Ayo Netizen

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Oleh: Reska Okta Nur Saputra
Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)

Belakangan ini istilah downgrade lifestyle sedang marak dibicarakan, terlebih lagi fenomena ini bukan hanya diamini oleh sebagian orang melainkan sebagian besar warga net juga melakukan hal serupa demi tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi yang tidak kunjung stabil.

Fenomena ini ditandai dengan perubahan perilaku belanja yang beragam, mulai dari mengganti kendaraan kepada kendaraan yang lebih murah, mengurangi membeli makanan di luar hingga berhenti berlangganan aplikasi hiburan. lalu apa sih sebenarnya downgrade lifestyle ini? dan mengapa warga melakukannya?

  1. Apa itu downgrade lifestyle

    Downgrade lifestyle atau yang dapat diartikan sebagai penurunan gaya hidup yang dilakukan demi menjaga kondisi keuangan di tengah ketidakstabilan ekonomi serta ketidakseimbangan antara pendapatan yang stagnan dengan harga kebutuhan yang terus mengalami kenaikan.

    Istilah ini ditandai dengan perubahan gaya hidup seseorang dari level tertentu kepada gaya hidup yang lebih sederhana dan mendasar atau kepada gaya hidup yang lebih hemat daripada biasanya.

    Misalnya, seseorang yang biasanya mengopi di coffee shop mulai memilih beralih mengonsumsi kopi rumahan dengan harapan selisih bujetnya dapat dialihkan kepada kebutuhan mendasar lain yang lebih mendesak tanpa meninggalkan kebiasaan menenggak kopi.

    Pola ini juga berulang pada kebiasan-kebiasaan lain, seperti beralih dari transportasi pribadi ke transportasi massal, mengurangi porsi berlibur hingga penggunaan detergen yang lebih ekonomis.

  2. Mengapa warga melakukannya?

    Menurut Sigit Rochadi, sosiolog Universitas Nasional. Fenomena ini dinilai sebagai langkah penyesuaian yang diambil oleh sebagian kelas menengah guna menyelaraskan kemampuan ekonomi yang menurun dengan gaya hidup, penyesuaian ini dilakukan untuk mempertahankan status sosial dengan cara menurunkan kualitas barang yang dikonsumsi.

    Sigit menilai bahwa hal ini dapat terjadi dikarenakan nilai penghasilan yang menurun akibat dari kenaikan harga pokok, kebijakan pajak dan juga pemutusan hubungan kerja, disisi lain gaya hidup tertentu telah menjadi pola konsumsi. Gaya konsumsi yang tadinya dinilai dapat dibiayai dengan penghasilan yang dimiliki kemudian dievaluasi seiring dengan perubahan kemampuan ekonomi.

    Dengan demikian, pergeseran gaya hidup bukan berarti berhenti memenuhi kebutuhan hidup, namun perubahan cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan lebih menitik beratkan kepada konsumsi substansial seperti kebutuhan rumah tangga, misalnya kebutuhan pangan harian, biaya pendidikan, kebutuhan tempat tinggal dan kesehatan.

    Sehingga perubahan yang dilakukan bukan hanya semata-mata dikarenakan pola konsumsi konsumtif melainkan juga dipengaruhi oleh hal struktural, pendapatan yang tidak seimbang dengan kenaikan harga bahan pokok dan jasa menjadi salah satu faktor yang mendorong warga untuk mengikat ikat pinggangnya lebih erat.

  3. Bagaimana menghadapi situasi in this economy?

    Pada satu sisi, fenomena ini dapat menjadi tren positif guna masyarakat untuk lebih arif dalam mengelola finansialnya. Menurut perencana keuangan Rista Zwestika, masyarakat diharap dapat membagi rencana pengeluarannya kepada tiga golongan yakni pengeluaran wajib, penting dan dapat ditangguhkan.

    Dengan menggolongkan pengeluaran, kebutuhan wajib dan sarana untuk mendapatkan penghasilan seperti kebutuhan sandang, papan, transportasi dan pangan tidak dikorbankan sedangkan pengeluaran yang bersifat dapat ditangguhkan seperti makan di luar, langganan aplikasi dan donate streamer dapat dikurangi.

Baca Juga: Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Selain bermanfaat guna menghemat pengeluaran dan mengalihkannya kepada hal yang lebih substansial, langkah downgrade gaya hidup juga dapat menjaga kestabilan keuangan yang memungkinkan disisihkan untuk tabungan, investasi dan dana darurat. Langkah ini juga, secara tidak langsung dapat mempengaruhi kondisi mental health dengan mengurasi stres finansial akibat tekanan cicilan dan belanja impulsif.

Namun, di sisi lain trend downgrade lifestyle ini juga dapat menjadi tanda bahaya bagi pemangku kebijakan untuk melakukan evaluasi terhadap situasi ekonomi terkini. Pergeseran kebutuhan dan penimbangan skala prioritas yang terjadi di tengah masyarakat merupakan sebuah mekanisme pertahanan finansial (financial coping) yang bermanfaat secara individu.

Sedangkan kepercayaan masyarakat akan kepastian ekonomi masa depan harus segera dibangun oleh pemangku kebijakan. Sebab, ketahanan finansial bukan hanya tentang seberapa hemat memenuhi kebutuhan, melainkan kehadiran negara dalam memberikan kepastian upah yang layak, harga pokok yang stabil dan kesempatan tumbuh yang setara dan tenang. (*)

Reporter Reska Okta Nur Saputra
Editor Aris Abdulsalam