Ayo Netizen

Anak Muda Sunda Harus Bisa Bahasa Jepang, tetapi Masih Bisakah Berbahasa Sunda?

Oleh: Djoko Subinarto
Ilustrasi anak muda Sunda yang bekerja di Jepang. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)

ADA kabar baik bagi warga Jawa Barat. Mulai November 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersiap menggelar pelatihan gratis empat bahasa asing bagi masyarakat desa. Bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, dan Arab disiapkan untuk membuka peluang kerja yang lebih luas, termasuk bagi calon pekerja migran.

Pelatihan intensifnya direncanakan berlangsung selama enam bulan. Kesempatan seperti ini tentu patut disambut baik. Anak muda desa tidak boleh kalah bersaing hanya karena tidak punya uang untuk mengikuti kursus bahasa. Begitu setidaknya informasi yang saya baca dari laman kantor berita ANTARA.

Dari kabar baik itu, kemudian menyeruak sebuah pertanyaan kecil, apakah anak muda Sunda yang, katakanlah, kelak fasih berbahasa Jepang, atau juga bahasa asing lainnya itu, apakah masih bisa berbicara bahasa Sunda dengan baik? 

Keberhasilan membuka pintu ke luar negeri dengan modal fasih berbahasa asing akan lebih menarik jika tidak membuat anak muda Sunda kehilangan kemampuan berkomunikasi dengan lingkungan tempat mereka tumbuh.

Sekarang, mari kita bayangkan seorang pemuda dari sebuah desa di Kecamatan Pakenjeng, Garut. Ia belajar bahasa Jepang selama enam bulan. Lulus seleksi. Lalu, terbang untuk bekerja di Negeri Sakura. 

Berkat kefasihannya berbahasa Jepang, ia bisa memperkenalkan diri, memahami instruksi, bertanya kepada atasan, dan menyampaikan keluhan dalam bahasa Jepang. Semua itu merupakan bekal penting. 

Namun, setelah beberapa tahun, manakala ia pulang kampung, toh ia juga perlu bisa bercakap-cakap dengan orang tua, memahami cerita kakek-nenek, dan mengikuti obrolan tetangga. Dalam hal ini, kemampuan berbahasa ternyata bukan cuma soal berapa banyak bahasa yang dikuasai, melainkan pula menyangkut dengan siapa kita mampu membangun hubungan.

Mempunyai nilai ekonomi

Bahasa asing mempunyai nilai ekonomi yang mudah terlihat. Kemampuan berbahasa asing membuka daya tawar kerja sekaligus bisa memberi peluang gaji yang lebih menarik. Ini pada gilirannya membuka pula kesempatan memperbaiki keadaan keluarga. 

Di sisi lain, bahasa Sunda tidak selalu menawarkan imbalan material yang langsung terasa. Anak muda mungkin bertanya, untuk apa mempelajari bahasa Sunda yang sehari-hari sudah didengar di rumah, sementara bahasa Jepang bisa membawanya bekerja ke negeri orang?

Pertanyaan itu masuk di akal. Tidak perlu dijawab dengan menyalahkan mereka karena dianggap kurang mencintai budaya sendiri.

Justru lingkungan sosiallah yang ikut menentukan pilihan bahasa. Jika orang tua terbiasa berbicara bahasa Sunda dengan anak-anaknya, percakapan itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. 

Sebaliknya, jika bahasa Sunda hanya digunakan ketika berbicara dengan kalangan terbatas, sementara semua percakapan dengan anak berlangsung dalam bahasa Indonesia, ruang penggunaannya bisa menyempit. 

Anak mungkin masih memahami bahasa Sunda, tetapi kesulitan menjawab dalam bahasa yang sama. Ia tidak benar-benar kehilangan seluruh pengetahuan terkait bahasa Sunda, tetapi kemampuan aktifnya tidak berkembang sebaik kemampuan memahaminya.

Keadaan seperti itu perlu dibedakan dari anggapan bahwa bahasa Sunda sedang ditinggalkan oleh semua anak muda. Kita tidak bisa menarik kesimpulan sebesar itu hanya dari pengamatan di satu keluarga, sekolah, atau lingkungan perkotaan. 

Badan Pusat Statistik pernah menerbitkan Profil Suku dan Keragaman Bahasa Daerah Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 pada Desember 2024. Publikasi tersebut memuat penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi keluarga dan masyarakat. Data yang termuat di dalamnya penting karena persoalan bahasa bukan hanya menyangkut jumlah orang yang mengaku bisa berbahasa Sunda, tetapi juga apakah mereka benar-benar menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menggunakan secara luwes

Dalam praktik berbahasa, ada perbedaan antara bisa berbicara, bisa membaca, dan mampu menggunakan bahasa secara luwes. Seorang anak mungkin memahami percakapan Sunda di rumah, tetapi belum tentu mampu menceritakan kembali suatu kejadian dengan runtut. 

Ia bisa mengenal kata-kata sehari-hari, tetapi belum terbiasa menyampaikan pendapat atau perasaan dalam bahasa tersebut. Kemampuan berbahasa tumbuh melalui pemakaian, bukan semata-mata melalui pengenalan kosakata. Bahasa yang jarang dipakai untuk bercerita, bercanda, berdebat, dan bertukar pikiran akan kehilangan sebagian ruang hidupnya.

Penelitian pendidikan bahasa memberi alasan untuk tidak memandang bahasa ibu -- seperti bahasa Sunda -- sebagai penghambat kemajuan. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), dalam panduannya tentang pendidikan multibahasa yang diperbarui pada Maret 2025, menjelaskan bahwa pembelajaran melalui bahasa yang dipahami anak dapat membantu pemahaman bacaan dan penguasaan materi. 

Kemampuan awal dalam bahasa pertama yang dikuasai individu juga dapat menjadi landasan untuk mempelajari bahasa tambahan. Tentu, hasilnya tidak otomatis sama di semua tempat. Mutu pengajaran, kemampuan guru, bahan belajar, dan lingkungan siswa tetap menentukan. Namun, temuan itu cukup untuk mengoreksi anggapan bahwa semakin cepat anak meninggalkan bahasa daerah, semakin mudah ia menguasai bahasa lain.

Belajar bahasa Jepang tidak dengan sendirinya mengurangi kemampuan berbahasa Sunda, sebagaimana menguasai bahasa Sunda tidak membuat seseorang otomatis kesulitan belajar bahasa Indonesia. 

Yang dibutuhkan setiap bahasa adalah kesempatan untuk digunakan. Anak muda Sunda bisa memakai bahasa Sunda untuk bercakap dengan keluarga, bahasa Indonesia untuk urusan sekolah dan komunikasi nasional, serta bahasa Jepang untuk pelatihan vokasi. Ketiganya memiliki fungsi berbeda, meskipun dalam praktiknya tentu ada ruang yang saling bertumpang tindih.

Masalahnya, pembagian fungsi itu tidak selalu berjalan mulus. Bahasa Indonesia dibutuhkan sebagai bahasa persatuan dan komunikasi lintas daerah. Bahasa asing membuka akses terhadap pengetahuan, pekerjaan, dan pergaulan internasional. Adapun bahasa Sunda membawa pengalaman lokal, ungkapan khas, humor, serta cara menyapa dan menghormati orang lain yang tumbuh dalam masyarakat Sunda. 

Ketika satu bahasa menguat, bukan berarti bahasa lain harus dilemahkan. Yang perlu diperhatikan ialah jangan sampai bahasa yang paling berguna secara ekonomi akhirnya dianggap satu-satunya bahasa yang berguna dalam kehidupan.

Program pelatihan kerja dapat tetap berfokus pada kompetensi bahasa asing, termasuk percakapan praktis, budaya kerja, dan keselamatan. Pada saat yang sama, sekolah, keluarga, dan komunitas bisa menyediakan ruang agar bahasa Sunda tetap hidup melalui cerita lokal, diskusi, karya sastra, percakapan antargenerasi, atau konten digital yang dibuat anak muda sendiri. Tidak semuanya harus menjadi mata pelajaran tambahan. Kadang-kadang, percakapan yang berlangsung rutin justru lebih berpengaruh daripada acara seremonial setahun sekali.

Bahasa Sunda tidak cukup dipajang dalam slogan, dipakai pada hari tertentu, atau dikenang melalui pakaian tradisional. Ia harus tetap berguna untuk membicarakan persoalan-persoalan hari ini. Para nonoman Sunda perlu bisa menggunakan bahasa Sunda untuk menjelaskan gagasan, membuat video, menulis cerita, membicarakan teknologi, bahkan mengkritik kebijakan publik. 

Jika bahasa Sunda hanya dikaitkan dengan masa lalu, sementara seluruh urusan modern dianggap harus disampaikan dalam bahasa lain, generasi muda Sunda akan kesulitan menemukan alasan untuk menggunakannya.

Menjaga hubungan

Anak muda Sunda tidak perlu diminta memilih antara menjadi warga dunia dan menjadi bagian dari masyarakatnya sendiri. Keduanya bukan hal yang perlu dipertentangkan. 

Kemampuan bahasa Jepang bisa membuka jalan menuju pekerjaan dan pengalaman baru. Kemampuan bahasa Indonesia memungkinkan mereka berkomunikasi di tingkat nasional. Adapun kemampuan bahasa Sunda menjaga hubungan dengan keluarga, tetangga, dan warisan budaya yang hidup di sekelilingnya. 

Tidak semua anak Sunda harus menguasai ketiga bahasa tersebut pada tingkat kemampuan yang sama. Namun, pendidikan yang baik semestinya membuka kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan bahasa sesuai kebutuhan, tanpa membuat satu bahasa terasa sebagai musuh bahasa lainnya.

Program bahasa asing gratis di Jawa Barat akan lebih bermakna jika keberhasilannya tidak berhenti pada jumlah peserta yang lulus pelatihan atau memperoleh sertifikat. Yang juga penting ialah apakah mereka benar-benar siap berkomunikasi dan bekerja dengan aman di negara tujuan, serta mampu membawa pulang pengetahuan dan pengalaman baru. 

Baca Juga: Pembinaan Akar Rumput dan Stadion Masa Depan di Bandung

Sementara itu, pengajaran bahasa Sunda tidak semestinya hanya dibebankan kepada sekolah atau pemerintah. Bahasa itu hidup pertama-tama dalam percakapan manusia, dari meja makan hingga teras rumah, dari obrolan dengan orang tua sampai cerita kepada anak-anaknya kelak.

Anak muda Sunda memang perlu belajar bahasa Jepang jika itu membuka peluang masa depan yang menjanjikan. Tetapi, alangkah baiknya jika setelah mampu mengatakan ohayo gozaimasu maupun domo arigato gozaimasu kepada rekan kerjanya di Jepang, ia tetap bisa mengucapkan wilujeng enjing maupun hatur sewu nuhun kepada tetangganya di kampung. 

Dunia yang semakin luas tidak seharusnya membuat rumah sendiri terasa semakin asing. (*)

Reporter Djoko Subinarto
Editor Aris Abdulsalam