AYOBANDUNG.ID - Di tengah riuh suara roda BMX yang bergesekan dengan beton, skatebowl Taman Pandawa siang itu dipenuhi anak-anak dan orang dewasa yang menunjukkan kelincahan mereka di lintasan. Satu sosok kecil tampak paling mencuri perhatian. Dengan tubuh ringan dan gerak gesit, ia meluncur turun, terjatuh, lalu bangkit lagi tanpa banyak ragu. Di tepi lintasan, seorang pria dewasa berdiri memperhatikan dengan saksama, matanya mengikuti setiap gerakan dan percobaan trik baru yang dilakukan anak itu.
Anak tersebut adalah Satria Yudha Pratama, akrab disapa Tama (11), atlet BMX muda asal Bandung. Di usianya yang masih belia, Tama bukan sekadar bermain sepeda. Setiap lompatan dan jatuh bangun yang ia lalui adalah bagian dari proses panjang latihan, kegigihan, dan dukungan tanpa henti dari sang ayah, Asep Sofyan (45), yang setia mendampingi.
Bagi Tama, skatebowl Taman Pandawa bukan sekadar tempat bermain. Ruang publik ini telah menjadi bagian dari kesehariannya—ruang latihan, ruang berproses, sekaligus ruang untuk menumbuhkan mimpi sebagai atlet BMX.

Kedekatan lokasi menjadi alasan utama Taman Pandawa dipilih sebagai tempat latihan rutin. Namun, Tama menyadari betul keterbatasan fasilitas taman kota ini jika dibandingkan dengan arena resmi yang biasa digunakan dalam kejuaraan.
“Sebenernya pengin latihan di tempat yang lebih besar juga, kayak yang biasa dipakai lomba. Tapi kalau ke Sijalak Harupat kan jauh, bisa sejam lebih dari rumah. Kalau tiap hari ke sana capek dan waktunya kebanyakan habis di jalan. Makanya sehari-hari latihan di sini dulu,” katanya.
Kesadaran itu tumbuh seiring keseriusannya menekuni BMX. Tama ingin terus berkembang dan meningkatkan kemampuan, meski harus berjalan perlahan dengan fasilitas yang ada.
“Aku pengin serius di BMX. Masih banyak yang harus dikejar, soalnya lawan-lawan di lomba juga sudah jago. Tapi ya sekarang jalannya pelan-pelan dulu, latihan sebisanya dari tempat yang ada,” tuturnya.
Butuh Dukungan
Dari aktivitas sehari-hari di skatebowl ini, muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah ruang publik kota cukup memberi ruang aman dan layak bagi anak muda untuk tumbuh dan beraktivitas sehat? Ketika fasilitas seperti skatebowl begitu hidup oleh kegiatan warga, perhatian terhadap pengelolaan dan keberlanjutannya menjadi hal yang tak terelakkan.
Taman Pandawa memang bukan satu-satunya ruang publik di Bandung. Namun, skatebowl—yang bagi sebagian orang tampak sederhana—menjadi simbol bagaimana ruang kota sebenarnya dibutuhkan, bukan sekadar dihadirkan.
Banyak warga datang bukan hanya karena fasilitasnya ada, tetapi karena pilihan ruang alternatif yang aman dan terjangkau sangat terbatas. Skatepark komersial cenderung berbayar, sementara ruang publik gratis yang ramah bagi BMX rider masih minim.
“Di sini lebih seru karena bisa banyak teman baru, dan bisa ngulik trik,” kata Tama dengan mata berbinar.
Skatebowl juga menjadi ruang sosial. Anak-anak muda duduk, berbagi cerita, saling mengamati, atau sekadar menikmati aktivitas di lintasan. Namun, seperti banyak ruang publik lainnya, perhatian terhadap perawatan dan pengelolaan kerap berjalan setengah hati.

“Dulu yang paling jadi masalah itu air kalau hujan, karena ini kan bowl. Sekarang sudah ada pompa otomatis. Kemarin sempat rusak, tapi sudah dibetulkan lagi. Toilet ada, lampu juga ada, cuma kalau dari pemerintah masih kurang. Akhirnya dibantu komunitas. Anak-anak di sini pasang lampu sorot, jadi malam pun masih bisa main,” ujar Tama.
Fasilitas memang tersedia, tetapi keberlanjutan ruang ini sangat bergantung pada inisiatif komunitas. Tanpa peran aktif para pengguna, skatebowl berisiko kembali terabaikan, terutama dalam hal pencahayaan dan perawatan harian.
Perubahan Positif
Di sisi lain, Asep Sofyan melihat Taman Pandawa sebagai ruang penting dalam tumbuh kembang anaknya.
“Buat saya, taman ini bukan cuma tempat main. Ini tempat anak belajar berani, belajar disiplin, dan belajar jatuh bangun. Dari yang tadinya pemalu, sekarang jadi lebih percaya diri dan lebih gampang bersosialisasi,” katanya.
Ia juga merasakan dampak positif dari sisi kesehatan. Sejak rutin berlatih BMX, kondisi Tama dinilai jauh lebih baik.
“Dulu sebelum aktif olahraga, anak saya gampang sakit. Sekarang jarang. Selain fisik, mentalnya juga kebentuk. Dia jadi lebih fokus, nggak cuma pegang handphone terus,” ujarnya.
Namun, di balik manfaat tersebut, Asep menyimpan kegelisahan. Ia melihat skatebowl sebagai ruang publik yang hidup, tetapi berjalan tanpa pengelolaan yang jelas. Fungsi ruang yang bercampur kerap menimbulkan risiko, terutama bagi atlet yang sedang berlatih serius.
“Kadang ada anak kecil atau pengunjung yang masuk ke dalam bowl buat main perosotan, bahkan orang tuanya ikut. Itu bahaya, karena BMX butuh kecepatan dan fokus. Kalau nggak hati-hati, bisa cedera,” ungkapnya.

Kondisi itu juga dirasakan Tama. Ia kerap menyesuaikan latihan demi menghindari benturan dengan pengunjung lain. “Kadang suka khawatir juga, jadi harus lebih hati-hati,” katanya.
Fenomena ini memperlihatkan wajah ruang publik kota: hadir dan dimanfaatkan, tetapi belum sepenuhnya dikelola dengan strategi yang matang. Padahal, bagi BMX rider muda seperti Tama, skatebowl adalah ruang belajar tanpa sekat—tempat menumbuhkan disiplin, keberanian, dan daya tahan mental.
Asep berharap, ke depan, ruang-ruang seperti ini tidak hanya dibangun, tetapi juga dikelola secara serius.
“Kalau ada pengelolaan yang jelas, edukasi ke pengunjung, atau pemisahan area latihan, pasti bisa lebih aman dan maksimal,” ujarnya.
Baginya, taman semacam ini jauh lebih bermakna dibanding sekadar ruang estetika.
“Daripada taman selfie, lebih baik taman seperti ini. Anak jadi sehat, bisa sosialisasi, dan jauh dari handphone,” katanya.
Bermimpi Lebih Jauh
Bagi Tama, skatebowl Taman Pandawa tetap menjadi titik awal perjalanannya. Di tengah segala keterbatasan, tempat ini masih memberinya ruang untuk berlatih dan bermimpi.
“Selama masih ada tempat buat latihan, aku bakal terus coba,” ujarnya singkat.
Ia pun menyimpan harapan agar skatebowl ini terus dikembangkan.
“Aku pengin bowl-nya dibesarin lagi, ditambah tempat duduk, terus ada obstacle kayak spine, quarter, step up, sampai jumbo, kayak yang ada di luar,” katanya.

Lebih dari itu, skatebowl menyimpan mimpi pribadi yang jauh lebih besar.
“Harapan aku pengin jadi atlet profesional dan main ke luar negeri. Aku ingin terus berusaha sampai SEA Games, bahkan Olimpiade,” ujarnya.
Di balik riuh suara roda BMX yang bergesekan dengan beton, Taman Pandawa menyimpan cerita tentang mimpi atlet muda yang tumbuh di ruang publik kota—ruang yang hidup oleh semangat warganya, namun masih menunggu perhatian agar mimpi-mimpi itu dapat melaju lebih jauh.