AYOBANDUNG.ID - Menjelang malam, Jalan Asia-Afrika menjelma menjadi panggung wisata terbuka paling hidup di Kota Bandung. Deretan bangunan bersejarah bernuansa tempo dulu menjadi latar foto estetik bagi para wisatawan yang memadati kawasan tersebut. Suara cekrek kamera ponsel nyaris tak pernah berhenti terdengar di setiap sudut jalan, menandai denyut malam yang kian ramai.
Salah satu titik paling strategis—sekaligus menguntungkan bagi sebagian pencari nafkah—berada tepat di depan Gedung Konferensi Asia-Afrika. Di sanalah komunitas cosplayer hantu berkumpul, bertengger, dan menanti pengunjung yang ingin berpose atau sekadar merasakan sensasi ditakut-takuti. Dengan atribut kostum lengkap dan tata rias seram, keberadaan mereka kerap menjadi magnet tersendiri yang menghidupkan kawasan wisata tersebut.
Namun, di balik antusiasme dan hiruk-pikuk itu, tersimpan cerita lain yang jarang diketahui para pengunjung.
Salah satunya dialami Agung (45). Ia enggan menyebut dirinya sebagai pekerja lokal kawasan Asia-Afrika dan Braga. “Saya cuma pengin menghibur orang yang lewat aja,” ujarnya singkat.
Sejak resmi bergabung sebagai cosplayer hantu di pusat Kota Bandung, Agung mengaku tak pernah mematok harga atau memaksa pengunjung untuk memberi bayaran tertentu. “Sistemnya seikhlasnya aja. Dikasih berapa pun saya enggak apa-apa,” katanya.
Realitas di lapangan membuat profesi ini berada di wilayah yang serba abu-abu. Mereka bukan pengamen, bukan pedagang, bukan pula pekerja seni yang memiliki payung perlindungan atau jaminan resmi dari pemerintah. Posisi yang tak jelas ini kerap memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap mereka.
Meski tanpa kepastian penghasilan, Agung dan rekan-rekannya tetap datang setiap hari, menanggung risiko dari pekerjaan yang mereka jalani.
“Kalau pagi sampai siang, saya jualan sayuran, ikan, sama ayam di pasar. Sore ke malam baru mulai berdandan dan cosplay jadi pocong di sini,” tuturnya, menjelaskan rutinitas harian yang jauh dari kesan glamor.
Cuaca dan jumlah pengunjung menjadi faktor utama fluktuasi pendapatan mereka. Hujan lebat sering kali memupus harapan mendapatkan penghasilan. Bukan hanya soal upah minimum, tetapi kondisi alam dan situasi pengunjung dapat membuat pendapatan mereka nihil dalam satu malam.

Tak semua pengunjung memiliki kepekaan yang sama. Agung dan Martin sepakat bahwa banyak orang yang berfoto tanpa merasa perlu memberi imbalan. Mereka pernah menghadapi rombongan besar—sekitar 10 hingga 12 orang—yang meminta foto berkali-kali, masing-masing ingin berpose sendiri. Namun, semua itu berakhir hanya dengan ucapan terima kasih.
Mereka kerap diperlakukan layaknya properti gratis, bukan pekerja yang mengandalkan tenaga dan waktu untuk menghibur. Hidup mereka pun terombang-ambing antara menjadikan profesi ini sebagai mata pencaharian utama dan rendahnya kesadaran sebagian pengunjung akan nilai kerja seni di ruang publik.
Padahal, jika ditinjau lebih luas, kehadiran cosplayer hantu menjadi nilai tambah bagi daya tarik wisata kawasan Asia-Afrika. Sayangnya, nilai ekonomi dari kontribusi tersebut belum sepenuhnya kembali kepada mereka.
Risiko pekerjaan pun tak berhenti di situ. Interaksi dengan pengunjung sering kali memicu insiden tak terduga. “Sudah pasti dapat perlakuan enggak enak. Ada yang refleks mukul karena kaget, ada yang iseng, bahkan ada yang pingsan lihat kita dari jauh,” kata Agung, mengenang berbagai pengalaman pahit.
Cerita lain datang dari Martin. Ia menuturkan kejadian pelecehan yang dialami rekan perempuannya, seorang cosplayer yang biasa mengenakan kostum Nyi Roro Kidul. “Ada bapak-bapak yang minta foto dengan pose vulgar dan melecehkan,” ujarnya.
Beruntung, rekan tersebut berani melapor. Martin pun langsung menegur pengunjung itu. “Saya bilang, maaf, kami jual seni di sini, bukan tubuh,” tegasnya. Kejadian tersebut menegaskan bahwa ruang publik belum sepenuhnya aman, terlebih bagi cosplayer perempuan.
Di tengah ketiadaan perlindungan resmi, solidaritas antaranggota komunitas menjadi satu-satunya sandaran. Mereka saling menjaga dan melindungi, bukan karena regulasi, melainkan karena rasa senasib. Ironisnya, profesi yang memperkaya ruang publik justru menyisakan persoalan keselamatan sebagai urusan personal.
Keberadaan mereka turut memengaruhi dinamika kawasan wisata. Menurut Agung, ketika hari Senin ditetapkan sebagai hari libur cosplayer, pedagang di sekitar pun ikut tutup. Alhasil, kawasan Asia-Afrika menjadi lebih sepi.
Kini, aktivitas mereka mulai diatur oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, mulai dari hari mangkal, area kerja, hingga pembatasan jumlah cosplayer—sebanyak 15 orang per hari. “Dulu sering kena razia Satpol PP. Sekarang sudah diatur sama Disbudpar. Jadi lebih tenang, walau belum sepenuhnya senang,” ujar Martin.
Agung dan Martin mengakui, sebelum dan sesudah pandemi COVID-19, sempat ada perhatian dari sejumlah pejabat publik, termasuk bantuan sosial. Namun, seiring waktu, atensi tersebut kian memudar.
Keduanya berharap Pemerintah Kota Bandung lebih merangkul komunitas cosplayer hantu sebagai bagian dari ekosistem seni dan pariwisata kota. Bukan hanya pengakuan, tetapi juga jaminan keamanan bagi profesi yang mereka jalani dengan ikhlas—tanpa patokan harga.