Pangku: Surat Cinta untuk Perempuan

6 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Salah satu adegan dalam film Pangku. (Sumber: Youtube/Gambar Gerak Film)
Salah satu adegan dalam film Pangku. (Sumber: Youtube/Gambar Gerak Film)

Di malam puncak Festival Film Indonesia (FFI) 2025, Pangku menoreh prestasi gemilang, memenangkan empat Piala Citra untuk Penulis Skenario Asli Terbaik (Reza Rahadian & Felix K. Nesi), Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik (Christine Hakim), Penata Artistik Terbaik (Eros Eflin), dan Gong nya meraih kategori Film Cerita Panjang Terbaik.

Bagi Reza Rahadian, yang untuk pertama kalinya menjajal karier sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, momen ini terasa sangat emosional, ia meneteskan air mata di atas panggung penghargaan. Reza sendiri menyebut film ini sebagai ungkapan terima kasih kepada perempuan-perempuan yang berjuang di tengah keterbatasan.

Mengangkat Kisah yang Sunyi, Tapi Penuh Kehangatan

Cerita Pangku berpusat pada Sartika (diperankan oleh Claresta Taufan), seorang ibu muda yang bekerja sebagai pelayan kopi “pangku” di Pantura (Pantai Utara Jawa). Konsep “kopi pangku” sendiri adalah praktik di mana wanita duduk di pangkuan pria sambil menyajikan kopi, sebuah kenyataan sosial yang sarat dengan makna gender, ekonomi bahkan solidaritas.

Saat hamil besar, Sartika meninggalkan kampung halamannya untuk mengejar masa depan, sebuah langkah yang penuh risiko dan harapan. Perjalanan Sartika bermula ketika ia bertemu Maya (Christine Hakim) dan Jaya (Jose Rizal Manua), pasangan lanjut usia penuh kasih yang memberinya tempat tinggal. Di warung Maya, Sartika melayani para sopir dan kernet truk, sambil berjuang meniti kehidupan baru serta membesarkan anaknya, Bayu.

Film ini memang banyak mendapat pujian, sebelumnya turut serta juga di Busan International Film Festival (BIFF), hal tersebut memberi validasi global. Pangku berhasil mencuri perhatian dan meraih penghargaan bergengsi, bukan hanya soal teknis sinematografi atau kekuatan skenario, tetapi karena keberanian film ini menggali lapisan realitas sosial dengan cara yang puitis dan menyentuh. Pangku tidak hanya dipandang sebagai karya artistik, tetapi juga sebagai cermin zaman, ia berbicara tentang luka, kedekatan emosi, dan hubungan manusia yang perlahan renggang di tengah modernitas. Banyak juga sineas menyebutnya sebagai film yang “duduk dekat dengan hati penonton”, tidak megah, tetapi intim dan mengundang keheningan pikir.

Jejak Kebangkitan Perfilman Indonesia

Untuk memahami betapa pentingnya film seperti Pangku, kita perlu menengok sejarah kebangkitan perfilman Indonesia, Menurut banyak pengamat, titik balik perfilman Indonesia sering dikaitkan dengan fenomena Ada Apa dengan Cinta? (AADC). Pada awal 2000-an, industri film Indonesia sempat lesu, namun saat Ada Apa dengan Cinta muncul, ia seperti menyalakan api.

Film garapan Rudi Soedjarwo ini bukan hanya box office, tetapi juga menjadi fenomena budaya dan simbol kebangkitan budaya populer di bioskop lokal. Generasi remaja waktu itu meniru gaya bicara, gaya berpakaian, bahkan gaya menulis puisi Rangga. AADC menjadi bukti bahwa film Indonesia bisa kembali dipercaya sebagai medium yang mampu menggambarkan kehidupan anak muda secara autentik. Sesudah itu, perlahan industri bernafas lebih lega. Tahun-tahun berikutnya lahir film-film penting: Petualangan Sherina, Laskar Pelangi, The Raid, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, Before, Now & Then (Nana), Autobiography, dan Penyalin Cahaya yang menyapu belasan Piala Citra di tahun 2021.

 Deretan film tersebut tidak sekadar mengisi layar bioskop, mereka membuka wacana. Mereka menandakan bahwa perfilman Indonesia mampu bergerak dalam spektrum yang luas, dari aksi, kritik sosial, hingga eksplorasi psikologis. Gelombang inilah yang memungkinkan lahirnya Pangku. Film tersebut tidak muncul dalam ruang kosong, ia berdiri di atas perjalanan panjang, perjuangan, dan keberanian banyak pembuat film yang percaya bahwa layar lebar adalah ruang untuk berpikir dan membangun narasi yang melahirkan makna.

Peran Penting Penonton dalam Evolusi Perfilman

Industri film tidak dibangun oleh satu nama, Ia berdiri di atas kerja kolektif yang luas: produser yang membaca potensinya, penata kamera yang menciptakan sudut pandang, penata suara yang membangun atmosfer emosional, hingga tim produksi yang tak terlihat di layar tetapi menjaga ritme kerja dari hari ke hari. Namun ada satu unsur lain yang sering terlupa, yaitu penonton. Penonton bukan sekadar konsumen pasif, mereka adalah bagian dari ekosistem film itu sendiri. Ketika penonton datang ke bioskop, duduk dalam gelap, dan memberi waktu satu atau dua jam untuk mengizinkan film berbicara, mereka sedang memberi ruang bagi cerita untuk hidup. Tanpa penonton tidak ada ekosistem, tanpa mereka film hanya akan menjadi arsip diam di dalam hard disk.

Baca Juga: Blokir WhatsApp (Ritual Digital dalam Relasi Sosial)

Industri perfilman lahir bukan hanya dari kamera dan naskah, tetapi dari kebutuhan manusia untuk saling melihat berbagi cerita. Dalam perspektif Kajian budaya, penonton dilihat sebagai pembentuk makna, ketika seseorang menonton film, ia tidak menerima makna apa adanya, ia menafsirkan, membandingkan dengan pengalaman hidupnya. Ia setuju, menolak, atau bahkan merasa terganggu.  Penonton bukan ‘target pasar’, melainkan agen sosial, penonton bisa mendorong lahirnya tren baru, membentuk arah genre, bahkan memberi legitimasi moral pada isu-isu tertentu. Misalnya, setelah Penyalin Cahaya dirilis, pembicaraan mengenai kekerasan seksual dan penyintas menjadi lebih terbuka. Film menjadi pintu bagi percakapan sosial yang sebelumnya enggan dibahas di ruang keluarga atau sekolah. Di titik ini, penonton bukan sekadar saks, mereka turut merumuskan makna.

Refleksi Film Pangku

Apa arti Pangku dalam lanskap budaya populer Indonesia? Pertama, film ini adalah surat cinta bagi perempuan. Kisah Sartika bukan sekadar kisah individu, melainkan representasi banyak perempuan yang berjuang dalam kesunyian, ekonomi yang sulit, dan stigma sosial. Reza Rahadian menulis dan menyutradari ini sebagai ungkapan syukur dan penghargaan, sebuah narasi empatik yang merayakan ketangguhan perempuan yang sering tersembunyi di balik rutinitas sederhana.

Kedua, film ini menegaskan bahwa isu lokal sangat bisa menang secara kualitas. Dengan pengakuan internasional (BIFF) dan lokal (FFI), Pangku menunjukkan bahwa sinema Indonesia tak kalah dalam hal estetika, skenario, juga  artistik. Ini memberi inspirasi bagi sineas lain untuk terus mengeksplorasi akar lokal dan isu kemanusiaan dengan kejujuran.

Ketiga, Pangku memperlihatkan peran film sebagai medium refleksi sosial dan budaya. Melalui cerita kehidupan Pantura, perempuan pekerja, dan komunitas sederhana, film ini mengangkat realitas yang sering tidak terlihat dalam arus utama masyarakat. Ini bukan hanya hiburan, ini ajakan untuk menyimak, merenung, dan bahkan melakukan empati.

Akhirnya, dalam konteks budaya populer, Pangku adalah contoh peran film sebagai alat pembentuk identitas kolektif. Ketika penonton menonton dan berdiskusi tentang film ini, mereka turut membangun wacana, tentang perjuangan perempuan, tentang solidaritas antar generasi, dan tentang nilai kemanusiaan yang universal. Film semacam ini memperkaya budaya populer bukan dengan sensasi semata, tetapi dengan makna.

Baca Juga: Budaya Scrolling: Cermin dari Logika Zaman

Kemenangan Pangku di FFI 2025 melainkan langkah awal, bukan hanya untuk Reza Rahadian, tetapi untuk kita semua sebagai penonton dan bagian dari budaya populer Indonesia. Pangku mengingatkan kita bahwa perfilman lokal bisa sangat dalam, sangat personal, sangat sosial. Pangku hendak memberi tempat di hati penonton, ruang untuk merasakan, untuk menghayati, dan untuk peduli. Dan ketika kita peduli, film menjadi lebih dari sekadar tontonan, film menjadi cermin, cerita, dan jembatan antara pengalaman pribadi dan kolektif.

Semoga Pangku membuka pintu lebih lebar bagi sineas lain untuk berkisah tentang realitas sosial yang tak sering terlihat, dan semoga penonton terus menjadi agen makna, yaitu menyimak, menafsir, dan merayakan kisah-kisah manusia yang sederhana namun sangat penting dalam bingkai kebudayaan kita. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)