Ayo Biz

Perjalanan Dimsum Inmons dari Gang Sempit Cicadas ke Pasar Nasional

Oleh: Aris Abdulsalam Rabu 20 Mei 2026, 19:54 WIB
Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID — Tidak banyak usaha kuliner yang mampu bertahan dan tumbuh di tengah ketatnya persaingan bisnis makanan. Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil, membuktikan bahwa konsistensi dan inovasi bisa mengantarkan produk lokal ke pasar yang jauh lebih luas.

Semua bermula dari kebiasaan sederhana Ani Andriyani, perempuan kelahiran Bandung yang gemar makan di restoran ternama, namun tak jarang mempertanyakan harganya yang terlalu mahal. Dari rasa penasaran itulah muncul sebuah pertanyaan yang akhirnya mengubah hidupnya, untuk mencari jalan tengah antara kuliner yang ‘wah’ dengan harga yang tak bikin gelisah.

Saat ayobandung.id berkunjung ke gerainya di Gg. Sartika No.38, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, (12/5/2026) Ani menceritakan perjalanan uniknya. Dari yang awal kariernya bekerja sebagai HRD, sembari makeup artist, dan juga mendesain kerudung, sampai kemudian ia mantap mengembangkan usaha kuliner dengan modal awal hanya Rp5-10 jutaan.

“Dimsum Inmons bermula tahun 2017. Awalnya saya tertarik (wirausaha) ke dimsum karena saya makan ke salah satu restoran yang menurut saya mahal dan kok ini enak banget, ya? Saya suka banget makan dimsum, tapi saya gak mungkin sering ke sana (restoran mahal) dan saya juga gak mungkin sering bawa keluarga ke sana. Jadi saya pun ingin bagaimana caranya ya supaya dimsum seenak ini bisa dimakan oleh semua kalangan? Akhirnya saya bawa dimsum tersebut ke rumah, mulai nih eksplorasi selama 6 bulan. Saya coba taste-nya, menunya, saya tanya ke teman-teman tentang rasanya, tanpa saya ada base tata boga pada saat itu. Setelah 6 bulan mengulik dimsum. dan masih bekerja pada saat itu, saya memberanikan diri untuk buka dagangan online dari rumah,” kenang Ani tentang awal berdirinya Dimsum Inmons.

Dengan modal ketekunan dan konsistensi, Dimsum Inmons resmi berdiri dengan satu tagline yang kemudian menjadi identitasnya: "Rasa Mewah Harga Murah." Berdagang di gang sempit ternyata tidak menyurutkan niatnya. Malah Ani termotivasi untuk mencari solusi atas situasi ini.

“Dahulu saya belum punya uang buat bikin store. Akhirnya kita (usaha) di rumah, sedangkan rumah kita ini memang daerah gang. Memang dahulu yang ditakutkan itu tetangga komplain karena ada driver yang mungkin antre untuk ambil orderan, tetapi ya mau tak mau saya berpikir bahwa punya usaha itu tidak harus bikin tempat besar dulu. Jadi ketika mau bermimpi, bermimpi dulu yang kecil, nanti akan jadi besar. Makanya saya walaupun hanya di dalam gang, tetapi saya bisa bermimpi bahwa suatu saat pasti bisa besar untuk punya store sendiri. Walaupun sempat terjadi polemik terlalu banyak yang antre, kita sampaikan agar para driver ini hanya ambil order-an lalu pergi. Jadi tidak ada yang boleh nongkrong; dan akhirnya itu jadi selesai masalahnya,” imbuh Ani.

Membangun Fondasi

Sampel menu Dimsum Inmons. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Sejak awal, Ani menyadari bahwa cita rasa saja tidak cukup. Lantas ia segera mengurus aspek legal usahanya, mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) ke Kemenkumham Kanwil Jawa Barat, hingga sertifikat halal MUI. Uji mutu di laboratorium pun dilakukan dengan pendampingan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bandung.

Ani mengaku beruntung bertemu dengan rekan-rekan pejuang UMKM, karena dari merekalah ia jadi tahu bahwa syarat administrasi usaha itu penting dan kudu diurus. Ia bertemu dengan ekosistemnya di RUMAH BUMN Bandung.

Namun sebelum syarat-syarat administrasi wirausaha yang terlengkapi, ketelitian berniaga pun jadi patokan utama untuk membangun usaha secara bertahap. Ani beralasan, banyak UMKM yang sekadar melejit di awal lalu hilang tenggelam karena kurangnya manajemen risiko. Maka untuk mengembangkan Dimsum Inmons kudu memperkuat fondasinya terlebih dahulu, termasuk mempelajari dinamika pasar.

“Setelah saya buka usaha itu langsung terasa mulai ada income. Tetapi bagaimana caranya setelah saya resign dari pekerjaan bisa punya pendapatan yang setara? Setelah 2-3 bulan naik income-nya, karena kita sudah pelajari dahulu market-nya. Dan untuk ekosistem awal konsumennya ini justru saya tidak target lokal, karena untuk area lokal Cicadas itu tidak mungkin mereka mau beli dimsum yang harganya saat itu Rp 13 ribu per porsi, mereka lebih baik beli nasi. Oleh karena itu pas awal itu kita promo area sekitar hanya Rp 10, agar mereka tahu dulu taste-nya,” sambungnya

Seiring persentase penjualan yang terus meningkat, Ani tidak tidak terlena. Ia mulai merekrut tim sosial media untuk menggencarkan promosi, juga menambah personel untuk menambah kuantitas produk. Sampai kemudian ia pun mendapatkan peta konsumennya.

“Akhirnya produksi saya sustain, terus juga di sosial media saya mulai up. Nah, dari situ saya mulai belajar, ternyata market saya dengan range harga segini cocok untuk yang gaji di bawah Rp5 juta. Mereka bisa beli,” papar wanita kelahiran 1982 itu.

Di sisi produk, inovasi terus bergulir. Salah satu terobosan yang paling diingat pelanggan adalah penggunaan saus ubi Cilembu sebagai pendamping dimsum. Pastinya ini jadi sebuah sentuhan lokal yang membedakan Inmons dari kompetitor. 

“Saya mempelajari apa sih kekurangan dari mayoritas pengusaha dimsum, apa kelemahan mereka yang harus saya tutupi? Ternyata dari kebanyakan mereka menu-nya itu tidak pernah lebih dari 10-15 varian. Dari situ, kelebihan kita punya lebih dari 80 varian, yang kemudian bisa jadi support untuk para pengusaha dimsum lainnya agar tidak perlu produksi dan cukup ngambil dari kita. Selain itu, kita bikin daya tarik juga agar mereka mau memilih Dimsum Inmons, kita bikin sausnya dari ubi Cilembu, karena kita ingin menegaskan bahwa orang Bandung bisa bikin dimsum yang khas,” ucap Ani.

Suaminya turut bergabung mengelola operasional sebagai COO dan mengawasi kualitas produksi. Prinsip kekeluargaan pun diterapkan dalam manajemen tim, evaluasi kerja dilakukan santai, bahkan sambil makan bersama.

Kerja keras itu mulai berbuah. Pada 2019, Dimsum Inmons meraih Grab Award kategori penjualan terbaik, sebuah pengakuan pertama dari platform digital yang kala itu mulai diandalkan untuk distribusi.

Pun elama pandemi COVID-19, ketika kebanyakan UMKM justru gulung tikar dan banting setir, Dimsum Inmons malah mengalami lonjakan omzet sampai 300 persen.

Lompatan besar terjadi pada 2022 ketika Dimsum Inmons dinobatkan sebagai Juara 1 UMKM Award Kota Bandung kategori kuliner, menyisihkan sekitar 10.000 peserta hingga tersaring menjadi 5 besar.

Tidak berhenti di situ, Ani mendaftarkan diri ke program BRIncubator Batch 2 milik BRI. Sebuah program inkubasi yang mempertemukan pelaku UMKM dengan mentor bisnis berpengalaman. Dari sekitar 300 pendaftar, Dimsum Inmons masuk ke dalam 50 UMKM terpilih, dan pada 2023 keluar sebagai Juara 1 BRIncubator. Di sana Ani belajar membuat business plan, pitching ke investor, manajemen SDM, hingga strategi pemasaran digital.

“Di Rumah BUMN Bandung saat itu yang paling saya pelajari ialah masalah SDM, finance, terus juga tentang digital marketing, dan itu kan semuanya terpakai ilmunya untuk wirausaha. Setelah itu ada BRIncubator, kita juara 1, dan kita dilihat banget oleh BRI sebagai UMKM yang sustain, yang kemudian kita dibawa oleh mereka ke berbagai event. Paling terasa dari manfaat program dan acara BRI ini lebih ke branding produk dan personal branding. Dari situ kita mulai scale up,” ucap Ani. 

Produksi, Distribusi, dan Ekspansi

Pada 2023 Dimsum Inmons terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator. (Sumber: Dokumentasi Narasumber)

Memasuki tahun 2023-2026, Dimsum Inmons bukan lagi sekadar warung gang. Kapasitas produksi tumbuh signifikan, mencapai 2.500 kilogram per bulan dengan tim sekitar 37 orang. Sistem penggajian bulanan diterapkan, berbeda dari kebanyakan usaha kuliner sejenis.

Jaringan distribusi pun meluas. Mitra dan reseller Dimsum Inmons kini tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi. Di Bandung sendiri, sejumlah cabang telah hadir di berbagai titik, termasuk di Karang Tinggal, Kiaracondong, dan Summarecon Pasar Sinpasa Gedebage.

Dari sisi produk, varian menu terus berkembang dari 6 menu di awal berdiri, melewati 60 menu pada 2023, hingga kini mencapai 80+ varian (mulai dari Dicoba (Dimsum Oncom Bandung), Drakor (Dimsum Rasa Korea), Siceba (Siomay Cengek Domba), hingga Dimsum Mentai). Selain dimsum, hadir pula lini makanan berat dan varian minuman.

Dimsum Inmons juga mulai masuk ke ekosistem yang lebih besar, bekerja sama dengan sejumlah HoReCa (Hotel, Restoran, Catering) dan retail modern market, sekaligus hadir di berbagai marketplace digital seperti GoFood, GrabFood, Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop.

“Dari awal kita konsep jualannya online, kemudian muncul berbagai permintaan untuk buka store offline, dan lama-lama kita membuka jaringan reseller dan kemitraan. Kita sekarang berperan sebagai supplier dan store, dengan store kita saat ini ada 6 dan akan bertambah lagi. Selama 9 tahun ini, dari yang awalnya di daerah sini hanya saya seorang pemain dimsum, sekarang sudah hampir ada 38 kompetitor. Tapi mau gak mau bisnis seperti itu dan kompetitor itu penting agar kita tidak terlena. Sekarang market kita harus makin luas, karena pesaing kita ialah orang-orang terdekat. Kita pun berpikir bagaimana caranya kompetitor tetap bermunculan, tetapi apa yang mereka cari? Ternyata mereka mencari supplier dan saya akhirnya merasa harus sustain di sini,” tegas Ani.

***

Hari ini, Dimsum Inmons berdiri sebagai salah satu UMKM kuliner paling dikenal di Kota Bandung. Visi jangka panjangnya jelas: menjadi dimsum pilihan utama di Indonesia.

“UMKM itu harus tetap punya branding yang kuat dan tetap harus didampingi, karena kita inginnya bukan sekadar brand lokal dengan ekosistem yang terus meluas. Oleh karena itu, kita perlu wadah seperti Rumah BUMN dan program-program seperti dari BRI. Secara personal, mungkin untuk 5 tahun ke depan, saya ingin B2B tidak hanya di Bandung, inginnya ada spot agent yang merambah sampai luar Bandung Raya,” pungkas Ani.

Perjalanan Dimsum Inmons adalah cermin nyata bahwa sebuah usaha yang dimulai dari gang sempit sekalipun, dengan modal riset mandiri dan inovasi pada produk, bisa tumbuh melampaui batas gang sempit tempat ia lahir. Kini omzet Ani tidak kurang dari Rp 350 juta per bulan. (*)

Reporter Aris Abdulsalam
Editor Aris Abdulsalam