Beranda

Suara Perempuan di Garis Depan Perlawanan yang Disisihkan Narasi Kebijakan

Oleh: Halwa Raudhatul Selasa 16 Des 2025, 07:38 WIB
Suasan diskusi buku “Pembangunan Untuk Siapa: Kisah Perempuan di Kampung Kami” Minggu (14/12) di perpustaakan Bunga di Tembok, Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Diskusi buku “Pembangunan Untuk Siapa: Kisah Perempuan di Kampung Kami” pada akhir pekan lalu menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus refleksi atas praktik pembangunan yang kerap mengorbankan warga.

Forum ini menghadirkan suara-suara perempuan yang selama ini berada di garis depan perlawanan, namun sering disisihkan dalam narasi kebijakan. Dari cerita personal hingga analisis struktural, diskusi ini membuka kembali pertanyaan mendasar: pembangunan untuk siapa dan dengan harga apa.

Suasana diskusi yang dihadiri oleh mayoritas perempuan dan menghadirkan narasumber perempuan ini menjadi ruang refleksi atas perjuangan yang dialami para perempuan dalam membela hak hidup mereka.

Bukan sekadar bedah buku, diskusi ini menghadirkan salah satu perwakilan Forum Tamansari Melawan, Eva Eryani Effendi, aktivis perempuan yang menjadi garda terdepan dalam perlawanan penggusuran lahan sejak 2017 di Tamansari, Bandung, melawan kebijakan Pemerintah Kota Bandung.

“Saya enggak nyangka, kami akan berhadapan dengan 1.600 aparat gabungan,” ungkap Eva.

Mengapa Perempuan Menjadi Benteng Terakhir?

Konflik penggusuran lahan bermula pada 2017, saat Pemkot Bandung yang kala itu dipimpin Ridwan Kamil berencana membangun rumah deret di lahan RW 11 Tamansari. Warga menolak digusur karena menganggap memiliki hak atas tanah yang telah mereka tinggali puluhan tahun sejak 1960-an dan 1970-an. Sementara itu, Pemkot Bandung mengklaim lahan tersebut sebagai aset daerah berdasarkan Akta Jual Beli (AJB) tahun 1941 dan 2020.

Eva bercerita, pada 6 Oktober 2017 warga menerima Surat Keterangan (SK) terkait proyek rumah deret. “Di situ kan di SK itu sebenarnya (judulnya) kompensasi dan relokasi ke Rancacili. Tapi, ternyata isinya hanya diberi 20 persen kerohiman, bukan kompensasi,” ucapnya.

Rencana pembangunan rumah deret tersebut akan dilakukan di atas lahan seluas 8.334 meter persegi atau mencakup sekitar delapan RT di RW 11 Tamansari.

“Di 2021 itu banyak sekali warga akhirnya terpecah dan mereka akhirnya terpaksa menerima kompensasinya, saya nggak tahu,” ucap Eva.

Eva menambahkan, “Akhirnya rumah terakhir saya, yang saya bangun dari tahun 2021, saya bakar. Karena saya melihat bagaimana dulu warga Bandung tidak rela untuk diambil oleh Belanda. Dan saya bakar sendiri rumah saya yang saya bangun, itu adalah hasil perjuangan,” ucapnya lirih di hadapan para peserta diskusi.

“Sampai hari ini, bangunan yang satu-satunya kami bisa pertahankan adalah masjid,” tambah Eva.

Pengacara publik sekaligus Kepala Divisi Internal LBH Bandung, Maulida Zahra Kamila, menyebut, “Pembangunan-pembangunan itu pertanyaan nya untuk siapa? karena masyarakat sendiri benar-benar yang justru merasakan dampaknya. Jadi kehilangan tempat tinggal dan mata pencarian,” ungkapnya.

Eva juga menyampaikan putusan dari Ombudsman menyatakan bahwa 12 Desember 2019 adanya maladministrasi dari Pemkot Bandung. "Tapi sampai hari ini tidak ada pertanggung jawaban,” ungkapnya pendek.

“Kenapa saya harus di sini, mungkin untuk mengingatkan teman-teman. Bagaimana Bandung akan seperti apa ketika penggusuran di Anyer habis oleh Heritage PT. KAI, Kebun Jeruk untuk parkir stasiun, Sukahaji bagaimana dengan swasta yang melibatkan preman-preman walaupun statusnya itu tanah negara bebas,” tambah Eva.

Gerakan Tamansari Melawan menjadi simbol perlawanan terhadap model pembangunan yang eksploitatif. Eva tampil sebagai representasi perempuan Tamansari yang memperjuangkan hak hidupnya di tanah sendiri.

Redaktur khusus Konde.co, Elizabeth Anita Dhewy, menyampaikan di tengah perampasan dan kerusakan ruang hidup ini, ada sebuah proses transformasi yang tak boleh dilupakan.

"Kalau saya lihat yang dilakukan oleh perempuan. Bagaimana kemudian mereka mengorganisir diri, mereka bertahan, berjuang, di tengah segala keterbatasan ketika ruang hidupnya itu dirusak,” tutupnya.

Reporter Halwa Raudhatul
Editor Andres Fatubun