Asap karhutla tidak hanya membakar ekosistem kehidupan dan merenggut setiap nafas-nafas kehidupan flora, fauna juga manusia. Asap Karhutla juga berdampak pada kesehatan saluran pernapasan yaitu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Dilansir dari kompas.com bahwa kasus karhutla telah telah memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mencapai 333.470 kasus secara nasional per Oktober 2026 termasuk melibatkan 75.172 balita.
Ibu hamil termasuk menjadi salah satu kelompok rentan karena mengalami perubahan fisiologis, hormonis hingga psikologis sehingga membuat tubuhnya rentan terganggu oleh kondisi yang darurat, penyakit dan lingkungan yang buruk dan salah satunya adalah asap karhutla.
Menurut regulasi dan panduan penanganan bencana (BNBP), Ibu hamil juga resmi dikategorikan sebagai kelompok rentan bersama bayi, ibu menyusui, anak-anak, lansia dan penyandang disabilitas.
Sebuah jurnal kesehatan menyebutkan dampak terpaparnya asap karhutla dalam jangka waktu yang panjang sangat berpotensi menyebabkan stunting pada bayi. Masih dengan narasumber yang sama yang pernah saya wawancarai untuk dampak asap karhutla yang terjadi di Palangkaraya. Dampak ini juga terjadi pada ibu hamil yang tentunya sangat berpengaruh terhadap perkembangan janin yang ada dalam kandungan.
Menurut narasumber kondisi ini juga diperparah dengan living cost yang makin tinggi. Jadi ibu hamil tak hanya terganggu secara kesehatan tapi juga pengeluaran yang semakin membengkak. Untuk menjaga kondisi rumah tetap dalam kondisi yang memadai maka diperlukan biaya yang harus dikeluarkan untuk membersihkan udara yang sudah tercemari oleh asap karhutla. Rumah dengan udara yang bersih harus di support dengan air purifer dan tentu harganya tidak murah.
Kondisi asap yang tidak teratasi dengan baik tentu bisa menimbulkan dampak yang berkepanjangan terutama untuk kelompok rentan. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh pakar Universitas Indonesia bernama Ns. Suryane Sulistiana Susanti, S.Kp., M.N.Sc., Ph.D. bahkan dampak karhutla tidak hanya sebatas pada gangguan pernapasan melainkan juga terhadap potensi kelahiran prematur.
Menurutnya tingginya resiko didukung oleh tingkat dan frekuensi terpaparnya ibu hamil terhadap asap karhutla. Polusi udara yang terhirup oleh ibu hamil bisa menyebabkan peradangan dan stres yang oksidatif yang berpotensi berpengaruh terhadap janin dan perkembangan lingkungannya.
Sejauh ini ada penelitian yang menemukan bahwa salah satu mekanisme yang diteliti adalah perubahan epigenetik yaitu sebuah perubahan dalam pengaturan posisi DNA. Meski demikian tidak berarti semua ibu hamil yang terpapar asap karhutla akan mengelami kondisi yang sama. Namun mitigasi yang bisa mengurangi dampak perlu tetap ditangani dengan baik.
Sejauh ini kelompok tenaga dan fasilitas kesehatan yang dibutuhkan perannya untuk terus mengedukasi ibu hamil terhadap kondisi kesehatannya. Salah satu edukasi kepada Ibu hamil yaitu diwajibkan menggunakan masker respirator N-95 dan menjaga kondisi ruangan tetap bersih dan mengikuti peringatan resmi. (*)