Beranda

Dulu Ramai Jadi Ruang Publik Favorit, Kini Alun-Alun Regol Bandung Kian Sepi Akibat Minim Perawatan

Oleh: Andres Fatubun Sabtu 31 Jan 2026, 08:29 WIB
Abah Anang, pedagang yang telah berjualan di kawasan Alun-Alun Regol sejak awal dibuka. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID – Alun-Alun Regol di wilayah selatan Kota Bandung sempat menjadi ruang publik alternatif bagi warga sejak pertama kali dibuka pada 2017. Keberadaannya kala itu cukup diminati, baik sebagai tempat berkumpul maupun ruang ekonomi bagi pedagang kecil. Namun, seiring waktu, kondisi alun-alun tersebut kini dinilai kurang terawat dan mulai ditinggalkan pengunjung.

Pantauan di lokasi pada sore hari menunjukkan alun-alun masih didatangi warga, terutama anak muda yang datang sekadar untuk duduk dan nongkrong. Meski demikian, suasana ramai seperti di awal pembukaan sudah jarang terlihat. Sejumlah fasilitas tampak mengalami penurunan kualitas, mulai dari lampu penerangan yang banyak tidak berfungsi hingga kebersihan area yang kurang terjaga.

Perubahan kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para pedagang yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas pengunjung alun-alun. Salah satunya Abah Anang (55), pedagang yang telah berjualan di kawasan Alun-Alun Regol sejak awal dibuka.

Alun-Alun Regol dibuka pada 2017. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Dulu waktu pertama buka mah rame pisan, orang banyak yang datang. Sekarang beda. Kalau hari biasa mah sepi. Paling rame juga sore, itu juga kalau cuacanya lagi bagus,” ujar Abah Anang.

Menurut Abah Anang, menurunnya jumlah pengunjung tidak lepas dari kondisi fisik alun-alun yang kian memburuk. Ia menilai perawatan yang dilakukan belum berjalan secara konsisten.

“Lampu banyak yang mati, tempatnya juga kelihatan kotor. Pernah dibenerin sih, tapi enggak lama rusak lagi. Jadi ya gitu terus,” katanya.

Ia menambahkan, fasilitas umum yang seharusnya menunjang kenyamanan pengunjung juga ikut terdampak. Kondisi kamar mandi, misalnya, dinilai sudah tidak layak.

“Kamar mandi juga sama, dulu udah dibenerin, tapi sekarang rusak lagi. Keramiknya banyak yang pecah, kerannya pada patah. Airnya kadang kuning, baunya juga enggak enak,” ucapnya.

Kondisi tersebut, lanjut Abah Anang, berpengaruh langsung terhadap penghasilannya sebagai pedagang. Pada hari biasa, pendapatannya hanya berkisar Rp200 ribu hingga malam hari, jauh berbeda dibandingkan masa awal alun-alun dibuka.

Sementara itu, dari sisi pengunjung, Alun-Alun Regol masih menjadi ruang berkumpul bagi anak muda di sekitar kawasan tersebut. Sandi (16), seorang pelajar, mengaku hampir setiap hari datang ke alun-alun sepulang sekolah.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santaii dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Biasanya nongkrong aja sama temen, ngobrolin sekolah. Soalnya tempatnya deket, banyak pohon juga, jadi adem,” kata Sandi.

Meski masih memilih alun-alun sebagai tempat berkumpul, Sandi mengakui kondisi fasilitas yang ada saat ini belum sepenuhnya nyaman.

“Fasilitasnya kurang dirawat. Sampah juga kadang masih ada, terus kolam di depan itu kelihatan enggak keurus,” ujarnya.

Ia pun membandingkan kondisi Alun-Alun Regol dengan taman-taman lain di Kota Bandung yang menurutnya lebih tertata dan terkelola.

“Kalau taman lain biasanya lebih bersih, ada petugas kebersihannya. Di sini mah jarang kelihatan,” tambahnya.

Meski masih dimanfaatkan sebagian warga, kondisi Alun-Alun Regol yang kurang terawat dikhawatirkan terus mengurangi minat pengunjung. Pedagang dan pengunjung sama-sama berharap adanya perhatian serta perawatan rutin agar ruang publik tersebut kembali nyaman dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Reporter Andres Fatubun
Editor Andres Fatubun