Ayo Netizen

‎Dari 'Deadline' hingga 'Healing': Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percakapan Sehari-hari ‎

Oleh: Sri Kurniawati
Wawancara kepada Mahasiswa: Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percapakan Sehari-Hari (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

“Deadline tugasnya kapan?” “Aku lagi healing dulu.” “Nanti kita meeting, ya.” Kalimat-kalimat tersebut semakin mudah ditemukan dalam percakapan sehari-hari anak muda Indonesia. Sejumlah kata berbahasa Inggris kini digunakan berdampingan dengan bahasa Indonesia, baik dalam percakapan langsung maupun komunikasi di media sosial.

‎Penggunaan istilah seperti deadline, meeting, healing, overthinking, random, hingga literally menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan masyarakat terus mengalami perkembangan. Kata-kata dari bahasa Inggris tidak selalu digunakan dalam konteks formal, tetapi telah masuk ke percakapan sehari-hari dengan makna dan konteks yang terkadang menyesuaikan kebiasaan penuturnya.

‎Fenomena tersebut tidak terlepas dari semakin dekatnya masyarakat dengan internet dan media sosial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat 2025 menunjukkan bahwa dari penduduk berusia 5 tahun ke atas yang menggunakan internet dalam tiga bulan terakhir, 80,85 persen menggunakannya untuk mendapatkan informasi dan 79,65 persen untuk media sosial.

‎Bahasa yang Berubah Mengikuti Penggunanya

‎Bahasa pada dasarnya tidak bersifat tetap. Perkembangan teknologi, interaksi antarmasyarakat, budaya populer, serta media sosial dapat memperkenalkan kosakata dan cara berkomunikasi baru.

‎Bagi sebagian anak muda, menggunakan istilah bahasa Inggris dalam percakapan dapat terasa lebih singkat atau lebih sesuai dengan konteks yang sedang dibicarakan. Kata deadline, misalnya, sering digunakan untuk menyebut batas waktu suatu pekerjaan, sedangkan meeting digunakan untuk menyebut pertemuan.

‎Namun, penggunaan kata tersebut juga tidak selalu berarti penuturnya sedang menggunakan bahasa Inggris secara keseluruhan. Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dapat muncul dalam satu percakapan dan membentuk apa yang dalam kajian linguistik dikenal sebagai code-switching atau code-mixing, bergantung pada konteks penggunaannya.

‎

Wawancara secara langsung kepada mahasiswa (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

“Menurut saya, menggunakan istilah bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari itu sudah menjadi kebiasaan, terutama di lingkungan kampus. Kadang, kata seperti deadline atau meeting terasa lebih praktis dan sudah dipahami oleh teman-teman. Jadi, penggunaannya bukan karena ingin terlihat keren, tetapi karena memang sudah terbiasa,” ujar Ari.

‎Penggunaan bahasa campuran tersebut juga dapat ditemukan di lingkungan kampus. Dalam percakapan antarmahasiswa, istilah dari bahasa Inggris sering muncul ketika membicarakan tugas, organisasi, pekerjaan, maupun aktivitas di media sosial.

‎Media Sosial dan Penyebaran Istilah Baru

Media sosial menjadi salah satu ruang yang mempercepat pertemuan masyarakat dengan berbagai bentuk bahasa. Istilah yang awalnya digunakan oleh kelompok tertentu dapat menyebar dengan cepat melalui video, komentar, unggahan, maupun percakapan digital.

‎Data BPS menunjukkan bahwa internet digunakan tidak hanya untuk media sosial, tetapi juga untuk hiburan, mendapatkan informasi, pembelian barang dan jasa, hingga pembuatan konten digital. Pada 2025, 87,53 persen pengguna internet berusia 5 tahun ke atas menggunakannya untuk hiburan dan 13,66 persen untuk pembuatan konten digital.

‎Paparan terhadap konten berbahasa Inggris menjadi salah satu bagian dari lingkungan digital tersebut. Musik, film, serial, video pendek, gim, hingga konten kreator dapat memperkenalkan istilah baru kepada pengguna internet.

‎“Aku sering menemukan istilah bahasa Inggris dari TikTok, Instagram, atau video yang lewat di beranda. Awalnya cuma melihat orang lain menggunakan kata seperti healing, overthinking, atau literally, tetapi lama-lama jadi ikut menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Kadang istilah itu terasa lebih praktis karena teman-teman juga sudah memahami maksudnya,” ujar seorang pengguna media sosial.

‎Tidak Selalu Berarti Menggantikan Bahasa Indonesia

‎Masuknya istilah bahasa Inggris ke dalam percakapan sehari-hari tidak otomatis berarti bahasa Indonesia ditinggalkan. Dalam banyak situasi, kedua bahasa justru digunakan secara berdampingan.

‎Pilihan bahasa dapat berubah berdasarkan lawan bicara dan situasi. Percakapan bersama teman sebaya dapat menggunakan lebih banyak istilah informal, sedangkan komunikasi dengan dosen, orang tua, atau dalam situasi resmi cenderung membutuhkan bahasa yang lebih formal.

‎Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan berbahasa bukan hanya berkaitan dengan mengetahui kosakata, tetapi juga memahami kapan dan bagaimana sebuah bahasa digunakan.

‎Bahasa sebagai Cerminan Perubahan Zaman

‎Perkembangan penggunaan istilah bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari menjadi salah satu contoh bagaimana bahasa mengikuti perubahan masyarakat. Teknologi dan media sosial membuat interaksi dengan bahasa lain menjadi semakin mudah, sementara pengguna kemudian menyesuaikan istilah tersebut dengan lingkungan komunikasi mereka.

‎Bagi mahasiswa Sastra Inggris, fenomena tersebut dapat menjadi ruang untuk melihat bahasa tidak hanya sebagai materi akademik, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial. Perubahan kosakata, gaya komunikasi, dan penggunaan bahasa campuran menunjukkan bahwa bahasa terus bergerak mengikuti penggunanya.

‎Pada akhirnya, munculnya kata-kata bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari bukan sekadar persoalan tren. Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana bahasa, teknologi, dan budaya populer saling berinteraksi dalam membentuk cara masyarakat berkomunikasi. (*)

Reporter Sri Kurniawati
Editor Aris Abdulsalam