Ayo Netizen

Dari Papua ke Jawa Barat: Karhutla dan Peran Warga Bandung

Oleh: Sinta celaudia
Ilustrasi kebakaran hutan di Papua. (Sumber: AI Generator | Foto: Ilustrasi AI)

Kabar karhutla 2026 sering datang dari pulau yang jauh dari Bandung. MADANI Berkelanjutan menghitung area indikatif terbakar di Papua Selatan mencapai 41.790 hektare, terluas kedua setelah Kalimantan Barat, dan 89,5 persen di antaranya terindikasi terbakar pada Juli saja (IDN Times, 6 Agustus 2026). Dengan angka sebesar itu, kita gampang menganggap karhutla urusan orang lain. (idntimes)

Kabar terbaru membawa sedikit kelegaan. BMKG Wilayah V Jayapura melaporkan pada 22 Oktober 2026 bahwa jumlah titik panas turun dari 3.487 menjadi 628, dengan Papua Selatan masih terbanyak (483 titik). Meski begitu, petugas dan warga di sana tetap perlu waspada (Metro TV, 22 Oktober 2026). Namun, Papua bukan satu-satunya tempat api menyala. (metrotvnews)

Jawa Barat punya catatannya sendiri. Berdasarkan rekapitulasi BPBD Jabar hingga 19 Oktober 2026, tercatat 526 kejadian karhutla tahun ini dengan luas terbakar 1.082,76 hektare. Kabupaten Bandung menyumbang 32 kejadian di antaranya (Metro TV, 20 Oktober 2026). (metrotvnews)

Contohnya terjadi di Bandung Raya, tepatnya pada 27 Juli 2026 di Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Menurut keterangan warga yang dikutip BNPB, api berawal dari area pemakaman lalu merambat ke sekitar satu hektare lahan (Okezone, 28 Juli 2026). Kejadian ini menunjukkan api bisa menyala di dekat tempat kita tinggal dan beraktivitas. (rctiplus)

Karena api bisa muncul sedekat itu, langkah yang paling masuk akal adalah mencegahnya di lingkungan sendiri. Kita memang tidak bisa ikut memadamkan api di Papua, tetapi warga Bandung Raya bisa menurunkan risiko di sekitar rumah masing-masing.

Ada empat langkah sederhana yang bisa dimulai dari mana saja.

  • Pertama, jangan membakar apa pun di ruang terbuka. BPBD Provinsi Jawa Barat mengimbau warga tidak melakukan pembakaran terbuka, baik untuk membersihkan lahan maupun membakar sampah, terutama di kawasan kering yang gampang terbakar (Metro TV, 20 Oktober 2026). Kelola sampah dengan cara yang aman dan sesuai aturan setempat. (metrotvnews)
  • Kedua, waspadai puntung rokok. BPBD Jabar mengingatkan warga agar tidak membuang puntung rokok sembarangan di musim kemarau (Media Indonesia, 28 Juli 2026). Padamkan apinya sampai mati, lalu buang di tempat yang tepat. (metrotvnews)
  • Ketiga, lapor segera bila pencegahan gagal. Jika kamu melihat titik api atau tanda kebakaran di sekitar rumah, kampus, atau lingkungan tempat tinggalmu, hubungi BPBD atau petugas pemadam kebakaran setempat. Sebut lokasi seterang mungkin dan menjauhlah dari area berbahaya. BPBD Jabar meminta warga cepat melapor supaya petugas bisa menangani api sebelum meluas (Metro TV, 20 Oktober 2026). (metrotvnews)
  • Keempat, ajak orang di sekitarmu. Ketiga langkah tadi lebih kuat bila dijalankan bersama. Ingatkan tetangga tentang bahaya pembakaran terbuka, bagikan informasi pencegahan di grup RT atau kampus, dan jaga lingkungan tetap aman.

Karhutla Papua menunjukkan seberapa besar api bisa tumbuh, dan kejadian di Kutawaringin menunjukkan api serupa bisa muncul di Bandung Raya. Kita tidak bisa memadamkan api di semua wilayah, tetapi kita bisa mencegahnya di lingkungan sendiri. Perhatian pada masalah yang jauh bisa dimulai dari kebiasaan di depan rumah, seperti tidak membakar sampah. (*)

Reporter Sinta celaudia
Editor Aris Abdulsalam