Ayo Netizen

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Oleh: bram herdiana
Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)

Pada suatu hari beberapa tahun yang lalu, saya mendengar cerita ibu, seorang nenek berbicara kepada cucunya, keduanya orang Sunda. Neneknya biasa berbahasa sunda sedangkan cucunya sudah terbiasa berbahasa Indonesia karena orang tuanya mengajarkan untuk selalu berbahasa Indonesia padahal berdarah Sunda saat mengobrol.

"Jangan nakal ya...Cu...kalau nakal nanti ditampiling ku Nenek."Ungkap Neneknya.

"Apa Nek,,,ditampiling itu.?"Tanya cucunya, karena tidak mengerti bahasa Sunda.

Contoh pembicaraan di atas tersebut dapat menggambarkan ada pergeseran anggapan di mana sebagian masyarakat urban secara sadar atau tidak mengasosiasikan bahasa Indonesia atau Inggris dengan identitas yang lebih modern, maju, dan berpendidikan. Sebaliknya, bahasa daerah terkadang masih dianggap sebagai bahasa non-formal atau pedesaan oleh sebagian generasi muda.

Sejak tahun 1990-an penulis makin merasakan makin banyak orang tua muda yang memiliki balita berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan anaknya, padahal kedua orang tuanya keturunan dan bisa berbahasa Sunda. Kondisi ini menyebabkan bilingual yang tidak ngeunaheun atau terdengar tidak elok, meskipun bilingual antara bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia diperlukan karena masyarakat Sunda pun harus bisa berbahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional.

UNESCO telah menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya bahasa ibu untuk terus diperingati dalam pengertian "dipertahankan" pemakaiannya dan "diberdayakan" fungsinya. Dalam literatur sosiolinguistik makro, kajian kedua upaya tersebut adalah bahasa lazimnya tertuju pada bahasa ibu dalam konteks bilingual, yang dalam hal ini terdapat bahasa ibu atau bahasa etnis yang selaras dengan bahasa utama seperti bahasa nasional.

Hal ini relevan dengan konteks Indonesia, yang di dalamnya terdapat sekitar 700 bahasa etnis, dengan jumlah penutur yang sangat beragam dari puluhan ribu sampai puluhan juta. Sejak tahun 1951, UNESCO telah merekomendasikan penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan. Hal itu merupakan langkah konkret memelihara dan memberdayakan bahasa ibu atau bahasa daerah.

Mengapa para orang tua yang masih muda selalu mengajarkan bahasa Indonesia dengan cenderung mengabaikan bahasa Sundanya ? dari banyak faktor ada salah satunya karena kurang bergengsi kalau mengobrol atau berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda, padahal bahasa Sunda adalah bahasa Ibu suku Sunda yang harus dijaga keberadaannya jangan sampai punah alias terkikis eksistensinya.

Jadi masyarakat Sunda yang berhak menjaga atau melakukan konservasi agar bahasa Sunda tetap menjadi bahasa Ibu suku Sunda. Membiasakan berbahasa Ibu adalah sebuah perilaku yang bijaksana karena komunikasi dalam keluarga memiliki peran penting dalam merawat bahasa Ibu.

Seperti dikutip dari Jurnal UPI Bandung, budaya orang Sunda di pedesaan patut dicontoh dalam upaya konservasi budaya, yakni tetap menggunakan bahasa Sunda dalam kesehariannya. Firdaus dan Setiadi (2015: p. 1091-1092) menjelaskan bahwa urang Sunda di perkampungan, sebagai penduduk terbesar di tatar Sunda,mereka intens menggunakan bahasa ibu suku Sunda dalam keseharian.

Daerah-daerah seperti: Pameungpeuk, Bungbulang, Cikajang, Banyuresmi (Garut); Panjalu, Kawali, Cibeureum (Ciamis), Kampung Naga, Ciawi (Tasikmalaya), daerah-daerah pedesaan di Sumedang, Bandung, Bogor, Banten, dan Sukabumi masih banyak lagi daerah di mana warganya masih menggunakan bahasa Sunda dalam berkomunikasi.

Baca Juga: Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Masyarakat Sunda di daerah-daerah tersebut masih menggunakan bahasa Sunda, bahkan orang yang berasal dari luar etnik Sunda, ketika berdiam diri di perkampungan akan fasih bertutur kata bahasa Sunda. Selain itu, orang Sunda pun perlu menyadari pentingnya pelestarian bahasa Sunda di lingkungan keluarga karena jika mereka sudah merasa sungkan akan bahasanya sendiri maka lambat laun bahasa Sunda pun akan punah.

Dari kutipan di atas juga dapat disimpulkan bahwa dominansi penggunaan bahasa Sunda di lingkungan keluarga Sunda masih mendominasi dibandingkan dengan penggunaan bahasa Indonesia ataupun bahasa campuran.

Kemudian eksistensi penggunaan bahasa Sunda di lingkungan keluarga Sunda masih terlihat aktif terbukti dengan penggunaannya di berbagai kalangan dan usia dengan persentase yang lebih besar daripada penggunaan bahasa Indonesia atau campuran.

Selanjutnya solusi untuk konservasi bahasa Sunda di lingkungan keluarga Sunda adalah melalui peran orang tua dalam memperkenalkan dan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu serta membangun kesadaran kepada anak-anaknya akan pentingnya pelestarian bahasa sehingga anak-anak dapat terbiasa dan tidak merasa malu atau gengsi lagi dalam menggunakan bahasa Sunda. (*)

Reporter bram herdiana
Editor Aris Abdulsalam