tersebut setiap hari, masalah ini bukan hanya soal kenyamanan. Jalan yang rusak dapat memperlambat perjalanan, meningkatkan risiko kecelakaan, dan berpotensi membuat kendaraan lebih cepat mengalami kerusakan. Pada jam sibuk, terutama pagi dan sore hari, pengendara juga harus mengurangi kecepatan dan menghindari lubang sehingga arus lalu lintas menjadi lebih lambat.
Bu Teti, salah seorang warga yang setiap hari menggunakan jalan tersebut, mengatakan bahwa kondisi jalan cukup mempengaruhi aktivitasnya.
“Jalan yang rusak dan banyak lubang sangat berdampak pada aktivitas sehari-hari. Kendaraan menjadi lebih cepat rusak, perjalanan sering terlambat, dan saya juga pernah jatuh saat melintas karena kondisi jalan yang membahayakan,” ujarnya.
Kondisi jalan di Kebon Gedang menunjukkan bahwa memperbaiki lubang saja belum tentu cukup untuk menyelesaikan masalah. Jika kerusakan terus muncul, faktor-faktor yang menyebabkannya juga perlu diperhatikan. Tingginya aktivitas kendaraan, kendaraan berat, kondisi drainase, genangan air, serta kualitas perbaikan sebelumnya merupakan beberapa hal yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Bagi masyarakat, harapannya tentu bukan hanya melihat lubang di jalan kembali ditambal, tetapi memiliki jalan yang aman dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama. Karena itu, memahami mengapa kerusakan terus terjadi menjadi langkah penting untuk menemukan solusi yang lebih menyeluruh bagi kondisi jalan di Kebon Gedang. (*)