Ayo Netizen

Review Film The Love Hypothesis: Film Rom-com Kampus yang Menguji Cinta

Oleh: Putu Thita Marchelita Fridayanti
Poster Film The Love Hypothesis. (Sumber: Primevideo)

Film romantis The Love Hypothesis, film komedi romantis yang tayang pada 23 September 2026 di Prime Video. Disutradarai oleh Claire Scanlon, film ini diadaptasi dari novel populer karya Ali Hazelwood. Lili Reinhart berperan sebagai Olive Smith, sedangkan Tom Bateman memerankan Adam Carlsen. Keduanya terlibat dalam hubungan pura-pura dengan kepentingan masing-masing.

Melalui kisah tersebut, The Love Hypothesis menawarkan romansa kampus dengan pola yang familier. Namun, latar akademik, karakter yang bertolak belakang, dan situasi canggung yang mengundang tawa membuat film ini memiliki daya tarik tersendiri. Lantas, bagaimana genre dan gaya filmnya menghidupkan kisah cinta Olive dan Adam?

Sinopsis: Ketika Cinta Menjadi Sebuah Hipotesis

Olive Smith adalah mahasiswa doktoral biologi yang berfokus pada masa depannya di dunia akademik. Ketika mengetahui bahwa sahabatnya, Anh (Rachel Marsh), menyukai Jeremy (Nicholas Duvernay), pria yang pernah dekat dengan Olive, ia secara impulsif mencium seorang pria di lorong kampus untuk meyakinkan Anh bahwa dirinya sudah move on.

Masalahnya, pria tersebut adalah Adam Carlsen (Tom Bateman), profesor yang terkenal dingin, kritis, dan ditakuti mahasiswa. Ciuman spontan di lorong tersebut berfungsi sebagai meet-cute, yaitu pertemuan canggung antara dua tokoh utama yang menjadi awal kisah cinta dalam rom-com. Dari kejadian tak terduga itu, keduanya sepakat menjalani hubungan pura-pura yang menguntungkan mereka masing-masing.

Seiring berjalannya waktu, hubungan yang awalnya dibangun berdasarkan kesepakatan mulai menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Bagi Olive yang terbiasa berpikir secara ilmiah, cinta menjadi sesuatu yang tidak mudah diprediksi. Apa yang awalnya tampak seperti eksperimen sederhana justru membuatnya mempertanyakan perasaannya sendiri.

Genre & Gaya Film Romcom : Pola Lama dengan Sentuhan Dunia Akademik

Sebagai film  romantic  comedy  atau  rom-com , The Love Hypothesis menggabungkan kisah romantis dengan situasi yang mengundang tawa. Ceritanya menggunakan pola fake dating, yaitu ketika dua orang berpura-pura menjadi pasangan, tetapi perlahan mengembangkan perasaan yang sesungguhnya.

Menurut Steve Neale (1980), genre dibentuk oleh kode dan konvensi yang memiliki pola berulang, tetapi tetap menghadirkan perbedaan di setiap karya (Astuti, 2022). Genre juga membantu penonton membayangkan jenis cerita yang akan mereka saksikan, memahami alurnya, serta menikmati hiburan dengan menebak apa yang mungkin terjadi selanjutnya (Astuti, 2022). Dalam film, komedi mengandalkan kelucuan dari cerita maupun penokohan, sedangkan romansa berfokus pada kisah cinta sepasang kekasih yang dapat membawa penonton ikut merasakan suasana romantis (Utama et al., 2023).

Pola ini bukan hal baru dalam film romansa. The Proposal (2009), misalnya, juga mengisahkan dua orang yang berpura-pura menjalin hubungan karena kepentingan tertentu, sebelum perasaan mereka berkembang di luar rencana awal. Bedanya, The Proposal berlatar dunia kerja penerbitan, sedangkan The Love Hypothesis berlatar kampus. Dalam kedua film tersebut, arah hubungan tokoh utamanya relatif mudah ditebak. Karena itu, daya tariknya bukan terletak pada kejutan akhir, melainkan pada bagaimana hubungan mereka berkembang.

Menurut saya, daya tarik The Love Hypothesis terletak pada cara film ini memadukan pola tersebut dengan kehidupan akademik. Olive terbiasa mengandalkan hipotesis dan data, sementara Adam merupakan profesor dengan reputasi yang membuat mahasiswa segan kepadanya. Latar ini memberikan ruang bagi humor yang muncul dari perbedaan karakter sekaligus cara mereka menghadapi hubungan.

Judul The Love Hypothesis pun terasa relevan dengan keseluruhan cerita. Hipotesis digunakan untuk menguji dugaan berdasarkan pengamatan, sedangkan perasaan manusia tidak selalu dapat dijelaskan melalui perhitungan. Olive dan Adam bisa menyepakati bagaimana mereka harus bersikap sebagai pasangan, tetapi tidak bisa sepenuhnya mengatur apa yang mereka rasakan. Kontras inilah yang membuat gagasan eksperimen cinta menjadi lebih dari sekadar judul.

Dinamika tersebut semakin terlihat melalui pola karakter grumpy x sunshine. Adam digambarkan dingin dan sulit didekati, sedangkan Olive lebih terbuka dan ekspresif. Perbedaan ini bukan hanya menjadi daya tarik romantis, tetapi juga sumber komedi. Ketika keduanya harus berpura-pura mesra di hadapan orang lain, sikap Adam yang kaku justru berbenturan dengan situasi yang menuntutnya terlihat romantis.

Salah satu contoh yang menarik terlihat dalam adegan di kafe, sekitar menit ke-27.04 hingga ke-30.50. Adam memasuki ruangan dengan kemeja hitam, postur tegap, dan ekspresi serius. Kostum dan penampilannya, yang merupakan bagian dari mise-en-scène, memberikan kesan. Penampilannya memberikan kesan bahwa ia selalu berada dalam suasana formal, bahkan ketika hanya membeli minuman.

Kesan tersebut menjadi lucu karena bertolak belakang dengan suasana kafe yang santai. Penampilan Adam yang serius, dipadukan dengan musik latar yang mendukung kesan dramatis pada kehadirannya, membangun kontras dengan aktivitas sehari-hari di sekitarnya. Perpaduan ini memperkuat unsur komedi karena karakter Adam seolah membawa suasana tegang ke tempat yang seharusnya terasa santai.

Humor kemudian berkembang melalui interaksi sederhana. Ketika barista bertanya apakah mereka bersama, Olive dan Adam spontan saling melirik lalu terdiam. Pertanyaan yang berkaitan dengan pembayaran itu justru terdengar seperti konfirmasi bahwa mereka adalah pasangan. Kecanggungan keduanya menjadi sumber kelucuan tanpa perlu dialog yang berlebihan, karena humor dibangun lewat akting yang bertumpu pada tatapan dan jeda hening.

Adegan semakin menarik ketika Anh dan Malcolm (Jaboukie Young-White) datang. Olive meminta Adam bersikap lebih alami dan tersenyum bahagia agar hubungan pura-pura mereka terlihat meyakinkan. Adam yang biasanya dingin pun harus berusaha memainkan peran sebagai kekasih. Ketika berpamitan, ia bahkan memanggil Olive dengan sebutan sayang dan menciumnya sebelum pergi.

Menurut saya, bagian ini menunjukkan bagaimana gaya komedi The Love Hypothesis bekerja melalui perpaduan dialog, ekspresi, bahasa tubuh, dan situasi yang canggung. Kelucuannya tidak hanya muncul dari perkataan tokoh, tetapi juga dari perbedaan antara sikap Adam yang biasanya kaku dan peran romantis yang harus ia mainkan.

Adegan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana unsur komedi dan romansa saling mendukung. Usaha Adam untuk terlihat seperti kekasih yang perhatian memang mengundang tawa, tetapi pada saat yang sama membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih dekat. Dengan begitu, adegan sederhana seperti membeli minuman dan bertemu teman tidak hanya menjadi selingan lucu, tetapi juga bagian dari perkembangan hubungan kedua tokoh.

Review Film: Layak Ditonton atau Tidak?

Secara keseluruhan, The Love Hypothesis adalah film komedi romantis berlatar akademik yang berhasil mengeksekusi elemen familier seperti fake dating dan grumpy x sunshine dengan apik. Meski alurnya terbilang mudah ditebak, daya tariknya justru kuat pada konsep "eksperimen cinta" dan komedi canggung dari interaksi Olive dan Adam. Film ini mungkin tidak menawarkan kebaruan cerita, tetapi perjalanan kedua tokohnya dalam memahami perasaan dieksekusi dengan sangat menghibur.

Jadi, The Love Hypothesis adalah film rom-com yang layak ditonton. Oleh karena itu, saya memberikan rating pribadi 8,5/10, karena film ini tetap menjadi hiburan yang menyenangkan dan pantas masuk daftar tontonan pencinta romansa kampus. (*)

Reporter Putu Thita Marchelita Fridayanti
Editor Aris Abdulsalam