Ayo Netizen

Ketika Karhutla Menjadi Pelajaran bagi Warga Bandung

Oleh: Bayu Hikmat Purwana
Kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: tribratanews.polri.go.id)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Kalimantan dan Papua, kembali mengingatkan kita bahwa hubungan manusia dengan alam menyimpan persoalan yang tidak sederhana.

Di baliknya, ada kehidupan masyarakat yang terganggu, ekosistem yang rusak, kesehatan yang terancam, serta masa depan lingkungan yang dipertaruhkan.

Bagi warga Bandung, peristiwa itu mungkin terasa jauh. Kita tidak melihat langsung api yang menjalar dan tidak selalu merasakan asap yang menyelimuti wilayah terdampak. Kehidupan sehari-hari pun berjalan sebagaimana biasa: bekerja, belajar, beraktivitas, dan sesekali membaca berita tentang karhutla di sela kesibukan.

Namun, apakah jarak geografis membuat kita cukup menjadi penonton? Barangkali kita memang tidak dapat terlibat langsung dalam pemadaman api di wilayah tersebut. Akan tetapi, kita tetap memiliki kesempatan untuk mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Bencana yang Tidak Seharusnya Dianggap Biasa

Besarnya persoalan karhutla dapat dilihat dari data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan. Pada periode Januari hingga Juli 2026, indikasi luas areal karhutla di Indonesia mencapai 202.004,30 hektare. Angka tersebut meningkat 69 persen dibandingkan tahun 2025.

Karhutla dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik kondisi alam maupun aktivitas manusia. Cuaca kering dan musim kemarau dapat meningkatkan risiko kebakaran, sementara praktik pembukaan lahan dengan cara membakar dapat memicu dan memperluas kebakaran.

Karhutla bukan persoalan yang semestinya diterima sebagai kejadian biasa hanya karena pernah terjadi sebelumnya. Ketika peristiwa serupa berulang, kita perlu bertanya bukan hanya tentang bagaimana api dipadamkan, melainkan juga tentang pelajaran apa yang telah diambil, upaya pencegahan apa yang perlu diperbaiki, dan kesadaran apa yang perlu dibangun agar risiko serupa dapat dikurangi.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting bagi pemerintah dan masyarakat di wilayah terdampak. Namun, bagi warga Bandung yang berada jauh dari lokasi kebakaran, pertanyaan itu juga dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Menghadirkan Karhutla ke Ruang Pembelajaran

Salah satu cara yang dapat dilakukan warga Bandung adalah menjadikan karhutla sebagai bahan pembelajaran yang kontekstual. Artinya, peristiwa yang terjadi di luar Bandung tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang tempat lain, tetapi digunakan untuk memahami hubungan antara manusia, lingkungan, perilaku, dan kebijakan.

Di sekolah, guru dapat mengenalkan persoalan karhutla melalui pembelajaran yang relevan. Siswa dapat mempelajari fungsi hutan, mengenali penyebab kebakaran, memahami dampak asap terhadap kesehatan, serta mendiskusikan bagaimana perilaku manusia memengaruhi keseimbangan alam.

Melalui pembelajaran tersebut, siswa dapat mengenali hubungan sebab-akibat dalam persoalan lingkungan. Mereka juga dapat berlatih menelaah berita, membaca peta sebaran kebakaran, membandingkan informasi dari sumber resmi, dan menyusun gagasan pencegahan yang sesuai dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

Di perguruan tinggi, ruang pembelajaran dapat dikembangkan lebih strategis. Mahasiswa dapat mendiskusikan karhutla dari sudut pandang ilmu lingkungan, kebijakan publik, ekonomi, kesehatan, tata kelola lahan, hingga komunikasi masyarakat. Mereka juga dapat mengkaji kebijakan pencegahan karhutla, pelaksanaan dan pengawasannya, serta dampak kebijakan tersebut terhadap kondisi lingkungan dan masyarakat di wilayah terdampak.

Mahasiswa diajak memahami bencana bukan hanya sebagai sebuah peristiwa, tetapi juga sebagai persoalan yang mungkin memiliki akar sistemik. Mereka belajar membedakan fakta dan dugaan, menilai kebijakan berdasarkan bukti, serta menyampaikan kritik yang bertanggung jawab.

Upaya-upaya tersebut bukan gagasan yang sepenuhnya baru. Program Adiwiyata, misalnya, telah lama mendorong pembentukan budaya peduli lingkungan di sekolah. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menyampaikan pada Juni 2026 bahwa program tersebut telah menjangkau lebih dari 34.000 sekolah di Indonesia.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa sekolah memiliki ruang yang luas untuk menumbuhkan budaya peduli lingkungan. Tantangannya adalah memastikan bahwa pendidikan lingkungan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, slogan, atau penghargaan, tetapi benar-benar tumbuh menjadi kebiasaan dan cara berpikir peserta didik.

Dari Ruang Kelas ke Kehidupan Sehari-hari

Pembelajaran lingkungan tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan. Komunitas, organisasi kemasyarakatan, kelompok pemuda, dan keluarga juga dapat mengambil peran.

Di lingkungan masyarakat, karhutla dapat menjadi bahan diskusi yang menghubungkan persoalan nasional dengan perilaku lokal. Forum warga dapat membicarakan pentingnya menjaga ruang terbuka hijau, mengurangi pencemaran, mengelola sampah dengan baik, serta mencegah pembakaran sampah yang berisiko menimbulkan kebakaran.

Pembakaran sampah di lingkungan permukiman memang tidak sama dengan karhutla yang memiliki konteks dan skala berbeda. Namun, keduanya dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa penggunaan api dan pengelolaan lingkungan membutuhkan tanggung jawab.

Di tempat kerja, termasuk instansi pemerintah, kepedulian ekologis bukan hanya persoalan kebersihan kantor atau penghematan penggunaan kertas. Kesadaran itu juga perlu tercermin dalam cara memahami masalah publik, merancang program, menggunakan anggaran, melakukan pengawasan, dan mengevaluasi dampak kebijakan.

Oleh karena itu, setiap orang maupun lembaga dapat belajar melihat persoalan lingkungan sebagai bagian dari kepentingan publik. Sementara itu, mereka yang memiliki kewenangan perlu memastikan bahwa pertimbangan lingkungan tidak sekadar menjadi formalitas dalam pengambilan keputusan pembangunan.

Kepedulian Harus Bertemu dengan Tanggung Jawab

Pendidikan lingkungan tidak dapat menggantikan tugas pemerintah dalam mencegah dan menangani karhutla. Masyarakat yang semakin peduli tetap membutuhkan kebijakan yang jelas, pengawasan yang efektif, penegakan hukum yang adil, serta tata kelola lahan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Dengan demikian, pendidikan lingkungan bukan sekadar mengajak masyarakat menjadi lebih peduli, melainkan juga membantu mereka membangun cara berpikir yang lebih jernih, mengenali persoalan secara proporsional, dan berpartisipasi dalam upaya perbaikan secara bertanggung jawab.

Kita membutuhkan masyarakat yang berani menyuarakan kepedulian sekaligus mampu membedakan fakta, dugaan, dan penilaian. Kita juga membutuhkan penyelenggara pemerintahan yang terbuka terhadap kritik serta bersungguh-sungguh menerjemahkan kepedulian terhadap lingkungan ke dalam tindakan nyata. Keduanya perlu berjalan beriringan.

Menanam Kesadaran untuk Masa Depan

Membangun kesadaran lingkungan bukanlah pekerjaan yang hasilnya dapat terlihat dalam waktu singkat. Diskusi di ruang kelas, kampus, dan komunitas belum tentu langsung mengubah perilaku atau memengaruhi kebijakan. Namun, pembelajaran yang dilakukan secara berkelanjutan dapat menjadi bekal untuk memahami persoalan lingkungan dan mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab.

Karena itu, membangun kesadaran lingkungan perlu berjalan bersama pembiasaan, keteladanan, dukungan sistem, dan kebijakan yang konsisten. Kesadaran akan lebih mudah tumbuh menjadi perilaku ketika lingkungan sosial mendukung dan lembaga-lembaga terkait menunjukkan komitmennya.

Mereka yang hari ini duduk di bangku pendidikan di Kota Bandung kelak akan mengambil berbagai peran dalam masyarakat. Sebagian mungkin menjadi guru, peneliti, pengusaha, pemimpin komunitas, aparatur pemerintah, atau pengambil kebijakan.

Pengetahuan dan kesadaran yang ditanamkan secara terstruktur dapat menjadi bekal untuk mengenali risiko, mempertimbangkan dampak ekologis, dan menghindari pengulangan kekeliruan yang sama. Namun, kesadaran masyarakat perlu bertemu dengan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan, pengawasan yang kuat, dan tindakan nyata dari semua pihak sesuai dengan perannya.

Warga Bandung mungkin tidak dapat menjangkau api yang membakar hutan di titik karhutla saat ini. Namun, kita dapat ikut menumbuhkan kesadaran yang kelak hadir di ruang-ruang pengambilan keputusan dan di tengah masyarakat.

Semoga karhutla kelak hanya tinggal sebagai pelajaran berharga yang tercatat dalam sejarah, bukan menjadi warisan bencana yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)

Reporter Bayu Hikmat Purwana
Editor Aris Abdulsalam