Setiap tempo pada Gamelan Sorawatu merupakan instrumen yang menautkan diri dengan semesta sambil bernyanyi, suara-suara lirih dari berbagai elemen bunyi seperti : angin sepoi-sepoi, air mengalir, api membara, dan lain-lain sebagai bentuk kepekaan seorang Nayaga bahwa sebenarnya semesta ikut berkontribusi dalam menciptakan sebuah instrumen. Ada pepatah bahwa : "setiap hari bumi ini bernyanyi" pepatah itu disepakati karena bumi memiliki berbagai elemen-elemen bunyi mulai dari laut, darat, dan udara. Seorang Nayaga turut merespon bunyi itu, lalu memainkannya di ancak masing-masing menjadikannya komposisi melalui musyawarah mufakat.
Bermain Gamelan Sorawatu bagian dari terapi musik musica instrumentalis pada tataran fisika. Djohan (2006) dalam buku Terapi Musik, Teori, dan Aplikasi "sumber suara berada di seluruh muka bumi tanpa dibatasi oleh wilayah dan budaya" setiap Nayaga diberi kebebasan untuk mengungkapkan respon bunyi pada bumi yang menghasilkan ritme sebagai dasar menciptakan instrumen, sehingga dapat membantu mengeskplorasi tempo dan dinamika serta merangsang kreativitas setiap Nayaga membaca "Bumi" menjadi komposisi.
Bumi sebagai Komposisi
Komposisi bumi lahir dari anak-anak manis tingkat SD (Sekolah Dasar) ini baru pertama kali, dan tercatat sebagai Nayaga Sorawatu generasi ke - 4 (Gamelan Sorawatu Anak).

Gamelan Sorawatu bisa dimainkan oleh siapa saja dengan latar belakang berbeda sekali pun. Karena Gamelan ini berbeda dari gamelan lain yang memakai aturan pakem bunyi, Gamelan Sorawatu justru telah membuktikan jati dirinya bahwa "tidak ada manusia, yang tidak bisa bermain musik" faktanya manusia bisa mengekspresikan bunyi melalui batu yang telah tersusun di atas ancak berongga itu menjadi komunikasi bunyi.
Komunikasi bunyi terjadi adanya emosional yang bisa diterima. Instrumen menautkan diri, memanjakan telinga bukan hanya bagi Nayaga tapi kepada pendengarnya. Sebagai musik instrumental Sorawatu memiliki jembatan dari segala ilmu berkaitan seperti : "matematika, bahasa, pendidikan pancasila, dan berbagai cabang ilmu lainnya." Interaksi ini mengajarkan tentang nilai harmoni dan gotong royong.
Gamelan Sorawatu Bukan Sekadar Instrumen
Setiap bunyi dihasilkan dari gelombang suara, mengontruksi logika rasa manusia. Getaran batu di pukul memiliki frekuensi yang mampu memicu ketenangan batin bagi pendengar ataupun Nayaganya bahwa bermain musik itu bukan sekadar.
Kita bisa menikmati setiap alunan instrumen sebagai relaksasi ketenangan, harmoni penuh keselarasan. Ludwig Van Beethoven "Musik memegang kunci tentang siapa kita sebanarnya" hal tersebut benar adanya karena musik memiliki kemampuan meresapi kebenaran tentang eksistensi manusia yang sulit dijangkau atau dijelaskan.
Dari sini Gamelan Sorawatu bukan sekadar sarana hiburan, melainkan filosofi yang membentuk bahasa universal tentang rahasia alam semesta. Kehadiran "Bumi" sebagai komposisi instrumen memberikan pencerahan spiritual, seringkali berada di luar batas nalar sehingga perlu penjelasan secara rasional kepada pendengar yang menikmatinya dengan bahasa sederhana. (*)