Pangku: Surat Cinta untuk Perempuan

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan Minggu 23 Nov 2025, 19:36 WIB
Salah satu adegan dalam film Pangku. (Sumber: Youtube/Gambar Gerak Film)

Salah satu adegan dalam film Pangku. (Sumber: Youtube/Gambar Gerak Film)

Di malam puncak Festival Film Indonesia (FFI) 2025, Pangku menoreh prestasi gemilang, memenangkan empat Piala Citra untuk Penulis Skenario Asli Terbaik (Reza Rahadian & Felix K. Nesi), Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik (Christine Hakim), Penata Artistik Terbaik (Eros Eflin), dan Gong nya meraih kategori Film Cerita Panjang Terbaik.

Bagi Reza Rahadian, yang untuk pertama kalinya menjajal karier sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, momen ini terasa sangat emosional, ia meneteskan air mata di atas panggung penghargaan. Reza sendiri menyebut film ini sebagai ungkapan terima kasih kepada perempuan-perempuan yang berjuang di tengah keterbatasan.

Mengangkat Kisah yang Sunyi, Tapi Penuh Kehangatan

Cerita Pangku berpusat pada Sartika (diperankan oleh Claresta Taufan), seorang ibu muda yang bekerja sebagai pelayan kopi “pangku” di Pantura (Pantai Utara Jawa). Konsep “kopi pangku” sendiri adalah praktik di mana wanita duduk di pangkuan pria sambil menyajikan kopi, sebuah kenyataan sosial yang sarat dengan makna gender, ekonomi bahkan solidaritas.

Saat hamil besar, Sartika meninggalkan kampung halamannya untuk mengejar masa depan, sebuah langkah yang penuh risiko dan harapan. Perjalanan Sartika bermula ketika ia bertemu Maya (Christine Hakim) dan Jaya (Jose Rizal Manua), pasangan lanjut usia penuh kasih yang memberinya tempat tinggal. Di warung Maya, Sartika melayani para sopir dan kernet truk, sambil berjuang meniti kehidupan baru serta membesarkan anaknya, Bayu.

Film ini memang banyak mendapat pujian, sebelumnya turut serta juga di Busan International Film Festival (BIFF), hal tersebut memberi validasi global. Pangku berhasil mencuri perhatian dan meraih penghargaan bergengsi, bukan hanya soal teknis sinematografi atau kekuatan skenario, tetapi karena keberanian film ini menggali lapisan realitas sosial dengan cara yang puitis dan menyentuh. Pangku tidak hanya dipandang sebagai karya artistik, tetapi juga sebagai cermin zaman, ia berbicara tentang luka, kedekatan emosi, dan hubungan manusia yang perlahan renggang di tengah modernitas. Banyak juga sineas menyebutnya sebagai film yang “duduk dekat dengan hati penonton”, tidak megah, tetapi intim dan mengundang keheningan pikir.

Jejak Kebangkitan Perfilman Indonesia

Untuk memahami betapa pentingnya film seperti Pangku, kita perlu menengok sejarah kebangkitan perfilman Indonesia, Menurut banyak pengamat, titik balik perfilman Indonesia sering dikaitkan dengan fenomena Ada Apa dengan Cinta? (AADC). Pada awal 2000-an, industri film Indonesia sempat lesu, namun saat Ada Apa dengan Cinta muncul, ia seperti menyalakan api.

Film garapan Rudi Soedjarwo ini bukan hanya box office, tetapi juga menjadi fenomena budaya dan simbol kebangkitan budaya populer di bioskop lokal. Generasi remaja waktu itu meniru gaya bicara, gaya berpakaian, bahkan gaya menulis puisi Rangga. AADC menjadi bukti bahwa film Indonesia bisa kembali dipercaya sebagai medium yang mampu menggambarkan kehidupan anak muda secara autentik. Sesudah itu, perlahan industri bernafas lebih lega. Tahun-tahun berikutnya lahir film-film penting: Petualangan Sherina, Laskar Pelangi, The Raid, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, Before, Now & Then (Nana), Autobiography, dan Penyalin Cahaya yang menyapu belasan Piala Citra di tahun 2021.

 Deretan film tersebut tidak sekadar mengisi layar bioskop, mereka membuka wacana. Mereka menandakan bahwa perfilman Indonesia mampu bergerak dalam spektrum yang luas, dari aksi, kritik sosial, hingga eksplorasi psikologis. Gelombang inilah yang memungkinkan lahirnya Pangku. Film tersebut tidak muncul dalam ruang kosong, ia berdiri di atas perjalanan panjang, perjuangan, dan keberanian banyak pembuat film yang percaya bahwa layar lebar adalah ruang untuk berpikir dan membangun narasi yang melahirkan makna.

Peran Penting Penonton dalam Evolusi Perfilman

Industri film tidak dibangun oleh satu nama, Ia berdiri di atas kerja kolektif yang luas: produser yang membaca potensinya, penata kamera yang menciptakan sudut pandang, penata suara yang membangun atmosfer emosional, hingga tim produksi yang tak terlihat di layar tetapi menjaga ritme kerja dari hari ke hari. Namun ada satu unsur lain yang sering terlupa, yaitu penonton. Penonton bukan sekadar konsumen pasif, mereka adalah bagian dari ekosistem film itu sendiri. Ketika penonton datang ke bioskop, duduk dalam gelap, dan memberi waktu satu atau dua jam untuk mengizinkan film berbicara, mereka sedang memberi ruang bagi cerita untuk hidup. Tanpa penonton tidak ada ekosistem, tanpa mereka film hanya akan menjadi arsip diam di dalam hard disk.

Baca Juga: Blokir WhatsApp (Ritual Digital dalam Relasi Sosial)

Industri perfilman lahir bukan hanya dari kamera dan naskah, tetapi dari kebutuhan manusia untuk saling melihat berbagi cerita. Dalam perspektif Kajian budaya, penonton dilihat sebagai pembentuk makna, ketika seseorang menonton film, ia tidak menerima makna apa adanya, ia menafsirkan, membandingkan dengan pengalaman hidupnya. Ia setuju, menolak, atau bahkan merasa terganggu.  Penonton bukan ‘target pasar’, melainkan agen sosial, penonton bisa mendorong lahirnya tren baru, membentuk arah genre, bahkan memberi legitimasi moral pada isu-isu tertentu. Misalnya, setelah Penyalin Cahaya dirilis, pembicaraan mengenai kekerasan seksual dan penyintas menjadi lebih terbuka. Film menjadi pintu bagi percakapan sosial yang sebelumnya enggan dibahas di ruang keluarga atau sekolah. Di titik ini, penonton bukan sekadar saks, mereka turut merumuskan makna.

Refleksi Film Pangku

Apa arti Pangku dalam lanskap budaya populer Indonesia? Pertama, film ini adalah surat cinta bagi perempuan. Kisah Sartika bukan sekadar kisah individu, melainkan representasi banyak perempuan yang berjuang dalam kesunyian, ekonomi yang sulit, dan stigma sosial. Reza Rahadian menulis dan menyutradari ini sebagai ungkapan syukur dan penghargaan, sebuah narasi empatik yang merayakan ketangguhan perempuan yang sering tersembunyi di balik rutinitas sederhana.

Kedua, film ini menegaskan bahwa isu lokal sangat bisa menang secara kualitas. Dengan pengakuan internasional (BIFF) dan lokal (FFI), Pangku menunjukkan bahwa sinema Indonesia tak kalah dalam hal estetika, skenario, juga  artistik. Ini memberi inspirasi bagi sineas lain untuk terus mengeksplorasi akar lokal dan isu kemanusiaan dengan kejujuran.

Ketiga, Pangku memperlihatkan peran film sebagai medium refleksi sosial dan budaya. Melalui cerita kehidupan Pantura, perempuan pekerja, dan komunitas sederhana, film ini mengangkat realitas yang sering tidak terlihat dalam arus utama masyarakat. Ini bukan hanya hiburan, ini ajakan untuk menyimak, merenung, dan bahkan melakukan empati.

Akhirnya, dalam konteks budaya populer, Pangku adalah contoh peran film sebagai alat pembentuk identitas kolektif. Ketika penonton menonton dan berdiskusi tentang film ini, mereka turut membangun wacana, tentang perjuangan perempuan, tentang solidaritas antar generasi, dan tentang nilai kemanusiaan yang universal. Film semacam ini memperkaya budaya populer bukan dengan sensasi semata, tetapi dengan makna.

Baca Juga: Budaya Scrolling: Cermin dari Logika Zaman

Kemenangan Pangku di FFI 2025 melainkan langkah awal, bukan hanya untuk Reza Rahadian, tetapi untuk kita semua sebagai penonton dan bagian dari budaya populer Indonesia. Pangku mengingatkan kita bahwa perfilman lokal bisa sangat dalam, sangat personal, sangat sosial. Pangku hendak memberi tempat di hati penonton, ruang untuk merasakan, untuk menghayati, dan untuk peduli. Dan ketika kita peduli, film menjadi lebih dari sekadar tontonan, film menjadi cermin, cerita, dan jembatan antara pengalaman pribadi dan kolektif.

Semoga Pangku membuka pintu lebih lebar bagi sineas lain untuk berkisah tentang realitas sosial yang tak sering terlihat, dan semoga penonton terus menjadi agen makna, yaitu menyimak, menafsir, dan merayakan kisah-kisah manusia yang sederhana namun sangat penting dalam bingkai kebudayaan kita. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Peminat Kajian Budaya dan Media, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Berita Terkait

News Update

Bandung 02 Mar 2026, 17:43

Rahasia Bacang Jando Anne Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Bahan Baku

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau.

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 16:07

Pentas Buku Foto 2026 Ngabuburit Sambil Menyelami Narasi Visual di Red Raws Center

Di tempat yang dikenal sebagai ruang pertemuan para pegiat seni, buku, dan barang antik ini, digelar Pentas Buku Foto 2026.

Suasana pengunjung pada pameran Pentas Buku Foto 2026. Kegiatan ini banyak menarik minat generasi muda yang datang untuk melihat, membaca, dan berdiskusi seputar buku foto. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 02 Mar 2026, 14:47

Wali Kota Bandung Ultimatum PT BII Bereskan Proyek Galian Jalanan Kota Bandung Sebelum 5 Maret

Proyek galian ducting atau kabel bawah tanah belakangan menjadi sorotan karena dinilai memicu kemacetan hingga kecelakaan di sejumlah titik jalan.

Wali kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 14:31

Syawal dan Arus Kehidupan Baru: Perkotaan Indonesia di Uji Zaman

Syawal menjadi fase transisi perkotaan Indonesia. Pasca-Lebaran, migrasi musiman, perubahan konsumsi, dan tekanan ekonomi global menguji ketahanan sosial-ekonomi kota.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 13:15

Mencari Hening di Tengah Ramadhan

“Melalui api itu akan membakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam jalan dan cita-citamu.” - Jalaluddin Rumi

Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 11:31

Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

Bila di Surabaya menghadirkan skala besar, puluhan ribu warga menerima zakat, Bandung menghadirkan kedekatan menjadi ruang (pertemuan) kecil yang mempersatukan beragam manusia dalam satu saf berbuka.

Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 09:19

Drama Spiritual Ramadan di Pasar Dadakan: Cingunguk pun Serupa Kurma Premium yang Terbang!

Hari ketiga berpuasa? Kepala pening, penglihatan ganda, dan semua benda kecil cokelat mendadak terlihat seperti kurma premium impor Madinah.

Ilustrasi Pasar dadakan puasa Ramadan (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 18:12

Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan: Tema Ayo Netizen Maret 2026

Maret 2026 ini adalah salah satu bulan paling dinamis dalam kalender sosial, tradisi, dan ekonomi warga Bandung Raya.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 16:34

Dua Cara Pandang Menempatkan Ramadan, Antara Penumpang dan Pengemudi

Ramadan hadir setiap tahun dengan rangkaian ibadah yang terstruktur—shaum, tarawih, tilawah, zakat, hingga i'tikaf.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Mar 2026, 15:08

Dari Sisa Stok Menjadi Signature, Begini Perjuangan Derry Kustiadihardjo Membangun Imperium Kopi Makmur Jaya

Makmur Jaya Coffee & Roastery adalah cermin dari wajah UMKM Indonesia yang tangguh, adaptif terhadap teknologi, berani berinovasi di tengah himpitan, dan memiliki integritas terhadap kualitas.

Pemilik Makmur Jaya Coffee & Roastery, Derry Kustiadihardjo. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 13:33

Kamus Gaul Ramadan: 10 Akronim Sosial yang Populer Saat Ini

Akronim sosial paling populer di bulan suci, plus beberapa kata lokal yang mungkin belum pernah kamu dengar.

Ilustrasi anak pesantren. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Adil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 09:28

Antara Kurma dan Bala-Bala

Berbuka dengan kurma itu sunah, tapi berbuka dengan bala-bala itu wajib.

kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 28 Feb 2026, 07:56

Di Mata Pengendara Ojol, Jalanan Kota Bandung Bukan Sekadar Aspal, Tapi Taruhan Keselamatan

Di sisi lain, aspal yang mengelupas, lubang menganga, tambalan tak rata, hingga penerangan jalan yang redup menjadi bagian dari keseharian para pengemudi roda dua.

Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 27 Feb 2026, 18:09

12 Tahun Menjaga Rasa, Kisah Jatuh Bangun Reza Firmanda Membesarkan Ayam-Ayaman

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan.

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. (Sumber: instagram.com/ayamayamanbdg)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 17:12

13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan

Berikut 15 abreviasi (baik itu singkatan ataupun akronim) yang paling sering muncul sepanjang bulan suci

Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Bandung 27 Feb 2026, 15:21

Melompati Sekat Tradisional, Ambisi Besar UMKM Kuliner Bandung Mengejar Kasta 'Naik Kelas' Lewat Revolusi 5 Menit

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital.

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 14:17

Bandung, Kota Kelahiran Media Kritis dan Visioner

Dalam sejarah pers Indonesia, Bandung menempati posisi istimewa.

Majalah Aktuil terbitan 1970-an, pelopor majalah musik modern di Indonesia. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 12:10

Dari Bukber sampai ZISWAF: Pembentukan Kamus Singkatan Ramadan Orang Indonesia

Bahasa pun dipadatkan. Maka lahirlah “bukber”, “kultum”, “sanlat”, hingga “ZISWAF”.

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 09:15

Puasa Ayakan

Anak-anak mengajarkan soal puasa (cacap, bedug, ayakan) bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan menerima keadaan.

Umat Islam saat buka puasa dengan kurma, air zam zam dan roti di Masjidil Haram, Mekkah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Feb 2026, 07:19

Berusia 157 Tahun, Masjid Mungsolkanas Rekam Jejak Keislaman di Gang Sempit Cihampelas

Pada awalnya, masjid ini hanyalah rumah bilik panggung milik seorang tokoh bernama Mama Aden. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, dengan kolam kecil di sampingnya untuk berwudu.

Prasasti di Masjid Mungsolkanas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)